Mag-log inBagi Arion, apartemen selalu menjadi ruang steril. Setiap sudut tertata presisi: buku tersusun rapi menurut kategori, baju dilipat dengan garis lipatan sejajar, dan meja belajar kosong dari barang tak berguna. Namun, pagi ketiga bersama Shana membuktikan bahwa benteng itu rapuh. Arion duduk di kursi kerja, menatap layar laptop dengan wajah datar. Jurnal tebal menumpuk di sampingnya, pena siap di tangan. Ia bertekad hari ini harus fokus menyelesaikan satu bab skripsi, tak peduli ada tornado bernama Shana di sekitarnya.
Namun suara keras dari ruang tamu memotong konsentrasinya. "Hah! Ya ampun, plot twist-nya gila banget, anjir!" suara Shana meledak, disusul tawa panjang yang nyaris menggelegar. Arion mengetik beberapa kata, lalu berhenti. Ujung penanya mengetuk meja pelan. Ia mencoba menahan diri. Lima menit kemudian, Shana kembali berteriak. "Eh, jangan-jangan dia tuh kakak kandungnya? Aaaah, nggak bisaaaa!"
Arion menutup laptop dengan bunyi klik keras. Cukup. Ia bangkit, melangkah ke ruang tamu dengan wajah dingin. "Shana."
Gadis itu menoleh dengan senyumnya yang ceria, rambut masih berantakan, dan selimut tipis melilit tubuhnya menjadikannya seperti kepompong. Di depannya, drama Korea berjalan di layar laptop kecil dengan volume hampir maksimal. "Hai, Kak! Mau nonton juga? Ini lagi seru banget tau!"
"Kecilin volumenya." Nada Arion tegas.
Shana manyun, menurunkan sedikit suara laptop. "Padahal belum segede konser juga…" gumamnya.
Arion memijit pelipis. "Aku lagi ngerjain skripsi. Kalau kamu mau ribut-ribut, lakukan di luar sana."
Shana memiringkan kepala, matanya berbinar-binar penuh kepo. "Emangnya skripsi tentang apa sih, Kak?"
"Bukan urusanmu."
"Uh pelit banget. Aku kan juga mahasiswa juga lho, siapa tau bisa bantu Kakak."
Arion mendengus, kembali ke meja kerjanya. Ia yakin Shana tidak akan bisa membantu apa-apa selain menambah keruwetan. Tapi baru lima menit duduk, terdengar bunyi PRAK! di dapur. Bunyi kaca pecah yang nyaring. Jantung Arion langsung melonjak. Ia berlari ke dapur, firasat buruknya terbukti.
Kaca teko kopi kesayangannya, hadiah dari almarhum ibunya, kini pecah berantakan di lantai. Shana berdiri kaku di tengah kekacauan, tangannya memegang pecahan kaca dengan wajah pucat.
"Maaf, Kak! Gak sengaja!" bisiknya, suaranya bergetar.
"Shana, jangan dipegang! Itu bahaya!" Arion langsung merebut pecahan itu, menyentuhnya dengan hati-hati seolah takut melukai Shana. Ia mengambil sapu dan serokan, membersihkan kekacauan dengan cepat.
Shana hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan. "Maaf… aku mau bantu cuci piring, terus kesenggol," gumamnya, bibirnya bergetar.
Arion tidak menjawab. Ia hanya membersihkan semua dengan teliti, memastikan tidak ada pecahan kaca yang tersisa. Saat ia bangkit, matanya bertemu dengan mata Shana. Gadis itu menunduk, bibirnya bergetar, dan ia terlihat sangat putus asa.
"Aku ganti, Kak. Nanti aku ganti," bisiknya.
Arion hanya menggeleng pelan. "Sudah, sana. Lebih baik kamu jangan melakukan apa-apa lagi." Shana mengangguk, lalu berbalik dan pergi ke kamarnya. Arion bisa merasakan keheningan kembali, namun kali ini terasa berbeda. Bukan keheningan yang ia nikmati, melainkan keheningan yang hampa, dipenuhi rasa bersalah. Mungkin aku terlalu kasar.
Malam itu, Shana tidak keluar dari kamarnya. Arion duduk di meja kerjanya, mencoba menyelesaikan skripsi, tapi pikirannya tidak bisa fokus. Ia memikirkan wajah Shana yang pucat. Ia memikirkan tatapan putus asa gadis itu. Tiba-tiba, ia merindukan suara berisik dan tawa renyah itu.
Ia bangkit, berjalan ke kamar Shana. Ia mengetuk pintu pelan. "Shana… sudah tidur?"
Tidak ada jawaban. Arion menunggu, lalu membuka pintu. Kamar itu gelap, kecuali cahaya redup dari lampu tidur. Shana sudah tertidur, meringkuk di bawah selimut. Arion menutup pintu, berjalan kembali ke kamarnya. Ia merasakan kekosongan yang tidak familiar.
Tepat pukul dua dini hari, Arion terbangun. Ada hawa dingin. Ia menoleh, dan firasat buruknya terbukti. Shana lagi-lagi berada di ranjangnya. Kali ini, posisinya lebih dekat. Tubuh mungilnya meringkuk hanya sejengkal dari Arion. Rambutnya terurai, sebagian menutupi pipi, napasnya tenang.
Arion menatapnya lama. Ada rasa campur aduk di dadanya—antara kesal, bingung, dan sesuatu yang ia takutkan untuk diakui. Ia hendak menarik selimut untuk menutupi Shana, tapi tiba-tiba tangan gadis itu bergerak. Jari-jarinya menyentuh lengan Arion, lembut dan tanpa sadar. Tubuh Arion menegang. Sentuhan sekecil itu seperti percikan listrik.
"Jangan pergi…" gumam Shana lirih.
Arion terpaku. Kata-kata itu kembali. Sama seperti malam sebelumnya. Suara rapuh, seolah berasal dari luka lama. Arion menelan ludah. Ini hanya sleepwalking. Jangan berpikir macam-macam.
Namun matanya tak bisa lepas dari wajah Shana. Ada sesuatu pada ketenangan gadis itu saat tidur—sesuatu yang membuat Arion merasa… dibutuhkan. Ia akhirnya bangkit, berjalan ke sisi ranjang, lalu dengan hati-hati mengangkat Shana. Tubuh itu ringan, namun setiap detik bersentuhan membuat jantungnya berdegup kencang. Shana meringkuk di lengannya, wajahnya nyaris menyentuh leher Arion. Aroma sampo floral itu menusuk indera. Arion berusaha menahan diri, menatap lurus ke depan, melangkah ke kamar Shana.
Sesampainya di ranjang Shana, ia menidurkan gadis itu pelan. Shana bergumam lirih, meraih bantal, lalu diam. Arion berdiri di sisi ranjang, menatapnya sebentar. "Kamu ini… apa sebenarnya?" bisiknya pelan.
Ia berbalik, hendak keluar. Namun sebelum pintu tertutup, suara lirih terdengar lagi. "Jangan… tinggalin aku…"
Arion menutup mata rapat. Kalimat itu seperti belenggu yang menariknya semakin dalam.
Pagi berikutnya, Shana bertingkah seolah tidak ada yang terjadi. Ia duduk di meja makan dengan kaus kebesaran yang kini menjadi seragamnya, mengunyah roti sambil menonton drama di ponselnya. Suara tawa ringannya terdengar normal, seolah tidak ada bisikan ketakutan yang keluar dari bibirnya semalam. "Kak, aku mimpi aneh deh semalam," katanya ringan, tanpa menoleh.
Arion menegang. "Mimpi apa?"
"Hmm… nggak jelas sih. Tapi kayaknya ada seseorang yang ninggalin aku. Rasanya… nyesek banget." Shana menghela napas, lalu terkekeh. "Untung cuma mimpi, ya?"
Arion menatapnya lama, wajahnya tetap dingin. Tapi dalam hati, ia tahu ini bukan sekadar mimpi. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang terasa begitu nyata, begitu menusuk. Ia kembali ke kamarnya tanpa sepatah kata. Namun langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya.
Siang itu, Arion mencoba fokus pada skripsinya. Tapi sebuah pemandangan aneh menarik perhatiannya. Shana sedang duduk di ruang tamu, bukan menonton drama, tapi membolak-balik buku-buku tebal Arion. Tepatnya, sebuah buku tentang psikologi klinis yang ia gunakan untuk penelitiannya. Raut wajah Shana serius, jari-jarinya menelusuri setiap halaman seolah mencari sesuatu.
"Ngapain kamu?" tanya Arion, suaranya mengandung nada curiga.
Shana tersentak. Ia buru-buru menutup buku di tangannya, wajahnya sedikit memerah. "Nggak ngapa-ngapain, Kak. Cuma baca-baca aja. Keren juga ya, buku-buku Kakak ini. Berat banget isinya."
"Kamu nggak bisa baca buku orang tanpa izin," kata Arion dingin.
"Ih, pelit banget!" Shana mengembalikan buku itu ke rak, menaruhnya dengan sedikit tergesa-gesa. Arion melihat seulas senyum samar di bibirnya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak peduli. Ia kembali ke kamarnya dan mencoba kembali ke rutinitasnya. Namun, rasa penasaran itu menggerogoti pikirannya. Kenapa dia membaca buku itu?
Arion membiarkan rasa penasaran itu mengendap. Sepanjang sore, Shana kembali menjadi tornado kecil yang berisik. Ia menyalakan musik pop, memasak ramen, dan berceloteh tanpa henti. Arion mencoba mengabaikannya, namun di luar kesadarannya, ia mulai terbiasa dengan suara itu. Apartemennya tidak lagi sunyi, tapi juga tidak terasa kosong. Ada kehidupan, betapa pun kacau dan mengganggunya.
Malam harinya, apartemen kembali hening. Arion bersyukur Shana akhirnya tidur lebih awal. Ia menutup laptop, merapikan meja, dan bersiap ke kamar. Tapi tepat pukul dua dini hari, Arion terbangun. Ada hawa dingin. Firasat buruknya kembali datang.
Ia langsung tahu apa yang terjadi. Ia menoleh, dan matanya langsung menyipit. Kali ini, Shana tidak ada di ranjangnya. Pintu kamarnya terkunci, sama seperti malam-malam sebelumnya.
Lalu, ke mana dia?
Jantung Arion berdebar kencang. Ia bangkit, keluar dari kamar, dan berjalan pelan ke kamar Shana. Pintu kamar Shana tertutup rapat. Arion menempelkan telinganya ke pintu. Ada suara samar, seperti bisikan, dari dalam. Bukan bisikan tidur, tapi bisikan yang penuh ketakutan.
"Jangan… jangan datang… aku mohon…"
Itu suara Shana. Tapi suaranya terdengar ketakutan yang nyata, bukan bisikan samar yang ia dengar saat Shana sleepwalking. Arion panik. Ia mencoba membuka pintu, tapi terkunci dari dalam.
"Shana? Kamu baik-baik aja?" panggilnya, suaranya keras, mencoba menembus pintu.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya bisikan-bisikan aneh yang tak jelas, diselingi isakan pelan. Arion panik. Ia mundur, memikirkan cara mendobrak pintu. Pikirannya melayang pada malam pertama, saat Shana membisikkan kata-kata yang sama. Bisikan itu terasa bagai belenggu yang mengikatnya, mencegahnya pergi.
Ia mendengar suara langkah kaki yang berat dari dalam. Suara itu bergesek, seolah Shana sedang menyeret sesuatu. Arion tertegun. Ia membiarkan paniknya mengendap, mencoba mendengarkan lebih jelas. Langkah itu bukan langkah normal, melainkan langkah yang terhuyung, seolah Shana sedang berjuang. Lalu, terdengar suara benda jatuh yang lebih berat dari teko yang pecah kemarin.
"Shana!" teriak Arion. Ia mendorong pintu dengan seluruh kekuatannya. Pintu itu bergetar, tapi tidak terbuka. Arion tahu ia harus mendobraknya. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana.
Tepat saat ia akan melakukannya, suara itu berhenti. Sunyi. Hening. Arion menempelkan telinganya lagi. Tidak ada suara. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Hening. Apakah Shana tertidur? Apakah ia bermimpi?
Rasa frustrasi merayap di benak Arion. Ia tidak bisa begitu saja mendobrak pintu, bisa-bisa ia membangunkan Shana dan mempermalukannya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bisikan-bisikan ketakutan yang ia dengar.
Ia kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi suara bisikan yang ketakutan. Ada apa dengan Shana? Apa yang dia sembunyikan? Ia menatap buku psikologi klinisnya yang ada di meja belajar, lalu matanya beralih ke pintu kamarnya. Pintu yang ia kunci setiap malam, untuk melindungi dirinya dari Shana. Namun kini, ia mulai bertanya-tanya, apakah ia mengunci pintu untuk melindungi dirinya, atau Shana?
Tepat sebelum ia memejamkan mata, ia mendengar bunyi gesekan pelan dari luar. Arion membuka mata. Suara itu bukan dari pintu kamar Shana, melainkan dari pintu utama apartemen. Pintu terkunci, kan? Arion bergegas ke ruang tamu. Ia melihat Shana, dalam balutan jaket tebal, berdiri di dekat pintu utama. Tangannya memegang kunci apartemen.
"Shana?" panggil Arion, suaranya rendah dan penuh ketegangan.
Shana terlonjak. Ia membalikkan badan, senyum kecilnya terlihat canggung. "Kak Arion? Kok belum tidur?"
Arion tidak menjawab. Ia menatap kunci di tangan Shana. "Mau ke mana kamu selarut ini?"
Shana menunduk, menggenggam erat kunci itu. "Aku... aku cuma mau ke luar sebentar, Kak. Cari angin."
Alasan itu terdengar konyol. Angin? Di tengah malam buta? Arion tidak percaya. "Apa yang terjadi di kamarmu?"
Shana mengangkat bahu. "Nggak ada apa-apa kok. Kakak salah dengar mungkin."
Arion melangkah mendekat. "Kamu bohong."
Shana menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak bohong, Kak."
Namun, ia tahu Shana berbohong. Ia bisa melihat rasa takut di mata Shana. Ada sesuatu yang sangat serius sedang terjadi. Dan kini, ia tahu Shana tidak hanya mengganggu rutinitasnya. Gadis itu membawa rahasia gelap ke dalam hidupnya. Dan entah kenapa, Arion merasa ia harus mencari tahu, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Shana.
Namun jemarinya masih gemetar kecil.Laras menatap Roy dengan dada yang semakin tidak tenang.Ia belum pernah melihat laki-laki itu sehancur ini.Bahkan dulu—saat mereka kehilangan segalanya—Roy masih terlihat lebih kuat dibanding sekarang.“Roy…”panggil Laras lagi pelan.Kali ini Roy akhirnya menoleh.Namun tatapan matanya kosong.Lelah.Dan penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.“Aku harus pergi.”Kalimat itu keluar cepat.Seolah ia tidak punya waktu lagi untuk duduk diam.Laras langsung mengerutkan kening.“Tapi kita belum selesai ngomong.”“Aku tahu.”Roy mengusap wajah kasar.Napasnya berat.“Semuanya terlalu berantakan sekarang.”Laras memperhatikan pria di depannya lama.Lalu perlahan berkata,“Orang tadi ada hubungannya sama alasan kamu ninggalin aku dulu?”Pertanyaan itu membuat Roy langsung diam.Sunyi.Panjang.Dan dari diam itulah—Laras akhirnya mendapatkan jawabannya.Mata perempuan itu langsung bergetar kecil.“Jadi memang ada sesuatu…”Roy memalingkan wajah.Raha
Denting ponsel itu terdengar berulang.Nyaring.Mengganggu.Dan langsung membuat hati Roy tidak nyaman.Laras menoleh kecil.Tatapannya tertuju pada ponsel di atas meja.Layar menyala cerah.Berkedip-kedip menuntut perhatian.Roy mengernyit tipis.Ia ragu beberapa detik.Jemarinya menggantung di udara.Ia memang jarang mengangkat nomor asing.Terlalu banyak urusan bisnis lama di masa lalunya.Hal itu membuatnya selalu curiga pada panggilan tak dikenal.Tapi kali ini berbeda.Perasaannya semakin tidak enak.Firasat buruk mendadak mencengkeram dadanya.Panggilan itu terus masuk.Tidak berhenti.Satu hancur, satu kembali memanggil.Seolah orang di seberang sana memaksa.Benar-benar memaksa ingin bicara dengannya.Tidak ada ruang untuk penolakan.Roy akhirnya meraih ponsel itu.Lalu mengangkatnya pelan.Ia menempelkannya ke telinga.“Halo.”Suaranya datar.Mencoba menyembunyikan getaran batin.Beberapa detik berlalu.Tidak ada suara.Hanya sunyi yang ganjil.Lalu terdengar napas samar.Be
Napas Shana perlahan tertahan di tenggorokan.Karena cara Arion menatapnya sekarang—bukan lagi seperti seseorang yang sedang bercanda.Bukan juga tatapan seorang teman.Tatapan itu terlalu dalam.Terlalu serius.Dan terlalu hangat untuk bisa ia hindari.“Aku nolak semua ini…” suara Arion rendah, nyaris seperti bisikan.“…karena dari awal aku udah nggak bisa lihat perempuan lain.”Jantung Shana langsung seperti jatuh bebas.Matanya membesar sedikit.Sementara Arion—masih menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.Shana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata laki-laki itu.Begitu dekat.Begitu jelas.Dan itu membuat pertahanan kecil yang sejak tadi ia bangun perlahan runtuh satu per satu.“Ka… Kak Arion…”suaranya mengecil.Nyaris gemetar.Namun Arion justru bergerak semakin dekat.Pelan.Sangat pelan.Seolah memberi kesempatan bagi Shana untuk mundur kalau memang tidak menginginkannya.Tapi masalahnya—Shana tidak sanggup bergerak.Ia hanya bisa diam.Membiarkan debar jantungnya
Siang itu—matahari sebenarnyasedang bagus-bagusnya.Langit cerah.Udara juga tidakterlalu panas.Namun entah kenapa—apartemen itu terasaseperti dipenuhi sesuatu yang menggantung di udara.Sesuatu yang tidakterlihat.Tapi cukup berat untukmembuat dua penghuninya sama-sama malas keluar rumah.Kuliah hari ituakhirnya hanya jadi formalitas yang mereka abaikan.Shana duduk selonjorandi karpet ruang tamu sambil memeluk erat bantal kecil di pangkuannya.Mencari kenyamanan yang mendadak hilang dari hatinya.Sementara Arion dudukdi sofa di belakangnya.Laptop terbuka dimeja.Tapi sejak tadi tidakbenar-benar disentuh.Pikiran mereka sedangterlalu riuh untuk hanya sekedar peduli pada tugas kampus.“Jadi…”Shana memecahkeheningan. Suaranya agak serak.“…si bocah pom bensinitu akhirnya ngomong juga?”Arion mendengus kecil,ada sisa lelah di helaan napasnya.“Jangan panggil diabocah pom bensin.”“Lah emang bukan?”“Bukan.”“Terus apa?”Arion melirik datar,namun ada binar geli yang
Kafe itu belum terlalu ramai.Roy membeku.Pertanyaan itu tidak keluar dengan nada tinggi.Tidak ada bentakan.Tidak ada tangisan histeris.Namun justru karena Laras mengucapkannya dengan suara yang begitu pelan—rasanya jauh lebih menghancurkan.“…yang dikorbankan dari dulu selalu Shana. Kenapa?”Roy tidak langsung menjawab.Tatapannya jatuh ke jemari Laras yang saling menggenggam erat di atas meja.Jari-jari itu sedikit gemetar.Dan setelah sekian tahun terlewati—Roy akhirnya benar-benar melihat lelah yang selama ini dipikul perempuan di depannya.Laras bukan hanya membesarkan Shana sendirian.Ia juga membesarkan luka sendirian.Roy mengembuskan napas berat.Panjang.Namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tetap tidak cukup.“Aku nggak pernah bermaksud ngorbanin dia…”suara Roy serak.Laras tertawa kecil.Pahit.“Tapi itu yang terjadi.”Roy langsung terdiam lagi.Karena sekali lagi—Laras benar.Dan kebenaran memang sering kali tidak membutuhkan teriakan untuk menghancurkan s
Kafe itu belum terlalu ramai.Masih lewat pukul sepuluh pagi.Beberapa meja di dekat jendela terisi pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop dan kopi mereka masing-masing.Sementara di sudut paling belakang—Laras duduk tegak dengan jemari saling bertaut di atas meja yang terasa dingin.Wajahnya terlihat tenang.Namun hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu—Jika sebenarnya perempuan itu sedang sangat tegang.Di sampingnya duduk seorang perempuan paruh baya berpakaian sederhana.Mbak Sumi.Pembantu rumah yang sudah lama ikut bersama Laras.Mbak Sumi melirik pelan ke arah majikannya.“Ibu yakin mau ngobrol di sini?”Laras mengangguk kecil.“Di sini aja.”Jawabannya pelan.Pendek.Yetap saja ada sesuatu dalam nada suaranya yang terdengar seperti sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak goyah.Sejujurnya—Laras sengaja membawa Mbak Sumi.Bukan tanpa alasan.Ia tidak mau datang sendirian menemui mantan suaminya.Tidak setelah bertahun-tahun.Tidak setelah semua luka yang mere







