Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 69. Ponselnya Masih Mati

Share

69. Ponselnya Masih Mati

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-04 04:27:51

Shana

Kepalanya masih berat.

Bukan karena sisa mabuk. Karena sebenarnya Shana tidak benar benar mabuk. Dan Itu sudah lewat. Melainkan karena ada bagian dari dirinya yang belum sepenuhnya kembali ke tempatnya sendiri. Seperti sesuatu yang sempat terlepas, lalu dipasang lagi, tapi tidak presisi.

Shana membuka mata perlahan.

Langit-langit kamar tampak asing beberapa detik pertama. Terlalu bersih. Terlalu rapi. Bau sabun dan pendingin ruangan menggantikan aroma bar yang semalam masih menempel di in
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Kakak Tiri   114, Kamar Memanas

    Namun jemarinya masih gemetar kecil.Laras menatap Roy dengan dada yang semakin tidak tenang.Ia belum pernah melihat laki-laki itu sehancur ini.Bahkan dulu—saat mereka kehilangan segalanya—Roy masih terlihat lebih kuat dibanding sekarang.“Roy…”panggil Laras lagi pelan.Kali ini Roy akhirnya menoleh.Namun tatapan matanya kosong.Lelah.Dan penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.“Aku harus pergi.”Kalimat itu keluar cepat.Seolah ia tidak punya waktu lagi untuk duduk diam.Laras langsung mengerutkan kening.“Tapi kita belum selesai ngomong.”“Aku tahu.”Roy mengusap wajah kasar.Napasnya berat.“Semuanya terlalu berantakan sekarang.”Laras memperhatikan pria di depannya lama.Lalu perlahan berkata,“Orang tadi ada hubungannya sama alasan kamu ninggalin aku dulu?”Pertanyaan itu membuat Roy langsung diam.Sunyi.Panjang.Dan dari diam itulah—Laras akhirnya mendapatkan jawabannya.Mata perempuan itu langsung bergetar kecil.“Jadi memang ada sesuatu…”Roy memalingkan wajah.Raha

  • Hasrat Kakak Tiri   113. Masa Lalu Yang Terbangun

    Denting ponsel itu terdengar berulang.Nyaring.Mengganggu.Dan langsung membuat hati Roy tidak nyaman.Laras menoleh kecil.Tatapannya tertuju pada ponsel di atas meja.Layar menyala cerah.Berkedip-kedip menuntut perhatian.Roy mengernyit tipis.Ia ragu beberapa detik.Jemarinya menggantung di udara.Ia memang jarang mengangkat nomor asing.Terlalu banyak urusan bisnis lama di masa lalunya.Hal itu membuatnya selalu curiga pada panggilan tak dikenal.Tapi kali ini berbeda.Perasaannya semakin tidak enak.Firasat buruk mendadak mencengkeram dadanya.Panggilan itu terus masuk.Tidak berhenti.Satu hancur, satu kembali memanggil.Seolah orang di seberang sana memaksa.Benar-benar memaksa ingin bicara dengannya.Tidak ada ruang untuk penolakan.Roy akhirnya meraih ponsel itu.Lalu mengangkatnya pelan.Ia menempelkannya ke telinga.“Halo.”Suaranya datar.Mencoba menyembunyikan getaran batin.Beberapa detik berlalu.Tidak ada suara.Hanya sunyi yang ganjil.Lalu terdengar napas samar.Be

  • Hasrat Kakak Tiri   112. Tak Bisa Menolak

    Napas Shana perlahan tertahan di tenggorokan.Karena cara Arion menatapnya sekarang—bukan lagi seperti seseorang yang sedang bercanda.Bukan juga tatapan seorang teman.Tatapan itu terlalu dalam.Terlalu serius.Dan terlalu hangat untuk bisa ia hindari.“Aku nolak semua ini…” suara Arion rendah, nyaris seperti bisikan.“…karena dari awal aku udah nggak bisa lihat perempuan lain.”Jantung Shana langsung seperti jatuh bebas.Matanya membesar sedikit.Sementara Arion—masih menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.Shana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata laki-laki itu.Begitu dekat.Begitu jelas.Dan itu membuat pertahanan kecil yang sejak tadi ia bangun perlahan runtuh satu per satu.“Ka… Kak Arion…”suaranya mengecil.Nyaris gemetar.Namun Arion justru bergerak semakin dekat.Pelan.Sangat pelan.Seolah memberi kesempatan bagi Shana untuk mundur kalau memang tidak menginginkannya.Tapi masalahnya—Shana tidak sanggup bergerak.Ia hanya bisa diam.Membiarkan debar jantungnya

  • Hasrat Kakak Tiri   111. First Kiss?

    Siang itu—matahari sebenarnyasedang bagus-bagusnya.Langit cerah.Udara juga tidakterlalu panas.Namun entah kenapa—apartemen itu terasaseperti dipenuhi sesuatu yang menggantung di udara.Sesuatu yang tidakterlihat.Tapi cukup berat untukmembuat dua penghuninya sama-sama malas keluar rumah.Kuliah hari ituakhirnya hanya jadi formalitas yang mereka abaikan.Shana duduk selonjorandi karpet ruang tamu sambil memeluk erat bantal kecil di pangkuannya.Mencari kenyamanan yang mendadak hilang dari hatinya.Sementara Arion dudukdi sofa di belakangnya.Laptop terbuka dimeja.Tapi sejak tadi tidakbenar-benar disentuh.Pikiran mereka sedangterlalu riuh untuk hanya sekedar peduli pada tugas kampus.“Jadi…”Shana memecahkeheningan. Suaranya agak serak.“…si bocah pom bensinitu akhirnya ngomong juga?”Arion mendengus kecil,ada sisa lelah di helaan napasnya.“Jangan panggil diabocah pom bensin.”“Lah emang bukan?”“Bukan.”“Terus apa?”Arion melirik datar,namun ada binar geli yang

  • Hasrat Kakak Tiri   110. Menyakitkan

    Kafe itu belum terlalu ramai.Roy membeku.Pertanyaan itu tidak keluar dengan nada tinggi.Tidak ada bentakan.Tidak ada tangisan histeris.Namun justru karena Laras mengucapkannya dengan suara yang begitu pelan—rasanya jauh lebih menghancurkan.“…yang dikorbankan dari dulu selalu Shana. Kenapa?”Roy tidak langsung menjawab.Tatapannya jatuh ke jemari Laras yang saling menggenggam erat di atas meja.Jari-jari itu sedikit gemetar.Dan setelah sekian tahun terlewati—Roy akhirnya benar-benar melihat lelah yang selama ini dipikul perempuan di depannya.Laras bukan hanya membesarkan Shana sendirian.Ia juga membesarkan luka sendirian.Roy mengembuskan napas berat.Panjang.Namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tetap tidak cukup.“Aku nggak pernah bermaksud ngorbanin dia…”suara Roy serak.Laras tertawa kecil.Pahit.“Tapi itu yang terjadi.”Roy langsung terdiam lagi.Karena sekali lagi—Laras benar.Dan kebenaran memang sering kali tidak membutuhkan teriakan untuk menghancurkan s

  • Hasrat Kakak Tiri   109; Roy Laras

    Kafe itu belum terlalu ramai.Masih lewat pukul sepuluh pagi.Beberapa meja di dekat jendela terisi pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop dan kopi mereka masing-masing.Sementara di sudut paling belakang—Laras duduk tegak dengan jemari saling bertaut di atas meja yang terasa dingin.Wajahnya terlihat tenang.Namun hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu—Jika sebenarnya perempuan itu sedang sangat tegang.Di sampingnya duduk seorang perempuan paruh baya berpakaian sederhana.Mbak Sumi.Pembantu rumah yang sudah lama ikut bersama Laras.Mbak Sumi melirik pelan ke arah majikannya.“Ibu yakin mau ngobrol di sini?”Laras mengangguk kecil.“Di sini aja.”Jawabannya pelan.Pendek.Yetap saja ada sesuatu dalam nada suaranya yang terdengar seperti sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak goyah.Sejujurnya—Laras sengaja membawa Mbak Sumi.Bukan tanpa alasan.Ia tidak mau datang sendirian menemui mantan suaminya.Tidak setelah bertahun-tahun.Tidak setelah semua luka yang mere

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status