LOGINNadira bangun dari tempat duduknya, bermaksud pergi ke belakang aula. Ia merasa pusing tiba-tiba dan ingin istirahat sebentar. Namun, ketika berbalik ke belakang, yang ditemuinya malah sosok Juan yang berdiri tak jauh darinya.Waktu seolah berhenti di antara keduanya. Hiruk-pikuk terdengar jauh dari pendengaran. Hanya diam dan saling menatap satu sama lain dengan raut wajah yang sukar digambarkan.“Nad—““Juan—“Keduanya saling memanggil satu sama lain. Lalu, kembali terdiam membuat udara di sekeliling menjadi pengap.“Kamu pasti datang karena undangan Paula dan Rakha, ya? Aku tidak tahu kalau kamu juga diundang ke sini. Selamat bersenang-senang kalau begitu.” Nadira yang lebih dulu membuka suara. Terdengar canggung dan tak nyaman.Juan menyadari bahwa Nadira pasti sangat terkejut dengan kedatangannya.“Iya. Paula mengundangku beberapa minggu yang lalu.”Nadira menganggukkan kepala mengerti. Dia lalu mencoba menunjukkan seulas senyum ramah sebelum berniat pergi. Jujur, rasa pusingnya
Pernikahan Paula dan Rakha akhirnya digelar tiga bulan kemudian. Sejak hari di mana Nadira tahu soal pertunangan sahabatnya, ia mendadak dipenuhi urusan pernikahan Paula. Sahabatnya itu benar-benar melibatkannya dalam urusan sepenting itu dalam hidupnya. Tak mau membuat Paula kecewa, Nadira mengerahkan semua yang ia bisa untuk mendukungnya.Pernikahan ini merupakan dedikasi Nadira bahwa ia sungguh-sungguh dengan persahabatannya, terbukti acara berlangsung meriah dan mewah. Paula begitu senang dan bersyukur sudah menyerahkan urusan pernikahan ini pada sahabatnya itu. Ia begitu puas dengan hasilnya.“Gimana, nih? Kapan kamu nyusul?” gurau Rakha yang berdiri di sisi kiri Paula.Ketiganya sedang sesi foto bersama. Nadira yang berdiri di sebelah kanan Paula segera menyahut tapi mencoba tetap tersenyum di depan kamera yang sedang mengambil foto mereka. “Setelah aku dikasih ponakan dari kalian.”Paula refleks mencubit kecil pinggang Nadira lalu tertawa malu. Sedangkan Nadira dan Rakha malah
Nadira memberanikan diri untuk mengikuti intuisinya. Dia sudah memikirkannya matang-matang hampir sebulan ini. Hari ini juga, dia akan mengajukan gugatan cerai kepada suaminya, Aryan.Sekalipun Aryan sudah menangis sejadi-jadinya, bahkan bersujud di bawah kakinya agar dirinya batal meminta talak, nyatanya Nadira tetap pada pendiriannya. Dengan bantuan Paula dan dukungan dari keluarganya sendiri, Nadira mengambil keputusan terbesar ini untuk menyudahi penderitaannya.Memang sangat sakit, tetapi jika ini akhir yang harus dijalani, mau bagaimana lagi. Pernikahan yang ia pikir akan selamanya ... kandas karena lelah. Lelah sebab tak bisa lagi untuk terus menemukan alasan untuk mempertahankannya.“Nad, kamu siap?” tanya Paula yang berdiri di sampingnya.Tangan keduanya bertaut erat di depan gedung pengadilan agama. Tempat yang tak pernah terlintas di benak Nadira bahwa dia datang hanya untuk mengajukan perceraian.“Aku siap, La. Tolong terus temani aku, ya,” ujar Nadira dengan suara lemah.
Nadira menangis sendirian di kamarnya setelah berhasil mengusir tiga orang yang begitu menyakitinya. Dia sungguh tak tahu, apakah keputusannya ini adalah yang terbaik. Atau malah, apa yang dia lakukan adalah bodoh. Membiarkan Aryan pergi dan melepaskan status pernikahan mereka, sama sekali tak pernah ada dalam rencana hidupnya.Dia pikir, selamanya hanya akan mencintai dan terus bersama Aryan. Biar pun sang mertua tidak kunjung memberikan restu bahkan hingga pernikahan mereka terjalin lama, Nadira mengira itu akan bisa dia lewati. Selama Aryan selalu di sisinya dan mendukungnya, dia pikir akan baik-baik saja.Namun, harapan itu akhirnya kandas. Pernikahan yang diawali dengan cinta di antara mereka, nyatanya tetap bisa hancur hanya karena restu yang tak kunjung didapat.“Nadira! ... Nadira, kamu di dalam, kan?!”Gedoran keras di pintu rumahnya membuat Nadira menghentikan tangisannya sejenak. Dia mengusapnya dengan buru-buru lalu berusaha bangun untuk membukakan pintu.Saat pintu baru t
Nadira membuka pintu kamarnya. Dia yang keluar dengan membawa beberapa tas besar langsung disambut oleh Aryan dan Erlina yang kemungkinan besar sejak tadi menungguinya di depan pintu. Aryan awalnya terlihat lega saat mendekat, tetapi ketika dia bermaksud ingin memeluk Nadira, wanita itu langsung menolak kasar dan malah melemparinya tas besar yang sedang dipegangnya.“Mbak Nad ... aku dan Mas Aryan memang ada main di belakangmu. Namun, harusnya Mbak Nadira juga bisa memahami alasan kami melakukan itu. Mbak Nadira sibuk dengan kerjaan, Mas Aryan di sini kesepian. Belum lagi, kalian memang terlibat perang dingin beberapa waktu lamanya. Aku hanya ingin menghibur Mas Aryan saja, Mbak. Nggak lebih, kok.”Erlina bicara seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Nadira yang mendengarnya dibuat geram tak karuan. Ingin sekali rasanya Nadira memborbardir Erlina maupun Aryan dengan banyak umpatan. Namun, dia terlalu muak melihat kedua manusia di depannya sekarang. Atau memang mereka sudah kehilang
“Nad, kamu salah paham. Dengerin dulu penjelasanku,” pinta Aryan untuk ke sekian kalinya.Nadira berjalan cepat masuk ke kamarnya, diikuti langkah kaki Aryan yang tidak kalah cepatnya. Aryan masih berusaha mengajak bicara Nadira, membuat atensi istrinya itu agar mau mengarah padanya.Saat ini, Nadira sudah menulikan pendengaran. Dia bergerak ke arah lemari pakaian, mengeluarkan segala baju milik Aryan untuk dibuang keluar begitu saja.Melihat hal demikian, Aryan seketika panik. Dia kembali memohon sambil memeluk tubuh Nadira dari belakang, menyuruhnya untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya dengan tenang. Amarah Nadira terlalu meledak untuk dirinya imbangi.“Aku minta maaf. Aku mengaku salah, Nad. Tapi dengar dulu penjelasanku. Semua ini terjadi bukan karena tanpa sebab. Aku khilaf!”Rasanya Nadira ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aryan. Masih saja tidak mau mengakui pengkhianatannya. Bahkan masih punya muka untuk bilang semua ini beralasan.‘Memang ada alasan yang
Suara pintu mobil tertutup pelan, diikuti hembusan udara dari pendingin yang langsung merasuk ke kulit. Paula baru saja masuk setelah berpamitan singkat pada Raka, sementara Nadira sudah lebih dulu duduk manis di kursi penumpang depan. Aryan melirik sebentar lewat spion, memastikan semua siap sebel
Setelah mendengar penjelasan Raka yang bilang kalau sebenarnya dirinya dan Aryan memang sempat bersitegang di meja resepsionis beberapa hari lalu, Nadira dan Paula saling berpandangan singkat—tatapan yang cukup untuk memahami maksud satu sama lain. Paula tahu Nadira sudah bisa menebak arah pembicar
Suara riuh di kantin terdengar samar di antara denting sendok dan gelas. Aroma makanan bercampur dengan wangi kopi instan yang diseduh di sudut ruangan. Nadira dan Paula duduk di meja dekat jendela, tempat sinar matahari jatuh miring, menyorot sebagian wajah mereka.Paula menaruh nampan di meja den
Aroma kopi hitam dan roti panggang menguar lembut memenuhi ruang makan yang hangat. Suara sendok beradu dengan cangkir menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di antara dua orang yang duduk berhadapan. Nadira memotong rotinya perlahan, menatap piring tanpa benar-benar melihat. Sementara Aryan di







