Share

Bab 268

Author: Rina Safitri
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan Puspa. Ia nggak tahan lagi dan buka fitur pelacakan lokasi Indra di HP.

Sekilas, ia nggak bisa tebak di negara mana suaminya sedang berada. Maka ia minta bantuan pada teman detektif Tania untuk lacak lebih rinci.

Hasilnya segera datang. “Itu sebuah pulau di Polaris. Tempat itu pada dasarnya sebuah pulau pribadi.”

Puspa menatap gambar satelit tanpa ekspresi. Namun dalam hati, ia merasa geli. Di pulau itu ada sebuah pemandangan yang sama persis dengan foto yang pernah dikirim Wulan ke dia.

'Bagus sekali, Indra. Sampai repot-repot buat alasan palsu untuk nutupin ‘perjalanan dinas’-mu.'

Teman baik saling memahami, Tania hanya perlu lihat wajah Puspa untuk tahu bahwa ia sudah temukan sesuatu. Maka Tania langsung tanya, “Kenapa dengan pulau itu?”

Puspa nggak berusaha menutupinya. “Indra taruh Wulan di pulau itu.”

Begitu dengar, ekspresi jijik langsung muncul di wajah Tania.

Orang lain paling parah sembunyikan simpanan dalam rumah pribadi. Indra? Dia lebih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 668

    Baru beberapa detik berlalu, suara Sonya terdengar dari HP. “Lisa?”Mata Lisa langsung berbinar. Ia berkata tanpa basa-basi, “Sabtu ini pesta ulang tahunnya kakekku. Mulainya jam enam. Kamu nanti langsung datang saja.”Sonya terdiam sebentar sebelum tanya pelan, “Apa pantas kalau aku datang?”Lisa jawab tanpa tanggapi pertanyaannya, “Apanya yang nggak pantas? Kamu ingin ketemu kakakku, kan? Freya nanti juga bakal datang.”Dengar nama itu, nada Sonya langsung berubah, “Lisa, terima kasih sudah undang aku.”Setelah dirasa cukup, Lisa nggak bicara panjang lebar lagi, ia langsung tutup teleponnya.Dengar nada sambung yang terputus, beberapa detik kemudian Sonya turunkan HP-nya. Ia berdiri di depan jendela, memandang keluar, malam sembunyikan seluruh ekspresi di wajahnya.Bulan masih tetap sama bersinar terang, hanya orang yang dulu, sekarang sudah berubah.Tentu saja Sonya paham perubahan sikap Lisa. Gadis kecil yang dulu ikuti dia di belakangnya sambil panggil “kakak ipar”, kini sudah dew

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 667

    Kehadiran Eric sempat kacaukan pikiran Indra, namun pikirannya nggak sepenuhnya terseret oleh pria itu.Urusan perusahaan tetap berjalan rapi dan teratur, persis seperti hidup Indra yang tampak tenang tanpa cela.Tahun ini adalah ulang tahun Kakek Budi yang ke-80, hari besar yang harus dirayakan dengan megah.Keluarga Wijaya sudah persiapkan itu sejak setahun lalu, sebulan menjelang pesta, seluruh rumah sibuk seperti sarang lebah.Mereka benar-benar menaruh hormat pada ulang tahun Kakek Budi.Tamu yang hadir nanti semuanya adalah orang-orang penting dan berpengaruh.Sebagai menantu tertua, Endah pun sibuk nggak karu-karuan, lihat Lisa yang hampir setiap hari selalu pulang tengah malam atau nggak pulang sama sekali, buat alisnya berkerut dalam, sampai rasanya bisa jepit seekor lalat.“Kakekmu sebentar lagi ulang tahun. Kamu selama beberapa hari ini tolong bersikap yang benar. Jangan keluyuran terus sampai kakekmu marah dan tegur kamu lagi.”Lisa tendang sepatunya dan lemparkan jaket ke

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 666

    Puspa menggeleng pelan dengan mata terpejam. Kerutan di antara alisnya masih terlihat jelas, suaranya serak, “Aku lagi nggak pingin makan.”Eric peluk Puspa, berbaring miring di belakangnya. Ia buka jemari Puspa yang mengepal, lalu selipkan lengannya ke dalam genggaman itu, biarkan Puspa cengkeram dirinya sebagai pelampiasan rasa sakit.Tubuh Puspa gemetar halus dalam pelukannya. Rasa sakit buat wajahnya pucat pasi, seolah nggak punya darah sama sekali.Suara Eric terdengar dari atas kepalanya, lembut membujuk, “Setelah semua urusan di sini selesai, kita pulang, yah?”Puspa cengkeram lengannya lebih keras, nggak mengiyakan atau menolak, hanya kerahkan seluruh tenaga untuk tahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.Tubuhnya kini seperti barang cacat yang dibungkus dengan cantik, luarnya tampak baik-baik saja, tapi di dalamnya sudah rusak.Kecelakaan itu memang nggak merenggut nyawanya, tapi tetap buat dia menderita.Saat cuaca dingin, tulangnya serasa direndam dalam air es, dingin men

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 665

    Indra menatap dua orang di hadapannya, dari posisi mereka berdiri, justru dia yang lebih kelihatan seperti orang luar.Wira merasa pahit, demi kebahagiaan masa depannya sendiri, dia nggak berani kasih tahu lebih cepat kalau Puspa sebenarnya masih hidup.Ah, perkara ini benar-benar buat Wira merasa serba salah. Toh ia sudah dianggap buruk oleh semua pihak, jadi untuk saat ini, lebih baik berdiri di sisi yang paling menguntungkan buat dia.Indra nggak tanggapi omongan Eric, tatapannya tetap meneliti Wira. “Kamu akrab dengan dia?”Eric hanya mengangkat sudut bibir, entah tersenyum atau mengejek, dan memandang mereka dalam diam.Wira menimbang kata-katanya. “Nggak terlalu akrab. Cuma pernah ketemu sekali.”Dan itu memang benar, dia sama sekali nggak dekat dengan Eric.Eric menatap santai, satu tangan masuk ke saku, lalu berkata dengan nada samar, “Aku cuma tertarik ke orang yang aku suka. Temanmu ini…”Ia berhenti sejenak, lalu tambahkan, “Tenang saja, nggak ada yang mau rebut dia dari kam

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 664

    Indra yang semula tenang, seketika berubah. Sorot matanya menggelap, dingin menusuk.“Gafar, usir mereka berdua.”Kakek Budi kasih perintah itu ke Gafar Yasid, kepala pelayan keluarga di rumah keluarga besar Wijaya. Pelayan tua itu adalah tangan kanan Kakek Budi. Kakek Budi minta dia lakukan apa, dia akan lakukan itu. Ia usir pasangan itu dengan sopan namun tegas, “Kakek Budi sedang marah. Lebih baik kalian nggak buat keadaan jadi tambah parah.”Mereka sebenarnya ingin terus bantah, tapi ketika lihat mata tua yang gelap dan tajam itu, kesadaran langsung menampar mereka. Keluarga cabang ketiga memang nggak punya kuasa. Jika sampai dikeluarkan dari Keluarga Wijaya, hidup nyaman mereka benar-benar tamat. Mereka sudah pergi, namun hawa dingin yang menyelimuti Indra nggak ikut lenyap.Kakek Budi nggak peduli dengan hal itu dan langsung ganti topik, “Walikota Jordan telepon. Kamu perlu temuin dia.”Indra hanya menggumam pelan, menandakan ia dengar.“Selidiki baik-baik. Cari tahu siapa yang

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 663

    Tatapan Indra meredup, suaranya dingin menggema. “Kamu beneran nggak bisa lihat orang. Kamu nggak cuma bawa hama masuk ke perusahaan, tapi juga sampai buat orang mati di proyek. Hebat sekali, benar-benar sangat bodoh.”Orang bernama Hamish itu dibawa masuk oleh Pasha sendiri, sehari-hari masih ngaku "sahabat dekat", bahkan sok merasa keluarga.Dan memang mereka “keluarga”, Hamish itu kakak dari selingkuhan barunya. Liburan ke Pulau Biru itu pun ia pergi dengan wanita itu.Sang adik mengorek keuntungan dari Pasha, sang kakak mengeruk uang perusahaan. Kakak beradik itu benar-benar lihai mainkan taktik busuk mereka.“Urusan ranjangmu kamu bebas mau ngapain saja. Aku nggak peduli. Tapi kamu nggak berhak permainkan bisnis perusahaan.”Korban yang mati di proyek adalah mandor yang sebenarnya juga dibawa masuk oleh Hamish. Satu kelompok yang sama. Mati mendadak seperti itu? Apa nggak aneh. Biasanya karena pembagian keuntungannya nggak merata.Mandor itu nggak dapat bagian yang seharusnya. Set

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status