تسجيل الدخولKeheningan yang mencekam sekaligus intim seketika menyelimuti kamar 808. Erika bisa merasakan detak jantungnya sendiri bertalu begitu hebat di rongga dadanya, berkejaran dengan deru napasnya yang memburu.
Di dalam cengkeraman lengan kokoh pria asing itu, seluruh tubuh Erika mendadak kaku, terkunci oleh dominasi yang tak terbendung. Aroma alkohol manis bercampur parfum stroberi yang menguar dari tubuh Erika seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa ngeri sekaligus pesona yang memabukkan saat ia menatap pria di depannya. Melalui sisa kesadarannya yang timbul tenggelam akibat pengaruh koktail, Erika mengenali rahang tegas, garis wajah matang, dan tatapan berwibawa itu. Erika mengenalinya karena beberapa kali melihat fotonya dari medsos Sandra. Om Martin. Jantung Erika serasa melompat ke tenggorokan. Ketakutan menyergap batinnya, tetapi tubuhnya terlalu lemas untuk berontak. "Om... Martin...?" cicit Erika lirih, nyaris tak terdengar. Erika bisa melihat bagaimana alis tebal Martin bertaut mendengar namanya disebut. Sorot mata elang pria itu menatapnya begitu dalam, seolah sedang menelanjangi isi kepalanya. "Kamu... tahu namaku?" suara bariton Martin terdengar berat dan menuntut jawaban. Namun, Erika tidak mampu menyahut. Rasa pening yang luar biasa mendadak menghantam pelipisnya, membuat seluruh kekuatan di kakinya lenyap. Erika mengira ia akan jatuh tersungkur, tetapi dengan sigap Martin justru mengangkat tubuhnya sepenuhnya ke dalam gendongan. Sentuhan fisik yang begitu tiba-tiba itu membuat Erika refleks mencengkeram leher Martin, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di ceruk leher pria itu karena malu dan takut. Erika merasakan kulit leher Martin mengeras saat napasnya menerpa di sana. Ada aura berbahaya yang pekat, namun entah mengapa, dekapan pria dewasa ini memberikan rasa aman yang tak pernah Erika dapatkan sebelumnya. Dengan langkah tenang namun pasti, Martin membawa Erika menuju ranjang king size di tengah ruangan. Pria itu membaringkannya dengan perlahan di atas seprai satin abu-abu yang terasa dingin di kulit punggung Erika yang polos. Saat Martin hendak menarik diri, ketakutan akan kesendirian dan dinginnya malam mendadak menguasai batin Erika. Tanpa sadar, jemari lentiknya bergerak sendiri, mencengkeram erat kerah kemeja abu-abu tua milik Martin. "Jangan pergi..." gumam Erika setengah mengigau. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Erika yang terbiasa hidup dalam penolakan dan dinginnya keluarga yang hancur, merindukan sosok pelindung. Dan malam ini, figur hangat, besar, dan menenangkan itu ada pada diri Martin. Martin terpaku di tempatnya, membuat jarak di antara mereka kembali mengikis. Erika mendongak, menatap lekat-lekat sepasang bibir tipis di atasnya yang kini berjarak hanya beberapa sentimeter. "Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu minta, manis," bisik Martin dengan suara yang dalam, penuh peringatan yang justru terdengar seksi di telinga Erika. "Aku—aku takut, Om..." Setitik air mata lolos begitu saja dari sudut mata Erika, meratapi nasibnya yang harus berjuang sendirian setiap hari demi bertahan hidup. Erika merasakan sensasi hangat saat jempol besar Martin yang sedikit kasar bergerak mengusap air mata di pipinya. Sentuhan itu begitu intim, begitu lembut, hingga membuat Erika melenguh pelan. Tanpa sadar, ia menggeser wajahnya, mencari kenyamanan lebih pada telapak tangan hangat sang konglomerat. Melalui pandangannya yang kabur, Erika bisa melihat bagaimana kilatan di mata Martin berubah menjadi api yang berkobar. Logika Erika berteriak bahwa ini adalah kesalahan fatal, namun saat Martin mulai menundukkan wajah dan membiarkan ujung hidung mereka bergesekan, Erika memilih menutup matanya rapat-rapa, pasrah pada sentuhan yang ia tahu akan mengubah hidupnya selamanya.Erika menatap map biru tua itu dengan tatapan nanar, sementara otaknya berputar cepat mencoba mencari celah waras yang tersisa. “Om... ini tidak masuk akal. Aku masih berstatus mahasiswi aktif. Aku punya skripsi yang harus diselesaikan semester ini. Bagaimana mungkin aku bisa bekerja full time dari pagi sampai sore di kantor pusatmu?" Martin tidak tampak terkejut dengan protes Erika. Pria matang itu justru mengulas senyum tipis, seolah sudah memprediksi argumen tersebut. Ia melangkah maju, lalu membuka halaman pertama dokumen di dalam map tersebut dengan jemari kokohnya. "Aku tidak pernah membuat rencana yang setengah-setengah, Erika," ujar Martin, suara baritonnya terdengar begitu tenang dan meyakinkan. "Ini adalah program Corporate Internship khusus yang sudah disetujui oleh divisi HRD-ku. Kamu hanya diwajibkan datang ke kantor tiga hari dalam seminggu. Sisa harinya? Kamu bisa menggunakannya untuk bimbingan skripsi dan datang ke kampus." Erika tertegun. Ia membaca lembar de
Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindang yang memagari sebuah kawasan perumahan elite yang sangat sepi dan tertutup. Mobil Martin akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi yang terbuka otomatis. Sedan mewah itu memasuki pekarangan sebuah mansion modern minimalis bernuansa monokrom. Rumah itu tampak sepi, terasing dari hiruk-pikuk dunia luar, terbungkus dalam kemewahan yang sunyi. "Kita sampai," ujar Martin lembut namun penuh penekanan saat mesin mobil dimatikan. Erika menelan ludah. Ia melangkah turun dengan kaki yang terasa agak lemas. Sepatu flat shoes murahnya melangkah di atas lantai marmer halaman. Sementara Martin berjalan di sampingnya dengan langkah lebar yang anggun. Pria itu membuka pin
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.Di otaknya, rekaman kejadian semalam terus berputar seperti kaset rusak; bagaimana lengan kokoh Martin memeluk pinggangnya, aroma maskulin yang memabukkan, hingga bisikan berbahaya pria itu di ambang pintu kosnya."Erika! Astaga, kamu harus dengar ini!"Suara pekikan nyaring Sandra membuyarkan lamunan Erika. Pintu kaca kantin kampus baru saja terbuka, dan Sandra langsung berlari menghampiri meja Erika dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan luar biasa. Gadis kaya itu langsung duduk di hadapan Erika, menggenggam kedua tangan sahabatnya dengan heboh."Kamu tahu tidak? Pesta semalam itu sukses besar! Tapi yang paling membuatku mau menangis adalah Papa," ujar Sandra dengan mata berkaca-kaca ka
Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hotel kini mengepungnya kembali, mengingatkannya pada kecupan menuntut yang hampir merenggut seluruh akal sehatnya. Erika melirik sekilas dari sudut matanya. Martin fokus mengemudi, profil wajahnya yang tegas terlihat sangat karismatik di bawah temaram lampu jalanan ibu kota. Kedua kancing teratas kemeja abu-abunya masih terbuka, memancarkan aura maskulin yang sangat pekat. "Pakai ini. Kulitmu sampai merinding karena kedinginan." Suara bariton Martin memecah keheningan. Tanpa diduga, pria itu mengulurkan sebuah jas wol hitam mewah yang tadi tersampir di kursi belakang dengan satu tangannya. Erika tersentak, sedikit canggung saat menerima jas itu. “Terima kasih, Om." Saat Erika menyampirka
Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erika masih meringkuk di atas ranjang, memeluk dirinya sendiri. Gaun hijau zamrudnya yang berantakan membuatnya merasa begitu kotor dan terhina. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah Martin, memohon dengan sangat agar pria itu tidak membongkar keberadaannya. Martin berdiri tegak di sisi ranjang. Tatapannya beralih dari ponsel ke wajah Erika yang pucat pasi. Kerutan di dahi pria matang itu semakin dalam. Sebagai pria yang tajam, dia mulai menangkap sesuatu. Kepanikan berlebih di mata gadis ini bukan sekadar karena mereka hampir ketahuan berhubungan intim, melainkan karena ada ketakutan akan sebuah pengkhianatan yang besar. Martin berdeham sejenak, menetralkan suara baritonnya agar t
Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Rasa bersalah yang hebat sempat menghantam dada Erika, membuatnya mencoba mendorong bahu bidang pria itu. Namun, Martin justru menangkap kedua pergelangan tangan Erika dengan satu tangan besarnya, menguncinya di atas kepala dengan mudah. Ciuman Martin berubah menjadi lebih intens, seolah menghukum penolakannya. Lidah Erika kelu, seluruh persendiannya mendadak lumpuh saat ciuman itu turun ke rahang, lalu beralih ke lehernya yang terekspos bebas. "Ah..." lenguhan bodoh itu lolos begitu saja dari mulut Erika saat bibir dan jambang tipis Martin yang kasar bergesekan dengan kulit lehernya yang sensitif. Sentuhan itu terasa begitu membakar, menyulut hasrat yang tidak pernah Erika ketahui k







