LOGIN"Clara bukan anak kandungku.""Kau bicara apa? Clara adalah putrimu. Selama ini kau membesarkannya sendirian setelah ibunya meninggal. Kau bilang dia satu-satunya yang kau miliki."Leon menggeleng pelan. "Dia bukan anak kandungku. Istriku sudah hamil saat kami menikah. Aku tahu itu tapi aku tetap menikahinya karena aku mencintainya."Aku terdiam."Dia sudah mengandung dua bulan saat kami menikah. Aku tahu anak itu bukan anakku tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membesarkan anak itu seperti anakku sendiri. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun. Ayahku tahu, karena dia yang menyuruhku menikahi wanita itu meskipun dia sudah hamil. Keluarga ibunya kaya. Pernikahan itu menguntungkan bagi bisnis kami."Aku duduk di sampingnya. Tanganku meraih tangannya yang dingin."Lalu istriku meninggal, Clara masih kecil. Aku tidak punya alasan untuk tidak membesarkannya. Dia sudah aku anggap sebagai anakku sejak dia dalam kandungan.""Tapi kenapa ayahmu sekarang menuntut cucu? Dia su
Kami berbaring di tempat tidur yang basah oleh keringat dan cairan. Leon tidak melepaskan pelukannya. Aku juga tidak melepaskannya. Dadaku masih naik turun mengatur napas, sementara jari-jari Leon sibuk memainkan ujung rambut keritingku."Ana," panggilnya pelan."Hm?""Aku harus memberitahumu sesuatu.""Apa?" tanyaku.Leon melepaskan pelukannya. Dia duduk di tepi tempat tidur, punggungnya membelakangiku. Aku melihat bekas cakaran kuku di punggungnya, bekas yang aku buat tadi."Ayahku minta aku memberikan cucu dan kita sudah bicarakan itu.""Iya tapi aku belum setuju.""Aku tahu tapi ayahku tidak sabar. Dia sudah tua. Dia takut mati sebelum melihat cucunya."Aku duduk di sampingnya. Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang telanjang."Lalu?"Leon menghela napas panjang. Aku melihat tangannya, tangan yang tadi malam mengikatku, menyentuhku, memasukiku sekarang gemetar."Aku punya rencana lain," katanya."Apa?""Aku akan membuat anak Clara sebagai anak kita.""Apa?""Aku akan bilang pad
Mobil berhenti di depan mansion. Leon mematikan mesin, tapi tidak segera turun. Dia menatap lurus ke depan selama beberapa detik, lalu menoleh padaku."Clara tidak meminta teh jahe."Aku terkejut. "Apa?""Aku berbohong. Clara sedang tidur nyenyak. Tidak ada yang mencarimu.""Lalu kenapa kau..."Leon turun dari mobil tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aku mengikutinya dengan langkah ragu. Kami masuk ke mansion dalam, para pelayan sudah tidur. Lampu-lampu redup hanya menyisakan cahaya temaram di lorong.Leon tidak berhenti di kamar Clara. Dia terus berjalan ke kamar tidur utamanya. Kamar yang dulu sempat menjadi tempat tidurku juga, sebelum Clara pulang."Masuk," katanya sambil membuka pintu.Aku masuk. Leon menutup pintu di belakangku dan menguncinya."Ada apa? Aku pikir Clara...""Diam."Dia berdiri di depanku, hanya beberapa sentimeter. Matanya yang hitam pekat menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menunduk dan tidak berani menatap matanya."Lihat aku," katanya.Aku mengang
Aku baru saja terlelap di pelukan Adrian ketika suara ketukan pintu yang keras membuyarkan tidurku.Adrian bangkit dengan gerakan cepat. Wajahnya yang tadinya tenang berubah tegang. Dia meraih celananya yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan tergesa-gesa."Jam berapa ini?" gumamnya sambil melihat jam dinding. "Jam tiga pagi. Ada apa dengan dia?"Aku duduk di sofa, menarik selimut menutupi tubuhku yang telanjang. Dadaku berdebar kencang. Leon datang di jam tiga pagi, di apartemen Adrian.Adrian membuka pintu."Leon, ada apa? Jam tiga pagi."Leon tidak menjawab. Matanya melewati Adrian, langsung tertuju padaku. Aku yang duduk di sofa dengan selimut menutupi tubuh, rambut keriting berantakan."Pulang," kata Leon singkat.Aku tidak bergerak."Kau dengar aku. Pulang.""Jam kerjaku belum dimulai. Aku tidak sedang bekerja."Leon melangkah masuk. Dia melewati Adrian seperti Adrian tidak ada di sana. Dia berjalan ke arahku, meraih pergelangan tanganku, dan menarikku berdiri."Aku bila
Aku menatap Adrian yang berdiri di depanku dengan celana yang sudah lepas. Tubuhnya kekar, tidak sebesar Sebastian, tapi lebih proporsional dari Leon. Dadanya bidang dengan sedikit bulu halus di tengah. Perutnya rata dengan garis otot yang tegas dan di bawah sana, miliknya sudah tegang, sudah siap.Aku tidak menolak dan aku tidak pernah bisa menolak Adrian.Dia mendekat. Bibirnya mencium leherku membuatku menggigil.Dia membaringkanku di sofa. Piyama sutra miliknya yang terlalu besar untukku itu melorot ke bahu, memperlihatkan kulitku yang pucat. Adrian mencium bahuku, perlahan, seperti sedang mengecup barang antik yang paling berharga."Haaah... Adrian...""Jangan terburu-buru. Malam ini kita punya banyak waktu."Tangannya meremas dadaku, perlahan, lembut, tidak seperti Sebastian yang brutal atau Leon yang terukur. Adrian punya caranya sendiri. Dia tahu persis di mana harus menyentuh, seberapa keras harus menekan, seberapa cepat harus bergerak."Uuugh... kamu jago sekali, Adrian..."
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh dihina setiap hari? Bahwa aku boleh disebut pelacur? Bahwa aku boleh dikurung di mansion ini tanpa diberi makan?"Leon terdiam."Atau aturanmu bahwa aku harus melayani Adrian dan Sebastian tapi tidak boleh bahagia bersama mereka?""Aku tidak pernah...""Kau tidak pernah apa? Tidak pernah cemburu? Kau cemburu, tapi kau tidak mau mengakuinya. Kau lebih suka menyiksaku daripada mengakui bahwa kau peduli."Leon bangkit dari kursinya dan wajahnya memerah."Cukup, Ana.""Tidak, belum cukup. Kau belum pernah memberiku uang, dari ketiga pria, hanya kau yang pelit..Adrian memberiku uang belanja. Sebastian memberiku uang belanja. Mereka bahkan tidak ragu mengirimkan transfer puluhan ribu euro ke reke
Aku masuk ke kamar Leon dengan langkah hati-hati dan dari balik celah, aku mendengar suara yang tidak asing."—dan aku sudah bertemu dengan banyak teman baru, Dad! Mereka baik-baik semua. Aku senang di sini."Clara.Leon sedang melakukan video call dengan putrinya.Dia duduk di kursi dekat jendela,
Mobil Leon berhenti di depan mansion.“Kau masuk dan istirahat,” kata Leon tanpa menatapku. Tangannya masih di setir, matanya lurus ke depan. “Aku harus kembali ke kantor. Ada rapat yang tidak bisa ditunda.”Aku membuka pintu dan turun.“Baik, Leon. Hati-hati di jalan.”Dia hanya mengangguk kecil.
Mobil melaju meninggalkan mansion. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah dengan punggung tangan. Leon tidak bicara. Dia hanya fokus pada jalan, sesekali menekan pedal gas lebih dalam saat mobil di depan terlalu lambat.Pemandangan di luar berubah dari pepohonan rinda
Aku masih tersenyum sambil memeluk boneka beruang putih dari Harrods lalu aku menoleh ke arah pintu.Leon berdiri di sana.Tangannya bersilang di dada. Punggungnya bersandar pada kusen pintu. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Sebastian? Apakah







