Home / Romansa / Hangatnya Jeratan Om Martin / Sentuhan Pertama Om Martin

Share

Sentuhan Pertama Om Martin

Author: Akuma Rei
last update publish date: 2026-06-08 00:27:17

Keheningan yang mencekam sekaligus intim seketika menyelimuti kamar 808. Erika bisa merasakan detak jantungnya sendiri bertalu begitu hebat di rongga dadanya, berkejaran dengan deru napasnya yang memburu.

Di dalam cengkeraman lengan kokoh pria asing itu, seluruh tubuh Erika mendadak kaku, terkunci oleh dominasi yang tak terbendung.

Aroma alkohol manis bercampur parfum stroberi yang menguar dari tubuh Erika seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa ngeri sekaligus pesona yang memabukkan saat ia menatap pria di depannya.

Melalui sisa kesadarannya yang timbul tenggelam akibat pengaruh koktail, Erika mengenali rahang tegas, garis wajah matang, dan tatapan berwibawa itu. Erika mengenalinya karena beberapa kali melihat fotonya dari medsos Sandra.

Om Martin.

Jantung Erika serasa melompat ke tenggorokan. Ketakutan menyergap batinnya, tetapi tubuhnya terlalu lemas untuk berontak.

"Om... Martin...?" cicit Erika lirih, nyaris tak terdengar.

Erika bisa melihat bagaimana alis tebal Martin bertaut mendengar namanya disebut. Sorot mata elang pria itu menatapnya begitu dalam, seolah sedang menelanjangi isi kepalanya.

"Kamu... tahu namaku?" suara bariton Martin terdengar berat dan menuntut jawaban.

Namun, Erika tidak mampu menyahut. Rasa pening yang luar biasa mendadak menghantam pelipisnya, membuat seluruh kekuatan di kakinya lenyap. Erika mengira ia akan jatuh tersungkur, tetapi dengan sigap Martin justru mengangkat tubuhnya sepenuhnya ke dalam gendongan. Sentuhan fisik yang begitu tiba-tiba itu membuat Erika refleks mencengkeram leher Martin, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di ceruk leher pria itu karena malu dan takut.

Erika merasakan kulit leher Martin mengeras saat napasnya menerpa di sana. Ada aura berbahaya yang pekat, namun entah mengapa, dekapan pria dewasa ini memberikan rasa aman yang tak pernah Erika dapatkan sebelumnya.

Dengan langkah tenang namun pasti, Martin membawa Erika menuju ranjang king size di tengah ruangan. Pria itu membaringkannya dengan perlahan di atas seprai satin abu-abu yang terasa dingin di kulit punggung Erika yang polos. Saat Martin hendak menarik diri, ketakutan akan kesendirian dan dinginnya malam mendadak menguasai batin Erika. Tanpa sadar, jemari lentiknya bergerak sendiri, mencengkeram erat kerah kemeja abu-abu tua milik Martin.

"Jangan pergi..." gumam Erika setengah mengigau.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Erika yang terbiasa hidup dalam penolakan dan dinginnya keluarga yang hancur, merindukan sosok pelindung. Dan malam ini, figur hangat, besar, dan menenangkan itu ada pada diri Martin.

Martin terpaku di tempatnya, membuat jarak di antara mereka kembali mengikis. Erika mendongak, menatap lekat-lekat sepasang bibir tipis di atasnya yang kini berjarak hanya beberapa sentimeter.

"Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu minta, manis," bisik Martin dengan suara yang dalam, penuh peringatan yang justru terdengar seksi di telinga Erika.

"Aku—aku takut, Om..."

Setitik air mata lolos begitu saja dari sudut mata Erika, meratapi nasibnya yang harus berjuang sendirian setiap hari demi bertahan hidup.

Erika merasakan sensasi hangat saat jempol besar Martin yang sedikit kasar bergerak mengusap air mata di pipinya. Sentuhan itu begitu intim, begitu lembut, hingga membuat Erika melenguh pelan.

Tanpa sadar, ia menggeser wajahnya, mencari kenyamanan lebih pada telapak tangan hangat sang konglomerat. Melalui pandangannya yang kabur, Erika bisa melihat bagaimana kilatan di mata Martin berubah menjadi api yang berkobar.

Logika Erika berteriak bahwa ini adalah kesalahan fatal, namun saat Martin mulai menundukkan wajah dan membiarkan ujung hidung mereka bergesekan, Erika memilih menutup matanya rapat-rapa, pasrah pada sentuhan yang ia tahu akan mengubah hidupnya selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Di Ambang Batas

    “Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin m

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kegilaan Erika

    Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Racun di balik keramahan

    “Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Impas

    Erika mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Martin. “Aku tau om bisa nahan diri, tapi aku menginginkannya…” Martin terdiam. Tatapannya masih tampak menimbang sesuatu yang sangat berat. Perlahan Erika mendorong tubuh Martin, membuat posisi mereka berbalik. Erika duduk di atas Martin yang berbaring telentang di atas ranjang. Martin terkesiap. Ia sempat mengangkat wajah, tapi sebelum mengatakan sepatah kata pun, Erika kembali mendaratkan ciuman ke bibir tebal pria itu. Mata Martin membelalak, tapi Erika tak peduli. Erika hanya ingin Martin merasakan apa yang ia rasakan. Erika kembali duduk dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Handuk yang masih menutupi tubuh bagian bawah pria itu bergerak seirama dengan gerakan Erika. “Kamu keras karena aku, Om..” ucap Erika pelan. “Kalau begitu biarkan aku bantu kamu sampai puas,ya.” “Erika…” Martin mengerang. Matanya terpejam, sementara rahangnya menegang. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Erika, tetapi tidak menahan ge

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ini Enak, Om!

    Erika menatap pria di hadapannya tanpa ragu. Jemarinya perlahan menyentuh dada pria itu. Napasnya mulai berat, tapi dia tidak berhenti. Erika ingin Martin tahu betapa ia menginginkannya. Martin menggenggam tangan Erika, menahan gerakan gadis polos yang kini —mulai berani itu. Gerakannya tegas, tetapi matanya berkata lain. Martin seperti pria kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Erika,” suaranya serak, penuh peringatan. “Kamu jangan —“ Suaranya terputus ketika jemari Erika mengusap kulit perutnya. Martin menggeram, tubuhnya menegang lalu menghembuskan napas keras seolah telah kalah sepenuhnya. Tangan besarnya menarik pinggang Erika. Dalam sekali hentakan, tubuh Erika terangkat ke dalam pelukannya. Erika terkesiap lalu tersenyum. Tangannya melingkar erat pada leher Martin. Sekarang, Erika dapat mendengar dengan jelas detak jantung ayah sahabatnya itu. Seirama dengan detak jantungnya sendiri yang tak karuan. Martin membawa tubuh Erika keluar dari ruang wardrobe. Kulit Ma

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ayo, lakukan Om..

    Martin meraih kedua lengan Erika, membawanya untuk berdiri. Jantung Erika berdentum tak karuan saat perut bagian bawahnya bergesekan dengan bagian tubuh Martin yang menonjol keras dibalik kain handuk. Perlahan Martin menarik tubuh Erika kemudian menekannya ke dinding kamar, tepat di samping kaca besar dengan tirai terbuka. Punggung Erika merasakan dinding kamar yang dingin, kontras dengan panas yang menjalar di antara mereka. Martin menunduk dan mulai mencium bibir ranum Erika. Kali ini bukan lagi ciuman bimbingan, tetapi sebuah ciuman yang menuntut. Lidah Martin menyapu lembut, memancing lidah Erika yang kaku untuk ikut bergerak, menariknya ke dalam ritme yang lebih dalam dan mendesak. Jika saja di bawah sana ada orang yang melintas melewati mansion mewah itu, Erika yakin mereka bisa melihat apa yang sedang Martin lakukan padanya saat ini. Namun, entah mengapa Erika sama sekali tak peduli. Ia tak takut diketahui orang lain. Gairahnya malah makin memuncak membayangkan orang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Tawaran di Tengah Malam

    Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Api Dalam Selimut

    Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Ra

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Malam Yang Menyesatkan

    “Erika, ini upah lemburmu minggu ini," ujar Pak Beni, pemilik kafe tempat Erika bekerja, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Terima kasih banyak, Pak," jawab Erika dengan senyum tipis yang dipaksakan. Uang itu langsung ia masukkan ke dalam dompetnya yang kempis. Pikirannya l

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Sisi Lain Sang Penguasa

    Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status