Share

Bab 29

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-06-04 20:23:32

Mobil Leon berhenti di depan mansion.

“Kau masuk dan istirahat,” kata Leon tanpa menatapku. Tangannya masih di setir, matanya lurus ke depan. “Aku harus kembali ke kantor. Ada rapat yang tidak bisa ditunda.”

Aku membuka pintu dan turun.

“Baik, Leon. Hati-hati di jalan.”

Dia hanya mengangguk kecil. Mobilnya melaju pergi meninggalkan aku di depan pintu mansion.

Aku baru saja melangkahkan kaki masuk ketika sebuah mobil hitam lain berhenti di belakangku. Pintu terbuka. Adrian keluar dengan kemeja p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 43

    Keesokan harinya.Kepalaku masih terasa berat seperti ada palu kecil yang memukul-mukul dari dalam. Mulutku terasa pahit dan seluruh tubuhku lemas.Leon berdiri di depan cermin besar di sudut kamar. Dia sudah memakai suit hitamnya yang rapi, dasi abu-abu melingkar sempurna di lehernya. Rambutnya yang hitam pekat tertata rapi ke belakang. Wajahnya datar seperti biasa.Dia tidak menoleh saat aku bangun.Aku duduk di tepi tempat tidur. Kilasan ingatan tadi malam mulai kembali sedikit demi sedikit, seperti potongan puzzle yang bertebaran.Meja billiard. Jari-jari Leon. Kata-kata kotorku.Masukkan tiga kontol kalian bersamaan!Aku menutup wajahku dengan kedua tangan karena malu."Kamu bangun," kata Leon. Masih tanpa menoleh.Aku tidak bisa menjawab. Mulutku terasa terkunci.Leon menyelesaikan mengancingkan kemejanya, lalu berbalik. Matanya menatapku sebentar, cukup lama untuk membuatku semakin malu."Cucilah mukamu. Ganti baju lalu Kita bicara di ruang makan," kata Leon.Dia keluar dari ka

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 42

    Adrian mengendus gelas jus yang masih setengah di atas meja. Matanya menyipit."Ini bukan jus jeruk biasa. Aku bisa mencium bau aneh di sini. Ada campuran sesuatu.""Tapi yang jelas, Ana tidak mungkin berkata-kata seperti itu kalau dia sadar," kata Sebastian.Aku tertawa cekikikan di atas meja billiard. Kepalaku terasa berputar. Meja hijau di bawahku terasa seperti ombak-naik turun, naik turun. Tubuhku panas, sangat panas, seperti ada api yang membakar dari dalam."Honey..." Aku meraih lengan Adrian yang terdekat. "Aku mau masukin tiga kontol kalian bersamaan, hahahahaha!"Adrian mundur selangkah. Wajahnya yang biasanya ceria sekarang berubah serius."Ana, kamu tidak sadar. Duduk dulu. Jangan bergerak," katanya."Aku sadar! Aku sangat sadar!" Aku tertawa lagi. Tapi jujur, aku tidak tahu apa yang aku katakan. Mulutku bergerak sendiri. Kata-kata kotor keluar tanpa kendali."Aku mau jilat kontol kalian semua! Sekarang!" kataku.Sebastian menghela napas panjang. "Ini bukan perilaku normal

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 41

    Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 40

    Mobil melaju meninggalkan mansion menuju rumah ayah Leon. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah. Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel yang sesekali bergetar. Tiba-tiba, ponsel Leon berdering. Dia mengangkatnya tanpa berkata apa-apa, mendengarkan sebentar, lalu menghela napas panjang, sangat panjang, seperti dia baru saja mendengar berita yang tidak menyenangkan. “Baik,” katanya singkat. “Lain kali.” Telepon ditutup. Mobil berbelok di tikungan berikutnya bukan ke arah rumah ayahnya, tapi kembali ke arah pusat kota. “Ayahku ada tamu penting,” kata Leon tanpa menatapku. “Acara hari ini dibatalkan.” Mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Bukan kafe mewah seperti yang biasa Leon kunjungi. Kafe sederhana dengan kursi-kursi kayu di teras dan payung besar berwarna merah putih. Tempat seperti ini dulu sering aku kunjungi saat masih berpacaran dengan Max sebelum semuanya hancur. “Turun,” kata Leon. Aku mena

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 39

    Sebastian tersenyum begitu matanya tertuju padaku. Senyum itu langsung mengubah seluruh wajahnya yang garang menjadi sesuatu yang hangat. Matanya yang hazel gelap menyipit ramah. Kerutan di dahinya yang membuatnya terlihat selalu marah itu menghilang. “Selamat pagi, Ana. Kamu sudah siap? Aku datang untuk mengajakmu olahraga.” Aku benar-benar lupa. “Sebastian, maaf. Hari ini aku tidak bisa.” Senyum Sebastian sedikit pudar. “Kenapa? Ada apa?” “Aku harus pergi dengan Leon ke rumah ayahnya. Ada urusan keluarga.” Sebastian menatapku sebentar, lalu menghela napas. Dia mengangkat bahu, bahu lebarnya yang kekar itu naik turun dengan elegan. “Tidak apa-apa. Masih ada hari besok. Kita tidak perlu terburu-buru.” “Kamu tidak marah?” tanyaku. “Marah? Kenapa aku harus marah? Kamu punya kehidupan sendiri, aku tidak bisa memaksamu untuk selalu ada di sisiku.” Aku lega mendengarnya. Sebastian berbeda dari Leon. Dia tidak pernah marah kalau aku membatalkan janji. Dia tidak pernah mengeluarkan

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 38

    Leon meminta maaf untuk kedua kalinya. Aku masih berdiri membelakanginya, punggungku tegang, tanganku terkepal erat di sisi tubuh. Air mata masih mengalir di pipiku, aku tidak menyekanya. Biar dia lihat apa yang sudah dia lakukan. Tapi kemudian dia tertawa seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Astaga," katanya dari belakangku, suaranya penuh sindiran. "Aku minta maaf, dan kau bahkan tidak bisa menatapku? Apa aku harus berlutut dulu?" Aku berbalik. Leon berdiri dengan tangan di saku celana, satu alis terangkat, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang membuatku ingin menamparnya. Dia tidak terlihat menyesal dan justru terlihat terhibur. "Aku minta maaf," ulangnya, tapi kali dengan nada mengejek. "Itu yang kau harapkan, kan? Aku merendahkan diri di depanmu. Aku mengaku salah. Aku bilang 'maaf, Ana, aku keterlaluan. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu di pinggir jalan'." Dia menirukan suara cengeng yang jelas-jelas bukan suaranya. Matanya berkilat, buk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status