Inicio / Romansa / Hangatnya Jeratan Om Martin / Dua Dunia yang Berbeda

Compartir

Dua Dunia yang Berbeda

Autor: Akuma Rei
last update Fecha de publicación: 2026-06-08 01:28:47

Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini.

Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hotel kini mengepungnya kembali, mengingatkannya pada kecupan menuntut yang hampir merenggut seluruh akal sehatnya.

Erika melirik sekilas dari sudut matanya. Martin fokus mengemudi, profil wajahnya yang tegas terlihat sangat karismatik di bawah temaram lampu jalanan ibu kota. Kedua kancing teratas kemeja abu-abunya masih terbuka, memancarkan aura maskulin yang sangat pekat.

"Pakai ini. Kulitmu sampai merinding karena kedinginan."

Suara bariton Martin memecah keheningan. Tanpa diduga, pria itu mengulurkan sebuah jas wol hitam mewah yang tadi tersampir di kursi belakang dengan satu tangannya.

Erika tersentak, sedikit canggung saat menerima jas itu.

“Terima kasih, Om."

Saat Erika menyampirkan jas tersebut di bahunya, kehangatan langsung menjalar, membawa serta aroma khas tubuh Martin yang begitu menenangkan. Perhatian kecil yang sederhana ini terasa begitu asing sekaligus menghangatkan hati Erika.

Sepanjang hidupnya, dia selalu menjadi pihak yang mengurus orang lain: ibunya, kafe, tugas-tugas kuliahnya. Tidak pernah ada yang memperlakukannya selembut ini, seolah-olah dia adalah sesuatu yang rapuh dan harus dilindungi.

Mobil terus melaju membelah malam, meninggalkan kawasan hotel berbintang dan perlahan memasuki area pinggiran kota. Gedung-gedung pencakar langit yang megah berganti menjadi deretan ruko tua dan gang-gang yang sempit.

"Di depan, masuk ke gang sebelah kanan, Om. Mobilnya hanya bisa berhenti di dekat pos ronda saja," cicit Erika, merasa semakin tidak nyaman.

Sedan mewah milik Martin akhirnya berhenti di tepi jalan utama, tepat di mulut sebuah gang sempit yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip redup. Erika memandang ke luar jendela, menatap deretan bangunan indekos semi-permanen yang saling berhimpitan.

Seketika itu juga, rasa minder dan malu yang luar biasa menghantam dada Erika. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas bumi.

Di sinilah tempatnya bernaung. Sebuah kamar kos berukuran empat kali tiga meter dengan cat dinding yang sudah mengelupas dan atap yang terkadang bocor saat hujan. Sangat kontras dengan kehidupan Sandra yang tinggal di mansion bak istana, atau Martin yang menyewa lantai penthouse mewah hanya untuk pesta semalam.

Erika merasa seketika berubah menjadi upik abu yang tidak tahu diri setelah sempat melayang di atas awan.

"Kosku... di dalam gang itu, Om." ujar Erika sambil menunduk, sengaja menghindari tatapan mata Martin karena malu memikirkan betapa kontrasnya dunia mereka.

“Terima kasih banyak sudah mengantar saya, dan... maaf untuk yang di kamar hotel tadi."

Erika bergegas membuka sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil, ingin segera lari dari rasa malu yang menghimpit dadanya.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh tuas pintu, sebuah tangan besar dan hangat terulur, mencengkeram lembut pergelangan tangannya.

Langkah Erika terhenti. Dia menoleh perlahan, dan mendapati Martin sedang menatapnya dengan sepasang mata elang yang tidak lagi dingin, melainkan memancarkan sorot dalam yang sulit diartikan. Pria matang itu sama sekali tidak menunjukkan kilat merendahkan setelah melihat lingkungan kumuh tempat Erika tinggal.

“Aku akan mengantarmu sampai kos,” ucapnya rendah.

Erika menahan napas saat mendengar suara pintu mobil Martin terbuka. Ia mengira pria itu hanya akan melepaskan pegangan tangannya, tetapi di luar dugaan, Martin ikut turun dari sedan mewahnya.

Tubuh tingginya berdiri tegap di bawah temaram lampu gang yang berkedip-kedip, tampak begitu mencolok di lingkungan kumuh tersebut.

"Om, tidak usah repot-repot. Di dalam sangat sempit," cegah Erika panik saat Martin berjalan di sampingnya.

"Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita berjalan sendirian di gang gelap seperti ini tengah malam," jawab Martin tenang, suaranya yang berat menyiratkan perintah yang tidak bisa dibantah.

Erika akhirnya menurut pasrah. Dengan perasaan campur aduk antara malu dan berdebar, ia menuntun Martin menyusuri gang sempit hingga sampai di depan pintu kamar kosnya. Erika memutar kunci, dan pintu kayu tripleks itu terbuka dengan derit pelan.

Saat lampu neon putih dinyalakan, ruangan berukuran empat kali tiga meter itu langsung terekspos sepenuhnya. Kamar itu memang sangat sempit, hanya berisi kasur tipis di lantai, sebuah lemari pakaian plastik, dan meja belajar kayu kecil. Namun, Martin tampak memperhatikan sekeliling dengan saksama. Kamar itu sangat bersih, rapi, dan dipenuhi tumpukan buku-buku kuliah tebal yang tersusun rapi di sudut ruangan.

Martin melangkah masuk, membuat kamar kos yang mungil itu mendadak terasa semakin sempit karena auranya yang mendominasi. Pria itu mendekati meja belajar Erika, menatap sebuah kalender meja yang penuh dengan coretan jadwal.

"Kuliah pagi, lalu kerja paruh waktu dari sore sampai hampir tengah malam?" Martin membaca coretan di kalender itu, lalu membalikkan tubuhnya memandang Erika.

“Sandra sering bercerita punya teman yang sangat pintar, tapi dia tidak pernah bilang kalau temannya ini juga seorang pekerja keras."

Erika menunduk, meremas ujung jas wol Martin yang masih tersampir di bahunya.

“Saya tidak punya pilihan, Om. Biaya kuliah semester depan sudah dekat, dan saya harus mengirim uang untuk Ibu di kampung. Saya bukan Sandra yang bisa memiliki segalanya tanpa perlu memeras keringat."

Ada nada getir yang lolos dari runtutan kalimat Erika. Namun, alih-alih merasa kasihan, Martin justru melangkah mendekat hingga jarak mereka mengikis.

Pria itu menatap Erika dengan sorot mata yang dipenuhi rasa kagum yang mendalam.

"Kamu hebat, Erika. Dan kamu tidak perlu merasa malu dengan tempat ini," ucap Martin tulus.

Suaranya yang melembut entah mengapa terdengar begitu seksi dan menghanyutkan di telinga Erika. Pertahanan Erika runtuh lagi. Pujian dari pria sematang Martin terasa ribuan kali lebih berharga daripada uang tips besar dari pelanggan kafe mana pun.

Martin melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul dua pagi.

“Berikan ponselmu!”

Martin mengulurkan tangan. Dan anehnya Erika langsung memberikan ponselnya tanpa banyak bertanya.

Pria itu tampak mengetikkan sesuatu lalu setelah memastikan panggilannya masuk ke ponselnya sendiri, ia mengembalikan ponsel itu pada Erika.

“Sudah larut. Istirahatlah, Erika. Aku harus pergi."

Erika mengangguk pelan, bersiap mengantar Martin sampai ke pintu depan. Pria itu melangkah keluar dari kamar kos. Namun, tepat di ambang pintu, Martin menghentikan langkahnya secara mendadak.

Pria itu berbalik. Sebelum Erika sempat bereaksi, Martin maju selangkah, mempersempit jarak hingga dada bidangnya hampir menyentuh ujung hidung Erika.

Martin menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Erika. Embusan napasnya yang hangat dan beraroma mint membuat bulu kuduk Erika meremang seketika.

"Ada satu hal yang harus kamu tahu, Erika," bisik Martin, suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan penuh dengan intensitas yang berbahaya.

Jantung Erika berhenti berdetak sesaat. Ia mendongak, terpaku pada sepasang mata elang Martin yang kembali menggelap, memancarkan kilatan hasrat terlarang yang sama persis seperti di kamar hotel 808 tadi.

"Mengetahui bahwa kamu adalah sahabat putriku… ternyata sama sekali tidak membuatku ingin berhenti menginginkanmu," bisik Martin tepat di depan bibir Erika, menyisakan jarak yang begitu tipis sebelum pria itu menarik diri, berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan Erika yang membeku dengan napas memburu di ambang pintu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Permainan Kecil di Kost

    Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca di kosan Erika mulai berembun. Usai membersihkan diri dari ketegangan sore tadi, Erika keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan oversized T-shirt putih tipis yang agak menerawang dan celana pendek sebatas paha. Rambutnya yang masih basah terurai, meneteskan air ke atas tulang selangkanya yang bersih.Saat Erika sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunyi ketukan pelan—dua kali, begitu teratur—terdengar di pintu kosannya.Jantung Erika melonjak. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kartu As Sang Mantan

    Darah Erika mendadak tersedot habis membaca pesan anonim tersebut. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga sendok di tangannya berdenting menyentuh piring. Martin, dengan ketajaman instingnya, langsung menyadari perubahan sikap Erika. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan, melangkah menghampiri Erika, dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu. Mata Martin memicing saat membaca pesan itu. Bukannya panik, raut wajah Martin justru mengeras oleh amarah yang tertahan, seolah ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. "Terlalu mudah ditebak…” gumam Martin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Rupanya mata-matanya di hotel semalam bekerja cukup cepat." "O-Om... apa maksudnya? Om tahu siapa pengirim pesan ini?" bisik Erika panik, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Dia tahu soal kita— apa mungkin Daren yang mengirimnya?” Martin mencengkeram dagu Erika dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengar, Erika. Jangan terlalu khawatir.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ancaman Baru

    Layar ponsel yang berkedip menyala itu seperti bom waktu yang siap meledak. Meski begitu, rona ketenangan terpancar jelas dari raut wajah Martin. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, Martin berjalan meninggalkan kamar Erika lalu menuruni tangga. Begitu berada di koridor luar yang hening, Martin menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Sandra?" Suara Martin terdengar sangat wajar, dingin, dan berwibawa—seolah tak ada hal abnormal yang baru saja terjadi. Dari seberang telepon, suara Sandra terdengar panik dan terengah-engah. “Papa! Papa lagi di mana? Papa tahu nggak Daren ke mana? Terus Erika... Erika hilang, Pa! Ponselnya nggak aktif!" Martin berjalan perlahan menyusuri koridor, menyandarkan satu tangannya di saku celana. "Tenangkan dirimu, Sandra. Nada bicaramu terlalu berlebihan." “Gimana nggak panik, Pa!" seru Sandra dari seberang, suaranya hampir menangis. “Aku tadi minta Daren anterin Erika sebentar karena Erika mendadak pusing dan lemas. Tapi Dar

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Di Ambang Batas

    “Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin me

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kegilaan Erika

    Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Racun di balik keramahan

    “Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Sisi Lain Sang Penguasa

    Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Jeratan di Balik Kaca Gelap

    Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Tawaran di Tengah Malam

    Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Api Dalam Selimut

    Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Ra

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status