แชร์

Bab 28~Berbeda~

ผู้เขียน: Giana
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-30 19:45:19

Nadira terdiam, matanya melebar tanpa sadar. Dadanya kembali berdesir aneh, kali ini lebih karena rasa kaget bercampur kagum. CEO? Jadi orang yang tanpa sengaja menyerempet ibu mertuaku, ternyata adalah CEO perusahaan tempatku bekerja?

Ia menunduk, bibirnya hampir bergetar. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya sendiri. Mengapa ia tidak berusaha mencari tahu susunan pimpinan dan orang-orang penting di tempat barunya ini? Seandainya ia lebih peka, ia tentu sudah siap menghadapi momen tadi tanpa t
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 73~Perpisahan yang Dipersiapkan~

    Nadira membuka pintu kamarnya. Dia yang keluar dengan membawa beberapa tas besar langsung disambut oleh Aryan dan Erlina yang kemungkinan besar sejak tadi menungguinya di depan pintu. Aryan awalnya terlihat lega saat mendekat, tetapi ketika dia bermaksud ingin memeluk Nadira, wanita itu langsung menolak kasar dan malah melemparinya tas besar yang sedang dipegangnya.“Mbak Nad ... aku dan Mas Aryan memang ada main di belakangmu. Namun, harusnya Mbak Nadira juga bisa memahami alasan kami melakukan itu. Mbak Nadira sibuk dengan kerjaan, Mas Aryan di sini kesepian. Belum lagi, kalian memang terlibat perang dingin beberapa waktu lamanya. Aku hanya ingin menghibur Mas Aryan saja, Mbak. Nggak lebih, kok.”Erlina bicara seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Nadira yang mendengarnya dibuat geram tak karuan. Ingin sekali rasanya Nadira memborbardir Erlina maupun Aryan dengan banyak umpatan. Namun, dia terlalu muak melihat kedua manusia di depannya sekarang. Atau memang mereka sudah kehilang

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 72~Pengkhianatan yang Dibenarkan~

    “Nad, kamu salah paham. Dengerin dulu penjelasanku,” pinta Aryan untuk ke sekian kalinya.Nadira berjalan cepat masuk ke kamarnya, diikuti langkah kaki Aryan yang tidak kalah cepatnya. Aryan masih berusaha mengajak bicara Nadira, membuat atensi istrinya itu agar mau mengarah padanya.Saat ini, Nadira sudah menulikan pendengaran. Dia bergerak ke arah lemari pakaian, mengeluarkan segala baju milik Aryan untuk dibuang keluar begitu saja.Melihat hal demikian, Aryan seketika panik. Dia kembali memohon sambil memeluk tubuh Nadira dari belakang, menyuruhnya untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya dengan tenang. Amarah Nadira terlalu meledak untuk dirinya imbangi.“Aku minta maaf. Aku mengaku salah, Nad. Tapi dengar dulu penjelasanku. Semua ini terjadi bukan karena tanpa sebab. Aku khilaf!”Rasanya Nadira ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aryan. Masih saja tidak mau mengakui pengkhianatannya. Bahkan masih punya muka untuk bilang semua ini beralasan.‘Memang ada alasan yang

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 71~Pulang Untuk Dikhianati~

    Nadira memutuskan pulang lebih dulu ke kotanya. Tanpa memberi tahu siapa pun bahkan suaminya sendiri. Pikirannya terlalu kalut untuk menghadapi kenyataan soal apa yang Juan ucapkan beberapa jam yang lalu. Kini, ia sedang duduk sendirian di kursi bus. Otaknya penuh dengan nama Juan dan juga nama suaminya sendiri. Dia merasa seperti penjahat.Dia punya firasat tentang apa yang akan diperbuat Juan. Dia tahu itu, tetapi tetap memilih menemuinya. Itu suatu kesalahan besar yang menjadikannya sebagai penjahat. Dia mengkhianati suaminya, Aryan.Nadira menggigit bibir bawahnya resah. Dia mengabaikan panggilan telepon dan pesan yang Juan kirimkan terus-menerus. Lelaki itu pasti sedang sibuk mencarinya.“Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggaku sendiri demi perasaan yang belum jelas ini,” gumamnya mempertahankan sikap tak acuhnya pada notifikasi ponsel dari Juan.Nadira tidak mau membiarkan atau memberi celah bagi siapa pun untuk jadi duri di pernikahannya. Sekalipun orang itu adalah Juan, le

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 70~Terluka Oleh Kebenaran~

    Juan tidak langsung melanjutkan.Dadanya terangkat perlahan sebelum dia menarik napas berat, lalu mengembuskannya panjang seolah ada sesuatu yang sejak lama menekan di rongga dadanya. Bibir bawahnya tergigit pelan, menahan ragu yang sejak tadi merayapi keberaniannya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, mengencang sesaat sebelum akhirnya terlepas kembali.Di depannya, Nadira menatapnya dengan tubuh yang mendadak kaku.Juan tahu tatapan itu.Tatapan seseorang yang belum siap mendengar apa pun setelah kalimat barusan.Namun justru karena itulah dia sadar, jika hari ini kembali memilih diam, penyesalan itu akan mengikutinya jauh lebih lama dari yang bisa dia tanggung. Terlalu lama dia memendam semuanya sendiri. Terlalu lama dia berpura-pura bahwa perasaannya hanya akan lewat begitu saja seiring waktu.Nyatanya tidak.Waktu tidak menghapus apa-apa.Waktu hanya membuatnya semakin dalam.Besok Nadira akan pulang.Dan setelah itu, Juan sendiri akan kembali terbang ke negara lain untuk perj

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 69~Perasaan Lama yang Coba Diungkap~

    Kalimat Nadira menggantung di udara. Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap Nadira beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak bisa disampaikan sembarangan. Tangannya terlipat di meja, lalu satu jari mengetuk pelan dengan irama ritmis.“Kadang bukan nggak kangen. Tetapi kebanyakan laki-laki justru bingung gimana cara menunjukkan rasa rindunya.” Raka berucap akhirnya, pelan dan terdengar seperti ragu yang dibalut dalam keseriusan.Nadira hanya menahan napas dan menghembuskannya dengan panjang. Sunyi. Dia bisa tahu kalau ada keraguan dari ucapan Raka. Pria itu sengaja bicara begitu untuk membuatnya tidak terlalu bersedih.Pendingin ruangan berdengung halus. Lampu redup membuat bayangan wajah Raka jatuh setengah di meja. “Kalau lagi ribut, apalagi melibatkan keluarga ...,” Raka melanjutkan, suaranya lebih hati-hati sekarang, “itu bukan cuma soal kamu sama dia lagi, Nad. Tapi ego, harga diri, dan ... hal-hal yang dia belum tentu bisa jelasin ke ka

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 68~Beban Kepulangan~

    Langkah Nadira terasa berat. Pertanyaan Juan menggantung di udara seperti benang tipis yang tak terlihat, tapi cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Di depan, pintu mobil sudah terbuka. Paula setengah badan keluar dari jendela.“Nad! Buruan, ih, jangan lama! Mau nginep di parkiran, ya?”Suara itu memecah sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu rapat. Nadira refleks melangkah mundur setengah langkah. “Aku—”Belum selesai kalimatnya, jemarinya tertahan.Juan tidak menggenggam keras. Hanya menahan pergelangan tangannya, ringan tapi cukup untuk membuat Nadira kembali menatapnya.“Jawab dulu,” ucapnya pelan.Bukan nada memaksa. Tapi ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Nadira sulit menghindar. Sesuatu yang jarang ia lihat selama ini, keseriusan yang tak dibalut candaan.Degup di dada Nadira berubah tak teratur.Paula kembali berseru, kali ini disertai klakson pendek dari Raka. “Nadiraaa!”Nadira menelan ludah. Pikirannya berlari ke mana-mana.

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 63~Masa Lalu~

    Nadira terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Isyarat kecil itu membuat bahu Juan mengendur tanpa ia sadari. Ia mendesah lega, lalu mencoba menarik senyum ramahnya. Senyuman yang dulu sering ia pakai, meski kini terasa tak lagi sepenuhnya pas di wajah dewasanya itu.“Syukurlah,” kata

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 62~Pertemuan Mencengangkan~

    Usai makan malam, satu per satu anggota tim berpamitan. Wajah-wajah kenyang dan langkah yang melambat menandakan lelah tak bisa ditawar. Paula lebih dulu menguap lebar, menyandarkan kepala ke bahu Nadira sesaat sebelum berdiri.“Aku menyerah. Mataku sudah berat, Nad. Aku masuk ke kamar duluan, ya,”

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 61~Tempat Baru, Nuansa Baru~

    Pesawat mendarat dengan hentakan ringan. Nadira membuka mata perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya sore yang masuk lewat jendela kecil di samping kursinya. Kota tujuan menyambut dengan langit cerah dan udara yang terasa berbeda, lebih hangat dan menenangkan.Perjalanan dari bandara ke penginapa

  • Harap Restu Seorang Menantu   Bab 60~Perjalanan yang Tak Dirancang~

    Pagi itu kantor sudah lebih ramai dari biasanya ketika Nadira tiba. Suara tumit para karyawan, nada telepon, dan bunyi-bunyi keyboard bercampur jadi satu. Namun semua itu tidak mampu mengisi kekosongan yang sejak kemarin menggerogoti dadanya.Saat ia baru menyalakan komputer, sebuah pengumuman munc

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status