Se connecterMalam itu, setelah semua tamu pergi dan pantai kembali sunyi, Leon membawaku ke tempat yang tidak pernah kuduga.Dia menggenggam erat tanganku, menuntunku melewati koridor panjang vila, melewati pintu-pintu yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya. Di ujung lorong, dia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua dengan ukiran rumit. Dia mengeluarkan kunci dari sakunya, sebuah kunci emas kecil yang berkilau di bawah cahaya redup."Apa ini?" tanyaku, penasaran.Leon tersenyum misterius. "Kamar rahasia. Tempat yang hanya aku tahu."Dia membuka pintu, dan di hadapanku terbentang sebuah ruangan yang indah dan mewah. Dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap, dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat dan lembut. Di tengah ruangan, ada tempat tidur besar dengan seprai sutra merah tua. Di sudut, perapian menyala."Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kamu inginkan. Kamu yang mengendalikan. Kamu yang memutuskan," katanya.Aku menarik napas dalam-dalam. Aku menatap ruangan itu
Hari pernikahan akhirnya tiba.Langit berwarna biru cerah tanpa awan sedikit pun, matahari pagi menyinari pantai dengan cahaya keemasan. Ombak berbisik di kejauhan, menciptakan irama yang menenangkan. Di atas pasir putih yang bersih, sebuah altar sederhana namun elegan berdiri dihiasi bunga-bunga putih dan krem, bergoyang lembut tertiup angin laut.Aku berdiri di balik layar putih di ujung lorong, tanganku gemetar memegang buket bunga matahari, bunga kesukaan Ethan. Gaun pengantinku sederhana namun elegan, dengan renda halus yang jatuh ke lantai seperti air terjun. Rambutku dihiasi bunga-bunga kecil yang disematkan oleh penata rias, dan di leherku, liontin berbentuk hati pemberian Leon berkilau di bawah sinar matahari.Tapi ada satu hal yang membuat hatiku terasa penuh dan perih sekaligus.Di samping altar, sebuah pajangan besar berdiri dengan megah. Di dalam bingkai kayu putih yang dihiasi bunga-bunga segar, ada foto Ethan. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum dia pergi, dengan se
Leon melangkah masuk ke ruang VIP klub golf eksklusif milik Sebastian, langkahnya lebih ringan dari biasanya. Dia tak bisa menyembunyikan senyumnya, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah Natal.Di dalam ruangan, Sebastian dan Adrian berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan golf hijau yang luas. Mereka berdua memegang stik golf, tampak sedang mendiskusikan teknik ayunan, tetapi begitu melihat Leon masuk, mereka segera menghentikan percakapan."Leon! Kau datang!" sapa Adrian, meletakkan stik golfnya. "Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? Kau terlihat seperti orang yang baru memenangkan lotre."Leon tertawa, tawa yang jarang mereka dengar akhir-akhir ini. "Lebih baik dari lotre. Aku akan menikah lagi!"Sebastian mengangkat alis, dengan hati-hati meletakkan stik golfnya. "Benarkah? Dengan Ana?""Ya! Aku berhasil! Dia akhirnya mau," kata Leon.Adrian dan Sebastian saling bertukar pandang, lalu tersenyum lebar. Adrian mendekat dan menepuk p
Ana menatap Leon dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya bergerak cepat, mencoba mencerna semua yang baru saja didengarnya. Leon pergi. Leon akan memulai hidup baru di negara lain, tanpanya."Apa kamu bercanda?"Leon menggelengkan kepalanya, matanya tak pernah lepas dari jalan di depan. "Aku tidak pernah bercanda tentang hal serius seperti ini, Ana. Dokter sudah memperingatkanku. Kesehatanku tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Jika aku terus bekerja dan stres seperti ini, aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati di sini, di London, dengan semua kenangan buruk ini."Ana terdiam. Dia merasakan dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menghancurkannya dari dalam. "Kamu hanya akan pergi? Tanpa membawaku?"Leon menghela napas panjang, mobilnya berbelok ke jalan yang lebih sepi. Dia akhirnya menepi ke pinggir jalan, mematikan mesin, dan menoleh ke Ana dengan tatapan lembut tapi penuh kesedihan."Aku tidak bisa membawamu. Kamu punya pekerjaan yang baru saja kamu mulai, dan kamu bahag
Beberapa minggu telah berlalu sejak Ana mulai bekerja di Hotel Harmony. Leon sengaja tidak mengunjungi hotel tersebut, meskipun dia adalah pemiliknya. Dia ingin memberi Ana ruang untuk menikmati pekerjaan barunya tanpa merasa tertekan oleh kehadirannya. Namun diam-diam, dia selalu meminta laporan dari manajer hotel tentang kinerja Ana. Setiap laporan selalu positif—Ana adalah resepsionis yang ramah, efisien, disukai oleh semua tamu.Leon merasa bangga, tetapi di saat yang sama, ada kecemasan mengganggu yang terus menghantui pikirannya. Ana menjadi semakin mandiri, semakin percaya diri, dan semakin cantik. Dia tidak lagi membutuhkan Leon seperti dulu. Dan Leon tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.Pada Jumat sore, Leon memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor. Dia sedang berjalan menuju mobilnya ketika dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.Di depan gedung kantornya, Ana berdiri di trotoar. Dia mengenakan gaun bunga yang segar, rambutnya terurai indah, dan dia se
"Apakah kamu sudah bicara dengannya tentang ini?" tanya Sebastian.Leon menggelengkan kepalanya. "Tidak, dan aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin membuatnya merasa tertekan atau bersalah. Jika dia memilih pria lain, aku akan melepaskannya dengan senang hati. Asalkan dia bahagia, itu sudah cukup."Sebastian menatap Leon. "Kamu benar-benar mencintainya, Leon.""Lebih dari apapun di dunia ini. Karena itulah aku rela melepaskannya."Adrian menghela napas panjang. "Aku tidak bisa membayangkan pria lain bisa membuat Ana sebahagia dirimu.""Kamu terlalu baik padaku, tapi kenyataannya, Ana mungkin sudah memiliki seseorang. Aku melihat bagaimana dia mulai merawat dirinya sendiri, bagaimana dia mulai lebih sering tersenyum. Mungkin dia sudah menemukan kebahagiaan di luar sana," kata Leon.Di luar ruangan, suara langkah kaki mulai mendekat. Ketiganya menoleh ke arah pintu, dan saat pintu terbuka, semua percakapan langsung terhenti.Ana berdiri di ambang pintu, membawa dua kotak pizza bes
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama







