Share

Harap Restu Seorang Menantu
Harap Restu Seorang Menantu
Author: Giana

Bab 1~Keraguan~

Author: Giana
last update Last Updated: 2025-08-13 08:21:58

Nadira berdiri terpaku di pinggir trotoar, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jantungnya berdegup kencang, seakan ingin melompat keluar dari dada. Ia menggelengkan kepala berulang kali, mencoba menolak kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya.

Tidak mungkin.

Itu bukan Aryan.

Itu bukanlah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya dalam hitungan hari.

“Aryan nggak mungkin berselingkuh dariku. Kita sebentar lagi akan menikah, kan. Kita sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna,” gumamnya lirih dengan suara tercekat, nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri.

Air mata menggenang. Nadira menyeka pipinya yang basah, lalu berlari menyeberangi jalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Kendaraan yang melintas membunyikan klakson dengan meraung-raung, namun tak dihiraukannya. Pandangannya hanya tertuju pada satu hal—lelaki yang sedang memeluk wanita lain di bangku taman kota.

Sesampainya di depan Aryan, tanpa pikir panjang, Nadira langsung melayangkan tamparan keras ke pipi lelaki itu. Suara tamparannya menggema di antara bisik-bisik orang yang yang mulai memperhatikan keributan mereka.

“Tega kamu! Berkhianat dariku di saat pernikahan kita kurang beberapa hari lagi! Aku nggak sangka kamu brengsek kayak gini, Aryan!” teriak Nadira, matanya memerah dan wajahnya penuh luka kecewa.

Aryan tampak kaget dan canggung. Beberapa pasang mata memandanginya seolah ia penjahat. Rasa malu yang membakar wajahnya membuatnya segera menarik tangan Nadira menjauh dari kerumunan.

“Nad, sini. Kita bicara berdua dulu,” katanya cepat.

Sementara itu, wanita yang tadi dipeluk Aryan hanya berdiri kikuk, menunduk dalam diam.

“Kamu tunggu di sini, ya? Aku akan jelaskan semuanya dulu dengannya,” ucap Aryan padanya. Wanita itu hanya mengangguk pelan, wajahnya jelas menunjukkan kegugupan.

Beberapa langkah menjauh, Nadira mencoba melepaskan genggaman tangan Aryan. Matanya masih berkaca-kaca, tapi kini sorotnya berubah menjadi tajam dengan kemarahan yang meledak-ledak.

“SEJAK KAPAN?! Sejak kapan kamu berkhianat dariku, hah? Atau jangan-jangan, dari awal hubungan kita, kamu nggak pernah sekalipun setia ke aku?” bentaknya lantang, telunjuknya menuding wajah Aryan dengan gemetar.

Aryan menangkap telunjuk itu, menggenggamnya erat. “Nad, kamu denger aku dulu. Aku nggak pernah selingkuh darimu. Sama sekali nggak pernah terlintas buat aku kepikiran begitu. Apalagi, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, mana mungkin aku tega main gila di belakangmu?”

Aryan menghela napas panjang. Ia menatap mata Nadira yang masih basah oleh amarah dan kekecewaan, lalu melanjutkan ucapannya dengan suara serak.

“Pernikahan yang udah aku nantikan sama orang yang kucintai, nggak mungkin aku rusak dengan kelakuan bodoh yang bisa melukai hatimu. Aku tahu ini kelihatan salah. Tapi aku mohon, dengarkan aku dulu, Nadira. Kamu cuma salah paham. Wanita itu bukan siapa-siapa. Dia—”

“Jangan bilang dia bukan siapa-siapa, karena jelas-jelas tadi kamu peluk dia dengan dua tanganmu sendiri! Kalau dia cuma orang biasa, kenapa kamu terlihat begitu peduli?!” potong Nadira cepat.

Aryan menundukkan kepala sejenak. Ia mengusap wajahnya kasar, terlihat begitu frustrasi dengan situasi peliknya. Tatapannya kemudian kembali menatap Nadira dalam-dalam.

“Namanya Erlina. Dia sepupu jauhk—”

Nadira tertawa miris, pahit terdengar di telinga siapa pun yang mendengarnya. “Sepupu? Serius, Aryan? Kamu peluk sepupu kamu di taman malam-malam kayak gitu? Kamu pikir aku bodoh?”

Aryan membuka mulut, tapi tidak segera menjawab. Lalu, seakan menguatkan diri, ia berkata tegas. “Erlina datang ke kota hari ini dalam keadaan hancur. Dia baru saja ditipu. Uangnya habis, dia bahkan nggak tahu lagi harus ke mana tanpa sepeser pun uang. Satu-satunya yang dia ingat hanyalah kalau ibuku tinggal di kota ini. Dan saat dia sampai ke rumah ibu, malah disuruh datang ke aku.”

Nadira menatap Aryan dengan napas terengah. Tangannya terkepal di sisi tubuh, menahan diri agar tidak kembali meledak.

“Dan kamu pikir itu alasan yang pantas untuk memeluknya?”

“Dia menangis, Nadira. Dia diselimuti kebingungan dan ketakutan. Pelukan itu hanya semata untuk menenangkan, bukan karena ada maksud lain. Aku hanya mencintaimu. Aku bahkan belum pernah melirik perempuan lain selama kita bersama. Kau satu-satunya yang kupuja, percayalah.”

Untuk sesaat, keheningan menggantung di antara mereka. Nadira masih memandang Aryan dengan tatapan penuh luka, tapi kemarahan itu mulai meredup. Ia juga mencintai Aryan, itu sebabnya ia tak mau kehilangan dirinya.

Namun sebelum Nadira sempat merespons, suara langkah pelan mendekati mereka. Erlina, dengan mata sembab dan wajah pucat, berdiri di samping mereka dengan ragu.

“A—aku minta maaf. Seharusnya aku tidak datang dan membuat kekacauan seperti ini,” ucap Erlina lirih.

Nadira menoleh, menatap wanita itu dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya masih sulit dibaca—antara muak, curiga, dan iba.

“Aku cuma takut pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini. Aku nggak punya siapa-siapa di sini, kecuali keluarga Aryan. Aku ... aku akan pergi kalau memang merepotkan.”

Aryan langsung menoleh. “Jangan, Lin. Kamu nggak merepotkan sama sekali. Ini hanya salah paham antara aku dengan pasanganku saja. Aku akan jelaskan semuanya ke Nadira sehingga dia tidak perlu khawatir, apalagi sampai mencurigaimu.”

Erlina mengangguk pelan dan kembali menjauh, membiarkan mereka berdua berbicara.

Setelah kepergiannya, Nadira menatap Aryan lagi, kali ini terlihat lebih lelah daripada marah. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan, mencoba menenangkan pikirannya yang masih bergejolak.

“Kamu bahkan tak menanyakan pendapatku. Apa kamu tak peduli soal perasaanku sama sekali? Aku masih belum bisa memaklumi alasanmu dengan logis, Aryan. Aku masih diselimuti kecurigaan pada wanita itu,” keluh Nadira dengan rasa kecewa.

Aryan menatap Nadira dengan wajah penuh sesal. Sorot matanya jelas menunjukkan kegundahan. Ia ingin memeluk Nadira, ingin meyakinkannya bahwa tak ada kebohongan yang ia sembunyikan, tapi ia tahu, Nadira belum siap untuk disentuh saat ini.

“Nad, aku nggak bermaksud menyakitimu. Tapi aku juga nggak bisa membiarkan Erlina terlunta-lunta malam-malam begini. Dia keluargaku. Masa iya aku tega bersikap seolah aku nggak kenal?” Aryan berusaha sepelan mungkin menyampaikan niatnya, takut membuat Nadira makin salah paham.

Nadira diam. Ia menatap Aryan lama, lalu mengalihkan pandangan ke arah Erlina yang berdiri beberapa meter dari mereka, memeluk tas kecilnya seolah itu satu-satunya harta yang ia punya.

“Kalau aku di posisimu, mungkin aku juga nggak akan tega. Tapi kamu harus tahu, aku masih belum bisa sepenuhnya tenang. Aku butuh waktu untuk memercayai semuanya,” ucap Nadira akhirnya, pelan.

Aryan mengangguk cepat. “Kita akan bicarakan ini lagi, di waktu yang lebih baik. Tapi untuk sekarang, aku minta izin ya. Aku mau antar Erlina ke rumah Ibu dulu. Nanti aku antar kamu pulang, biar aku bisa pastikan kamu sampai dengan selamat.”

Mereka bertiga lalu meninggalkan taman. Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Aryan, suasana di dalam mobil terasa canggung. Nadira duduk diam di kursi depan, menatap jalanan yang mulai sepi, sementara Erlina duduk di belakang, sesekali mengusap air matanya diam-diam.

Setibanya di rumah, Aryan turun lebih dulu untuk mengetuk pintu. Ibu Aryan menyambut mereka dengan ekspresi datar, tak banyak bicara selain meminta Erlina masuk.

Setelah memastikan Erlina masuk dengan aman, Aryan kembali ke mobil dan menatap Nadira dengan ekspresi bersalah.

“Aku antar kamu pulang sekarang.”

Nadira hanya mengangguk pelan.

Perjalanan pulang mereka dipenuhi keheningan. Tak ada pembicaraan, hanya suara mesin dan jalanan malam yang semakin lengang. Setibanya di depan rumah kontrakan Nadira, Aryan membukakan pintu mobil, lalu menatap wajah perempuan yang ia cintai itu dengan lembut.

“Nad, terima kasih karena masih mau dengar penjelasanku. Aku janji, nggak akan ada kebohongan di antara kita. Aku nggak mau kehilangan kamu, apalagi sekarang.”

Nadira mengangguk sekali, lalu masuk ke rumahnya tanpa sepatah kata pun.

Di dalam rumah, ia menurunkan tas kerjanya dan duduk lemas di sofa. Pandangannya kosong, pikirannya masih bercabang-cabang. Tangannya mengusap wajah yang masih terasa panas oleh sisa tangis dan emosi yang meledak sejak tadi.

“Apa ini keputusan yang benar? Kenapa menjelang hari pernikahan malah muncul ujian seperti ini?” gumamnya lemah pada diri sendiri.

Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 59~Retak Dan Kekhawatiran~

    Nadira menutup pintu kamar dengan hati-hati, tapi detakan pintu itu terasa lebih keras di telinganya sendiri. Kamar yang biasanya menjadi tempatnya merasa aman, malam itu justru seolah mengurung seluruh emosi yang menumpuk di dadanya.Ia meletakkan tas kerja di meja kecil, lalu langsung menuju kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya begitu pancuran dibuka, membuat sebagian ketegangan di lehernya mereda. Ia memejamkan mata lama, membiarkan denting air menenggelamkan suara-suara di ruang makan tadi.Ketika ia keluar, rambutnya masih basah dan wajahnya sedikit memerah karena air dingin. Nadira duduk di tepian ranjang, menarik napas panjang sebelum mengambil ponsel. Jari-jarinya baru sempat menyentuh layar saat suara langkah mendekat terdengar dari luar.Pintu terbuka.Aryan masuk dengan raut yang masih sama seperti di depan tadi—keras, canggung, dan tidak mau kalah. Tatapannya tertuju singkat pada ponsel di tangan Nadira, cukup lama untuk meninggalkan kesan menghakimi.Seolah Nadira d

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 58~Keberpihakan~

    Nadira berdiri di teras, menatap punggung Paula yang menjauh bersama suara motornya. Tatapan itu ia tahan beberapa detik lebih lama dari seharusnya, seakan ia ingin menarik kembali rasa aman yang ikut pergi bersama sahabatnya itu.Begitu motor menghilang di tikungan, keheningan jalan kompleks itu terasa menekan. Nadira menarik napas pelan, memijit dada yang terasa sesak. Ia bersiap melangkah masuk ketika suara mesin mobil mendekat cepat dari ujung gang.Mobil Aryan, suaminya.Lampu depannya menyapu pagar rumah sebelum akhirnya berhenti mendadak di depan teras. Pintu terbuka terburu-buru, dan Aryan keluar dalam keadaan napas terengah, wajah kembang-kempis seperti baru saja berlari maraton dari parkiran sampai ke rumah.Nadira sempat merasa lega. Leganya muncul begitu saja, refleks, karena ia tidak perlu menghadapi ibu mertuanya sendirian. Tapi rasa lega itu menguap tepat saat Aryan membuka mulut.“Aku dengar Paula nganterin kamu pulang sampai berdebat sama Ibu, ya? Paula di mana sekaran

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 57~Ketegangan Di Ruang Tamu~

    Paula menurunkan kecepatan ketika motor memasuki gang rumah Nadira. Lampu-lampu teras dari rumah tetangga sudah mulai menyala, tapi rumah Nadira tampak paling terang di antara semuanya. Terlalu terang dari biasanya.Motor berhenti tepat di depan pagar. Nadira turun lebih dulu, melepas helm dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia berdiri di samping motor, menyodorkan helm kembali pada Paula, tapi pandangannya tidak pernah lepas dari pintu rumahnya yang terbuka setengah. Cahaya lampu ruang tamu tumpah sampai ke teras, membuat rumahnya terasa asing baginya.Paula mengamati wajah Nadira yang memucat. Ia mengikuti arah tatapannya, lalu menghembuskan napas pelan. “Sepertinya mereka masih di dalam,” gumamnya, pelan tapi tegas.Nadira menelan ludah. “La, kamu nggak perlu ikut masuk. Ini masalah rumah tanggaku. Aku nggak mau kamu ikut terseret.”Paula mematikan mesin motor dan turun dengan gerakan mantap, seperti orang yang sudah mengambil keputusan sejak awal. Ia menepuk lengan Nadira, cukup k

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 56~Kecemasan Soal Rumah~

    Sejak tiba di kantor, langkah Nadira tidak pernah benar-benar stabil. Pikirannya masih tertinggal di teras rumahnya, tepat di titik ketika ia melihat ibu mertuanya dan Erlina berdiri sambil membawa koper besar. Suara keyboard, lalu-lalang karyawan, bahkan laporan yang menunggu dicek terasa jauh di belakang kepalanya.Sesekali ia mengecek ponsel, berharap ada chat dari Aryan yang menjelaskan semuanya. Tapi layar ponselnya tetap sepi, tanpa kabar dan tanpa kepastian. Saat jam istirahat tiba, ia menyeret langkah keluar ruangan. Memilih duduk di deretan meja pojok, menatap nampan makanannya tanpa benar-benar punya selera untuk melahapnya.Paula yang baru masuk pun langsung duduk di seberang meja Nadira, membawa nampan makannya sambil memasang wajah penasaran yang gagal ia sembunyikan. Tak lama, Raka ikut bergabung. Dengan santai ia memutuskan duduk di sebelah Paula. Posisi duduk seperti itu saja sudah bisa membuat Paula kelabakan. Namun ia berusaha untuk tetap fokus tertuju pada sahabatny

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 55~Langkah yang Bagus~

    Saat malam turun dan lampu-lampu kecil dinyalakan di sekitar area, mereka akhirnya membereskan barang-barang. Udara benar-benar dingin, namun wajah mereka hangat oleh tawa dan kepuasan.“Aku seneng banget hari ini,” ucap Paula sambil membuka pintu mobil.Nadira tersenyum. “Aku juga sama.”Raka melirik Paula dengan tatapan tenang, bahkan ada seulas senyum tipis singgah di bibirnya. “Terima kasih karena kalian mengajakku. Aku pun merasakan hal yang sama. Beban kerjaan terasa makin ringan setelah healing di puncak ini bersama kalian,” kekehnya lalu menatap ke arah Aryan dan Nadira secara bergantian dengan senyum kecilnya.Semua mengangguk setuju. Mobil pun meluncur turun dari puncak, meninggalkan angin dingin di belakang. Tapi justru dalam perjalanan pulang itu hati mereka terasa hangat.*****Begitu mobil berhenti di depan rumah Nadira dan Aryan, lampu teras menyala lembut membuat halaman tampak teduh meski udara masih menusuk.“Akhirnya sampai juga. Sumpah aku udah ngantuk banget,” kel

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 54~Mantap Untuk Melepaskan~

    Langit mulai berubah warna saat mereka sampai di area camping puncak, yaitu biru pucat dengan kabut putih yang bergerak pelan seolah menari di antara pepohonan. Udara dingin langsung menyergap begitu keempatnya turun dari mobil, jauh lebih dingin daripada yang mereka duga. Tapi suasananya begitu tenang hingga rasa dingin itu terasa seperti bagian dari sambutan.“Aduh, dingin banget ternyata,” ujar Paula sambil menggosok kedua lengannya.Raka yang berjalan di belakang hanya menahan senyum kecil. “Makanya pakai jaket yang tebal. Kalau perlu berlapis-lapis biar mirip kepompong,” sahutnya sambil bergurau.“Aku pikir udaranya hanya sejuk saja, bukan dingin menusuk begini, Pak,” elak Paula sambil meringis.Nadira tertawa kecil. “Santai aja, La. Nanti kamu juga terbiasa. Makanya, jangan suka rebahan mulu di rumah, sekali-kali keluar ke alam buat hirup udara segar begini.”Paula mendengus mendengar sahabatnya itu malah ikut mengejeknya. Ia yang tak terima pun sedikit mencubit gemas pinggang N

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status