Home / Romansa / Hasrat Cinta Tuan Arsitek / Bab 3. Kencan Resmi

Share

Bab 3. Kencan Resmi

Author: Seaira
last update publish date: 2026-05-30 23:53:55

Manisha berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya pada malam itu. Ayahnya sudah mengundang Rama makan malam di rumah, katanya untuk membahas kelanjutan proyek sekolah.

Walaupun begitu, Manisha curiga ada urusan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin dia ketahui lebih dulu. Sesuatu yang pernah disinggung ayahnya beberapa hari lalu.

"Nona, ini sudah yang keempat kalinya ganti baju." Asisten rumah yang membantu merapikan kamarnya, tersenyum geli dari sudut ruangan. "Bukannya cuma makan malam biasa?"

“Memang cuma makan malam biasa." Manisha memutar badan sekali lagi di depan cermin, mengamati dress merah yang akhirnya dia pilih. "Aku cuma nggak mau kelihatan berantakan di depan tamu Papa."

"Tamu Tuan Adiwira atau tamu Nona?"

"Hanya tamu biasa." Manisha melirik tajam lewat pantulan cermin, meski sudut bibirnya nyaris tertarik jadi senyum yang buru-buru dia tahan.

Rambutnya dibiarkan terurai, sisi kanan menjulur ke depan, sementara sisi lainnya membiarkan lehernya terekspos, dihiasi kalung berinisial M pemberian mendiang neneknya. Begitu semuanya rapi, Manisha menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.

Begitu turun ke ruang tamu ibunya berpesan. “Minta tolong, sambutlah Rama saat dia datang, ya, sayang.”

Manisha hanya mengangguk tanpa semangat. Semua orang rumah terlihat repot untuk memberi sambutan dan pelayanan yang baik. Segala hidangan disajikan di atas meja makan, pengharum ruangan menyebar kemana-kemana.

Deru mobil terdengar dari luar. Rama sudah datang, bersiap untuk turun dari mobil. Dipandanginya sosok itu dari balik kaca jendela. Sampai ibunya datang dan menyapa lebih dulu.

“Selamat malam, Rama.” Nareswari sebagai nyonya rumah menyambut Rama terlebih dahulu. “Sha, tunjukkan sopan santunmu,” bisiknya saat melihat Manisha hanya berdiri mematung di depan pintu.

“Selamat malam juga, Nyonya Nareswari.”

“Saya baru dari dapur untuk menyiapkan perlengkapan makan malam kita. Menyuruh Manisha menerima tamu, tapi sepertinya dia tidak melakukan apa-apa.”

“Aku melakukannya, Ma.” Mata Manisha memicing. “Dengan sambutan yang sudah sepantasnya diterima oleh orang yang terlampau percaya diri.” Meski ada hawa penolakan yang tersirat, Rama tidak pernah mengindahkannya. Laki-laki itu hanya tersenyum.

Nareswari merasa bersalah pada Rama. Namun Rama tidak merasa tersinggung sama sekali. Rama paham, Manisha bukan orang yang gampang ditaklukkan. Dia juga tahu, bahwa sikapnya yang terkesan agresif dapat membuat Manisha tidak nyaman. Mungkin dia akan mengurangi hal itu secara perlahan.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Rama dan Adiwira mengobrol serius di ruang kerja. Secara diam-diam, Manisha memperhatikan setiap detail perilaku dan perkataan Rama. Kali ini Manisha mendapat apa yang dia cari tentang laki-laki itu.

Seorang pria lebih tepatnya, tahu cara mencuri perhatian wanita. Rama penuh perhitungan dan ketepatan dalam setiap hal yang dikerjakannya. Otaknya yang cerdas mampu mendatangkan para kolega untuk meminta kerjasama. Bahkan bersedia mengeluarkan pundi-pundi kekayaan mereka. Sikap yang ramah dan selalu ingin terlihat membuat Rama menjadi sosok yang mencolok.

Manisha menelusuri kembali sosial media Rama. Kali ini lebih teliti. Dari satu akun ke akun yang lain. Dari satu foto postingan ke postingan yang lain. Dari hari, tanggal, dan waktu yang terlampau lama sekalipun tidak akan Manisha biarkan terlewat.

“Mama cari kemana-mana ternyata kamu di sini.” Nareswari berdiri di pintu ruang tamu dengan muka masam. “Ayahmu dan Rama sudah beres-beres. Mereka sepertinya sudah selesai membahas pekerjaan. Jadi, cepatlah ajak dia berbicara.”

“Kita makan malam dulu. Lalu aku akan mengajak Rama jalan-jalan.”

“Itu inisiatif yang bagus.”

Ide cemerlang melintas di benak Manisha. Dia membiarkan Rama dan orangtuanya saling bercengkrama sambil sesekali ikut menimbrung. Lezatnya berbagai makanan yang tersaji menambah akrab perbincangan.

Menu pertama dibuka dengan soupe à l'Oignon yakni Sup bawang Prancis klasik dengan kaldu sapi, disajikan dengan crouton dan keju Gruyère leleh di atasnya. Kemudian lanjut pada hidangan utama. Steak daging sapi yang disajikan dengan kentang goreng dan saus merica. Terakhir ada pai apel.

“Enak ya, makanannya?” ujar Manisha mengarah pada Rama. Membuat Semua orang di sana menolah padanya.

“Ya, aku suka.” Rama menimpali. “Ini kesukaanku, pai apel.”

“Aku lihat kamu juga sangat menikmati semua hidangannya. Kamu suka makanan Prancis?”

“Aku lebih suka makanan Inggris.”

Manisha mendekatkan dirinya ke meja. “Dan aku sangat menyukai London,” ujarnya sambil tersenyum ke arah Rama. “Boleh aku meminta waktumu setelah ini? Sepertinya kesukaan kita sama.”

“Kalian memang harus berbincang. Ayah sudah selesai membahas pekerjaan dengan Rama, tapi bukan hanya itu maksud kedatangannya kemari. Dia ingin menjalin hubungan keluarga dengan kita.”

“Aku tahu.” Manisha berusaha menjaga sikap. “Aku menerima baik tawarannya. Soal lamaran itu.”

“Baguslah, Sha. Kali ini kamu sependapat dengan ayah.” Adiwira mengambil gelas berisi air putih. “Aku tidak ingin kedatangan Arya merusak suasana ini. Bisa-bisanya dia menghubungimu lagi.”

“Ayah tahu dari mana?” Tangan Manisha berhenti mengiris daging di piringnya. Menatap sang ayah dengan was-was.

“Ayah tahu kamu diam-diam mendaftarkan anaknya ke sekolah kita. Sepertinya kamu lupa bahwa sekolah itu masih dalam pengawasan ayah.”

Adiwira berkomentar lebih banyak. “Arya sudah menikah dan sekarang malah duda. Ayah bingung sama dia, masih saja menghubungi kamu. Pokoknya kalau dia mencoba dekat sama kamu, Ayah tetap nggak setuju.”

“Gak usah dibahas lagi bisa nggak?” Manisha meletakkan garpu ke piring.

“Maksudnya, Ayah hanya berjaga-jaga saja, Sha. Takutnya kamu goyah kalau melihat Arya kembali. Kita tidak mau melihatmu bersedik karena pria itu lagi,” ucap Adiwira lagi.

“Haruskah kita membicarakan hal itu saat ini?” Nareswari menengahi. “Tidak nyaman didengar, Rama.”

“Biarkan saja, istriku.” Adiwira menepuk pundak Rama yang duduk di sampingnya. “Aku di pihakmu, Nak.”

Rama menghembuskan napas lega. “Maaf jika kedatangan saya terlampau cepat. Saya terlalu terburu-buru.”

“Tidak, Rama. Kami sudah mengenal keluargamu dengan sangat baik. Malah, seharusnya kita mempertemukan kalian lebih dulu.” Nareswari memandang putrinya yang mematung.

“Saya berniat menjalin hubungan dengan Manisha bukan karena orangtua saya. Tidak ada campur tangan pihak lain. Ini inisiatif saya sendiri,” jelas Rama.

“Aku suka pemuda ini,” puji Adiwira. “Bagaimana, Sha? Ayah yakin kalian sangat cocok.”

Manisha mengangguk dengan kaku.

Melihat respon Manisha, Rama tersenyum puas. “Kalau begitu bolehkah aku–”

“Aku baru menerima, belum menjawabnya.” Manisha memotong perkataan Rama. “Aku belum mengatakan iya atau tidak, Rama. Mari kita bicara berdua dan membahas persoalan ini. Maka kau akan tahu jawabannya.”

Wajah Nareswari sudah terlihat memerah. Sebelum amarahnya mencuat, Manisha lebih dulu menjelaskan. “Aku terlalu malu mengatakannya di depan orang tuaku. Jadi … bisa kita bahas berdua?”

Adiwira melihat istrinya, berkontak mata, dan menyatakan semua akan baik-baik saja secara tidak langsung. Begitu semua paham maksud keinginan Manisha, mereka mengizinkan.

Manisha membawa Rama ke garasi mobil keluarganya. Ada banyak mobil berbagai tipe dan warna yang berjejer rapi. Rama berjalan mengikuti Manisha tanpa sepatah kata pun. Paham gadis itu ingin waktu berdua untuk mengobrol. Langkahnya berhenti begitu Manisha membelok jalan dan meraih pintu sebelah kiri dari mobil Mercedes-Benz Maybach S-Class berwarna merah.

“Kali ini kamu yang menyetir.” Manisha melempar kunci mobil ke Rama yang langsung ditangkap baik. “Bawa kemana pun sesukamu.”

“Kemana pun?” Rama mengernyit keheranan.

Manisha terkekeh sambil menyibak rambutnya ke belakang. “Tuan Rama yang terhormat, mohon maaf sekali, saya sangat tidak menyukai kencan resmi seperti tadi. Itu baik dan beretika tetapi siapapun akan selalu memakai topeng saat perjamuan makan.”

“Jadi?” Alis Rama terangkat satu. Perlahan mencoba memahami.

“Mari lepas topeng kita masing-masing. Bukankah lebih leluasa begitu?”

Rama diam, tidak menjawab. Melihat respon laki-laki itu, Manisha tertawa murka dalam hati.

“Kalau kau tidak mau, aku akan menganggapnya sebagai penolakan.” Manisha mengangkat dagu dan menyilangkan tangan. “Pulanglah dengan pengecut, Pramadya Harsa Danudirja.”

Dengan cepat Rama mengambil tindakan sebelum Manisha berceloteh lebih jauh. Gadis ini benar-benar merepotkan, gumamnya dalam hati. Kali ini, Rama menemukan tandingannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Manisha merepotkan, tapi kerepotan yang membuat Rama selalu kembali padanya...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 61. Luka Masa Lalu

    Malam itu, begitu sampai di rumah, Rama langsung mengejar Manisha yang berjalan cepat menuju kamar, wajahnya masih menyimpan ketegangan dari kejadian di pavilion sore tadi."Sha, tunggu. Kita perlu bicara," ucap Rama, menahan pintu kamar sebelum Manisha sempat menutupnya."Bicara apa lagi, Rama? Aku rasa semuanya sudah jelas sore ini.""Sha, aku tahu tadi keliatannya buruk, tapi Sinta cuma …""Selalu Sinta, Rama," potong Manisha, suaranya lelah. "Selalu ada alasan buat membela dia."Rama menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang, wajahnya penuh kelelahan yang sama besarnya dengan Manisha. "Sha, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku terjebak di antara rasa bersalah aku ke Sinta dan cinta aku ke kamu.""Kamu tahu, Rama, aku baru dengar cerita dari Ibu mertua tadi." Manisha akhirnya duduk di kursi seberang, menatap suaminya lurus-lurus. "Cerita yang membuat aku mengerti kenapa semua ini terasa begitu familiar.""Cerita apa, Sha?"Manisha menghela napas, mulai bercerita perlahan, m

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 60. Kenangan Yang Bangkit

    Beberapa hari setelah kunjungan yang penuh kejanggalan itu, sikap Sinta semakin menunjukkan perubahan yang tidak bisa lagi diabaikan Manisha. Setiap kali Rama datang, sengaja atau tidak, Sinta selalu mencari cara untuk berdua saja dengannya, meminta bantuan kecil yang sebenarnya bisa ditangani sendiri, atau sekadar mengajak mengobrol panjang tentang masa lalu yang terus ia ungkit.Siang itu, Manisha datang sendirian ke pavilion, berniat mengembalikan beberapa buku yang dipinjam Sinta minggu lalu. Namun begitu sampai, ia mendapati Sinta duduk begitu dekat dengan Rama di teras, tangan Sinta menggenggam lengan Rama erat, wajahnya menengadah menatap Rama dengan tatapan yang begitu intens."Rama, kamu ingat tidak lagu yang dulu sering kita nyanyikan bareng?" Sinta bertanya, suaranya lembut penuh rayuan halus."Sinta," ucap Manisha, suaranya tajam memecah momen itu.Rama dan Sinta sama-sama tersentak, buru-buru melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menyatu."Sha, kamu sudah datang," u

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 59. Manipulatif

    Di lain hari, pada waktu sore, Manisha kembali menemani Rama mengunjungi pavilion Sinta, meski dengan perasaan yang masih diliputi keraguan sejak percakapan terakhir mereka. Begitu mereka tiba, Sinta menyambut dengan senyum yang terasa berbeda, lebih hangat, lebih dekat, dengan gerak-gerik yang tidak lepas dari perhatian Manisha."Rama, aku membuat teh spesial untuk kamu," ucap Sinta sengaja menyentuh lengan Rama sekilas saat menyerahkan cangkir, jarinya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya."Terima kasih, Sinta," jawab Rama tidak menyadari atau memilih tidak menyadari sentuhan itu.Manisha duduk di kursi seberang, memperhatikan setiap gerakan Sinta dengan mata yang semakin waspada. Sinta duduk terlalu dekat dengan Rama, tertawa terlalu keras pada setiap candaan kecil. Sesekali menyentuh bahu Rama saat bicara, gestur-gestur yang terlihat wajar sekilas, tetapi terasa berlapis maksud tersembunyi bagi Manisha yang mengamatinya dengan seksama."Rama, kamu ingat tidak, dulu kit

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 58. Kecemburuan

    Beberapa hari setelah insiden luka-luka Sinta, Surya mengambil keputusan untuk menempatkan Sinta di sebuah pavilion kecil yang masih satu kawasan dengan rumah utama keluarga Danudirja, beralasan keamanan yang lebih terjamin dengan pengawasan ketat dari tim keamanan keluarga."Ini sementara, Sha," ucap Rama suatu sore, ketika mengajak Manisha berjalan-jalan di taman rumah utama. "Sampai kondisinya lebih stabil dan situasi Yudha bisa ditangani.""Aku mengerti, Rama," jawab Manisha, meski hatinya masih menyimpan gejolak yang belum sepenuhnya reda sejak malam makan keluarga itu."Sha, aku mau minta tolong sesuatu.""Tolong apa?""Aku mau kamu ikut aku mengunjungi Sinta. Bukan buat apa-apa, hanya ... aku pengen kalian berdua bisa mengenal atau minimal saling menerima keberadaan masing-masing."Manisha menghentikan langkahnya, menatap Rama tidak percaya. "Kamu serius, Rama?""Aku tahu ini berat, Sha. Tapi aku capek liat kalian berdua terus-terusan bermusuhan. Aku pengen kita semua bisa hidu

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 57. Perhatian Yang Terbagi

    Sinta berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar hebat, pipinya lebam kebiruan, sudut bibirnya sobek mengeluarkan sedikit darah yang sudah mengering. Lengan kanannya memerah, seperti bekas cengkeraman kuat, gaunnya kotor dan robek di beberapa bagian."Sinta!" Rama bergerak cepat, meninggalkan kursinya, berlari menghampiri sosok yang hampir ambruk itu."Astaga!" Arumi ikut berdiri, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Sinta.Rama menangkap tubuh Sinta yang mulai limbung, membantunya duduk di kursi terdekat. "Sinta, kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini ke kamu?""Ayahku," bisik Sinta, suaranya nyaris tidak terdengar, napasnya masih terengah. "Dia datang ke tempatku. Entah darimana dia tahu. Dia ... dia marah besar, bilang aku pengkhianat karena terima bantuan dari keluarga Danudirja."Manisha berdiri kaku di tempatnya, menyaksikan kepanikan yang mendadak menyelimuti ruang makan itu, dadanya sesak melihat betapa cepatnya perhatian semua orang, terutama Rama, teralih sepenuhnya pada Sinta.

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 56. Tamu Yang Tak Diundang

    Malam itu, keluarga besar Danudirja berkumpul di rumah utama untuk makan malam bersama. Sebuah tradisi bulanan yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan terakhir akibat berbagai kekacauan yang melanda Rama dan Manisha. Meja makan panjang dipenuhi hidangan lengkap, aroma masakan khas keluarga menguar hangat memenuhi ruangan."Akhirnya kita bisa kumpul lagi seperti dulu," ucap Arumi, tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piring Manisha. "Sha, kamu makin kurus, Nak. Ayo, makan yang banyak.""Terima kasih, Ma," jawab Manisha, mencoba tersenyum meski masih menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Arkan dan Aryan, si kembar yang duduk berdampingan di seberang meja, saling melempar candaan seperti biasa. Mencoba mencairkan suasana yang masih terasa sedikit kaku sejak insiden beberapa minggu lalu."Kak Rama, katanya sempat drama besar-besaran, ya, di rumah?" celetuk Arkan, nyengir jahil."Arkan," tegur Leila sebagai anak pertama, memberi tatapan tajam pada adik bungsunya."Aku h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status