Share

Bab 28

Penulis: Author Marr
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 20:22:11

Mobil melaju meninggalkan mansion. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah dengan punggung tangan. Leon tidak bicara. Dia hanya fokus pada jalan, sesekali menekan pedal gas lebih dalam saat mobil di depan terlalu lambat.

Pemandangan di luar berubah dari pepohonan rindang menjadi gedung-gedung tinggi, lalu kembali lagi ke perumahan elit dengan rumah-rumah besar bergaya Eropa. Rumah ayah Leon berada di kawasan yang bahkan lebih mewah dari mansion Leon sendiri.

“Sudah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 45

    Hari ketiga.Aku sudah tidak kuat lagi. Perutku terasa seperti tertusuk-tusuk. Kepalaku berputar setiap kali berdiri. Badanku lemas, seperti semua tulangku diganti dengan kapas. Aku berbaring di tempat tidur kecilku, memandang langit-langit yang retak, dan bertanya-tanya apakah Leon benar-benar akan membiarkanku mati di sini.Tiba-tiba, aku mendengar suara mobil masuk ke gerbang mansion.Aku memaksakan diri untuk bangun. Badanku limbung. Dinding-dinding kamar terasa berputar pelan. Aku berpegangan pada meja, pada kusen pintu, pada apa pun yang bisa aku raih.Aku berjalan ke ruang tamu dengan langkah sempoyongan.Leon berdiri di tengah ruangan. Suit hitamnya masih rapi, tapi dasinya sudah longgar."Selamat pulang," kataku pelan. Aku menunduk.Leon menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tahu aku terlihat menyedihkan, rambut kusut, pakaian kusut, wajah pucat, bibir kering. Aku tidak makan dengan baik selama dua hari. Aku hampir tidak minum. Tubuhku terasa seperti akan roboh k

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 44

    Hari kedua tanpa Leon.Aku terbangun dengan perut keroncongan. Aku tidak makan banyak kemarin. Hanya segelas susu hangat dan setengah potong roti yang aku ambil sendiri dari dapur karena tidak ada pembantu yang berani mendekatiku.Mereka semua takut pada Leon.Aku berjalan ke dapur. Perutku semakin keras berbunyi. Aku membuka kulkas besar berwarna perak itu.Kosong.Aku menutup kulkas. Aku berjalan ke lemari dapur. Aku membuka satu per satu pintu lemari kayu itu.Kosong. Kosong. Kosong.Aku berdiri di tengah dapur yang luas dan mewah itu dengan perut lapar “Apa ada orang di sini?” Aku berteriak memanggil.Seorang pria paruh baya dengan topi putih tinggi muncul dari ruang belakang. Itu koki mansion, koki profesional yang biasa Leon bayar mahal untuk memasak untuknya.“Ada apa, Nona Ana?” tanyanya.“Kenapa kulkas kosong? Kenapa lemari kosong? Aku mau makan.”Koki itu menunduk. “Maaf, Nona. Tuan Leon memberi perintah. Nona sedang diet. Jadi Nona tidak boleh menggunakan dapur, tidak bole

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 43

    Keesokan harinya.Kepalaku masih terasa berat seperti ada palu kecil yang memukul-mukul dari dalam. Mulutku terasa pahit dan seluruh tubuhku lemas.Leon berdiri di depan cermin besar di sudut kamar. Dia sudah memakai suit hitamnya yang rapi, dasi abu-abu melingkar sempurna di lehernya. Rambutnya yang hitam pekat tertata rapi ke belakang. Wajahnya datar seperti biasa.Dia tidak menoleh saat aku bangun.Aku duduk di tepi tempat tidur. Kilasan ingatan tadi malam mulai kembali sedikit demi sedikit, seperti potongan puzzle yang bertebaran.Meja billiard. Jari-jari Leon. Kata-kata kotorku.Masukkan tiga kontol kalian bersamaan!Aku menutup wajahku dengan kedua tangan karena malu."Kamu bangun," kata Leon. Masih tanpa menoleh.Aku tidak bisa menjawab. Mulutku terasa terkunci.Leon menyelesaikan mengancingkan kemejanya, lalu berbalik. Matanya menatapku sebentar, cukup lama untuk membuatku semakin malu."Cucilah mukamu. Ganti baju lalu Kita bicara di ruang makan," kata Leon.Dia keluar dari ka

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 42

    Adrian mengendus gelas jus yang masih setengah di atas meja. Matanya menyipit."Ini bukan jus jeruk biasa. Aku bisa mencium bau aneh di sini. Ada campuran sesuatu.""Tapi yang jelas, Ana tidak mungkin berkata-kata seperti itu kalau dia sadar," kata Sebastian.Aku tertawa cekikikan di atas meja billiard. Kepalaku terasa berputar. Meja hijau di bawahku terasa seperti ombak-naik turun, naik turun. Tubuhku panas, sangat panas, seperti ada api yang membakar dari dalam."Honey..." Aku meraih lengan Adrian yang terdekat. "Aku mau masukin tiga kontol kalian bersamaan, hahahahaha!"Adrian mundur selangkah. Wajahnya yang biasanya ceria sekarang berubah serius."Ana, kamu tidak sadar. Duduk dulu. Jangan bergerak," katanya."Aku sadar! Aku sangat sadar!" Aku tertawa lagi. Tapi jujur, aku tidak tahu apa yang aku katakan. Mulutku bergerak sendiri. Kata-kata kotor keluar tanpa kendali."Aku mau jilat kontol kalian semua! Sekarang!" kataku.Sebastian menghela napas panjang. "Ini bukan perilaku normal

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 41

    Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 40

    Mobil melaju meninggalkan mansion menuju rumah ayah Leon. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah. Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel yang sesekali bergetar. Tiba-tiba, ponsel Leon berdering. Dia mengangkatnya tanpa berkata apa-apa, mendengarkan sebentar, lalu menghela napas panjang, sangat panjang, seperti dia baru saja mendengar berita yang tidak menyenangkan. “Baik,” katanya singkat. “Lain kali.” Telepon ditutup. Mobil berbelok di tikungan berikutnya bukan ke arah rumah ayahnya, tapi kembali ke arah pusat kota. “Ayahku ada tamu penting,” kata Leon tanpa menatapku. “Acara hari ini dibatalkan.” Mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Bukan kafe mewah seperti yang biasa Leon kunjungi. Kafe sederhana dengan kursi-kursi kayu di teras dan payung besar berwarna merah putih. Tempat seperti ini dulu sering aku kunjungi saat masih berpacaran dengan Max sebelum semuanya hancur. “Turun,” kata Leon. Aku mena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status