Home / Romansa / Hasrat Cinta Tuan Arsitek / Bab 2. Sebuah Tantangan

Share

Bab 2. Sebuah Tantangan

Author: Seaira
last update publish date: 2026-06-16 13:04:30

Kabar itu sudah menyebar ke seluruh ruang guru bahkan sebelum bel istirahat berbunyi. Proyek renovasi sekolah resmi dipegang Archie Design dan yang turun tangan langsung katanya direkturnya sendiri.

Bisik-bisik di sela fotokopi soal ujian, di antara dua guru yang berpapasan di koridor, semuanya membicarakan satu nama yang sama.

"Katanya masih muda, direktur pula. Pantas Pak Adiwira sampai heboh milih dia sendiri," celetuk seseorang di dekat mesin fotokopi, tidak sadar Manisha lewat tepat di belakangnya.

"Bukan direktur. Masih arsitek biasa lulusan Jerman, tapi pinter banget katanya. Banyak proyeknya yang sukses. Terkenal." Seseorang yang lain mengoreksi dan menjelaskan.

"Kayaknya dia bakal sering ke sini sampai proyeknya kelar. Bisa tiap minggu."

"Ya iyalah. Tadi nggak sengaja liat dia di parkiran, orangnya kelihatan ambis. Pasti dia suka turun tangan sendiri." Lainnya ikut menimbrung.

“Bener, tuh! Aku juga liat dia marah-marah tadi.”

"Nggak, ah. Itu namanya tegas." Orang yang pertama membela.

“Halah, mentang-mentang dia ganteng.”

Suara-suara tawa kecil menyusul, cukup keras untuk membuat Manisha mempercepat langkahnya. Salah satu dari mereka menoleh, menyadari kehadirannya.

"Eh, Bu Manisha!" panggil salah satu dari mereka yang baru saja menggosipkan sesuatu yang sensitif bagi Manisha. 

"Udah denger belum soal arsitek baru itu?"

"Denger sekilas." Manisha berusaha menjawab sedatar mungkin. "Kenapa emangnya?"

"Katanya dia mengurus proyek karena permintaan pak Adiwira. Karena dia anak kawannya. Ibu tahu nggak dia di sini berapa lama? Ibu kenal dia?"

"Saya guru kelas dua, Bu. Bukan bagian humas yayasan." Manisha mengelak.

"Nanti kalau ada info kabari kita ya, Bu." Mereka sangat antusias.

"Iya, boleh,”jawab Manisha agar percakapan itu segera selesai. Dia memaksakan senyum tipis lalu segera berpamitan sebelum pertanyaan lain sempat dilontarkan. "Saya duluan, ya. Masih ada murid yang menunggu."

Manisha berjalan cepat menyusuri koridor. Membiarkan gosip itu tinggal di belakangnya, meski satu nama masih menempel di kepalanya sepanjang sisa jam mengajar. Sampai sore hari tiba, ketika dia menunggu Ragil di dekat kran air taman sekolah.

"Ragil! Ibu bilang apa, jangan mainan air kran! Nanti seragam kamu basah." Manisha menghampiri bocah berusia delapan tahun yang tengah bermain air. “Ibu mau pulang, kamu mau ikut nggak?”

"Ibu Manisha mau antar Ragil pulang?" tanya anak laki-laki itu, matanya berbinar penuh harap.

"Tadi ibu ditelpon mama kamu, katanya belum bisa jemput. Jadi ibu antar sekalian, ya."

"Hore!" Ragil berteriak senang. Namun beberapa detik setelahnya, bocah itu mengamati Manisha dengan dahi mengernyit. “Om siapa? Aku gak pernah liat,” tunjuknya sambil bertanya.

Manisha ikut menoleh. Firasat buruknya sore itu ternyata benar. Sorot matanya berubah dingin secepat kilat begitu mengenali siapa yang berjalan mendekat dengan senyum yang sudah dia hafal sejak semalam.

"Kita ketemu lagi, Manisha," sapa Rama, nada suaranya terlalu percaya diri untuk situasi macam ini.

Manisha menatapnya dari atas ke bawah dalam sekali lihat, cepat, seperti menilai barang yang tidak layak dibeli. "Haduh," lirihnya dengan mengembuskan napas.

"Kok kelihatannya kecewa begitu.” Rama memicing, mencari celah. “Mungkin maksudmu senang, tapi gengsi mengakuinya?" Dia memasang senyum lebar yang terasa memuakkan bagi Manisha.

"Percaya diri sekali." Manisha melipat tangan di depan dada, menjaga jarak yang sudah dia tetapkan sejak semalam. "Ngapain Anda ada di sekolah ini?"

"Aku arsitek proyek renovasinya." Rama melirik papan nama kecil di dada seragam Manisha. "Kedepannya kita akan sering bertemu, Bu Guru."

"Sepertinya beberapa hari kedepan saya akan mengambil cuti daripada harus bertemu denganmu."

Rama nyaris tertawa. "Kasar sekali caramu menyambut orang yang sudah repot-repot memikirkanmu semalaman."

"Anda memikirkan saya?" Manisha menaikkan satu alis, nadanya tetap datar meski kalimat itu sempat membuat sesuatu di dadanya berdenyut aneh. "Atau memikirkan cara mencari korban berikutnya?"

"Korban itu berlebihan. Aku lebih suka menyebutnya, mencari alasan untuk kembali."

"Sayang sekali, alasannya bukan saya."

"Belum tentu." Rama melangkah setengah, cukup untuk membuat Manisha waspada tanpa harus benar-benar mundur. "Aku direktur proyek ini. Artinya aku bisa datang kapan pun aku mau."

Manisha memutar bola matanya, tidak malu-malu menyembunyikan rasa jengkelnya. "Saya bisa minta yayasan mengganti arsitek."

"Kau tidak akan melakukan itu."

"Kenapa Anda begitu yakin?"

"Karena kalau kau benar-benar tidak tertarik, kau sudah pergi sejak melihatku datang." Rama tersenyum tipis, puas dengan dirinya sendiri. "Bukan malah berdiri di sini, berdebat denganku."

Manisha diam sejenak, sadar dia baru saja kalah satu poin tanpa sempat membalas. "Saya berdiri di sini karena murid saya masih di sebelah saya, Pak Rama. Bukan karena Anda."

"Terserah alasan apa yang mau kau pakai." Rama mengangkat bahu, tidak sedikit pun kehilangan senyumnya. "Yang jelas, aku akan ada di sini setiap minggu sampai proyek ini selesai."

"Terserah." Manisha menyuruh Ragil mengambil tas dan menunggu di parkiran. Setelah anak itu menjauh, dia menatap Rama lurus-lurus, tidak berusaha ramah sedikit pun. "Saya sudah memperingatkanmu dari awal. Pergilah!"

"Kau benar-benar tidak bisa bersikap manis sedikit, ya?" Rama masih tidak menyerah.

“Hentikan bualanmu, Rama.” Manisha mulai mengertak.

"Aku sudah bicara dengan ayahmu semalam." Suara Rama terdengar santai, terlalu santai untuk kalimat yang baru saja dia lontarkan. "Bukan cuma soal proyek."

Manisha membeku di tempat. Perlahan dia berbalik, alisnya berkerut. "Maksud Anda?"

"Kau akan tahu sendiri." Rama tersenyum tipis, penuh teka-teki, lalu berjalan mundur menjauh, seolah sengaja meninggalkan kalimatnya menggantung di udara. "Sampai jumpa lagi, Bu guru. Ini akan lebih cepat dari yang kau kira."

"Dasar, pria gila!" sindir Manisha.

“Aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi aku akan membuatmu mencintaiku.” Nada bicara Rama terdengar sangat yakin.

“Baiklah kalau begitu.” Terlintas langkah yang tidak masuk akal di benak Manisha. “Kita lihat sejauh mana tekadmu.”

Rama mengerling dengan pandangan penuh kemenangan. “Akhirnya kau memberiku kesempatan.”

Manisha mendecih. “Bukan kesempatan. Melainkan ujian.”

“Aku suka tantangan,” ucap Rama bangga.

Nyali Manisha tidak menciut kendati lawannya memiliki ambisi besar. Dia hanya melihat seorang pemuda dengan hasrat sesaat yang pasti jika dituruti hanya berakhir seperti ampas yang dihisap manisnya saja.

"Ada beberapa tahapan untuk bisa mendapatkan pernyataan cinta dariku yaitu…" Manisha menggantungkan kalimatnya sengaja, menyaksikan wajah Rama yang seketika berubah antusias.

"Sebutkan saja. Aku siap." Rama melangkah lebih dekat, seolah sudah tidak sabar mendengar syarat apa yang akan diajukan.

"Anda yakin?" Manisha menyeringai. "Jangan menyesal nanti."

"Aku tidak pernah menyesali apapun yang berhubungan denganmu."

"Perkataanmu sama seperti lelaki mulut buaya di luaran sana." Manisha mendengus, tapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang nyaris melengkung. "Orang sepertimu tidak akan pernah serius."

"Sudah seterang ini, masih belum terlihat serius?" Rama terkekeh pelan. “Manisha, satu hal yang harus kau ingat.” Intonasi bicaranya terdengar lebih tegas. “Begitu aku mulai, aku tidak akan berhenti di tengah jalan."

"Kita lihat saja." Manisha berbalik, melangkah cepat menyusul muridnya yang sudah menunggu di parkiran, meninggalkan Rama berdiri sendirian dengan senyum yang perlahan kembali muncul di wajahnya, senyum yang kali ini terasa berbeda, lebih tulus, lebih bertekad, seolah dia baru saja menerima tantangan terbesar dalam hidupnya dan tidak berniat untuk kalah begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 61. Luka Masa Lalu

    Malam itu, begitu sampai di rumah, Rama langsung mengejar Manisha yang berjalan cepat menuju kamar, wajahnya masih menyimpan ketegangan dari kejadian di pavilion sore tadi."Sha, tunggu. Kita perlu bicara," ucap Rama, menahan pintu kamar sebelum Manisha sempat menutupnya."Bicara apa lagi, Rama? Aku rasa semuanya sudah jelas sore ini.""Sha, aku tahu tadi keliatannya buruk, tapi Sinta cuma …""Selalu Sinta, Rama," potong Manisha, suaranya lelah. "Selalu ada alasan buat membela dia."Rama menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang, wajahnya penuh kelelahan yang sama besarnya dengan Manisha. "Sha, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku terjebak di antara rasa bersalah aku ke Sinta dan cinta aku ke kamu.""Kamu tahu, Rama, aku baru dengar cerita dari Ibu mertua tadi." Manisha akhirnya duduk di kursi seberang, menatap suaminya lurus-lurus. "Cerita yang membuat aku mengerti kenapa semua ini terasa begitu familiar.""Cerita apa, Sha?"Manisha menghela napas, mulai bercerita perlahan, m

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 60. Kenangan Yang Bangkit

    Beberapa hari setelah kunjungan yang penuh kejanggalan itu, sikap Sinta semakin menunjukkan perubahan yang tidak bisa lagi diabaikan Manisha. Setiap kali Rama datang, sengaja atau tidak, Sinta selalu mencari cara untuk berdua saja dengannya, meminta bantuan kecil yang sebenarnya bisa ditangani sendiri, atau sekadar mengajak mengobrol panjang tentang masa lalu yang terus ia ungkit.Siang itu, Manisha datang sendirian ke pavilion, berniat mengembalikan beberapa buku yang dipinjam Sinta minggu lalu. Namun begitu sampai, ia mendapati Sinta duduk begitu dekat dengan Rama di teras, tangan Sinta menggenggam lengan Rama erat, wajahnya menengadah menatap Rama dengan tatapan yang begitu intens."Rama, kamu ingat tidak lagu yang dulu sering kita nyanyikan bareng?" Sinta bertanya, suaranya lembut penuh rayuan halus."Sinta," ucap Manisha, suaranya tajam memecah momen itu.Rama dan Sinta sama-sama tersentak, buru-buru melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menyatu."Sha, kamu sudah datang," u

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 59. Manipulatif

    Di lain hari, pada waktu sore, Manisha kembali menemani Rama mengunjungi pavilion Sinta, meski dengan perasaan yang masih diliputi keraguan sejak percakapan terakhir mereka. Begitu mereka tiba, Sinta menyambut dengan senyum yang terasa berbeda, lebih hangat, lebih dekat, dengan gerak-gerik yang tidak lepas dari perhatian Manisha."Rama, aku membuat teh spesial untuk kamu," ucap Sinta sengaja menyentuh lengan Rama sekilas saat menyerahkan cangkir, jarinya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya."Terima kasih, Sinta," jawab Rama tidak menyadari atau memilih tidak menyadari sentuhan itu.Manisha duduk di kursi seberang, memperhatikan setiap gerakan Sinta dengan mata yang semakin waspada. Sinta duduk terlalu dekat dengan Rama, tertawa terlalu keras pada setiap candaan kecil. Sesekali menyentuh bahu Rama saat bicara, gestur-gestur yang terlihat wajar sekilas, tetapi terasa berlapis maksud tersembunyi bagi Manisha yang mengamatinya dengan seksama."Rama, kamu ingat tidak, dulu kit

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 58. Kecemburuan

    Beberapa hari setelah insiden luka-luka Sinta, Surya mengambil keputusan untuk menempatkan Sinta di sebuah pavilion kecil yang masih satu kawasan dengan rumah utama keluarga Danudirja, beralasan keamanan yang lebih terjamin dengan pengawasan ketat dari tim keamanan keluarga."Ini sementara, Sha," ucap Rama suatu sore, ketika mengajak Manisha berjalan-jalan di taman rumah utama. "Sampai kondisinya lebih stabil dan situasi Yudha bisa ditangani.""Aku mengerti, Rama," jawab Manisha, meski hatinya masih menyimpan gejolak yang belum sepenuhnya reda sejak malam makan keluarga itu."Sha, aku mau minta tolong sesuatu.""Tolong apa?""Aku mau kamu ikut aku mengunjungi Sinta. Bukan buat apa-apa, hanya ... aku pengen kalian berdua bisa mengenal atau minimal saling menerima keberadaan masing-masing."Manisha menghentikan langkahnya, menatap Rama tidak percaya. "Kamu serius, Rama?""Aku tahu ini berat, Sha. Tapi aku capek liat kalian berdua terus-terusan bermusuhan. Aku pengen kita semua bisa hidu

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 57. Perhatian Yang Terbagi

    Sinta berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar hebat, pipinya lebam kebiruan, sudut bibirnya sobek mengeluarkan sedikit darah yang sudah mengering. Lengan kanannya memerah, seperti bekas cengkeraman kuat, gaunnya kotor dan robek di beberapa bagian."Sinta!" Rama bergerak cepat, meninggalkan kursinya, berlari menghampiri sosok yang hampir ambruk itu."Astaga!" Arumi ikut berdiri, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Sinta.Rama menangkap tubuh Sinta yang mulai limbung, membantunya duduk di kursi terdekat. "Sinta, kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini ke kamu?""Ayahku," bisik Sinta, suaranya nyaris tidak terdengar, napasnya masih terengah. "Dia datang ke tempatku. Entah darimana dia tahu. Dia ... dia marah besar, bilang aku pengkhianat karena terima bantuan dari keluarga Danudirja."Manisha berdiri kaku di tempatnya, menyaksikan kepanikan yang mendadak menyelimuti ruang makan itu, dadanya sesak melihat betapa cepatnya perhatian semua orang, terutama Rama, teralih sepenuhnya pada Sinta.

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 56. Tamu Yang Tak Diundang

    Malam itu, keluarga besar Danudirja berkumpul di rumah utama untuk makan malam bersama. Sebuah tradisi bulanan yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan terakhir akibat berbagai kekacauan yang melanda Rama dan Manisha. Meja makan panjang dipenuhi hidangan lengkap, aroma masakan khas keluarga menguar hangat memenuhi ruangan."Akhirnya kita bisa kumpul lagi seperti dulu," ucap Arumi, tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piring Manisha. "Sha, kamu makin kurus, Nak. Ayo, makan yang banyak.""Terima kasih, Ma," jawab Manisha, mencoba tersenyum meski masih menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Arkan dan Aryan, si kembar yang duduk berdampingan di seberang meja, saling melempar candaan seperti biasa. Mencoba mencairkan suasana yang masih terasa sedikit kaku sejak insiden beberapa minggu lalu."Kak Rama, katanya sempat drama besar-besaran, ya, di rumah?" celetuk Arkan, nyengir jahil."Arkan," tegur Leila sebagai anak pertama, memberi tatapan tajam pada adik bungsunya."Aku h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status