LOGINManisha berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya pada malam itu. Ayahnya sudah mengundang Rama makan malam di rumah, katanya untuk membahas kelanjutan proyek sekolah.
Walaupun begitu, Manisha curiga ada urusan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin dia ketahui lebih dulu. Sesuatu yang pernah disinggung ayahnya beberapa hari lalu. "Nona, ini sudah yang keempat kalinya ganti baju." Asisten rumah yang membantu merapikan kamarnya, tersenyum geli dari sudut ruangan. "Bukannya cuma makan malam biasa?" “Memang cuma makan malam biasa." Manisha memutar badan sekali lagi di depan cermin, mengamati dress merah yang akhirnya dia pilih. "Aku cuma nggak mau kelihatan berantakan di depan tamu Papa." "Tamu Tuan Adiwira atau tamu Nona?" "Hanya tamu biasa." Manisha melirik tajam lewat pantulan cermin, meski sudut bibirnya nyaris tertarik jadi senyum yang buru-buru dia tahan. Rambutnya dibiarkan terurai, sisi kanan menjulur ke depan, sementara sisi lainnya membiarkan lehernya terekspos, dihiasi kalung berinisial M pemberian mendiang neneknya. Begitu semuanya rapi, Manisha menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Begitu turun ke ruang tamu ibunya berpesan. “Minta tolong, sambutlah Rama saat dia datang, ya, sayang.” Manisha hanya mengangguk tanpa semangat. Semua orang rumah terlihat repot untuk memberi sambutan dan pelayanan yang baik. Segala hidangan disajikan di atas meja makan, pengharum ruangan menyebar kemana-kemana. Deru mobil terdengar dari luar. Rama sudah datang, bersiap untuk turun dari mobil. Dipandanginya sosok itu dari balik kaca jendela. Sampai ibunya datang dan menyapa lebih dulu. “Selamat malam, Rama.” Nareswari sebagai nyonya rumah menyambut Rama terlebih dahulu. “Sha, tunjukkan sopan santunmu,” bisiknya saat melihat Manisha hanya berdiri mematung di depan pintu. “Selamat malam juga, Nyonya Nareswari.” “Saya baru dari dapur untuk menyiapkan perlengkapan makan malam kita. Menyuruh Manisha menerima tamu, tapi sepertinya dia tidak melakukan apa-apa.” “Aku melakukannya, Ma.” Mata Manisha memicing. “Dengan sambutan yang sudah sepantasnya diterima oleh orang yang terlampau percaya diri.” Meski ada hawa penolakan yang tersirat, Rama tidak pernah mengindahkannya. Laki-laki itu hanya tersenyum. Nareswari merasa bersalah pada Rama. Namun Rama tidak merasa tersinggung sama sekali. Rama paham, Manisha bukan orang yang gampang ditaklukkan. Dia juga tahu, bahwa sikapnya yang terkesan agresif dapat membuat Manisha tidak nyaman. Mungkin dia akan mengurangi hal itu secara perlahan. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Rama dan Adiwira mengobrol serius di ruang kerja. Secara diam-diam, Manisha memperhatikan setiap detail perilaku dan perkataan Rama. Kali ini Manisha mendapat apa yang dia cari tentang laki-laki itu. Seorang pria lebih tepatnya, tahu cara mencuri perhatian wanita. Rama penuh perhitungan dan ketepatan dalam setiap hal yang dikerjakannya. Otaknya yang cerdas mampu mendatangkan para kolega untuk meminta kerjasama. Bahkan bersedia mengeluarkan pundi-pundi kekayaan mereka. Sikap yang ramah dan selalu ingin terlihat membuat Rama menjadi sosok yang mencolok. Manisha menelusuri kembali sosial media Rama. Kali ini lebih teliti. Dari satu akun ke akun yang lain. Dari satu foto postingan ke postingan yang lain. Dari hari, tanggal, dan waktu yang terlampau lama sekalipun tidak akan Manisha biarkan terlewat. “Mama cari kemana-mana ternyata kamu di sini.” Nareswari berdiri di pintu ruang tamu dengan muka masam. “Ayahmu dan Rama sudah beres-beres. Mereka sepertinya sudah selesai membahas pekerjaan. Jadi, cepatlah ajak dia berbicara.” “Kita makan malam dulu. Lalu aku akan mengajak Rama jalan-jalan.” “Itu inisiatif yang bagus.” Ide cemerlang melintas di benak Manisha. Dia membiarkan Rama dan orangtuanya saling bercengkrama sambil sesekali ikut menimbrung. Lezatnya berbagai makanan yang tersaji menambah akrab perbincangan. Menu pertama dibuka dengan soupe à l'Oignon yakni Sup bawang Prancis klasik dengan kaldu sapi, disajikan dengan crouton dan keju Gruyère leleh di atasnya. Kemudian lanjut pada hidangan utama. Steak daging sapi yang disajikan dengan kentang goreng dan saus merica. Terakhir ada pai apel. “Enak ya, makanannya?” ujar Manisha mengarah pada Rama. Membuat Semua orang di sana menolah padanya. “Ya, aku suka.” Rama menimpali. “Ini kesukaanku, pai apel.” “Aku lihat kamu juga sangat menikmati semua hidangannya. Kamu suka makanan Prancis?” “Aku lebih suka makanan Inggris.” Manisha mendekatkan dirinya ke meja. “Dan aku sangat menyukai London,” ujarnya sambil tersenyum ke arah Rama. “Boleh aku meminta waktumu setelah ini? Sepertinya kesukaan kita sama.” “Kalian memang harus berbincang. Ayah sudah selesai membahas pekerjaan dengan Rama, tapi bukan hanya itu maksud kedatangannya kemari. Dia ingin menjalin hubungan keluarga dengan kita.” “Aku tahu.” Manisha berusaha menjaga sikap. “Aku menerima baik tawarannya. Soal lamaran itu.” “Baguslah, Sha. Kali ini kamu sependapat dengan ayah.” Adiwira mengambil gelas berisi air putih. “Aku tidak ingin kedatangan Arya merusak suasana ini. Bisa-bisanya dia menghubungimu lagi.” “Ayah tahu dari mana?” Tangan Manisha berhenti mengiris daging di piringnya. Menatap sang ayah dengan was-was. “Ayah tahu kamu diam-diam mendaftarkan anaknya ke sekolah kita. Sepertinya kamu lupa bahwa sekolah itu masih dalam pengawasan ayah.” Adiwira berkomentar lebih banyak. “Arya sudah menikah dan sekarang malah duda. Ayah bingung sama dia, masih saja menghubungi kamu. Pokoknya kalau dia mencoba dekat sama kamu, Ayah tetap nggak setuju.” “Gak usah dibahas lagi bisa nggak?” Manisha meletakkan garpu ke piring. “Maksudnya, Ayah hanya berjaga-jaga saja, Sha. Takutnya kamu goyah kalau melihat Arya kembali. Kita tidak mau melihatmu bersedik karena pria itu lagi,” ucap Adiwira lagi. “Haruskah kita membicarakan hal itu saat ini?” Nareswari menengahi. “Tidak nyaman didengar, Rama.” “Biarkan saja, istriku.” Adiwira menepuk pundak Rama yang duduk di sampingnya. “Aku di pihakmu, Nak.” Rama menghembuskan napas lega. “Maaf jika kedatangan saya terlampau cepat. Saya terlalu terburu-buru.” “Tidak, Rama. Kami sudah mengenal keluargamu dengan sangat baik. Malah, seharusnya kita mempertemukan kalian lebih dulu.” Nareswari memandang putrinya yang mematung. “Saya berniat menjalin hubungan dengan Manisha bukan karena orangtua saya. Tidak ada campur tangan pihak lain. Ini inisiatif saya sendiri,” jelas Rama. “Aku suka pemuda ini,” puji Adiwira. “Bagaimana, Sha? Ayah yakin kalian sangat cocok.” Manisha mengangguk dengan kaku. Melihat respon Manisha, Rama tersenyum puas. “Kalau begitu bolehkah aku–” “Aku baru menerima, belum menjawabnya.” Manisha memotong perkataan Rama. “Aku belum mengatakan iya atau tidak, Rama. Mari kita bicara berdua dan membahas persoalan ini. Maka kau akan tahu jawabannya.” Wajah Nareswari sudah terlihat memerah. Sebelum amarahnya mencuat, Manisha lebih dulu menjelaskan. “Aku terlalu malu mengatakannya di depan orang tuaku. Jadi … bisa kita bahas berdua?” Adiwira melihat istrinya, berkontak mata, dan menyatakan semua akan baik-baik saja secara tidak langsung. Begitu semua paham maksud keinginan Manisha, mereka mengizinkan. Manisha membawa Rama ke garasi mobil keluarganya. Ada banyak mobil berbagai tipe dan warna yang berjejer rapi. Rama berjalan mengikuti Manisha tanpa sepatah kata pun. Paham gadis itu ingin waktu berdua untuk mengobrol. Langkahnya berhenti begitu Manisha membelok jalan dan meraih pintu sebelah kiri dari mobil Mercedes-Benz Maybach S-Class berwarna merah. “Kali ini kamu yang menyetir.” Manisha melempar kunci mobil ke Rama yang langsung ditangkap baik. “Bawa kemana pun sesukamu.” “Kemana pun?” Rama mengernyit keheranan. Manisha terkekeh sambil menyibak rambutnya ke belakang. “Tuan Rama yang terhormat, mohon maaf sekali, saya sangat tidak menyukai kencan resmi seperti tadi. Itu baik dan beretika tetapi siapapun akan selalu memakai topeng saat perjamuan makan.” “Jadi?” Alis Rama terangkat satu. Perlahan mencoba memahami. “Mari lepas topeng kita masing-masing. Bukankah lebih leluasa begitu?” Rama diam, tidak menjawab. Melihat respon laki-laki itu, Manisha tertawa murka dalam hati. “Kalau kau tidak mau, aku akan menganggapnya sebagai penolakan.” Manisha mengangkat dagu dan menyilangkan tangan. “Pulanglah dengan pengecut, Pramadya Harsa Danudirja.” Dengan cepat Rama mengambil tindakan sebelum Manisha berceloteh lebih jauh. Gadis ini benar-benar merepotkan, gumamnya dalam hati. Kali ini, Rama menemukan tandingannya.Beberapa bulan setelah Manisha mengobati Rama di hotel, intensitas kedekatan mereka terjalin lebih intens. Banyak pesan mulai dikirimkan, panggilan telepon hampir tiap malam datang. Meski terkadang Manisha harus sabar menunggu apabila Rama berada di luar daerah yang tidak terjangkau internet. Awalnya Manisha mencoba menahan segala gejolak perasaan yang mengacaukan hatinya. Namun, lambat laun dia tidak bisa menyangkal bahwa ia mencintai Rama. Dilihat kembali pantulan dirinya di kaca. “Kenapa aku semangat sekali jalan dengan Rama?” tanyanya bermonolog. Suara pintu diketuk, disusul dibukanya pintu dari luar. “Rama sudah menunggu di bawah, Sha. Ayo, cepat!” perintah Nareswari. “Iya, Ma. Ini sudah selesai.” Manisha meraih tas selempangnya dan keluar kamar. Nareswari hanya tersenyum menyaksikan tingkah putrinya. Sementara itu, di ruang tamu, ada Rama dan Adiwira yang tengah mengobrol serius. Manisha
“Sha, serius kamu mau melakukan ini?” Hera tidak jengah bertanya pertanyaan yang sama, meski jawaban yang didapat tidak jauh berbeda.Manisha menatap Hera dengan muka berseri sambil menyuruhnya memilih gaun. “Bagus yang kanan atau kiri?”“Gak ada yang lebih bagus, Sha.” Hera bergidik mengetahui pilihan gaun Manisha. “Kamu niat pake baju nggak sih?”“Terlalu berlebihan, ya?” Manisha menimbang kembali. “Pake dress merah yang kemarin aja kalau gitu, atau pake dress merah dengan model lain.”“Merah lebih menggoda, sih, memang,” sahut Hera cepat. Dia menyapu pandang sekeliling lalu berkata lagi, “Mending undang Rama ke rumahmu aja, deh, Sha. Daripada ke hotel. Aku yakin orang tuamu juga setuju.”Manisha menghentikan aktivitasnya yang sedang menempelkan dress merah ke badan. Dari cermin, dia dapat merasakan kekhawatiran Hera terkait kegilaan yang telah diaturnya.“Aku nggak punya opsi selain rencana ini.” Dilihatnya kembali notifikasi ponselnya yang masih belum mendapatkan balasan pesan dar
Hujan mulai turun tak lama setelah Manisha berada di villa. Rintiknya jatuh pelan di atap, menciptakan irama yang menenggelamkan suara api unggun yang perlahan padam di teras.Rama membawa Manisha ke ruang tengah. Di sana hanya diterangi lampu gantung rotan yang temaram dan perapian kecil di sudut ruangan yang baru saja dinyalakan penjaga villa sebelum pamit undur diri.Manisha duduk di karpet tebal dekat perapian, lututnya ditekuk ke dada, memeluk dirinya sendiri. Cahaya api membuat separuh wajahnya bercahaya jingga, separuh lainnya tenggelam dalam bayang."Kau tidak duduk di sofa?" tanya Rama, berdiri di ambang pintu."Aku suka lantai. Lebih dekat dengan api." Manisha menepuk karpet di sampingnya, tanpa menoleh. "Duduk sini tapi jaga jarak."Rama menurut, duduk dengan jarak yang cukup jauh untuk terasa sopan, cukup dekat untuk terasa canggung. "Jadi bagaimana? Soal peraturannya.""Sangat tidak sabar,” tegur Manisha."Maafkan aku." Rama menyandarkan punggungnya ke sofa di belakang me
Mobil berhenti di depan gerbang besi tempa yang berdiri kokoh di antara pepohonan pinus, kabut tipis menyelimuti jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan utama. "Sudah sampai?" Manisha melepas sabuk pengamannya, menatap keluar jendela. "Ayo turun," Rama mematikan mesin lalu bergegas turun lebih dulu, berjalan memutar ke sisi Manisha sebelum wanita itu sempat membuka pintunya sendiri. Pintu terbuka dari luar. "Hati-hati, jalannya berbatu." Rama mengulurkan tangannya. Manisha menatap tangan itu sejenak. Dia memilih turun sendiri tanpa menyentuhnya. "Aku bisa jalan sendiri, Rama." "Aku tahu kau bisa." Rama menarik tangannya kembali tanpa tersinggung dan melepas jasnya, menyampirkannya begitu saja di bahu Manisha. "Dingin. Pakai ini." "Kau selalu begini pada semua wanita?" "Belum pernah." Rama tersenyum kecil, mulai berjalan lebih dulu ke arah pintu utama. "Kau yang pertama." “Semua pria pemain mengatakan hal yang sama,” ejek Manisha. Rama membuka pintu lebar-lebar
Manisha berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya pada malam itu. Ayahnya sudah mengundang Rama makan malam di rumah, katanya untuk membahas kelanjutan proyek sekolah.Walaupun begitu, Manisha curiga ada urusan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin dia ketahui lebih dulu. Sesuatu yang pernah disinggung ayahnya beberapa hari lalu."Nona, ini sudah yang keempat kalinya ganti baju." Asisten rumah yang membantu merapikan kamarnya, tersenyum geli dari sudut ruangan. "Bukannya cuma makan malam biasa?"“Memang cuma makan malam biasa." Manisha memutar badan sekali lagi di depan cermin, mengamati dress merah yang akhirnya dia pilih. "Aku cuma nggak mau kelihatan berantakan di depan tamu Papa.""Tamu Tuan Adiwira atau tamu Nona?""Hanya tamu biasa." Manisha melirik tajam lewat pantulan cermin, meski sudut bibirnya nyaris tertarik jadi senyum yang buru-buru dia tahan.Rambutnya dibiarkan terurai, sisi kanan menjulur ke depan, sementara sisi lainnya membiarkan lehernya terekspos, dihias
Kabar itu sudah menyebar ke seluruh ruang guru bahkan sebelum bel istirahat berbunyi. Proyek renovasi sekolah resmi dipegang Archie Design dan yang turun tangan langsung katanya direkturnya sendiri.Bisik-bisik di sela fotokopi soal ujian, di antara dua guru yang berpapasan di koridor, semuanya membicarakan satu nama yang sama."Katanya masih muda, direktur pula. Pantas Pak Adiwira sampai heboh milih dia sendiri," celetuk seseorang di dekat mesin fotokopi, tidak sadar Manisha lewat tepat di belakangnya."Bukan direktur. Masih arsitek biasa lulusan Jerman, tapi pinter banget katanya. Banyak proyeknya yang sukses. Terkenal." Seseorang yang lain mengoreksi dan menjelaskan."Kayaknya dia bakal sering ke sini sampai proyeknya kelar. Bisa tiap minggu.""Ya iyalah. Tadi nggak sengaja liat dia di parkiran, orangnya kelihatan ambis. Pasti dia suka turun tangan sendiri." Lainnya ikut menimbrung.“Bener, tuh! Aku juga liat dia marah-marah tadi.”"Nggak, ah. Itu namanya tegas." Orang yang pertama







