LOGINHari pernikahan akhirnya tiba.Langit berwarna biru cerah tanpa awan sedikit pun, matahari pagi menyinari pantai dengan cahaya keemasan. Ombak berbisik di kejauhan, menciptakan irama yang menenangkan. Di atas pasir putih yang bersih, sebuah altar sederhana namun elegan berdiri dihiasi bunga-bunga putih dan krem, bergoyang lembut tertiup angin laut.Aku berdiri di balik layar putih di ujung lorong, tanganku gemetar memegang buket bunga matahari, bunga kesukaan Ethan. Gaun pengantinku sederhana namun elegan, dengan renda halus yang jatuh ke lantai seperti air terjun. Rambutku dihiasi bunga-bunga kecil yang disematkan oleh penata rias, dan di leherku, liontin berbentuk hati pemberian Leon berkilau di bawah sinar matahari.Tapi ada satu hal yang membuat hatiku terasa penuh dan perih sekaligus.Di samping altar, sebuah pajangan besar berdiri dengan megah. Di dalam bingkai kayu putih yang dihiasi bunga-bunga segar, ada foto Ethan. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum dia pergi, dengan se
Leon melangkah masuk ke ruang VIP klub golf eksklusif milik Sebastian, langkahnya lebih ringan dari biasanya. Dia tak bisa menyembunyikan senyumnya, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah Natal.Di dalam ruangan, Sebastian dan Adrian berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan golf hijau yang luas. Mereka berdua memegang stik golf, tampak sedang mendiskusikan teknik ayunan, tetapi begitu melihat Leon masuk, mereka segera menghentikan percakapan."Leon! Kau datang!" sapa Adrian, meletakkan stik golfnya. "Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? Kau terlihat seperti orang yang baru memenangkan lotre."Leon tertawa, tawa yang jarang mereka dengar akhir-akhir ini. "Lebih baik dari lotre. Aku akan menikah lagi!"Sebastian mengangkat alis, dengan hati-hati meletakkan stik golfnya. "Benarkah? Dengan Ana?""Ya! Aku berhasil! Dia akhirnya mau," kata Leon.Adrian dan Sebastian saling bertukar pandang, lalu tersenyum lebar. Adrian mendekat dan menepuk p
Ana menatap Leon dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya bergerak cepat, mencoba mencerna semua yang baru saja didengarnya. Leon pergi. Leon akan memulai hidup baru di negara lain, tanpanya."Apa kamu bercanda?"Leon menggelengkan kepalanya, matanya tak pernah lepas dari jalan di depan. "Aku tidak pernah bercanda tentang hal serius seperti ini, Ana. Dokter sudah memperingatkanku. Kesehatanku tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Jika aku terus bekerja dan stres seperti ini, aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati di sini, di London, dengan semua kenangan buruk ini."Ana terdiam. Dia merasakan dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menghancurkannya dari dalam. "Kamu hanya akan pergi? Tanpa membawaku?"Leon menghela napas panjang, mobilnya berbelok ke jalan yang lebih sepi. Dia akhirnya menepi ke pinggir jalan, mematikan mesin, dan menoleh ke Ana dengan tatapan lembut tapi penuh kesedihan."Aku tidak bisa membawamu. Kamu punya pekerjaan yang baru saja kamu mulai, dan kamu bahag
Beberapa minggu telah berlalu sejak Ana mulai bekerja di Hotel Harmony. Leon sengaja tidak mengunjungi hotel tersebut, meskipun dia adalah pemiliknya. Dia ingin memberi Ana ruang untuk menikmati pekerjaan barunya tanpa merasa tertekan oleh kehadirannya. Namun diam-diam, dia selalu meminta laporan dari manajer hotel tentang kinerja Ana. Setiap laporan selalu positif—Ana adalah resepsionis yang ramah, efisien, disukai oleh semua tamu.Leon merasa bangga, tetapi di saat yang sama, ada kecemasan mengganggu yang terus menghantui pikirannya. Ana menjadi semakin mandiri, semakin percaya diri, dan semakin cantik. Dia tidak lagi membutuhkan Leon seperti dulu. Dan Leon tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.Pada Jumat sore, Leon memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor. Dia sedang berjalan menuju mobilnya ketika dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.Di depan gedung kantornya, Ana berdiri di trotoar. Dia mengenakan gaun bunga yang segar, rambutnya terurai indah, dan dia se
"Apakah kamu sudah bicara dengannya tentang ini?" tanya Sebastian.Leon menggelengkan kepalanya. "Tidak, dan aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin membuatnya merasa tertekan atau bersalah. Jika dia memilih pria lain, aku akan melepaskannya dengan senang hati. Asalkan dia bahagia, itu sudah cukup."Sebastian menatap Leon. "Kamu benar-benar mencintainya, Leon.""Lebih dari apapun di dunia ini. Karena itulah aku rela melepaskannya."Adrian menghela napas panjang. "Aku tidak bisa membayangkan pria lain bisa membuat Ana sebahagia dirimu.""Kamu terlalu baik padaku, tapi kenyataannya, Ana mungkin sudah memiliki seseorang. Aku melihat bagaimana dia mulai merawat dirinya sendiri, bagaimana dia mulai lebih sering tersenyum. Mungkin dia sudah menemukan kebahagiaan di luar sana," kata Leon.Di luar ruangan, suara langkah kaki mulai mendekat. Ketiganya menoleh ke arah pintu, dan saat pintu terbuka, semua percakapan langsung terhenti.Ana berdiri di ambang pintu, membawa dua kotak pizza bes
Matahari sore menyinari ruang kantor Leon di lantai tertinggi gedung Harrington Tower. Pemandangan London terbentang luas di balik kaca jendela besar, dengan Sungai Thames yang berkilauan dan deretan gedung pencakar langit yang menjulang.Di dalam ruangan yang mewah itu, tiga pria duduk di sekitar meja konferensi kayu mahoni, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan layar komputer yang menampilkan grafik keuangan.Leon duduk di kursi utama, punggungnya bersandar, matanya menatap layar laptop dengan konsentrasi. Wajahnya yang dulu pucat dan lelah kini terlihat lebih sehat, meskipun garis-garis halus di sudut matanya menunjukkan usianya yang mulai menua. Dia mengenakan jas abu-abu gelap yang rapi, rambutnya yang mulai beruban di bagian pelipis disisir ke belakang dengan sempurna. Meskipun usianya sudah lima puluh lebih dan kesehatannya tidak lagi sekuat dulu, Leon masih memiliki aura ketegasan yang membuat orang di sekitarnya hormat.Di sisi kanannya, Adrian duduk dengan santai, kakinya d
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion







