Share

Siapakah Wanita itu?

Auteur: CitraAurora
last update Dernière mise à jour: 2025-09-10 08:31:22

Apa sebenarnya yang ingin David tunjukkan padanya? Kenapa harus ke kantor?

Tepat pukul sebelas siang, Laura datang ke kantor, tanpa lapor ke resepsionis wanita itu langsung saja naik ke atas.

Setibanya di lantai paling atas gedung perkantoran Laura menjadi bingung pasalnya di depannya kini ada dua ruang CEO, entah dimana ruangan milik David.

“Ruangan Paman yang sebelah mana?” Kepalanya menoleh kiri dan kanan menerka-nerka.

Hingga salah satu ruangan itu terbuka, seseorang baru saja keluar dari dalam.

Sekilas dia melihat David, lalu wanita itu melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Paman.” Suara lembutnya mencuat yang diiringi langkah menuju meja kerja sang Paman.

“Aku kira kamu tidak datang.” David bangkit dari kursi kebesarannya, mengajak Laura untuk duduk di sofa.

Netra wanita itu memutar, ruangan David sangat estetik. Siapa yang mendesainnya?

“Apa yang ingin kamu tunjukkan paman?” Tanya Laura.

Tatapannya mengarah ke David yang kini duduk di sampingnya.

“Santai Sayang, sebentar lagi pertunjukannya akan dimulai.” Tangan David menaikkan dagu Laura, sambil tersenyum licik.

Tak suka dengan sikap David, Laura segera membuang tangan pamannya dengan kasar.“Jaga sikap Anda Paman!” Dadanya masih saja bergejolak tiap David menyentuhnya meskipun dia beberapa kali terbuai dengan permainan ranjang pamannya itu.

“Baiklah baiklah.” Pria itu menurut.

Tak ada obrolan berarti di antara keduanya hingga David melihat alat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah waktunya.” Dia bangkit.

Pria itu berjalan dan membuka tirai, “Kemarilah Laura dan lihatlah.” Titannya.

Perlahan Laura bangkit dan berjalan mendekat, dia semakin bingung, kenapa dari ruangan David bisa melihat ruangan Rendra?

“Kamu memasang cermin dua arah?” Laura terkejut, apa sebenarnya motif David hingga diam-diam mengintai suaminya?

“Exactly.” David tersenyum.

"Kenapa kamu bersikap seperti ini kepada keponakanmu sendiri Paman! hal ini kurang pantas!" Bibir Laura terus memaki David.

Mereka terlibat perberdebatan yang cukup serius, Laura merasa David memiliki niat buruk terhadap suaminya.

Hingga terlihat Monica masuk ke dalam ruangan Rendra.

"Lihatlah." Pria itu kembali memberikan perintah mengurai perdebatan mereka.

Laura memberengut kesal, apanya yang dilihat? Monica adalah sekretaris Rendra, jadi wajar datang ke ruangan atasannya.

"Kamu menyuruhku kesini hanya untuk melihat obrolan Monica dan Mas Rendra Paman?"

Wanita itu menghela nafas dalam-dalam, dadanya kembali bergejolak hebat. Tatapan tajamnya kini mengarah pada sang Paman yang terlihat menikmati pemandangan ruang sebelah.

Tak tahan lagi Laura memutuskan untuk pulang saja.

“Belum! tetaplah di tempatmu.” David menarik tangan Laura yang sudah ancang-ancang ingin pergi.

Benar saja, mereka yang awalnya ngobrol biasa kini mulai melakukan hal yang lebih berani.

Monica pindah duduk ke pangkuan Rendra sementara pria itu dengan nakal malah menenggelankan wajah ke dada sekertarisnya yang sedikit bahenol itu.

“Lihatlah kelakuan suami kamu Laura.” Bisik David.

Wanita itu sangat terkejut, dia tak menyangka jika Rendra tega mengkhianatinya.

Air matanya merembes keluar, meski hatinya sakit tapi dia juga tidak ingin melewatkan pertunjukan suaminya.

Air mata Laura tak berhenti menetes, setelah Rendra dan Monica terlihat bermain cinta-cintaan di atas meja kerja.

“Tega kamu Mas.” Sambil terisak.

Melihat istri keponakannya David tak tega, Rendra memang bajingan, bermodalkan kata cinta membuat seorang Laura terjerat cinta palsunya.

David menutup kembali tirai itu, kemudian membawa Laura dalam pelukannya.

Dia tidak memiliki tujuan lain selain ingin membuka mata Laura agar sadar siapa Rendra sebenarnya.

“Air matamu terlalu mahal untuk pria seperti Rendra Laura.” Tangannya tergerak menghapus air mata Laura.

Wanita itu tersenyum getir, kemudian mendongakkan kepala menatap David.

“Kamu betul Paman.”

Sakit hati dikhianati membuat Laura tak kuasa, dia ingin melampiaskan amarahnya dengan melakukan hal yang sama dengan David.

Di ruangan sebelah Rendra dan Monica sudah menuntaskan percintaan mereka sementara David dan Laura akan memulai percintaan mereka.

Rasa nikmat membuat mereka lupa jika tengah berada di kantor.

“Terus Paman.” Merengek meminta David untuk memompanya lebih cepat.

Suara desahan menggema setelah sama-sama mendapatkan pelepasan.

“Tak kusangka kamu ganas juga Laura.” Kata David setelah menuntaskan hasrat mereka.

“Maaf Paman, aku terbawa emosi.” Sahut Laura malu.

“Aku malah senang.” David merapikan pakaiannya, begitu pula dengan Laura.

Wanita itu kembali terdiam, mungkin rasa sakit yang sempat teralihkan mencuat kembali. Air matanya menetes, selama ini dia sangat mencintai suaminya tapi pria itu malah mengkhianati ketulusannya.

Tak tega, David membawa Laura ke dalam pelukannya kembali.

Bersamaan Rendra masuk untuk mengantar laporan, dia sangat terkejut melihat pamannya memeluk seorang wanita.

“Paman.” Rendra memanggil David.

Laura sangat gugup dia takut kalau sang suami tahu keberadaannya.

“Paman sembunyikan aku.” Bisiknya memohon.

“Baik tapi tidak gratis.” Sahutnya.

Laura semakin gugup saat Rendra berjalan mendekat ke sofa.

“Baiklah.” Laura tak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan pamannya.

Senyuman licik terukir di wajah David, kemudian pria itu meminta keponakannya untuk berhenti.

“Jangan mendekat, kamu menakuti kekasihku.” Titahnya.

Seketika Rendra berhenti sementara Laura menenggelamkan wajahnya di bidang datar sang paman.

“Letakkan di meja lalu keluarlah!” David kembali memberikan titah.

Rendra meletakkan laporannya, tapi tidak segera keluar, dia mencoba mencari tahu siapa kekasih David.

“Paman ada yang ingin aku bicarakan.” Dia sungguh penasaran dengan wanita yang kini dipeluk pamannya sehingga mencari alasan.

Selama ini David begitu bersih, bahkan saat sekolah dulu dia tidak pernah dekat dengan makhluk yang namanya wanita. Satu-satunya wanita yang David cintai tak mungkin tergapai tapi kini tiba-tiba ada wanita dalam pelukannya.

Siapakah dia?

“Aku bilang keluar! Nanti bicarakan di rumah!” Suara bariton David menggema.

Rendra tersentak dan buru-buru keluar.

Di depan pintu pria itu masih menatap pamannya heran, rasa penasarannya begitu besar.

“Sejak kapan dia tertarik dengan wanita lain?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (4)
goodnovel comment avatar
semi ati
ternyata David sudah lama tahu kelakuan Rendra
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waw rendra selingkuh duluan bagus mending laura sm david keren
goodnovel comment avatar
CitraAurora
makasih ka
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Bahagia

    "Dara," David menatap putrinya. "Papa tahu kamu pasti merasa berat harus jauh dari rumah. Tapi Papa bangga dengan pilihanmu. Kamu berani mengambil tantangan, berani keluar dari zona nyaman, dan yang paling penting, kamu punya suami yang sangat mencintai dan menjaga kamu dengan baik."Dara mengusap air matanya yang mulai menetes."Raymond," David beralih menatap menantunya. "Terima kasih sudah jaga Dara dengan baik. Papa percaya penuh sama kamu.""Terima kasih Pa," Raymond mengangguk sambil menggenggam tangan Dara."Erik," David menatap kakak iparnya. "Terima kasih sudah selalu support keluarga kami. Kamu seperti kakak sendiri buat aku.""Sama-sama," Erik tersenyum."Dan untuk semua yang ada disini," David mengangkat gelasnya lebih tinggi. "Mari kita bersyukur karena kita bisa berkumpul seperti ini. Kesehatan, kebahagiaan, dan cinta untuk kita semua. Cheers!""Cheers!" semua orang kompak mengangkat gelas mereka.Ting!Mereka makan dengan lahap sambil terus mengobrol dan tertawa. Suasan

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Im Back

    Baik! Saya akan lanjutkan dan tutup cerita dengan adegan mereka berkumpul dan bahagia semua. Berikut BAB PENUTUP:BAB PENUTUP - PULANG KE RUMAHSetelah perjalanan panjang 14 jam, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dara yang sudah tidak sabar langsung berdiri begitu pesawat berhenti, meski pengumuman untuk tetap duduk masih terdengar."Sayang, duduk dulu," Raymond menarik Dara untuk duduk kembali. "Tunggu sampai boleh turun.""Aku tidak sabar Mas," Dara gelisah. "Mama Papa sudah nungguin.""Iya, tapi tetap harus sabar," Raymond tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil.Begitu diperbolehkan turun, Dara langsung mengambil tas dan berjalan cepat keluar pesawat. Raymond mengikuti di belakang sambil tertawa melihat istrinya yang sangat bersemangat.Di area kedatangan internasional, Laura dan David sudah menunggu dengan wajah excited. Di samping mereka, Erik, Citra, Rara, dan Reyhan juga ikut datang menjemput."Disana!" Laura menunjuk begitu melih

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Akhirnya Aku Pulang

    Perjalanan pulang ke apartemen sangat sunyi. Dara duduk di kursi depan sambil menatap keluar jendela dengan mata kosong.Raymond sesekali melirik Dara dengan khawatir. Istrinya bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun sejak tadi.Sesampainya di apartemen, Dara langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di ranjang. Dia menatap langit-langit dengan kosong.Raymond duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut Dara."Sayang," Raymond bersuara lembut. "Kamu baik-baik saja?""Aku tidak tahu Mas," Dara menjawab dengan suara pelan. "Aku merasa kosong.""Aku tahu ini berat buat kamu," Raymond berbaring di samping Dara. "Tapi kamu harus kuat.""Aku lelah harus kuat terus Mas," Dara akhirnya menangis lagi. "Aku kangen Mama Papa. Aku kangen Rara. Aku kangen rumah."Raymond memeluk Dara dan membiarkan istrinya menangis di pelukannya. Hatinya terasa sakit melihat Dara seperti ini.Hari-hari berikutnya, Dara terlihat sangat lesu. Dia kuliah tapi tidak semangat. Dia makan tapi tidak nafsu. Dia tersenyu

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Pulang

    Dua minggu setelah kepulangan keluarga Erik, tiba giliran Laura dan David yang harus kembali ke Indonesia. Mereka sudah di London selama hampir sebulan, dan sudah waktunya untuk pulang.Pagi itu, suasana di apartemen Raymond sangat hening. Laura sibuk mengemas barang-barangnya di kamar tamu dengan wajah yang terlihat sedih. David membantu merapikan koper sambil sesekali menghela nafas panjang.Dara duduk di pinggir ranjang sambil menatap Mama dan Papanya dengan mata yang berkaca-kaca."Ma," Dara bersuara dengan parau. "Mama yakin harus pulang hari ini?"Laura berhenti mengemas dan menatap putrinya. Dia langsung memeluk Dara dengan erat."Iya sayang," Laura menjawab dengan suara bergetar. "Mama dan Papa sudah hampir sebulan disini. Pekerjaan Papa menumpuk di Jakarta. Kita harus pulang.""Tapi," Dara menangis di pelukan Laura. "Aku belum siap ditinggal sendirian.""Kamu tidak sendirian sayang," David ikut mengelus punggung Dara. "Kamu ada Raymond.""Tapi beda Pa," Dara menggeleng. "Aku

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku Bisa

    "Good morning," sapanya dengan nada dingin."Good morning Dr. Anderson," semua mahasiswa menjawab serentak dengan suara lemah.Dr. Anderson menatap keliling kelas dengan tatapan yang membuat semua orang tidak nyaman. Dia pria paruh baya, tinggi, dengan kacamata berbingkai hitam. Wajahnya tegas dan terlihat sangat serius."Tugas yang saya berikan minggu lalu," Dr. Anderson mulai. "Harus dikumpulkan minggu depan. Tidak ada toleransi untuk terlambat. Kalau terlambat satu menit saja, nilai otomatis E."Semua mahasiswa menelan ludah."Dan," Dr. Anderson melanjutkan. "Saya tidak terima excuse apapun. Sakit, kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia, tetap harus mengumpulkan tugas tepat waktu.""Meninggal dunia juga harus ngumpulin?" bisik Emma ke Dara."Kayaknya iya," bisik Dara balik sambil menahan tawa."Miss Dara," Dr. Anderson tiba-tiba memanggil.Dara langsung tegak di kursinya. "Yes, Dr. Anderson?""Apakah ada yang lucu?" tanya Dr. Anderson dengan nada datar."N-No sir," Dara tergagap.

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Dosen Killer

    Seminggu setelah kepulangan keluarga Erik, kehidupan Dara kembali normal. Kuliah, tugas, dan rutinitas sehari-hari kembali mengisi hari-harinya. Laura dan David masih tinggal di apartemen, menemani Dara selama mereka di London.Pagi itu, Dara bangun dengan wajah yang sudah cemberut. Raymond yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya."Sayang, kenapa? Bangun tidur sudah cemberut begitu," Raymond duduk di tepi ranjang."Aku tidak mau kuliah," Dara menarik selimut menutupi kepalanya."Loh, kenapa?" Raymond menarik selimut Dara. "Biasanya kamu excited kalau mau kuliah.""Itu dulu," Dara keluar dari selimut dengan wajah kesal. "Sekarang aku punya dosen baru. Dosen killer!""Dosen killer?" Raymond menahan tawa. "Masa sih sekiller itu?""Mas tidak tahu!" Dara bangkit dari tidur dengan semangat protes. "Kemarin hari pertama dia ngajar, dia langsung kasih tugas lima! LIMA MAS! Untuk dikumpulkan minggu depan!""Lima tugas?" Raymond kali ini tidak b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status