MasukPencarian pun dimulai, namun hasilnya nihil.Tuan Archen mengerahkan seluruh jejaring lamanya—orang-orang yang dulu bekerja di bawah Darren, mitra bisnis bayangan, hingga relasi yang tak tercatat secara resmi. Nama Darren seolah menguap dari dunia. Tak ada alamat, tak ada jejak transaksi, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya mendadak bungkam, seakan ada ketakutan kolektif yang menutup mulut mereka.Di sisi lain, William menelusuri Kemal dengan cara yang lebih sunyi.Lira menjadi penghubungnya. Ia mengingat kembali wajah-wajah lama, orang-orang yang dulu mengenal ayahnya—kenalan samar, nama yang jarang disebut, percakapan setengah bisik di masa lalu. Namun semua upaya itu berujung sama: jalan buntu. Kemal seperti sengaja menghapus dirinya sendiri dari peta.Hari demi hari berlalu, dan kegagalan itu mulai menggerogoti William.Siang itu, William duduk sendirian di ruang kerjanya. Tirai ditutup setengah, cahaya jatuh pucat di atas meja. Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, ra
Lira terbangun perlahan, disambut cahaya pagi yang pucat menyusup dari balik tirai. Beberapa detik pertama ia hanya diam, membiarkan kesadarannya merangkai ulang potongan ingatan semalam.Lalu ia menyadari sesuatu.Di bawah selimut, tubuhnya telanjang. Kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai yang masih hangat—dan dengan tubuh lain di sampingnya.William.Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang Lira lihat belakangan ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, alisnya rileks, seolah dunia belum menagih apa pun darinya pagi ini.Dada Lira mengencang.Potongan ingatan semalam menyeruak: dirinya yang gemetar, suara sendiri yang putus-putus saat berkata ingin menyerah, wajah William yang tidak marah—hanya lelah dan penuh kesabaran. Lalu tangan yang menuntunnya ke ranjang, suara rendah yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya berhenti berpikir.Lira menelan ludah.Ia menatap William lama sekali. Terlalu lama.Ada sesuatu di wajah tidur itu yang
Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m
Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d
Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere
Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan







