Mag-log inErika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan.
Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindang yang memagari sebuah kawasan perumahan elite yang sangat sepi dan tertutup. Mobil Martin akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi yang terbuka otomatis. Sedan mewah itu memasuki pekarangan sebuah mansion modern minimalis bernuansa monokrom. Rumah itu tampak sepi, terasing dari hiruk-pikuk dunia luar, terbungkus dalam kemewahan yang sunyi. "Kita sampai," ujar Martin lembut namun penuh penekanan saat mesin mobil dimatikan. Erika menelan ludah. Ia melangkah turun dengan kaki yang terasa agak lemas. Sepatu flat shoes murahnya melangkah di atas lantai marmer halaman. Sementara Martin berjalan di sampingnya dengan langkah lebar yang anggun. Pria itu membuka pintu utama, memperlihatkan interior rumah yang sangat luas, rapi, tetapi terasa begitu dingin. "Ini... rumah siapa, Om? Di mana Sandra?" tanya Erika, suaranya sedikit bergetar saat menyadari tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah sebesar ini. "Ini salah satu rumah pribadiku. Sandra tidak tahu tempat ini," jawab Martin tanpa beban sembari melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja konsol. Pria itu berbalik menatap Erika, mengamati kegugupan yang begitu kentara dari gadis 22 tahun itu. "Aku tahu kamu belum makan siang sejak keluar dari kantin tadi. Duduklah." Martin menunjuk sebuah kursi bar di dekat dapur bersih yang sangat modern. Di atas meja counter, sudah tersaji beberapa menu makanan mewah dari restoran bintang lima yang tampak masih hangat—jelas sudah dipesan Martin bahkan sebelum dia menjemput Erika. Rasa lapar yang sempat tertahan mendadak membuat perut Erika berbunyi tipis, membuatnya merona merah karena malu. Martin yang menyadari hal itu hanya mengulas senyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat gurat wajah matangnya yang berusia 46 tahun terlihat jauh lebih hangat dan sangat tampan. "Makanlah. Kamu tidak bisa fokus berpikir atau bekerja dengan perut kosong, Erika," ucap Martin sembari menyodorkan sebotol air mineral padanya. Melihat perhatian kecil yang begitu nyata, pertahanan Erika perlahan melunak. Ia duduk dan mulai menyuap makanan itu dengan canggung. Di tengah keheningan, Martin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Erika. Pria berkuasa itu menarik sebuah kursi, lalu duduk tepat di hadapan Erika dengan menumpu dagunya pada sebelah tangan. "Sandra bilang, kamu sering mengabaikan jam makanmu demi mengejar shift kerja di kafe," ujar Martin memecah kesunyian, suaranya terdengar seperti sebuah teguran yang sarat akan perhatian. Erika menghentikan kunyahannya sesaat, menunduk menatap piringnya. "Itu karena saya tidak punya pilihan lain, Om. Jika saya tidak bekerja keras, tidak akan ada yang membayar sewa kos atau kuliah saya." Ada nada getir yang tak mampu Erika sembunyikan. Di hadapan pria yang memiliki segalanya ini, Erika merasa telanjang dengan segala kesusahan hidupnya. Namun, alih-alih merasa dihakimi, Erika justru merasakan sebuah jemari besar dan hangat mendarat di atas punggung tangannya yang bebas. Erika tersentak, mendongak menatap Martin. "Mulai hari ini, kamu punya pilihan, Erika," bisik Martin, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Erika, memancarkan binar dominasi sekaligus janji perlindungan yang begitu pekat. "Aku bisa menyelesaikan semua masalah finansialmu dalam sekejap. Kuliahmu, ibumu, tempat tinggalmu. Semua itu, kamu hanya perlu memintanya padaku." Jantung Erika berdentum keras hingga terasa menyakitkan di rongga dadanya. Tawaran itu bagai sebuah oase di tengah padang pasir hidupnya yang gersang. Namun, ego dan harga diri Erika bergejolak hebat. Jika dia menerima, apa bedanya dia dengan wanita simpanan yang memanfaatkan kekayaan ayah sahabatnya sendiri? Erika menarik tangannya perlahan dari genggaman Martin. "Saya—saya menghargai niat baik Om. Tapi saya bukan wanita seperti itu. Saya berteman dengan Sandra dengan tulus, bukan untuk mendekati ayahnya demi uang." Mendengar penolakan halus itu, Martin tidak marah. Sebaliknya, kilatan kekaguman yang luar biasa justru melintas di sepasang mata elangnya. Martin berdiri, melangkah memutari meja counter hingga kini dia berdiri tepat di belakang kursi Erika. Pria itu menundukkan tubuhnya, mengurung Erika di antara kedua lengan kekarnya yang menumpu pada meja. Jarak mereka kembali mengikis habis hingga Erika bisa merasakan kehangatan dada bidang Martin yang menempel pada punggungnya. "Aku tahu kamu gadis yang bersih, Erika. Karena itulah aku menginginkanmu," bisik Martin tepat di ceruk leher Erika, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika akibat sensasi panas yang menjalar. “Aku tidak sedang membelimu dengan uangku. Aku hanya menawarkan perlindungan yang memang ingin kuberikan pada wanita yang… sudah menarik perhatianku." Erika memejamkan mata rapat-rapat, napasnya memburu. Sentuhan dan kata-kata Martin adalah racun yang paling manis, menjeratnya semakin dalam ke dalam jurang dosa yang tak lagi ingin ia hindari. Erika dapat merasakan embusan napas Martin yang hangat menyapu kulit lehernya, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat seluruh persendiannya mendadak lumpuh. Kungkungan tubuh tegap pria 46 tahun itu terasa mengunci Erika antara meja counter dan dada bidang sang konglomerat. Martin perlahan menegakkan tubuhnya, tapi tidak menjauh. Ia berbalik, bersandar pada tepi meja dengan kedua tangan bersedekap, menatap Erika yang masih berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Mata elang pria itu berkilat penuh kalkulasi khas seorang penguasa yang tahu kapan harus mengajukan penawaran tertinggi. "Aku tahu harga dirimu terlalu tinggi untuk menerima cek kosong begitu saja, Erika," ujar Martin, suara baritonnya kembali terdengar tenang namun sarat akan manipulasi yang halus. “Maka dari itu, aku tidak akan memberimu uang secara cuma-cuma." Erika mendongak, menatap ragu ke dalam manik mata pria di hadapannya. "M—maksud Om apa?" Martin mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki. Ia berjalan mendekati meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah map dokumen berwarna biru tua yang tampaknya memang sudah ia siapkan, lalu meletakkannya di depan Erika. "Di dalam ada kontrak magang di kantor pusat holding perusahaanku, khusus untuk posisi asisten analis junior di divisi finansial. Posisi yang sangat cocok dengan jurusan kuliahmu, dan posisi yang biasanya membutuhkan pengalaman kerja minimal tiga tahun," jelas Martin, jemari kokohnya mengetuk permukaan map tersebut. Erika terbelalak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Menembus perusahaan milik Martin adalah mimpi mustahil bagi mahasiswa biasa sepertinya. "Gaji yang ditawarkan di sana lebih dari cukup untuk membayar sisa semesteranmu, melunasi biaya pengobatan ibumu di kampung, dan memindahkanmu dari kamar kos sempit itu ke apartemen yang lebih layak di dekat kampus," lanjut Martin, menjabarkan tawaran yang begitu presisi menghantam seluruh titik lemah dalam hidup Erika. “Kamu akan bekerja secara profesional. Tidak ada yang akan menganggapmu sebagai wanita simpanan, karena kamu digaji atas dasar pekerjaanmu." Erika menelan ludah yang terasa getir. "Lalu... apa imbalannya untuk Om? Tidak mungkin seorang CEO turun tangan langsung hanya untuk memberikan lowongan magang pada mahasiswa tingkat akhir." Martin melangkah maju satu kali lagi, mempersempit jarak hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Pria matang itu menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam netra Erika dengan binar posesif yang tak lagi disembunyikan. "Imbalannya sederhana, Erika," bisik Martin, suaranya merendah, berubah menjadi serak dan penuh gairah terlarang. "Kamu bekerja di perusahaanku dari pagi hingga sore. Dan setelah jam kerja itu usai... kamu sepenuhnya menjadi milikku. Hanya milikku, di tempat ini, tanpa ada Sandra atau siapa pun yang tahu." Napas Erika tercekat di tenggorokan. Ini bukan sekadar tawaran pekerjaan. Ini adalah jeratan emas yang dibungkus dengan sangat rapi oleh Martin. Pria ini tidak membelinya dengan uang, melainkan membelinya dengan masa depan dan keamanan hidup yang selama ini Erika pertaruhkan dengan darah dan air mata. Erika menatap map biru di depannya, lalu beralih pada wajah tampan dan matang milik ayah sahabatnya sendiri. Logikanya berteriak bahwa ini adalah pintu menuju kehancuran persahabatannya dengan Sandra. Namun, tubuh dan hatinya yang kesepian justru bergetar hebat, tergoda untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada sang penguasa.Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca di kosan Erika mulai berembun. Usai membersihkan diri dari ketegangan sore tadi, Erika keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan oversized T-shirt putih tipis yang agak menerawang dan celana pendek sebatas paha. Rambutnya yang masih basah terurai, meneteskan air ke atas tulang selangkanya yang bersih.Saat Erika sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunyi ketukan pelan—dua kali, begitu teratur—terdengar di pintu kosannya.Jantung Erika melonjak. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal
Darah Erika mendadak tersedot habis membaca pesan anonim tersebut. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga sendok di tangannya berdenting menyentuh piring. Martin, dengan ketajaman instingnya, langsung menyadari perubahan sikap Erika. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan, melangkah menghampiri Erika, dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu. Mata Martin memicing saat membaca pesan itu. Bukannya panik, raut wajah Martin justru mengeras oleh amarah yang tertahan, seolah ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. "Terlalu mudah ditebak…” gumam Martin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Rupanya mata-matanya di hotel semalam bekerja cukup cepat." "O-Om... apa maksudnya? Om tahu siapa pengirim pesan ini?" bisik Erika panik, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Dia tahu soal kita— apa mungkin Daren yang mengirimnya?” Martin mencengkeram dagu Erika dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengar, Erika. Jangan terlalu khawatir.
Layar ponsel yang berkedip menyala itu seperti bom waktu yang siap meledak. Meski begitu, rona ketenangan terpancar jelas dari raut wajah Martin. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, Martin berjalan meninggalkan kamar Erika lalu menuruni tangga. Begitu berada di koridor luar yang hening, Martin menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Sandra?" Suara Martin terdengar sangat wajar, dingin, dan berwibawa—seolah tak ada hal abnormal yang baru saja terjadi. Dari seberang telepon, suara Sandra terdengar panik dan terengah-engah. “Papa! Papa lagi di mana? Papa tahu nggak Daren ke mana? Terus Erika... Erika hilang, Pa! Ponselnya nggak aktif!" Martin berjalan perlahan menyusuri koridor, menyandarkan satu tangannya di saku celana. "Tenangkan dirimu, Sandra. Nada bicaramu terlalu berlebihan." “Gimana nggak panik, Pa!" seru Sandra dari seberang, suaranya hampir menangis. “Aku tadi minta Daren anterin Erika sebentar karena Erika mendadak pusing dan lemas. Tapi Dar
“Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin me
Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang
“Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.
Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote
Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik
Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Ra







