แชร์

Bab 4. Jejak tanpa Jejak

ผู้เขียน: Gibran Dangumaos
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-30 11:24:46

Pagi berikutnya, Shana bertingkah seolah tidak ada yang terjadi. Ia duduk di meja makan dengan kaus kebesaran Arion yang kini menjadi seragamnya, mengunyah roti panggang sambil menonton drama di ponselnya. Suara tawa ringannya terdengar normal, seolah tidak ada bisikan ketakutan yang keluar dari bibirnya semalam, seolah ia tidak pernah menjadi sosok yang rapuh dan misterius di hadapan Arion. "Kak, aku mimpi aneh deh semalam," katanya ringan, tanpa menoleh.

Arion yang sedang menuang kopi ke cangkirnya, menegang. "Mimpi apa?" tanyanya, suaranya berusaha terdengar sesantai mungkin, tapi tangannya terlihat sedikit gemetar.

"Hmm… nggak jelas sih. Tapi kayaknya ada seseorang yang ninggalin aku. Rasanya… nyesek banget." Shana menghela napas, lalu terkekeh pelan. "Untung cuma mimpi, ya?"

Arion menatapnya lama, wajahnya tetap dingin, namun di balik tatapan itu, ada gejolak yang tak bisa ia bendung. Ia tahu ini bukan sekadar mimpi. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang terasa begitu nyata, begitu menusuk. Seolah itu adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia kembali ke kamarnya tanpa sepatah kata. Langkahnya terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang mulai menindih pundaknya. Ia merasa, ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya, sesuatu yang tidak lagi teratur, tidak lagi sesuai dengan rencananya.

Siang itu, Arion mencoba fokus pada skripsinya. Tapi sebuah pemandangan aneh menarik perhatiannya. Shana sedang duduk di ruang tamu, bukan menonton drama, tapi membolak-balik buku-buku tebal Arion. Tepatnya, sebuah buku tentang psikologi klinis yang ia gunakan untuk penelitiannya. Raut wajah Shana serius, jari-jarinya menelusuri setiap halaman seolah mencari sesuatu. Ia terlihat sangat fokus, berbeda dari Shana yang ceria dan berisik.

"Ngapain kamu?" tanya Arion, suaranya mengandung nada curiga.

Shana tersentak. Ia buru-buru menutup buku di tangannya, wajahnya sedikit memerah, seperti tertangkap basah. "Nggak ngapa-ngapain, Kak. Cuma baca-baca aja. Keren juga ya, buku-buku Kakak ini. Ternyata berat banget isinya."

"Kamu nggak bisa baca buku orang tanpa izin." kata Arion dingin.

"Ih, pelit banget sih!" Shana mengembalikan buku itu ke rak, menaruhnya dengan sedikit tergesa-gesa. Arion melihat seulas senyum samar di bibirnya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak peduli. Ia kembali ke kamarnya dan mencoba kembali ke rutinitasnya. Namun, rasa penasaran itu menggerogoti pikirannya. Kenapa dia membaca buku itu? Apa yang dia cari?

Arion membiarkan rasa penasaran itu mengendap, mencoba untuk mengabaikannya. Sepanjang sore, Shana kembali menjadi tornado kecil yang berisik. Ia menyalakan musik pop, memasak ramen dengan suara berisik, dan berceloteh tanpa henti. Arion mencoba mengabaikannya, namun di luar kesadarannya, ia mulai terbiasa dengan suara itu. Apartemennya tidak lagi sunyi, tapi juga tidak terasa kosong. Ada kehidupan, betapa pun kacau dan mengganggunya.

Malam harinya, apartemen kembali hening. Arion bersyukur Shana akhirnya tidur lebih awal. Ia menutup laptop, merapikan meja, dan bersiap ke kamar. Tapi tepat pukul dua dini hari, Arion terbangun. Ada hawa dingin. Firasat buruknya kembali datang. Ia langsung tahu apa yang terjadi. Ia menoleh, dan matanya langsung menyipit. Kali ini, Shana tidak ada di ranjangnya. Pintu kamarnya terkunci, sama seperti malam-malam sebelumnya.

Lalu, ke mana dia?

Jantung Arion berdebar kencang. Ia bangkit, keluar dari kamar, dan berjalan pelan ke kamar Shana. Pintu kamar Shana tertutup rapat. Arion menempelkan telinganya ke pintu. Ada suara samar, seperti bisikan, dari dalam. Bukan bisikan tidur, tapi bisikan yang penuh ketakutan.

"Jangan… jangan datang… aku mohon…"

Itu suara Shana. Tapi suaranya terdengar ketakutan yang nyata, bukan bisikan samar yang ia dengar saat Shana sleepwalking. Arion panik. Ia mencoba membuka pintu, tapi terkunci dari dalam.

"Shana? Kamu baik-baik aja, kan?" panggilnya, suaranya keras, mencoba menembus pintu.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya bisikan-bisikan aneh yang tak jelas, diselingi isakan pelan. Arion panik. Ia mundur, memikirkan cara mendobrak pintu. Pikirannya melayang pada malam pertama, saat Shana membisikkan kata-kata yang sama. Bisikan itu terasa bagai belenggu yang mengikatnya, mencegahnya pergi.

Ia mendengar suara langkah kaki yang berat dari dalam. Suara itu bergesek, seolah Shana sedang menyeret sesuatu. Arion tertegun. Ia membiarkan kepanikannya mengendap, mencoba mendengarkan lebih jelas. Langkah itu bukan langkah normal, melainkan langkah yang terhuyung, seolah Shana sedang berjuang. Lalu, terdengar suara benda jatuh yang lebih berat dari teko yang pecah kemarin.

"Shana!" teriak Arion. Ia mendorong pintu dengan seluruh kekuatannya. Pintu itu bergetar, tapi tidak terbuka. Arion tahu ia harus mendobraknya. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana. Tepat saat ia akan melakukannya, suara itu berhenti. Sunyi. Hening. Arion menempelkan telinganya lagi. Tidak ada suara. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Hening. Apakah Shana tertidur? Apakah ia bermimpi?

Rasa frustrasi merayap di benak Arion. Ia tidak bisa begitu saja mendobrak pintu, bisa-bisa ia membangunkan Shana dan mempermalukannya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bisikan-bisikan ketakutan yang ia dengar.

Ia kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh suara bisikan yang ketakutan. Ada apa dengan Shana? Apa yang dia sembunyikan dariku? Ia menatap buku psikologi klinisnya yang ada di meja belajar, lalu matanya beralih ke pintu kamarnya. Pintu yang ia kunci setiap malam, untuk melindungi dirinya dari Shana. Namun kini, ia mulai bertanya-tanya, apakah ia mengunci pintu untuk melindungi dirinya, atau Shana?

Tepat sebelum ia memejamkan mata, ia mendengar bunyi gesekan pelan dari luar. Arion membuka mata. Suara itu bukan dari pintu kamar Shana, melainkan dari pintu utama apartemen. Pintu terkunci, kan?

Arion bergegas ke ruang tamu. Ia melihat Shana, dalam balutan jaket tebal dan celana jins, berdiri di dekat pintu utama. Punggungnya menghadap Arion, tangannya gemetar memegang kunci apartemen.

"Shana?" panggil Arion, suaranya rendah dan penuh ketegangan.

Shana terlonjak. Ia membalikkan badan, senyum kecilnya terlihat canggung. "Kak Arion? Kok belum tidur?"

Arion tidak menjawab. Ia menatap kunci di tangan Shana. "Mau ke mana kamu selarut ini?"

Shana menunduk, menggenggam erat kunci itu. "Aku... aku cuma mau ke luar sebentar, Kak. Cari angin."

Alasan itu terdengar konyol. Angin? Di tengah malam buta, di tengah apartemen yang terkunci rapat? Arion tidak percaya. "Apa yang terjadi di kamarmu?"

Shana mengangkat bahu. "Nggak ada apa-apa kok. Kakak salah dengar mungkin."

Arion melangkah mendekat, matanya menajam. "Kamu bohong!"

Shana menatapnya, matanya berkaca-kaca, memperlihatkan kekecewaan yang mendalam. "Aku nggak bohong, Kak, sumpah."

Namun ia tahu Shana berbohong. Ia bisa melihat rasa takut di mata Shana yang berusaha keras untuk disembunyikan. Ada sesuatu yang sangat serius sedang terjadi. Dan kini, ia tahu Shana tidak hanya mengganggu rutinitasnya. Gadis itu membawa rahasia gelap ke dalam hidupnya. Dan entah kenapa, Arion merasa ia harus mencari tahu, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Shana.

Tiba-tiba, ponsel Shana yang ia sembunyikan di saku jaketnya bergetar. Layarnya menyala, memancarkan cahaya merah yang sama seperti yang Arion lihat di malam sebelumnya. Shana cepat-cepat menyembunyikannya, tapi tidak cukup cepat. Arion melihatnya. Sebuah pesan singkat, tapi isinya membuat seluruh tubuhnya membeku.

"Dia sudah datang. Cepat pergi, sekarang."

Arion menatap mata Shana yang kini penuh ketakutan, lalu beralih menatap pintu yang terkunci. Ia menduga, ada seseorang di luar sana, mungkin kini sedang menunggu Shana. Tapi  siapa? Untuk apa?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Hasrat Kakak Tiri   148. Luka yang disimpan Rina

    Ibu jarinya menggantung di atas layar selama beberapa detik. Ada dorongan kuat untuk menekan tombol panggil. Sekadar memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun, ia menahannya. Jika orang-orang tadi tahu pasti posisinya malam ini... Besar kemungkinan sinyal dan jejak digitalnya pun sedang diawasi. Menghubungi Alena sekarang sama saja menyalakan tanda bahaya di tempat terang. Arka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. ... Rina duduk sendirian. Di balkon kamar. Malam telah semakin tua. Tetapi ia belum berniat untuk beranjak masuk ke dalam. Udara terasa dingin menusuk kulit. Halaman di bawah sana hampir seluruhnya tenggelam dalam pekat. Hanya ada cahaya samar dari beberapa lampu taman. Yang membuat bayangan pepohonan bergerak pelan saat tertiup angin. Di genggamannya, secangkir teh telah mendingin sejak tadi. Sama sekali tidak disentuhnya. Pikirannya kembali kepada Alena. Kemudian bergeser kepada Arion. Dan malam ini, tanpa i

  • Hasrat Kakak Tiri   147. Sebuah Pesan

    Malam sudah lewat separuh.Arka memacu mobilnya menembus jalanan yang merenggang sepi.Sejak meninggalkan riuk pusat kota, kendaraan yang melintas bisa dihitung jari.Lampu-lampu pertokoan sudah padam.Menyisakan deretan penerangan jalan yang memantulkan bayang keemasannya di atas aspal basah.Arka sebenarnya bisa memilih jalur utama yang lebih ramah.Tapi malam ini energinya sudah terkuras habis.Ia memilih jalan pintas yang memorinya sudah di luar kepala.Lagu bersuara rendah terputar dari audio mobil.Tak benar-benar didengarnya.Sebelah tangannya menggenggam kemudi.Sementara matanya sesekali melirik layar ponsel di konsol tengah.Konsol itu sepi dari notifikasi.Percakapan telepon beberapa menit lalu masih menyisakan dengung tebal di kepalanya.Pikirannya tertinggal di sana.Mengunyah kata demi kata yang belum selesai diartikan.Saat mobilnya menyapu sebuah tikungan panjang yang diapit pepohonan rimbun...Sorot lampu tajam mendadak menusuk dari arah depan.Refleks, kaki Arka berp

  • Hasrat Kakak Tiri   146. Ketakutan Laras

    Sentuhan yang awalnya ragu-ragu karena beban pikiran perlahan berubah menjadi luapan emosi yang tertahan. Ciuman itu mendalam, menuntut, sarat akan ketakutan kehilangan dan keputusasaan yang tidak terucap. Shana menarik kerah kemeja Arion, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak yang tersisa, sementara tangan Arion mencengkeram pinggangnya erat-erat, seolah ingin menyatukan raga mereka agar takdir atau siapa pun tidak bisa memisahkan.Nafas mereka memburu di ruang tamu yang mendadak terasa panas. Arion mengangkat Shana tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, membuat kaki wanita melingkar di pinggangnya. Shana mendesah pelan saat punggungnya menabrak dinding dingin, kontras dengan panas tubuh Arion yang mendominasinya. Segala keraguan, bayang-bayang Alena, dan teka teki yang belum terjawab seolah lebur dalam sentuhan-sentuhan liar yang menuntut kepastian kenikmatan.Tangan Arion merayap masuk ke dalam pakaian Shana, meraba kulit halusnya dengan tergesa-gesa, membakar setiap jengkal tubuh ya

  • Hasrat Kakak Tiri   145. Ketakutan Shana

    Pagi itu terasa berbeda bagi Shana.Tidak ada suara drama dari televisi. Tidak ada musik dari ponselnya. Bahkan secangkir kopi yang biasanya ia habiskan sambil bercanda dengan Arion masih dibiarkan dingin di atas meja.Shana hanya duduk diam.Di hadapannya, Arion sedang membaca beberapa lembar catatan. Wajahnya serius seperti biasa, tetapi kali ini Shana tidak sedang memikirkan apa yang sedang dibaca Arion.Ia sedang memikirkan dirinya sendiri.Tentang hidupnya.Tentang hubungan mereka.Dan tentang satu pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya.Sampai kapan mereka bisa hidup seperti ini?Shana akhirnya bersuara."Kak?.""Hm?""Kalau semua ini selesai..."Arion mengangkat wajah."Semua ini?""Masalah ayahmu. Alena. Ayahku. Semua."Arion menatapnya beberapa detik."Kita akan menyelesaikannya.""Aku bukan bertanya soal itu."Shana menarik napas."Aku bertanya tentang kita."Tangan Arion berhenti bergerak.Shana menundukkan kepala sebentar sebelum kembali m

  • Hasrat Kakak Tiri   144. Hanya Milik Kita

    "Apa itu?"Shana tidak langsung menjawab.Jemarinya saling bertaut gelisah di hadapan Arion."Aku takut... setelah aku memanggilnya Ayah."Arion menunggu."Roy bilang aku jangan dulu memberi tahu Alena tentang pertemuan kami."Arion sedikit mengernyit."Kenapa?""Katanya... belum waktunya."Shana menarik napas panjang."Dia bilang ada alasan mengapa keberadaanku selama ini tidak pernah diketahui Alena."Arion terdiam.Kalimat itu mengingatkannya pada percakapan dengan Laras.Juga pada nama Alena.Serta pernikahan yang terasa dipaksakan ke dalam hidupnya.Namun malam ini ia tidak ingin membawa semua persoalan itu ke hadapan Shana.Setidaknya tidak sekarang."Roy memberimu alasan?""Belum.""Dia hanya memintamu merahasiakannya?"Shana mengangguk.Arion berjalan menuju sofa.Ia duduk, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya."Sini."Shana menurut.Ia duduk di samping Arion dengan jarak yang sangat dekat.Beberapa detik mereka hanya diam.Tidak ada suara notifikasi.Tidak ada telepon.Ti

  • Hasrat Kakak Tiri   144. Jangan Tinggalkan Aku

    Malam semakin larut.Apartemen itu akhirnya kembali sunyi.Lampu ruang makan masih menyala, menerangi dua piring nasi goreng yang tinggal separuh.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati makanan itu.Arion masih berdiri kaku di dekat meja.Sementara Shana duduk di kursi, menatapnya dengan tatapan yang perlahan berubah hangat, namun dalam."Kak.""Hm?""Sejak tadi Kakak kelihatan seperti sedang memikul beban yang sangat berat."Arion terdiam sejenak.Ia menghela napas, menarik kursi di hadapan Shana, lalu duduk perlahan."Aku cuma sedang memikirkan banyak hal.""Apakah ada hubungannya dengan Ibuku?"Pertanyaan jujur itu membuat binar mata Arion berubah.Shana memperhatikan riak emosi di wajah pria itu."Aku tahu Ibu menemui Kakak tadi."Arion mengembuskan napas panjang."Tante Laras tidak bilang apa-apa yang buruk tentangmu.""Aku tidak bertanya soal itu."Shana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana."Aku cuma ingin tahu... apa yang sebenarnya bikin Kakak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status