로그인“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
Rani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka
Rani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd
“Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka
Rani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep
Bunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak
Rani memandang pintu gudang dengan dada berdebar. Dibalik pintu itu, ada Bima yang sedang mengamuk. Entah apa yang terjadi. Rani yang masih mengantuk lantas memilih untuk membuka pintunya.Meski ia menahan nafasnya, ia sudah memutuskan untuk menerima segala apapun di balik itu semua.Begitu pintu d
Rani menyalakan saklar lampu gudang dan melihat sekitarnya. Terlihat lantai berdebu dan sarang laba-laba sebagai penanda betapa jarangnya manusia memasuki tempat itu.Ia bisa melihat debu dan kotoran yang tersumbat, tanda tempat itu nyaris tak pernah dibersihkan. Rani teringat betapa gila kebersiha
Rani memandang Tante Laras dengan canggung. Belum sempat berkata apa pun, ia sudah tahu arah pembicaraan ini akan ke mana. Tatapan perempuan paruh baya itu seperti pisau yang menguliti dari ujung kaki sampai kepala. Terlihat tajam dan meneliti tanpa empati.“Belum, Tante,” jawab Rani akhirnya, suar
"Fabio ...," lirih ibu Fabio, memandang putranya dengan lemas. Suaranya terdengar jernih meskipun separuh tubuhnya mati. Rani dan Fabio melepaskan ciuman mereka dengan terkejut. Dada keduanya berdebar kencang karena ketakutan. Rani memeluk dadanya kaget karena mengira Bima atau Jihan yang memang







