Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 43. Bangun Bersama

Share

43. Bangun Bersama

last update publish date: 2025-12-26 14:48:24

Di hari yang berbeda, Arka menyadari bahwa cinta bukanlah syarat mutlak baginya untuk menyukai seseorang. Cukup rasa ingin memiliki yang kuat. Kini, ia duduk di balkon rumahnya, memutar kembali ingatan saat ia berada di sudut belakang kelas siang itu; menggenggam ponsel dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk sebuah rencana gelap yang sedang ia susun.

Shana tertawa di depan.

Bukan ke arahnya.

Bukan ke siapa pun yang ia harapkan.

Tawanya ringan, sopan, seperti biasa.

Dan itu justru yang membua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   125. Tujuan Sebenarnya Apa

    Suara keras itu meledak di tengah kalimat Damar.Roy dan Damar sama-sama tersentak.Refleks mereka menoleh ke arah parkiran.Sebuah dahan pohon besar patah dan jatuh tepat menghantam mobil Roy.Kaca depan langsung retak membentuk jaring laba-laba.Alarm mobil meraung nyaring memecah suara ombak.Wiuu... wiuu... wiuu...Namun bukan itu yang membuat darah Roy langsung membeku.Karena sesaat setelah dahan itu menghantam mobil—sebuah sosok berpakaian hitam ikut terjatuh dari atas pohon.Bruk!Pria itu mendarat tidak sempurna di atas pasir.Tubuhnya terguling beberapa kali.Tapi hanya sesaat.Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk orang biasa, sosok itu langsung bangkit berdiri.Topi hitam menutupi sebagian wajahnya.Masker gelap menutupi sisanya.Dan sebelum Roy maupun Damar sempat bereaksi—orang itu sudah berlari menuju sebuah sepeda motor yang terparkir tak jauh dari lokasi."Mampus!"Damar langsung berlari.Roy ikut bergerak spontan.Pasir pantai berhamburan di bawah sepatu mereka.

  • Hasrat Kakak Tiri   124. "Bagaimana Dengan Surat Wasiat itu?"

    Angin pantai bertiup semakin kencang.Langit sore makin gelap menggantung di atas kepala mereka.Debur ombak terdengar kasar seperti sesuatu yang sedang murka.Roy masih berdiri diam dengan ponsel di tangannya.Panggilan dengan Alena baru saja berakhir beberapa menit lalu.Namun pikirannya belum benar-benar kembali dari sana.Tatapan putrinya.Nada suara Alena yang terlalu tenang.Dan kalimat terakhir gadis itu terus terngiang di kepalanya.“Aku nggak sendirian kok.”Roy mengusap wajahnya pelan.Lelah.Sangat lelah.Sementara di depannya, Damar masih berdiri menghadap laut seolah semua kekacauan dunia tidak ada hubungannya dengan dirinya.Pria itu terlihat santai.Terlalu santai.Membuat Roy semakin muak.“Ada satu hal lagi.”Suara Roy akhirnya memecah kesunyian.Damar melirik sekilas.“Apa?”Tatapan Roy berubah tajam.Tentang surat wasiat itu.Tentang perjodohan Arion dan Alena.Hal yang sejak awal terasa janggal di benaknya.Terlalu dipaksakan.Terlalu tiba-tiba.Dan sekarang—setel

  • Hasrat Kakak Tiri   123. Mereka Tida Menyadari

    Pintu apartemen akhirnya benar-benar tertutup rapat.Klik.Suara sederhana itu terasa seperti penutup dari bencana yang nyaris pecah beberapa menit lalu.Dan untuk beberapa detik—apartemen Arion dipenuhi keheningan panjang.Hanya suara napas dua orang yang masih belum stabil.Arion berdiri diam di dekat pintu.Tangannya masih menempel di gagang pintu erat.Keringat dingin membasahi pelipisnya.Sementara beberapa langkah di belakangnya, Shana terduduk di ujung sofa dengan dada naik turun cepat.Wajahnya masih pucat.Jantungnya belum sepenuhnya pulih dari kepanikan barusan.“Kita… selamat?”bisiknya pelan.Arion mengembuskan napas panjang.Lalu akhirnya memejamkan mata sebentar.“Untuk sekarang.”Jawaban itu justru membuat Shana makin merinding.Karena nada suara Arion sama sekali tidak terdengar lega sepenuhnya.Pria itu perlahan berbalik menghadap ruang tamu.Tatapannya langsung jatuh pada gelas pecah di lantai.Sofa yang berantakan.Dan si kucing oren yang kini malah duduk santai di

  • Hasrat Kakak Tiri   122. Mulai Jelas

    Roy menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama.Nama Alena terus berkedip di sana.Dadanya mendadak terasa makin berat.Sementara di depannya, Damar ikut melirik layar itu sekilas.Tatapan pria penuh luka itu langsung berubah tajam.“Anak lo?” tanyanya pelan.Roy tidak menjawab.Ia segera mengangkat panggilan itu dengan gerakan cepat.“Alena?”Suara Roy terdengar lebih tegang dibanding yang ia inginkan.Di seberang sana sempat terdengar suara desis samar.Lalu suara Alena akhirnya muncul.“Papa.”Nada suaranya terdengar tenang.Terlalu tenang.Dan justru itu yang membuat firasat Roy semakin buruk.“Kamu di mana sekarang?” tanya Roy cepat.“Aku udah turun.”Roy langsung memejamkan mata sebentar.Setidaknya Alena sudah tidak berada di depan unit Arion lagi.Namun sebelum ia sempat lega—Alena kembali bicara pelan.“Tapi aku rasa…”ia berhenti sebentar.“…ada sesuatu yang disembunyikan dari aku.”Rahang Roy langsung mengeras.Damar yang berdiri beberapa meter di depannya ikut memp

  • Hasrat Kakak Tiri   122. Masih Curiga

    Koridor apartemen itu mendadak terasa pengap.Sunyi menyergap.Tegang merayap.Dan udara di sekitar mereka mendadak pekat oleh tatapan curiga.Petugas keamanan di hadapan mereka perlahan menggerakkan tangannya.Meraih handy talky yang sedari tadi menggantung pasrah di lingkar pinggang.Sorot matanya menghunus lurus, mengunci rapat pintu yang sedikit menganga.Ada jeda yang menyiksa sebelum suara si petugas memecah keheningan.“Permisi…” gumam pria berseragam itu pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri.“Kayaknya… memang ada aktivitas di dalam unit ini.”Satu kalimat pendek itu telak menghantam dada Arka.“WADUH!” jerit Arka tertahan.Seluruh badannya mendadak kaku, keringat dingin mulai mengintip di tengkuk.Sementara di sisi lain, Alena justru menyipitkan mata.Tatapannya yang semula biasa saja, kini berubah makin tajam.Setajam silet yang siap menguliti kebohongan.Insting wanitanya berteriak kencang, menuntut penjelasan.Meyakinkan hatinya bahwa saat ini ada sesuatu yang sangat be

  • Hasrat Kakak Tiri   121. "Kau Pikir Perjodohan ini Hanya Kebetulan?"

    Langit di bibir pantai itu mendung.Awan gelap menggantung rendah seperti pertanda buruk yang belum selesai turun ke bumi.Debur ombak terdengar kasar menghantam batu pemecah ombak di kejauhan.Angin laut berembus dingin, membawa aroma asin yang menusuk hidung.Mobil Roy berhenti perlahan di area parkir yang hampir kosong.Mesinnya mati.Namun Roy tidak langsung turun.Tangannya masih berada di atas setir.Diam.Kaku.Tatapannya lurus ke depan.Ke sosok laki-laki yang berdiri di tepi pantai sana.Membelakanginya.Pria itu berdiri santai dengan kedua tangan masuk ke saku jaket hitamnya.Seolah sedang menikmati pemandangan laut.Padahal aura yang keluar dari tubuhnya justru terasa seperti ancaman hidup.Roy akhirnya turun dari mobil.Pintu tertutup keras.Brak.Langkahnya pelan menyusuri pasir yang lembap.Semakin mendekat.Semakin terasa sesak di dadanya.Karena setiap langkah menuju pria itu— adalah langkah menuju masa lalu yang selama ini ia hindari mati-matian.Angin meniup ujung ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status