LOGINArion melangkah masuk.Satu langkah.Dua langkah.Sepatu kulitnya menyentuh lantai marmer dengan suara pelan namun cukup untuk memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Ia tidak terburu-buru.Namun jelas—ia sadar sepenuhnya jika kini semua mata sedang tertuju padanya.Tatapannya kembali menyapu ruangan.Lebih pelan kali ini.Lebih teliti.Ia melihat ayahnya lebih dulu.Lalu Rina.Lalu pria di sampingnya—yang baginya hanya tampak sebagai tamu penting.Lalu Alena.Dan akhirnya—Shana.Pandangan mereka bertemu sepersekian detik.Tidak lama.Namun cukup untuk membuat sesuatu di dada Shana bergetar.Arion menarik napas pelan.Lalu, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengambil alih situasi, ia sedikit menundukkan kepala.“Maaf,” katanya tenang.“Saya terlambat.”Nada suaranya datar, tapi sopan.Ayahnya mengangguk pelan.“Duduk dulu, Arion.”Namun Arion tidak langsung duduk.Ia justru melangkah mendekati satu per satu orang di ruangan itu.Dimulai dari pria di samping Rina.
Jam dinding berdetak pelan. AC berdengung stabil. Sesekali suara sendok porselen beradu halus dengan cangkir.Namun tetap saja—suasana di dalamnya terasa seperti menahan napas.Shana duduk di samping ibunya.Punggungnya tegak, tapi tangannya saling mengunci di atas paha. Ia tidak menunduk, tidak juga menatap siapa pun terlalu lama. Ia hanya… menjaga dirinya tetap utuh di tengah ruangan yang terasa seperti akan meruntuhkannya kapan saja.Di seberang, ayah Arion duduk dengan posisi yang sama seperti biasanya—tenang, terkendali, seolah semua ini memang sudah ia perkirakan.Tatapannya sesekali mengarah ke Shana.Bukan karena tidak mengenal.Justru karena terlalu mengenal.Dan itu yang membuat semuanya jadi terasa lebih rumit.Laras duduk membisu di sebelah Shana.Tidak bicara.Namun kehadirannya terasa seperti garis pembatas—jelas, tegas, dan tidak bisa dilewati sembarangan.Di sisi lain, pria itu… ayah Shana… duduk sedikit condong ke depan.Berbeda dari sebelumnya di halaman.Sekarang i
Layar ponsel itu sedikit menyilaukan.Arion sedikit menyipitkan mata.Seperti baru sadar bahwa sejak semalam… ia benar-benar memutus dirinya dari dunia luar.Tidak ada notifikasi yang masuk sebelumnya.Karena ponselnya memang tidak pernah ia hidupkan.Sampai sekarang.Begitu jaringan kembali tersambung—getaran bertubi-tubi langsung menyusul.Satu.Dua.Tiga.Lalu puluhan.Ikon notifikasi menumpuk tanpa jeda.Pesan WhatsApp.Panggilan tak terjawab.Beberapa bahkan dari nomor yang sama.Arion menatap layar itu tanpa ekspresi, tapi jemarinya berhenti di satu nama.Ayah.Nama itu muncul berulang kali di layar.Panggilan tak terjawab.Pesan singkat.Lalu satu pesan terakhir yang terkirim beberapa menit lalu.Pulang sekarang. Ada tamu penting. Jangan terlambat.Arion tidak langsung membuka chat itu.Ia hanya menatapnya.Lama.Seolah kata-kata sederhana itu menyimpan sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat.Dadanya terasa mengencang pelan.Bukan panik.Bukan juga takut.Lebih seperti… f
Suara itu pelan.Namun cukup jelas.Ibunya Shana—Laras—tidak langsung menjawab.Tangannya masih menggenggam pintu mobil.Rahangnya sedikit mengeras.Sudah bertahun-tahun.Namun ternyata suara itu masih sama.Nada yang dulu pernah ia kenal terlalu baik.Shana menoleh ke arah ibunya.“Ma…”Ibunya akhirnya keluar dari mobil.Gerakannya pelan.Namun tegak.Seperti seseorang yang menolak terlihat lemah di depan masa lalu.Begitu kakinya menapak lantai halaman, matanya kembali bertemu dengan mata pria itu.“Sudah lama,” katanya singkat.Tidak ada senyum.Tidak ada nada hangat.Pria itu menarik napas pelan.“Ya… sudah sangat lama.”Wanita yang berdiri di samping pria itu menatap mereka bergantian.Matanya tajam, namun tetap sopan.“Mas…?” katanya pelan.Pria itu seperti baru ingat bahwa ia tidak sendirian.Ia sedikit menoleh.“Ah… maaf.”Ia kembali menatap Laras.Ekspresinya kini campur aduk antara gugup dan bingung.“Laras… aku tidak menyangka—”“Jangan.”Laras memotong kalimatnya dengan ten
Arion duduk di sofa ruang keluarga rumah Maya. Cahaya matahari siang masuk dari jendela besar, memantul di lantai marmer yang mengilap. Rumah itu selalu terasa terlalu rapi—seolah setiap benda tahu persis di mana tempatnya dan tidak pernah berani bergeser sedikit pun.Di tangannya, Arion memutar gelas berisi es teh yang sudah setengah mencair.Di depannya, seorang gadis duduk santai di ujung meja kaca. Kakinya bergoyang-goyang pelan, seolah dunia tidak pernah memberinya alasan untuk gugup.Sisil.Ia memandangi Arion dengan ekspresi yang sulit ditebak—campuran antara penasaran dan hiburan.“Jadi…” katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan. “Kak Maya belum cerita apa-apa ke kamu?”Arion mengangkat pandangannya.“Cerita apa?”Sisil mengangkat alis.“Serius?”Arion hanya menatapnya datar.Sisil mendesah dramatis, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi.“Ya ampun… kakakku itu memang suka bikin orang bingung.”Arion meletakkan gelasnya di meja.“Apa yang sebenarnya terjadi, Sisil
Logam dingin pada gagang pintu mobil terasa seolah membeku di telapak tangan Shana. Pintu itu sudah terbuka separuh, mengizinkan udara malam yang tajam menyelinap masuk dan menusuk kulit lengannya, namun Shana tetap bergeming. Di sampingnya, deru mesin mobil hitam yang baru saja tiba itu padam sepenuhnya, menyisakan kesunyian yang mencekam di depan gerbang.Shana bisa merasakan tubuhnya berat, seolah gravitasi di dalam mobil itu mendadak berlipat ganda. Ia melirik ibunya. Sang ibu biasanya adalah wanita yang cekatan, namun kini beliau tampak seperti patung lilin yang dipahat dari kecemasan. Mata mereka berdua terpaku pada mobil mengilap di depan sana yang kini bermandikan cahaya kuning temaram dari lampu halaman. Mobil itu terlalu asing, terlalu mahal, dan membawa firasat yang tidak enak.Klik.Suara itu terdengar seperti letusan kecil di telinga Shana. Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria keluar dengan gerakan yang begitu efisien dan tenang, jenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh
Kadang yang paling sunyi bukanlah malam, bukan pula kesepian—melainkan ketika dua orang berada dalam ruangan yang sama… tapi berpikir untuk berlari ke arah yang berlawanan.Dan pagi itu, Arion merasakannya untuk pertama kalinya.Shana keluar dari kamar mandi pelan-pelan. Rambutnya masih menetes, wa
Parkiran apartemen itu dingin, sunyi, dan terasa mencekam. Terlalu luas untuk dilalui seseorang sendirian. Langkah Shana bergema pelan, bunyi hak sepatunya memantul di dinding beton yang kusam. Ia memeluk tas selempangnya erat di depan dada, bukan karena dingin, melainkan karena kegelisahan yang ta
Cahaya siang menabrak dinding putih apartemen Arion ketika suara ketukan keras memenuhi ruangan.Arion membeku di tempat.Shana keluar sedikit dari ambang pintu kamarnya—tidak penuh, setengah badan saja, seolah ia masih mencari alasan logis buat nongol… padahal jantungnya sudah lari duluan. Yang me
Pintu itu belum terbuka, tapi lorongnya sudah terasa aneh—tebal oleh udara yang menahan napas, mencekam, seperti jeda sebelum petir menyambar. Seluruh dunia terasa menunggu tabrakan dua hati yang rapuh.Dan Shana, berdiri tepat di tengah-tengah jeda itu, bukan lagi seorang gadis yang mencari tempat







