LOGIN“Papa sayang kamu,” ucap Figo seraya mengecup puncak kepala Caspian yang masih terlihat lemah di pangkuannya.“Kalau aku mati, Papa masih sayang aku nggak?” celoteh Caspian, bibirnya tampak merah dan sedikit bergetar.Figo memejamkan matanya sejenak. Sejak demam dua hari yang lalu, bocah itu selalu bicara soal kematian atau segala sesuatu yang berhubungan dengan mati.Ya, sudah dua hari berlalu sejak Figo dan Sora menjemput Caspian dari Starlight karena demam.“Papa akan tetap sayang kamu apapun yang terjadi. Jadi jangan bicara soal mati lagi, hm?”“Tapi, tapi entar aku kan nggak ada, gimana Papa bisa tetap sayang?”Astaga. Ternyata begini rasanya punya anak yang baru akan berhenti bicara hanya saat tidur. Figo lantas menatap Sora yang tengah sibuk memotong buah.Sora yang sejak tadi mendengar celotehan itu, hanya mengangkat bahunya seraya berkata, “Gimana rasanya saat mendengar orang yang demam tapi selalu bicara seolah akan mati besok? Gelisah, ‘kan?”Figo mengusap tengkuk. Jadi sep
Figo menopang pipinya dengan satu tangan yang dikepalkan serta sikunya bertumpu di atas meja. Matanya memandangi Sora dengan lekat yang tengah sibuk dengan laptopnya.Tidak satu detik pun tatapan Figo beralih ke arah lain selain pada Sora. Tatapannya begitu dalam dan penuh damba.Sesekali matanya turun ke bibir ranum yang indah dan menggoda itu. Sesekali turun ke dada sintal yang tercetak jelas di balik kemeja ketatnya.“Kapan kamu selesai, Sayang?” gumam Figo seraya menyelipkan helaian rambut Sora ke belakang telinga.“Sebentar lagi,” jawab Sora, yang sebenarnya sudah mulai kehilangan fokus karena tatapan membius pria itu membuat jantungnya berdebar-debar.Melihat bibir Sora bergerak-gerak, Figo ingin sekali melumatnya dan menggigitnya. Tetapi dia berusaha menahan diri.“Figo, kamu tahu? Aku merasa seperti punya suami pengangguran.”Figo terkekeh kecil. “Waktuku memang luang untuk kamu, Sayang.”“Aku tahu jadwalmu padat tapi kamu masih sempat-sempatnya datang ke kantorku.” Sora gelen
“Papa, Mama,” gumam Caspian sembari mengerjapkan matanya yang basah berkali-kali.Lalu dia teringat pesan Papa, ‘Kalau tersesat, cari orang yang pakai seragam. Jangan mengikuti orang sembarangan.’Caspian mengusap air matanya dengan punggung tangan. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling area yang tampak ramai itu.Sampai akhirnya dia melihat petugas keamanan berdiri tidak jauh dari pintu masuk sebuah gedung.Kakinya lalu berlari kecil menghampiri petugas tersebut.“Uncle,” panggil Caspian sambil mendongak dan mengerjapkan matanya polos.Pria berseragam itu menunduk. “Yes?”“I’m lost.”Petugas itu memperhatikan Caspian selama beberapa detik, lalu berjongkok mensejajarkan tubuh mereka. “Are you lost?”Caspian mengangguk. “I’m looking for my mother, my father and my sister.”“What’s your name?”“Caspian,” jawab Caspian sembari merogoh sesuatu dari saku coatnya. Lalu menyerahkan sebuah kartu nama–yang dibuat khusus untuk Caspian oleh Figo dan wajib dibawa ke mana-mana. “Please call my
Sora terbangun dari tidurnya saat dia merasakan ciuman-ciuman kecil yang menghujani wajahnya.Matanya yang terasa lengket perlahan terbuka, dan mendapati wajah tampan suaminya dengan rambut yang berantakan.Saat ini mereka sudah berada di Tokyo. Dan mereka baru saja tiba kemarin siang.“Pagi,” sapa Sora dengan suara serak.“Tidurmu nyenyak?” tanya Figo, tapi detik berikutnya dia mendaratkan bibirnya pada bibir Sora lalu memagutnya dengan lembut.Sora sempat menahan napas. Lalu memukul lengan Figo pelan hingga pria itu menjauhkan kembali wajah mereka.“Setidaknya beri aku kesempatan buat bernapas setelah bangun tidur,” gerutu Sora, membuat Figo seketika terkekeh-kekeh.“Salahmu sendiri,” bisik Figo seraya mengusapkan telapak tangannya di punggung polos Sora. “Kenapa selalu terlihat sangat cantik setiap bangun tidur?”“Berhenti menggombal, Figo.” Sora menangkup rahang pria itu, menatap wajahnya lekat. Pria itu pun semakin tampan dengan rambut berantakannya.Figo tersenyum kecil. Dia men
“Adik, kenapa sih kamu nggak bisa diam banget? Kamu bikin teman-teman aku pusing tadi,” omel Shopie dengan bibir cemberut.Caspian yang sedang berlari-lari di selasar ballroom, menjawab, “Aku ‘kan mau main sama Kakak.”“Iya tapi bisa nggak kamunya diem gitu lho. Jangan bikin aku pusing dan malu di depan teman-teman aku.”“Iya maaf.”Shopie semakin cemberut. Sementara Caspian yang tahu kakaknya sedang marah, menjulurkan tangan kanannya sambil mengerjap polos, meminta maaf.Meski kesal, tapi Shopie tetap menerima jabatan tangan adiknya.“Kalau udah minta maaf jangan diulangi,” gerutu Shopie.“Iya.” Caspian mengangguk patuh. Tapi detik berikutnya, tangan Caspian yang tidak bisa diam itu menarik salah satu balon dekorasi hingga….DUAR!“Akh!” pekik Shopie sambil berjengit kaget saat balon itu tiba-tiba pecah. “Iiih! Kamu nyebelin tahu!” Shopie memegangi dadanya yang berdetak kencang, menatap Caspian kesal.Caspian hanya menyengir tak berdosa, lalu berlari karena dia tahu kakaknya yang mar
“Shopie, selamat ulang tahun.”Seorang bocah laki-laki tersenyum lebar sambil menjulurkan tangan kanannya pada Shopie, yang hari ini genap berusia 10 tahun.“Terima kasih, Zev.” Shopie menerima uluran tangan temannya itu.“Kamu cantik banget,” puji Zev, yang membuat Shopie tersipu-sipu.Ehem!Figo–yang sejak tadi berdiri di samping Shopie, berdehem keras.Sorot matanya yang tajam menatap tangan putrinya dalam genggaman bocah bernama Zev itu.“Sudah selesai kasih ucapan selamatnya?” tanya Figo pada Zev.“Sudah, Om.”“Kalau begitu lepaskan.”“Oh. Iya, Om. Maaf.” Bocah berkemeja putih dan jas berwarna beige itu pun melepaskan tangan Shopie, tanpa tahu kalau ayahnya Shopie nyaris murka.“Makasih udah datang ya, Zev,” ucap Shopie.“Sama-sama. Aku punya hadiah buat kamu.” Zev menyerahkan sebuah paper bag putih berukuran kecil.Shopie tampak senang. Dia mengeluarkan isi paper bag itu yang merupakan sebuah instant camera berwarna pink dengan segala perintilannya yang menggemaskan.“Wuaah! Luc
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl







