Share

Harga Sebuah Keluarga
Harga Sebuah Keluarga
Author: Muriaz

Bab 1

Author: Muriaz
Demi menerapkan sistem keluarga yang mengharuskan setiap orang menanggung biaya hidupnya sendiri, semua barang di rumah diberi label harga.

Di pintu kulkas tertempel daftar harga:

[Apel: 10 ribu per buah.]

[Susu: 8 ribu per kotak.]

[Makanan sisa: 4 ribu per porsi.]

Dan masih banyak lagi.

Ibu dan Kakak memiliki hak istimewa.

Mereka bisa membuka kulkas sesuka hati tanpa perlu membayar apa pun.

Sedangkan aku tidak. Setiap kali ingin membuka kulkas, aku harus memikirkan apakah aku punya uang untuk membayarnya.

"Nggak punya uang tapi masih mau makan?" Ayah tiriku berkata dengan nada dingin.

Aku hanya menunduk dan bergumam pelan, tidak tahu harus menjawab apa.

Melihat itu, dia berpura-pura murah hati. "Sudahlah. Catat saja dulu sebagai utang. Nanti, kamu tanda tangan perjanjian pinjaman pribadi dengan Papa dan Mama."

"Bunganya dihitung menurut skema pinjaman berisiko tinggi, sebesar 0,1% per hari sampai kamu dewasa. Kalau sudah bisa cari uang sendiri, baru kamu lunasin pada Papa dan Mama."

Sejak saat itu, setiap kilowatt listrik yang kugunakan, setiap butir nasi yang kumakan, bahkan biaya liburan yang dikeluarkan khusus untuk mengajak Kakak bepergian, semuanya dicatat sebagai utang atas namaku.

Semua itu dilakukan atas nama aturan keluarga yang mengharuskan setiap orang menanggung biaya hidupnya masing-masing.

Bahkan sebelum genap dewasa, jumlah utangku sudah lebih dari 1,2 miliar.

Agar utangku tidak terus bertambah, aku hidup sehemat mungkin.

Aku mengenakan pakaian dan sepatu bekas yang dibuang Kakak. Kadang-kadang, demi mendapatkan makanan, aku bahkan mengemis di pinggir jalan.

Namun sehemat apa pun aku hidup, ada hal-hal yang tidak bisa kuhindari.

Saat cuaca sedang dingin dan flu sedang mewabah, aku tetap jatuh sakit.

Suhu tubuhku mencapai tiga puluh sembilan koma delapan derajat.

Seluruh tubuh terasa panas seperti terbakar.

Benar saja, hal pertama yang dilakukan Ayah dan Ibu bukan membawaku ke rumah sakit, melainkan mengeluarkan buku catatan keuangan, menekan-nekan kalkulator, lalu mencetak kontrak pinjaman yang baru.

"Meyra, pergi ke rumah sakit boleh saja. Tapi kamu harus tahu, biaya berobat sekarang nggak ada habisnya. Pendaftaran, tes darah, infus, semuanya nggak mungkin kurang dari 2 juta."

"Dulu kamu juga sudah setuju kalau di keluarga ini menerapkan sistem masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri. Pengeluaran pribadi yang nggak terduga, kayak sakit atau demam, tentu harus ditanggung sendiri."

Namun, aku tidak punya kemampuan untuk membayar biaya pengobatanku sendiri.

Jadi, sekali lagi aku menandatangani kontrak pinjaman dengan Ayah dan Ibu.

Pada akhirnya, mereka tetap tidak membawaku ke rumah sakit.

Menurut Ayah, biaya rumah sakit terlalu mahal dan hanya membuang-buang uang.

Dia pergi ke apotek di bawah apartemen dan membeli sekotak obat penurun demam serta sekotak obat antiradang. Total harganya 90 ribu.

Setelah kembali, Ayah membawa obat-obatan itu ke kamarku. Ibu ikut masuk di belakangnya.

"Meyra, meski kamu bukan darah daging Papa, bukan berarti Papa nggak peduli sama kamu. Obat ini Papa bayarin dulu. Ditambah ongkos jalan 10 ribu, total semuanya jadi 100 ribu."

Ayah meletakkan obat itu di meja samping tempat tidur, lalu menyodorkan selembar kontrak dan sebuah pena kepadaku.

"Tanda tangani dulu kontrak pinjaman ini. Setelah ditandatangani, baru kamu boleh minum obatnya."

Saat itu aku sudah demam begitu tinggi, bahkan membuka mata pun terasa sulit.

"Mama …." panggilku dengan suara serak.

Namun Ibu hanya memalingkan wajah dan berkata pelan, "Cepat tanda tangani, Meyra. Kalau sudah tanda tangan dan minum obat, kamu pasti sembuh."

Aku menahan rasa tidak nyaman yang memenuhi seluruh tubuh, lalu mengangkat tangan dengan gemetar.

Dengan tulisan yang miring dan berantakan, kutandatangani kontrak pinjaman itu.

Namun tepat setelah pena meninggalkan kertas, suara Kakak tiba-tiba terdengar dari luar.

"Papa! Mama! Jariku tergores! Sakit banget!"

Ibu langsung melompat berdiri dan berlari ke dapur menghampiri Kakak.

Suaranya terdengar sangat cemas dan penuh rasa sayang.

"Ada apa, Anakku Sayang?"

"Aduh, sini biar Mama lihat! Berdarah nggak? Pa, ayo cepat! Bawa anak kita ke rumah sakit buat dibersihin lukanya dan disuntik tetanus! Luka kayak begini bisa ringan, bisa juga serius. Jangan sampai infeksi!"

Mendengar suara mobil Ayah yang tergesa-gesa dinyalakan dari luar, aku hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil menangis.

Aku benar-benar tidak mengerti.

Kenapa saat aku demam hampir empat puluh derajat, yang kudapat hanya obat seharga 90 ribu dan kontrak pinjaman yang harus kutanggung sendiri?

Sedangkan Kakak hanya terluka sedikit di jari, tetapi langsung diantar ke rumah sakit tanpa perlu membayar apa pun?

Melihat kebingunganku, Kakak yang selalu dimanjakan dan disayangi seluruh keluarga tersenyum.

"Karena aku anak kandung Papa, dan Papa sayang aku."

"Dan karena mamamu cinta sama papaku, tentu saja aku juga jadi orang yang paling disayang mamamu!"

Karena Kakak adalah anak kandung Ayah, dia mendapatkan kasih sayang dari Ayah sekaligus dari Ibu yang mencintai Ayah. Semua kasih sayang itu menjadi miliknya.

Sedangkan aku hanya anak kandung Ibu.

Jadi seiring perkembangan usia ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 8

    Om Gerry memegangi dadanya sambil menunjuk ke arahku. "Ka ... Kamu ...."Dengan suara tertahan, napasnya mendadak tersendat. Sesaat kemudian, dia langsung jatuh pingsan.Om Gerry segera dilarikan ke ICU.Dokter mengatakan dia mengalami pendarahan otak akut. Kondisinya sangat kritis, sehingga harus segera menjalani operasi dan dirawat di ruang perawatan intensif.Uang muka yang harus dibayar mencapai 200 juta.Sementara biaya operasi dan perawatan lanjutan diperkirakan setidaknya 600 juta.Mendengar jumlah itu, Kakak begitu ketakutan sampai ponselnya terlepas dari tangan. Dia langsung berbalik dan pergi dengan alasan ingin mengambil kartu asuransi kesehatan. Namun setelah itu, selama tiga hari penuh dia tidak pernah muncul lagi.Jevan masih sekolah di taman kanak-kanak. Dia hanya bisa menangis sambil meminta makan ayam goreng.Di lorong rumah sakit, hanya ada Ibu. Dalam keadaan panik dan kebingungan, dia mencengkeram lenganku lalu berlutut di lantai sambil bersujud memohon."Meyra! Mama

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 7

    "Mama tahu dulu Mama sudah bersalah sama kamu. Tapi nggak ada orang tua yang benar-benar salah di dunia ini. Sekarang kamu sudah menghasilkan uang. Bisa nggak ... bisa nggak kamu pinjamkan Mama uang 100 juta? Mama akan bikinkan surat utang. Bunganya juga akan dihitung."Mendengar kata "surat utang", aku tak kuasa menahan tawa."Ma, apa Mama lupa? Keluarga kita menerapkan sistem masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri.""Apa?""Kalau gitu, mari kita ikuti aturan pasar."Aku tersenyum pada bayanganku yang terpantul di kaca jendela gedung, rapi dan profesional seperti yang selama ini kuusahakan."Sekarang aku termasuk kelompok pemilik aset. Uangku hanya akan diinvestasikan pada aset yang berkualitas. Sedangkan kalian ...."Aku sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalian ini aset negatif. Risikonya terlalu tinggi, jadi aku nggak akan berinvestasi."Setelah mengatakan itu, aku langsung mengakhiri panggilan dan memblokir nomor Ibu.Layar ponsel kembali gelap, memantulkan wa

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 6

    Saat melewati Ibu, kulihat air matanya jatuh berderai."Meyra ...." Dia berusaha meraih ujung bajuku. "Jangan pergi. Kalau kamu pergi, Mama gimana? Mama masih mengandung adikmu ...."Langkahku terhenti.Namun aku tidak menoleh."Mama," panggilku pelan. "Ini terakhir kalinya aku memanggilmu Mama."Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, perlahan kulepaskan genggamannya.Pintu utama tertutup dengan keras di belakangku.Sesaat kemudian, suara barang-barang yang dibanting terdengar dari dalam rumah.Namun, aku tidak menoleh lagi.Sinar matahari di luar begitu terang hingga membuat mataku perih.Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan.Ini adalah air mata terakhir yang kutumpahkan untuk keluarga itu.Mulai hari ini, setiap uang yang kuhasilkan dan setiap usaha yang kulakukan hanya untuk diriku sendiri....Empat tahun masa kuliah pun berlalu.Aku harus mencari nafkah sendiri untuk membiayai hidupku.Selama bertahun-tahun itu, aku hidup seperti mesin yang tidak pernah berhenti bekerja.Ba

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 5

    Aku hanya mengangguk tenang. "Oh, gitu."Setelah itu, kami berdua tidak mengatakan apa-apa lagi.Saat berbalik meninggalkan rumah, tanganku menyentuh kartu peserta ujian SBMPTN yang tersimpan di dalam saku.Setengah bulan kemudian, hasil ujian diumumkan.Aku memperoleh 685 poin dan berhasil masuk lima puluh besar peringkat provinsi.Sementara itu, Kakak hanya mendapat 280 poin, bahkan tidak mencapai batas nilai minimum untuk masuk perguruan tinggi negeri manapun.Pada hari pengumuman nilai, suasana di rumah terasa begitu menekan hingga membuat siapa pun sulit bernapas.Ayah menatap nilai Kakak yang terpampang jelas di layar komputer. Semakin lama, wajahnya semakin muram."Nggak mungkin! Pasti ada kesalahan dalam penilaian ujian!"Reaksi Ibu bahkan lebih besar daripada Ayah. Dia langsung berteriak, "Anak kesayanganku begitu pintar, gimana mungkin nilainya hanya segini?""Meyra ... Meyra biasanya pendiam. Bagaimana mungkin dia bisa dapat nilai setinggi ini? Jangan-jangan ... jangan-janga

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 4

    Karena selama ini aku tidak pernah membangkang kepada Ayah dan Ibu, apalagi berbicara kepada mereka dengan nada sedingin ini, perubahan sikapku membuat Ibu seolah tidak mengenaliku lagi."Meyra, aku ini mamamu! Mama 'kan sedang mengandung adikmu. Mama cuma minta kamu mijat kaki sebentar, tapi apa kamu bilang barusan?""Antara ibu dan anak kandung sekalipun tetap harus ada hitung-hitungan yang jelas. Bagiku, Mama nggak punya hak istimewa hanya karena status sebagai ibu. Bukankah Papa dan Mama yang ngajarin hal itu?"Aku mulai meniru cara Ayah dan Ibu memperlakukanku selama ini. Semua hal harus dihitung dengan rinci.Segalanya bisa dikonversikan menjadi uang."Menuangkan air kena biaya 20 ribu. Pijat kaki selama lima belas menit kena tarif dasar 100 ribu. Karena dilakukan pada malam hari, ada tambahan biaya 60 ribu. Totalnya 180 ribu."Ibu yang makin marah langsung meraih bantal dan melemparkannya ke arahku.Aku memiringkan tubuh dan menghindarinya dengan tenang. Bantal itu jatuh begitu

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 3

    "Aku dan mamamu sudah bicarakan ini. Sudut balkon itu akan ditutup, lalu kami taruh ranjang lipat buat kamu di sana."Balkon?Tempat yang kemasukan angin saat cuaca lagi dingin dan terpapar terik matahari saat udara panas, bahkan tidak ada pelindungnya sama sekali.Aku menangis dan memprotes, tetapi Ayah dan Ibu tetap bersikap keras. Dari nada bicara mereka hanya ada tuntutan agar aku memahami keadaan, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membantah."Sekarang mau ada anggota keluarga baru, jadi pengeluaran rumah tangga harus dikurangi. Meyra, sebentar lagi kamu juga selesai menghadapi ujian SBMPTN. Kamu sudah cukup besar untuk kerja dan menghasilkan uang sendiri.""Mulai tahun depan, setelah ujian SBMPTN selesai, kamu nggak perlu kuliah. Cari kerja saja dan bantu Papa sama Mama melunasi utangmu."Tidak bisa.Aku harus tetap sekolah.Guru pernah berkata bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar bagiku.Aku berusaha membela diri dengan berbagai alasan yang masuk akal, tetapi Ibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status