Share

Bab 15

last update publish date: 2025-10-09 22:50:05

“Shan, kamu sudah siap?”

Suara Arion terdengar dari dapur, bernada cerah saat ia menutup tas ranselnya.

Shana keluar dari kamar, rambutnya diikat setengah dengan longgar, wajahnya tampak polos tapi tanpa ekspresi, seolah jiwanya masih tertinggal di dalam kamar.

“Sudah. Aku jalan duluan, ya.”

Alis Arion bertaut, sebuah kerutan kecil muncul di dahinya. “Lho, kan bareng aja seperti biasa?”

“Tidak usah. Aku ingin jalan santai duluan,” balas Shana.

Nada suaranya datar, namun cukup dingin untuk membu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   129. Orang Yang Punya Rencana Besar

    Ruangan itu kembali sunyi.Pria tua itu berdiri membelakangi semua orang.Tatapannya menembus kaca besar yang menghadap hamparan kota.Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu.Indah.Namun baginya...kota itu tak ubahnya papan catur raksasa.Dan setiap orang...hanyalah bidak."Apa laporan terakhir tentang Roy?"tanyanya tanpa menoleh.Pria di belakangnya segera membuka tablet yang sejak tadi ia bawa."Roy baru saja bertemu Damar."Alis pria tua itu bergerak tipis."Berapa lama?""Hampir satu jam.""Lalu?""Mereka sempat dikejutkan oleh seseorang yang mengawasi dari atas pohon."Pria tua itu mengangguk pelan.Seolah informasi itu memang sudah ia duga."Orang kita?""Bukan."Kini...barulah ia menoleh.Tatapannya berubah tajam."Bukan?""Bukan, Pak.""Identitasnya belum diketahui.""Orang itu kabur sebelum berhasil ditangkap."Ruangan kembali hening.Beberapa detik kemudian...pria tua itu justru tersenyum tipis."Akhirnya..."gumamnya."Mulai banyak pemain baru."Ia berjalan pe

  • Hasrat Kakak Tiri   128. "Kita Percepat"

    BRAAKK !!!Suara benturan keras mengguncang ruangan.Gelas di atas meja bergetar.Beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi berhamburan ke lantai.Pria tua yang berdiri di balik meja besar itu baru saja menghantam permukaan kayu dengan kedua telapak tangannya.Wajahnya memerah.Ia murka.Karena sesuatu yang selama ini ia susun perlahan—kininmulai retak."Bagaimana bisa?"Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.Di hadapannya, seorang pria lain berdiri diam.Kepala tertunduk dalam.Sama sekali tidak berani menatap langsung."Saya minta maaf, Pak.""Maaf?"Pria itu tertawa kecil.Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya."Rencana yang dibangun selama bertahun-tahun mulai berubah arah, dan jawabanmu hanya maaf? Kamu pikir ini lucu, hah?!"Ruangan itu kembali sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.Di layar besar di belakangnya—terpampang beberapa foto.Foto Arion.Foto Alena.Foto keluarga Mahendra.Dan foto terbaru...Alena sedang duduk di sebuah kafe bersama

  • Hasrat Kakak Tiri   127, Apa Lagi

    Mobil hitam itu meringkuk di seberang jalan, menyatu dengan bayang-bayang malam yang pekat.Ia diam.Tak mencolok,Namun kehadirannya seperti predator yang sabar menunggu mangsa.Kaca di sisi pengemudi turun sedikit, membiarkan angin yang dingin menyelinap masuk, menyapu wajah pria di dalamnya.Suhu dingin itu tak mampu menembus fokusnya. Mata pria itu terkunci rapat pada satu titik di dalam kafe: meja tempat Alena duduk bersama Arka.Ponsel di genggamannya bergetar.Memecah keheningan kabin. Tanpa perlu melirik layar, ia mengangkatnya, matanya tetap tertuju pada interaksi di balik kaca kafe."Halo." Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang ditekan."Lapor." Suara di seberang terdengar tajam dan singkat.Pria itu mengamati Alena yang sedang berbicara, dan Arka—pemuda itu—tengah bersandar ke depan, berusaha memancing tawa dari perempuan tersebut."Target bersama seseorang," lanjut suara di telepon.Pria itu terdiam, alisnya bertaut. "Siapa?""Belum diketahui.""Pria?""Iya."Suara

  • Hasrat Kakak Tiri   126. Belum menyadari

    Kafe itu tidak terlalu ramai.Hujan tipis di luar membuat suasana terasa lebih tenang dibanding biasanya.Lampu-lampu kuning temaram memantulkan cahaya hangat ke meja-meja kayu yang tersusun rapi.Aroma kopi memenuhi udara.Namun anehnya—semua itu gagal menenangkan pikiran Alena.Perempuan itu duduk diam di dekat jendela.Kedua telapak tangannya memeluk cangkir kopi yang sejak lima belas menit lalu bahkan belum sempat ia minum.Tatapannya kosong.Jauh.Masih tertinggal di depan pintu apartemen Arion.Masih tertinggal pada celah pintu yang sedikit terbuka.Masih tertinggal pada firasat buruk yang sejak tadi menolak pergi.Di seberangnya—Arka duduk dengan posisi yang jauh lebih gelisah.Kakinya bergerak-gerak sendiri di bawah meja.Sesekali ia melirik Alena.Sesekali menggaruk tengkuk.Sesekali berpura-pura sibuk melihat menu meski sejak tadi tidak membacanya sama sekali.Jujur saja—situasi ini jauh lebih menegangkan daripada saat ia menghadapi dosen penguji skripsi dulu.Karena Alen

  • Hasrat Kakak Tiri   125. Tujuan Sebenarnya Apa

    Suara keras itu meledak di tengah kalimat Damar.Roy dan Damar sama-sama tersentak.Refleks mereka menoleh ke arah parkiran.Sebuah dahan pohon besar patah dan jatuh tepat menghantam mobil Roy.Kaca depan langsung retak membentuk jaring laba-laba.Alarm mobil meraung nyaring memecah suara ombak.Wiuu... wiuu... wiuu...Namun bukan itu yang membuat darah Roy langsung membeku.Karena sesaat setelah dahan itu menghantam mobil—sebuah sosok berpakaian hitam ikut terjatuh dari atas pohon.Bruk!Pria itu mendarat tidak sempurna di atas pasir.Tubuhnya terguling beberapa kali.Tapi hanya sesaat.Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk orang biasa, sosok itu langsung bangkit berdiri.Topi hitam menutupi sebagian wajahnya.Masker gelap menutupi sisanya.Dan sebelum Roy maupun Damar sempat bereaksi—orang itu sudah berlari menuju sebuah sepeda motor yang terparkir tak jauh dari lokasi."Mampus!"Damar langsung berlari.Roy ikut bergerak spontan.Pasir pantai berhamburan di bawah sepatu mereka.

  • Hasrat Kakak Tiri   124. "Bagaimana Dengan Surat Wasiat itu?"

    Angin pantai bertiup semakin kencang.Langit sore makin gelap menggantung di atas kepala mereka.Debur ombak terdengar kasar seperti sesuatu yang sedang murka.Roy masih berdiri diam dengan ponsel di tangannya.Panggilan dengan Alena baru saja berakhir beberapa menit lalu.Namun pikirannya belum benar-benar kembali dari sana.Tatapan putrinya.Nada suara Alena yang terlalu tenang.Dan kalimat terakhir gadis itu terus terngiang di kepalanya.“Aku nggak sendirian kok.”Roy mengusap wajahnya pelan.Lelah.Sangat lelah.Sementara di depannya, Damar masih berdiri menghadap laut seolah semua kekacauan dunia tidak ada hubungannya dengan dirinya.Pria itu terlihat santai.Terlalu santai.Membuat Roy semakin muak.“Ada satu hal lagi.”Suara Roy akhirnya memecah kesunyian.Damar melirik sekilas.“Apa?”Tatapan Roy berubah tajam.Tentang surat wasiat itu.Tentang perjodohan Arion dan Alena.Hal yang sejak awal terasa janggal di benaknya.Terlalu dipaksakan.Terlalu tiba-tiba.Dan sekarang—setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status