แชร์

68. Gemuruh di Balik Diam

ผู้เขียน: Gibran Dangumaos
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-04 00:12:07

Malam itu, keheningan di dalam kamar terasa begitu padat, seolah udara pun enggan untuk bergerak. Di tengah kesunyian itu, sebuah pertanyaan muncul. Kecil pada awalnya, namun perlahan tumbuh menjadi raksasa yang menghimpit dada Ibu Shana. Ia harus tahu satu hal lebih dulu, sebelum langkah-langkah selanjutnya diambil, sebelum benang-benang takdir ini semakin kusut dan sulit diurai.

Apakah Shana benar-benar menginginkan Arion. Atau ia hanya sedang berjalan dengan patuh di atas jalur yang selama i
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hasrat Kakak Tiri   161.Keluarga Besar Alena 2

    Alena meletakkan tasnya di samping sofa.“Aku bilang, kalau Tante yang begitu ingin pernikahan itu segera dilaksanakan, Tante saja yang menikah dengan Arion.”“Alena!” Rina menegur, terkejut.Namun, Alena belum selesai.“Dari tadi semua orang sibuk menentukan kapan aku harus menikah, kapan harus menghubungi keluarga Arion, dan bagaimana supaya pernikahan ini tidak batal. Tapi tidak ada satu pun yang bertanya apakah aku bahagia dengan semua ini.”Tante Mira membuka mulut, wajahnya mulai memerah.“Kamu ini anak muda, jangan kurang ajar kepada orang yang lebih tua! Tante sedang memikirkan masa depanmu!”“Kalau memang memikirkan masa depanku, kenapa Tante tidak bertanya dulu apa yang aku inginkan?”“Kamu—”Tante Mira hampir berdiri. Tangannya bahkan sudah bertumpu pada sisi sofa, seolah hendak meluapkan kemarahannya.Namun, tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Roy.Laki-laki itu tidak meninggikan suara. Ia bahkan masih duduk dengan tenang.Akan tetapi, tatapan Roy cukup membuat Tante M

  • Hasrat Kakak Tiri   160. Keluarga Besar Alena

    Alena mematikan mesin mobilnya.Ia masih memandangi deretan kendaraan di halaman rumah dengan kening berkerut. Beberapa mobil bahkan terparkir hingga mendekati pagar.Seingatnya, tidak ada acara keluarga yang dijadwalkan hari ini.Ia turun, mengunci mobil, lalu berjalan menuju pintu utama.Belum sampai di teras, suara percakapan dari ruang tengah sudah terdengar jelas. Beberapa suara terdengar begitu bersemangat, sementara yang lain sesekali menyela dengan nada mendesak.Alena menghela napas.Ada apa lagi ini?Begitu memasuki rumah, ia mendapati ruang tamu penuh oleh kerabat dari pihak ibunya. Beberapa orang duduk di sofa, sebagian lainnya memenuhi kursi tambahan yang sengaja dikeluarkan dari ruang makan.Di antara mereka, Alena mengenali dua orang bibinya, beberapa paman, serta sejumlah sepupu yang sudah lama tidak berkunjung.Roy duduk di salah satu sofa bersama Rina. Wajahnya tenang, tetapi dari cara ia menyandarkan punggung dan melipat kedua tangan di depan dada, Alena bisa meneba

  • Hasrat Kakak Tiri   159. Di Antara Dua Hati

    .“Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu.”Arka meletakkan cangkir kopinya di atas meja.Alena yang duduk di hadapannya mengangkat wajah. Sejak mereka datang ke kafe itu, Arka memang terlihat beberapa kali hendak mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkan niatnya.“Apa?” tanya Alena.Arka menatapnya sesaat.“Bagaimana keadaanmu belakangan ini?”Alena mengerjap. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan keluar.“Baik-baik saja.”“Benarkah?”Alena tersenyum kecil. “Kalau aku bilang tidak, memangnya kamu bisa melakukan sesuatu?”“Setidaknya aku bisa mendengarkan.”Jawaban itu membuat senyum Alena perlahan menghilang.Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika diucapkan Arka. Tidak ada desakan untuk menjelaskan. Tidak ada tuntutan agar ia segera menemukan jalan keluar. Arka hanya menunggunya, seolah ia benar-benar punya waktu untuk mendengar apa pun yang ingin diceritakannya.Alena menunduk, memainkan sendok kecil di samping cangkirnya.“Semalam aku merasa sedan

  • Hasrat Kakak Tiri   158. Hari yang Berat

    Roy mendorong pintu mobil dengan kasar.Jantungnya berdegup liar.Di hadapannya, truk itu semakin dekat. Melaju tanpa kendali. Badannya terus bergoyang ke kiri dan kanan.Ia tak punya waktu untuk berpikir.Roy baru saja mengangkat tubuhnya. Tiba-tiba, sorot lampu dari arah berlawanan menyilaukan matanya.Sebuah mobil melesat.Kecepatannya sangat tinggi. Seolah pengemudinya tak berniat menginjak rem sama sekali.Roy hanya sempat melihat kilatan bodi mobil gelap. Sebelum kendaraan itu menghantam bagian depan truk.BRAAAAKK!Suara benturan menggelegar. Memecah kesunyian jalanan.Bagian depan mobil ringsek seketika. Truk terdorong menyamping.Suara logam beradu terdengar memekakkan telinga. Pecahan kaca berhamburan. Serpihan bodi terpental ke aspal.Roy terpaku.Tubuhnya membeku di ambang pintu.Belum sempat ia memahami situasi, sebuah mobil lain meluncur dari belakang truk.Pengemudinya mencoba menghindar. Namun, jarak sudah terlalu dekat.DUAARR!Mobil itu menabrak kendaraan di depannya

  • Hasrat Kakak Tiri   157. Rekomendasi Damar

    Mobil Roy melaju membelah jalanan menjelang malam.Lampu-lampu kendaraan berkelebat dari arah berlawanan. Sesekali, ia mengurangi kecepatan ketika melewati persimpangan, tetapi pikirannya tak benar-benar berada di jalan.Ada terlalu banyak hal yang belakangan ini terasa janggal.Ancaman terhadap Arka.Desakan agar Arion menikahi Alena.Kunjungan orang-orang yang tak pernah diketahui identitasnya.Lalu, percakapannya dengan Damar di kafe beberapa waktu lalu.Semua itu seperti potongan puzzle yang tersebar di atas meja. Bentuknya belum sempurna, tetapi Roy mulai melihat garis yang menghubungkan satu potongan dengan potongan lainnya.Ia teringat kembali pada catatan transaksi lama yang sempat ditanyakannya kepada Rina. Nama Reygon muncul di sana, membuat istrinya ketakutan dengan cara yang sulit dijelaskan.Mengapa nama lelaki itu masih muncul setelah sekian lama?Dan mengapa urusan pernikahan Arion dengan Alena terasa semakin mendesak?Roy memperlambat mobil.Pikirannya kembali pada per

  • Hasrat Kakak Tiri   156. Tirai

    Nama Reygon terpampang di layar ponsel.Pria di dalam mobil itu segera menekan tombol panggil.Panggilan tersambung setelah dering kedua.“Ya?”“Pak, saya baru saja melihat Roy meninggalkan apartemen Arion.”Hening sejenak di ujung telepon.“Roy?”“Benar, Pak. Dia datang membawa makanan. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi kunjungannya berlangsung cukup lama.”Reygon tidak langsung menjawab.Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, memandang hamparan lampu kota yang mulai menyala. Sebatang rokok terjepit di antara jarinya, tetapi sejak tadi belum juga ia hisap.“Apakah dia datang sendirian?”“Sejauh yang saya lihat, iya.”“Dan Shana?”“Saya tidak melihatnya.”Reygon menyipitkan mata.Ia tidak mengetahui bahwa Shana telah pindah dari apartemen Arion. Berdasarkan informasi yang selama ini dikumpulkannya, perempuan itu masih tinggal bersama Arion.Kunjungan Roy membuatnya memikirkan kemungkinan lain.Mungkin lelaki itu mulai khawatir melihat kedekatan putrinya dengan Ari

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status