Share

Bab 639

Auteur: Rina Safitri
Yang mirip bukan suaranya, melainkan nada lembut penuh kepedulian, persis seperti cara Puspa dulu tegur dia, selalu dengan rasa yang hangat dan halus.

Beberapa tahun ini, ia hidup hanya dengan bersandar pada kenangan. Hal-hal yang dulu nggak pernah ia pedulikan, kini justru jadi bagian yang paling jelas dalam ingatannya.

Itulah sebabnya, meski suara itu sebenarnya nggak mirip, ia tetap merasa familiar.

Dokter Kenny menuang segelas air dan serahkan itu ke Indra.

“Di dunia ini, orang yang mirip itu nggak terhitung banyaknya. Suara yang mirip? Lebih nggak terhitung lagi. Beberapa tahun ini, sudah berapa kali kamu salah kenali orang?”

Memang benar. Ini bukan pertama kalinya Indra kira ia lihat Puspa. Di tahun-tahun awal, kejadian seperti ini lebih sering terjadi. Yang paling parah, ia sampai ikuti seorang perempuan sampai ke rumahnya. Lalu hampir dipukul oleh suami perempuan itu yang kira ia seorang penguntit mesum.

Ia bahkan hampir diseret ke kantor polisi. Untung saja Cakra datang tepat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 664

    Indra yang semula tenang, seketika berubah. Sorot matanya menggelap, dingin menusuk.“Gafar, usir mereka berdua.”Kakek Budi kasih perintah itu ke Gafar Yasid, kepala pelayan keluarga di rumah keluarga besar Wijaya. Pelayan tua itu adalah tangan kanan Kakek Budi. Kakek Budi minta dia lakukan apa, dia akan lakukan itu. Ia usir pasangan itu dengan sopan namun tegas, “Kakek Budi sedang marah. Lebih baik kalian nggak buat keadaan jadi tambah parah.”Mereka sebenarnya ingin terus bantah, tapi ketika lihat mata tua yang gelap dan tajam itu, kesadaran langsung menampar mereka. Keluarga cabang ketiga memang nggak punya kuasa. Jika sampai dikeluarkan dari Keluarga Wijaya, hidup nyaman mereka benar-benar tamat. Mereka sudah pergi, namun hawa dingin yang menyelimuti Indra nggak ikut lenyap.Kakek Budi nggak peduli dengan hal itu dan langsung ganti topik, “Walikota Jordan telepon. Kamu perlu temuin dia.”Indra hanya menggumam pelan, menandakan ia dengar.“Selidiki baik-baik. Cari tahu siapa yang

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 663

    Tatapan Indra meredup, suaranya dingin menggema. “Kamu beneran nggak bisa lihat orang. Kamu nggak cuma bawa hama masuk ke perusahaan, tapi juga sampai buat orang mati di proyek. Hebat sekali, benar-benar sangat bodoh.”Orang bernama Hamish itu dibawa masuk oleh Pasha sendiri, sehari-hari masih ngaku "sahabat dekat", bahkan sok merasa keluarga.Dan memang mereka “keluarga”, Hamish itu kakak dari selingkuhan barunya. Liburan ke Pulau Biru itu pun ia pergi dengan wanita itu.Sang adik mengorek keuntungan dari Pasha, sang kakak mengeruk uang perusahaan. Kakak beradik itu benar-benar lihai mainkan taktik busuk mereka.“Urusan ranjangmu kamu bebas mau ngapain saja. Aku nggak peduli. Tapi kamu nggak berhak permainkan bisnis perusahaan.”Korban yang mati di proyek adalah mandor yang sebenarnya juga dibawa masuk oleh Hamish. Satu kelompok yang sama. Mati mendadak seperti itu? Apa nggak aneh. Biasanya karena pembagian keuntungannya nggak merata.Mandor itu nggak dapat bagian yang seharusnya. Set

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 662

    “Ada kabar buruk.”Pada hari Jumat jumat lebat, menjelang jam pulang kerja, Cakra cepat-cepat buka pintu kantor dengan wajah tegang. “Bos, ada insiden di lokasi proyek.”Ada yang meninggal.Cakra jelaskan singkat, ada sebuah mayat ditemukan di sumur pondasi proyek.Proyek itu berada di bawah tanggung jawab paman ketiga Indra, sebuah taman hiburan raksasa yang dibangun dengan dukungan pemerintah.Kematian di lokasi pembangunan, jujur saja, bukan hal baru, sembilan dari sepuluh proyek pernah alami itu. Biasanya, masalah seperti ini diselesaikan diam-diam dan nggak sampai nyebar. Namun kali ini, bukan hanya ketahuan, tapi malah diblow-up habis-habisan oleh media.Seketika internet meledak dengan berita kalau taman hiburan tersebut memakan korban dan katanya korban itu dibunuh.Cakra lanjutkan, “Saat ini lokasi proyek sudah dikepung wartawan.”Saat peletakan batu pertama saja banyak media hadir, apalagi sekarang setelah skandal besar muncul, jumlah mereka jauh lebih banyak.Wajah Indra men

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 661

    Indra angkat pandangannya, menatap dingin ke arahnya. Meski nggak bicara sepatah kata pun, matanya jelas berkata, ‘Kamu ini sedang bicara omong kosong apa sih?’Terima sinyal ketidaknyamanan itu, Wira sama sekali nggak marah. Ia hanya angkat bahunya dan berkata setengah bercanda, “Tapi yah, dengan temperamen busukmu itu, meskipun kamu buat orang marah, kamu pasti nggak sadar.”Indra nggak minat dengar ejekan itu lebih jauh. Dengan nada nggak sabar ia berkata, “Kamu masih ada urusan lain nggak?”Alih-alih jawab, Wira balik tanya, “Sudah lima tahun, kamu masih belum bisa lepaskan dia?”“Dia” yang dimaksud, keduanya sama-sama tahu.Kantor besar itu seketika sunyi hingga suara jarum pun terdengar. Wajah Indra menegang, ekspresinya nggak terbaca, buat siapa pun sulit tebak apa yang sedang dipikirkannya.Pandangan Wira jatuh pada bingkai foto di atas meja. Lihat wajah Puspa di dalamnya, ingatannya melayang pada keharmonisan keluarga kecil mereka dulu. Ia turunkan bingkai itu dan bersuara pel

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 660

    Begitu Lisa belok di tikungan dan masuk ke dalam lorong, yang ia dapati cuma lorong kosong nggak ada satu orang pun, seolah apa yang ia lihat barusan cuma ilusi.Ia berhenti di tempat, alisnya berkerut.Endah yang tertinggal di belakang akhirnya susul dia, menggertakkan gigi. “Bisa nggak kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh?”Lisa bersikeras, “Aku beneran barusan lihat Puspa.”Meski hanya sekilas dari samping, ia nggak mungkin salah. Puspa berubah jadi abu pun, ia tetap bisa kenalin Puspa.Endah mendecak, gigi belakangnya terkatup keras. “Kamu sudah minum berapa banyak alkohol? Kamu sendiri nggak sadar?”Sudah cukup Lisa sering mengamuk, sekarang malah kecanduan minum. Selama bertahun-tahun di luar negeri itu, nggak tahu ia itu ngapain saja!Lisa gigit bibirnya, apa ia benar mabuk sampai salah lihat?Endah pun tarik dia pergi. “Pulang dan minum teh hangat sana biar sadar sedikit.”Dua anak, nggak ada satupun yang bisa buat dia tenang.Puspa sama sekali nggak sadar kalau barusan ia ham

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 659

    Tania menatap pasangan yang tampak begitu serasi di depannya. Lihat betapa bahagianya Puspa sekarang, matanya dipenuhi kepuasan, ini benar-benar berkah yang tersembunyi di balik malapetaka.Lihat pemandangan itu, Wira nggak bisa menahan diri untuk mengeluh dalam hati, kawan baiknya itu benar-benar sudah nggak punya harapan lagi.Di meja makan, Tania perhatikan gimana Eric perlakukan Puspa dengan penuh perhatian, Tania sudah seperti calon mertua yang menilai calon menantu, semakin dilihat, semakin puas.Lumayan bagus, anak muda itu memang oke.Memang sudah seharusnya gitu, wanita sebaik Puspa pantas dapatkan yang terbaik. Sementara semua sampah serta kotoran masa lalu? Seharusnya pergi sejauh mungkin.Karena ingin bicara lebih pribadi, Tania tarik Puspa ke toilet.“Dia perlakukan kamu dengan baik?”"Dia" yang dimaksud tentu saja Eric.Puspa tersenyum samar. “Bukannya kamu sudah lihat sendiri?”Ia memang lihat itu, tapi tetap ingin dengar pengakuan Puspa langsung.Tania peluk Puspa, suar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status