LOGIN“Sayang, jangan bercanda.”Mata Sora menyipit. “Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?”Figo menatap wajah Sora dengan pandangan berkabut. Tidak ditemukan ketidakseriusan dalam wajah cantiknya itu.Jantung Figo seketika berdebar kencang. Belaian lembut di bawah sana membuat tubuhnya semakin panas dingin, napasnya kian memburu.“Sejak kapan?” bisik Figo serak.“Um… sejak tiga hari yang lalu.”“Tiga hari yang lalu?”“Hmm.” Sora mengangguk.Figo mengeluarkan tangan Sora dari celananya, lalu detik itu juga Figo mengubah posisi mereka, mengungkung Sora di bawahnya.“Astaga, Sora. Sudah tiga hari dan kamu nggak bilang padaku? Kamu ingin mengerjaiku?”Sora terkekeh kecil hingga bahunya sedikit berguncang. Kedua tangannya memeluk leher Figo. “Aku cuma lagi nunggu sampai aku benar-benar siap, bukannya nggak mau atau ingin mengerjaimu.”Jakun Figo naik turun. “Jadi sekarang kamu siap menerimaku kembali? Aku boleh melakukannya?”Sora mengangguk. “Benar. Aku–hmmmppt!”Kata-kata Sora seke
Sora baru saja tiba di rumah pukul 8 malam. Ketika memasuki ruang keluarga, dia terperangah melihat ruangan yang biasanya rapi itu kini seperti kapal pecah.Mainan Shopie dan Caspian berserakan di mana-mana. Pakaian bayi, popok, makanan yang berjatuhan, air tumpah dan alat makan yang tergeletak begitu saja di atas permadani.Mata Sora mengerjap. Sebenarnya apa saja yang telah mereka lakukan seharian tadi?Lalu pandangan Sora bergeser ke arah sofa bed. Seketika itu juga dia tertegun ketika melihat pemandangan di sana.Figo sedang tidur terlentang, dengan Caspian tidur di ketiaknya, dan Shopie menjadikan perut Figo sebagai bantal kepalanya.Ketiganya tampak tertidur pulas. Seolah-olah mereka telah melewati hari yang begitu melelahkan.Sora seketika dirundung rasa bersalah karena sudah meninggalkan mereka seharian.Kemudian Sora meletakkan semua barang-barangnya di sofa, lalu mendekat dan duduk di samping mereka.Dipandanginya satu persatu wajah orang-orang yang paling disayanginya itu.
Setelah berbulan-bulan tidak diizinkan mengemudi mobil sendiri oleh Figo, hari ini akhirnya Sora bisa merasakan kebebasan itu.Dia mengendarai mobil pemberian Figo, menghabiskan waktunya di salah satu mall terbesar di ibu kota. Duduk sendirian di cafe dengan segelas matcha latte dan pastry.Sora benar-benar menikmati kesendiriannya. Tetapi tak bisa dipungkiri, baru saja satu jam berpisah, dia sudah merindukan bayinya.Sora pun mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan pada Figo.Soraya Ruin: Sayang, gimana Caspian? Dia rewel nggak?Figo langsung membalasnya beberapa detik kemudian.Suamiku: Nggak, Sayang. Jangan khawatir. Aku baru saja gantiin dia popok.Soraya Ruin: Coba foto dong. Aku kangen.Suamiku: Kangen siapa?Soraya Ruin: Caspian.Suamiku: Ke aku?Soraya Ruin: Umm… sedikit.Sora terkekeh kecil melihat Figo hanya membalasnya dengan emoticon wajah dengan satu alis terangkat.Lantas pria itu mengirim foto Caspian yang sedang tertidur di atas kasur. Bayi itu sudah berganti pakaian.
Mengurus bayi ternyata tidak semudah yang Figo bayangkan. Setiap malam Caspian selalu terbangun dan merengek meminta susu. Yang membuat Sora tidak bisa tertidur dengan nyenyak.Dan Figo tidak ingin membiarkan Sora bangun sendirian tengah malam. Figo selalu ikut bangun dan menemaninya.Walaupun hal itu membuat Figo mengantuk keesokan harinya ketika dia sedang bekerja di rumah.Terkadang, ketika Sora benar-benar kelelahan dan membutuhkan tidur yang nyenyak, Figo sendiri yang akan bangun membuatkan ASI perah yang sudah tersedia di kulkas untuk Caspian.Setelah satu bulan menjalani rutinitas itu, Figo semakin menyadari bahwa tidak mudah menjadi Sora di masa lalu yang mengurus Sophie sendirian.“Sayang,” panggil Figo seraya menghampiri Sora yang tengah menjemur bayi berusia empat puluh hari itu di bawah matahari pagi yang hangat.Sora menoleh. Tersenyum. “Shopie nggak ada drama nggak mau masuk kelas, ‘kan?”Figo memang baru saja kembali ke rumah setelah mengantar Shopie ke TK, yang masih s
Shopie benar-benar bahagia. Selain dari papa mamanya, dia juga mendapat banyak hadiah dari Kakek Lingga, Kakek Hardiyata, dan Nenek Mariana.Sekarang, dia mendapatkan hadiah lagi dari Aunty Freya dan Om Elian yang datang ke rumah sakit.Shopie tidak merasa iri pada adiknya. Bahkan dia tidak paham apa itu sebenarnya iri. Dia justru senang, karena saat adik lahir Shopie merasa sangat disayangi.“Om Elian, Aunty Freya, terima kasih hadiahnya!” Shopie tersenyum lebar.Elian mengangguk, tersenyum.“Sama-sama, Cantik.” Freya mengusap pipi Shopie. “Boleh aku gendong adik kamu?”Shopie menatap adiknya di pangkuan sang ibu, lalu tatapannya beralih pada tangan Freya. Keningnya berkerut, seolah sedang mengingat sesuatu.“Jangan!”“Lho? Kenapa? Aunty sedih, nih.” Freya pura-pura cemberut.“Aunty ‘kan belum cuci tangan. Nanti kuman dari tangan Aunty menular ke Adik.”Mata Sora membulat. “Siapa yang bilang begitu, Sayang?”“Papa.” Shopie menunjuk ayahnya yang duduk di sofa.Sora lantas menatap Figo
“Tidur, Figo. Jangan menciumku terus,” gumam Sora ketika Figo terus menghujani wajah dan bibirnya dengan ciuman-ciuman kecil.Sudut bibir Figo terangkat seraya menatap Sora yang tengah tertidur.“Apa aku mengganggumu?” bisiknya, seolah takut suaranya akan membangunkan bayi mereka.“Tentu saja.” Sora berdecak lidah. Lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Figo seolah mencari kehangatan di sana.Figo terkekeh pelan, tangannya semakin erat memeluk Sora seraya mengusap-usap punggungnya.“Baiklah. Aku nggak akan mengganggumu. Tapi ini terakhir kali.” Figo kembali mencium pipi, pucuk hidung dan bibir Sora.Sebelum akhirnya dia membiarkan Sora benar-benar terlelap dalam pelukannya.Figo seolah tak bisa menahan perasaannya yang begitu mencintai Sora. Dia bangga pada wanita itu karena telah memberikan putra dan putri yang lucu untuknya.“Aku mencintaimu,” bisik Figo mesra.Beberapa saat kemudian, setelah memastikan Sora benar-benar terlelap, Figo lantas menarik lengannya dari bawah kepala wan
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl







