Home / Rumah Tangga / Hasrat Liar Paman Suamiku / Dua Hati Berdarah Dalam Diam

Share

Dua Hati Berdarah Dalam Diam

Author: CitraAurora
last update Huling Na-update: 2025-12-27 09:17:34

Tangis Dara perlahan mereda. Air matanya mengering di pipi, meninggalkan bekas asin yang terasa kencang di kulit. Dia bangkit dari lantai dengan tubuh yang terasa berat, seolah seluruh beban dunia menimpa bahunya. Kakinya goyah saat berjalan menuju tempat tidur.

Dara merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang biasa dia pakai kalau menginap di rumah Rara. Sprei berbau lembut pelembut pakaian, tapi kali ini aroma itu tidak membawa kenyamanan seperti biasa. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang putih bersih.

"Ini yang terbaik," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Rara harus bahagia. Dia sudah cukup menderita dengan sakit Papa. Aku tidak boleh menambah lukanya."

Dara menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai dagu. Mata sembabnya perlahan tertutup, meskipun dadanya masih terasa sesak. Tidur datang dengan lambat, diiringi bayangan wajah Raymond yang terus berputar di kepalanya.

***

Pagi datang dengan sinar matahari yang menembus celah tirai. Dara terban
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Akhirnya Lega

    Rara terdiam. Dadanya masih terasa sakit mendengar pengakuan itu. Tapi setidaknya sekarang dia mengerti. Dia mengerti kenapa Raymond selalu terlihat tidak bahagia. Kenapa tatapannya selalu kosong ketika menatapnya."Kamu bodoh Dara," ucap Rara tiba-tiba, membuat Dara tersentak. "Sangat bodoh.""Rara...""Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Rara dengan nada frustasi. Tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya kekecewaan. "Kenapa kamu harus berkorban seperti itu? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?"Dara tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis dalam diam."Kamu pikir dengan berkorban seperti itu kamu jadi pahlawan?" Rara melanjutkan. "Tapi lihat sekarang. Kamu sakit. Aku sakit. Raymond sakit. Reyhan juga sakit. Semua orang sakit karena kamu memilih untuk tidak jujur!""Maafkan aku," bisik Dara dengan suara hampir tidak terdengar.Rara menggeleng. "Aku tidak butuh permintaan maafmu lagi. Yang aku butuh adalah kamu belajar dari kesalahan ini. Belajar untuk jujur. Belajar u

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Jujur

    Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Reyhan dan Rara kembali ke rumah Erik. Lampu-lampu di teras menyala terang, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Dari luar, mereka bisa melihat bayangan orang-orang yang masih berkumpul di ruang tamu melalui jendela besar.Rara berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya gemetar menyentuh kenop pintu. Dadanya terasa sesak membayangkan harus berhadapan dengan semua orang di dalam sana."Kamu tidak sendiri," bisik Reyhan sambil menyentuh pundak Rara dengan lembut. "Aku ada disini bersamamu."Rara menoleh dan tersenyum tipis pada Reyhan. Senyum yang penuh rasa terima kasih. Lalu dengan nafas yang dalam, dia membuka pintu dan melangkah masuk.Begitu pintu terbuka, semua mata langsung tertuju pada mereka. Suasana di ruang tamu masih terasa berat meski sudah berlalu beberapa jam. Laura masih duduk di samping Dara yang wajahnya bengkak karena menangis. Raymond berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Sementara orang tua mereka duduk dengan wa

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Cinta Tak Bisa Dipaksakan

    Raymond bergegas menghampiri Dara yang masih terduduk lemas di lantai. Tangannya terulur mencoba membantu Dara berdiri, tapi wanita itu justru menggeleng keras sambil menangis."Jangan sentuh aku," bisik Dara dengan suara parau. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Jangan dekati aku Raymond.""Dara kumohon," Raymond berlutut di hadapan Dara. Tangannya ingin menyentuh pipi basah itu tapi ditepis dengan kasar. "Dengarkan aku dulu.""Pergi!" teriak Dara frustasi. Matanya menatap Raymond dengan tatapan penuh luka. "Pergi kejar Rara! Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Bukan aku!"Raymond terdiam. Dadanya sesak melihat Dara dalam kondisi seperti ini. Tapi sebagian hatinya juga khawatir pada Rara yang pergi dengan air mata."Dara...""Kumohon Raymond," Dara menatap mata Raymond dengan tatapan memohon. "Kejar Rara. Pastikan dia baik-baik saja. Aku yang sudah merusak segalanya. Setidaknya pastikan dia tidak melakukan hal yang bodoh."Sebelum Raymond sempat menjawab, Reyhan

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Terima Kasih Sudah Jujur

    Angga yang sejak tadi diam akhirnya bangkit. Wajahnya memerah, matanya menatap Raymond dengan tatapan tidak percaya."Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Angga dengan nada dingin. "Kamu tahu apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga kita kalau kamu membatalkan pertunangan begitu saja?""Aku tahu Papa," Raymond mengangguk. "Tapi aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Itu tidak adil untuk Rara. Dan juga tidak adil untukku."Erik yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya angkat bicara. "Jadi selama ini kamu dan Dara..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi semua orang sudah mengerti maksudnya.Dara yang mendengar semua itu hanya bisa menangis dalam diam. Tubuhnya gemetar hebat. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Semua yang dia takutkan terjadi.Dia melirik ke arah Rara yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada air mata di wajah sahabatnya itu. Hanya keheningan yang mencekam.Dengan langkah gontai, Dara menghampiri Rara dan berlutut

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kamu Tahu Apa Yang Telah Kamu Lakukan!

    Rara mencoba mencairkan suasana, meski dia tahu Raymond akan mengatakan yang sebenarnya. Suasana di ruang tamu rumah Erik masih terasa mencekam. Raymond berdiri dengan napas tersengal, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Semua mata tertuju padanya, menunggu kelanjutan kalimat yang terhenti di tengah."Karena aku..." Raymond menarik napas panjang, tangannya terkepal erat di sisi tubuh.Tepat saat itu, pintu rumah terbuka dengan bunyi yang cukup keras. Langkah kaki terdengar mendekat, membuat semua orang menoleh ke arah pintu ruang tamu.Dara dan Reyhan muncul di ambang pintu.Wajah Dara terlihat pucat, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis. Sementara Reyhan berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar namun tatapannya tajam tertuju pada Raymond."Maaf kami datang terlambat," ucap Reyhan sambil tersenyum tipis. Tangannya merangkul pinggang Dara dengan posesif. "Tadi ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."Raymond merasakan dadanya seolah ditikam melihat p

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Karena Aku....

    Bandara internasional dipenuhi hiruk pikuk orang-orang yang datang dan pergi. Suara pengumuman penerbangan bergema di seluruh ruangan, bercampur dengan obrolan para penumpang dan suara roda koper yang bergesekan dengan lantai.Di area kedatangan, keluarga besar Raymond dan keluarga besar Rara sudah berkumpul sejak setengah jam yang lalu. Rania dan Angga berdiri paling depan, sesekali melirik jam tangan mereka dengan wajah tak sabar. Di belakang mereka ada Erik dan Citra. Rara berdiri agak ke samping, wajahnya terlihat pucat meski sudah diberi sedikit riasan."Pesawatnya sudah mendarat," ucap Angga sambil mengecek ponselnya. "Raymond sebentar lagi keluar."Rania mengangguk antusias. "Akhirnya dia pulang juga. Sudah lama sekali dia di Inggris.""Sayang, Dara dan keluarganya tidak datang." "David dan Laura masih ada urusan," jawab Erik. "Jadi mereka tidak bisa ikut menjemput."Rara mendengar percakapan itu dengan hati yang mencelos. Dara memang tidak ikut. Sejak kemarin, sahabatnya itu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status