Share

BAB 5

Penulis: Mochiko
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 20:02:35

“GABRIEL!” Laura berteriak histeris, berusaha berlari menghampiri tunangannya, tetapi Madam Simone menahan tubuhnya dengan tangis ketakutan.

Gabriel terjatuh, lutut kanannya menghantam tanah, sementara tangan kirinya menekan luka yang mengucurkan darah. Napasnya jadi terasa memburu, tetapi tatapannya tetap penuh perlawanan mengarah pada Lucien.

“La—Laura, jangan mendekat!” seru Madam Simone dengan suara yang bergetar.

“Tetapi Gabriel terluka, Bu!” jawabnya.

“Ibu tahu, tapi lelaki itu … berbahaya!”

Lucien mulai melangkah maju dengan tenang, pistol berwarna hitam legam masih tergenggam di tangan kanannya. Mata dinginnya tak pernah lepas dari Gabriel yang kini berlutut di hadapannya.

“Melihatmu berlutut seperti ini membuatku bahagia,” ujar Lucien dengan suara rendah dan tajam.

“Karena pria yang katanya menjadi tunangan Laura … kini tunduk di kakiku.”

“Pengecut!” seru Gabriel dengan nada penuh amarah, meski suaranya terdengar melemah akibat rasa sakit di lututnya.

“Hanya pria lemah yang menggunakan senjata untuk menundukkan lawannya!”

Lucien menyeringai tipis mendengar ocehan yang sungguh berani ke luar dari mulut Gabriel, lalu berjongkok di depan Gabriel sambil mengamati wajahnya dengan tatapan merendahkan.

“Dan hanya pria bodoh yang berpikir bisa melindungi Laura dariku,” balas Lucien dingin.

Laura tak mampu lagi menahan diri. Ia meronta dari pelukan Ibunya dan berlari mendekati Gabriel, jatuh berlutut di sampingnya sambil menangis memperhatikan lututnya yang terluka.

“Apa kau pikir perlakuanmu ini akan membuatku mencintaimu?” jerit Laura, air matanya bercucuran.

Lucien mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, lalu berdiri tegak sambil memutar-mutar pistol di tangannya.

“Aku tidak butuh cintamu, Laura. Aku hanya butuh kau berada di sisiku, dengan atau tanpa perasaanmu … kau akan menjadi milikku.”

Madam Simone mendekat, memohon dengan air mata yang tak terbendung. Ia tahu kalau dibiarkan terus-menerus akan membuat siapa pun bisa terluka.

“Lucien, saya mohon. Jika kau memiliki hati, tolong pergi dari sini.”

Lucien menatap Madam Simone dengan tatapan yang tak bisa dibaca, lalu memalingkan wajahnya ke arah bawahannya sekilas, lalu mereka semua tertawa sinis.

“Sayangnya, saya tidak punya hati untuk kubagi selain Laura,” katanya.

Laura yang mendengar ucapan Lucien seperti itu mulai menyatukan kedua tangannya di hadapan Lucien. Kali ini ia yang memohon agar Lucien segera pergi dari area rumahnya.

“Kalau begitu biarkan saya yang akan meminta. Tolong tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali lagi.”

Lucien kini berlutut dengan satu kaki, lalu menaikkan dagu Laura, “Jangan memohon seperti itu dengan wajah manismu, Laura.”

“Baiklah, aku akan pergi dari sini,” ucap Lucien dingin karena tak sanggup melihat air mata Laura yang menetes, suaranya nyaris tanpa emosi.

“Tapi ingat baik-baik, Laura. Semakin kau menolakku, semakin banyak orang di sekitarmu yang akan menderita!”

Laura menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, tetapi ia tahu tidak ada gunanya melawan sekarang.

Gabriel yang terluka adalah prioritas utamanya supaya Lucien segera pergi dan tak melukainya lagi.

Lucien bangkit dan berjalan menjauh, tetapi sebelum masuk ke dalam mobilnya, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Laura.

“Jangan pernah membuatku menunggu terlalu lama. Aku bisa sangat … tidak sabar.”

Kemudian, Lucien masuk ke mobilnya, dan dalam sekejap, iring-iringan kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan Laura yang masih menangis di samping Gabriel yang berjuang menahan rasa sakit.

“Ki—Kita harus segera membawa Gabriel ke rumah sakit, Laura,” ucap Madam Gabriel.

“Iya, Bu. Laura akan menghubungi ambulans lebih dulu,” jawabnya.

Tak lama kemudian ambulans pun datang untuk membawa Gabriel pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Laura tak henti-hentinya menangis karena ia merasa menyesal sudah menolong Lucien.

Ibu jari Gabriel mulai mengusap air mata Laura, “Jangan menangis terus seperti itu, aku tak sanggup melihat air matamu jatuh, Laura.”

“Maafkan aku, Gabriel. Gara-gara aku … kau jadi terluka seperti ini.”

Gabriel menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak punya salah apa pun, karena yang salah itu pria tadi. Dia benar-benar sangat gila!” kata Gabriel.

Laura menggenggam tangan Gabriel dengan sesekali mengecup tangan kekarnya itu. Ia sangat mencintai pria ini, karena sebelum meninggal dunia, Ayahnya sempat berpesan supaya Laura menikah dengan Gabriel yang sangat ia percaya.

“Kau benar, Gabriel. Lucien memang sangat gila, tak hanya pernah membunuh suamiku, dia juga ingin merebut Laura dariku,” kata Madam Simone yang berdiri di sebelah Laura.

“Merebut? Maksudnya merebut bagaimana, Bu?” tanya Gabriel mengerutkan keningnya.

“Dia ingin menikahi Laura.”

“Aku tidak akan membiarkan Laura dimiliki oleh pria bajingan sepertinya, Bu, apalagi dia pernah membunuh Ayah Laura,” jawab Gabriel.

“Sebaiknya kalian berdua bergegas untuk menikah, sebelum dia datang kembali dan mengambil Laura dengan cara paksa.”

Laura dan Gabriel saling pandang mendengar pernyataan yang diucap Madam Simone. Ekspresi wajahnya terlihat jelas kalau wanita paruh baya itu sudah sangat putus asa.

“Kamu nggak masalah kan menikahi anak Ibu besok?” tanya Madam Simone.

“Saya sanggup,” jawab Gabriel.

Keesokan harinya, Laura berdiri di depan cermin ruang rias, mengenakan gaun putih sederhana yang dipinjamkan oleh pihak gereja. Gaun itu tidak mewah, namun cukup membuatnya cantik.

“Laura, kau cantik sekali,” ujar Madam Simone dari belakangnya.

Laura mencoba tersenyum, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang menggelayuti hatinya.

“Bu, aku takut. Bagaimana jika dia datang lagi?”

Madam Simone menggenggam tangan Laura erat.

“Gabriel sudah mengatur pengamanan di sekitar sini. Fokuslah pada pernikahanmu. Ini adalah hari yang seharusnya menjadi awal yang baru untukmu.”

Sementara itu, di ruang lain, Gabriel duduk dengan mengenakan setelan jas hitam. Lututnya yang terluka diperban dengan hati-hati, namun ia tetap berdiri dengan tegar meski rasa sakit masih menyiksa.

Pukul 11:00 siang, di altar pernikahan.

Kapel kecil itu dipenuhi keheningan yang hanya dipecahkan oleh langkah lembut sosok Laura yang mulai menuju altar. Gabriel berdiri di ujung, menatap calon istrinya dengan senyum tipis.

Laura melangkah dengan hati-hati, menggenggam buket bunga putih yang dipetik dari kebun belakang gereja.

Di altar, Gabriel mengulurkan tangannya, menyambut Laura dengan manis, yang membuat Laura merasa sedikit tenang.

“Laura? Hari ini aku bersumpah akan selalu melindungimu. Tidak ada yang akan memisahkan kita.”

Mata Laura berkaca-kaca, “Aku percaya padamu, Gabriel.”

Pastor mulai melafalkan upacara pernikahan, memimpin doa, dan mengajukan pertanyaan penting pada kedua mempelai.

“Laura, apa kau bersedia menerima Gabriel sebagai suami dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?”

Laura mengangguk mantap. “Aku bersedia.”

Dan ketika giliran Gabriel, ia menjawab dengan suara lantang, “Aku bersedia!”

Namun, sebelum cincin pernikahan sempat disematkan, suara langkah kaki yang begitu berisik sampai pintu gereja dibuka dengan kasar pun menggema.

Mochiko

Jika suka novel ini, mohon untuk masukkan ke daftar pustaka, ya! Jangan lupa follow akun GoodNovel author!

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 21

    Anneliese dan Laura serentak menoleh secara perlahan. Sementara para anak buah Lucien yang berdiri di dekat gerbang langsung menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat.Sosok seorang wanita tua yang berdiri itu melangkah dengan anggun, mengenakan gaun hitam berkelas dengan tongkat yang berukiran naga emas di tangan kanannya.“Siapa wanita itu? Kenapa semua orang terlihat sangat menghormatinya?” batin Laura, sangat penasaran.Sorot matanya tampak tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsanya. Dialah Elda Deveraux, nenek Lucien—sosok yang bahkan lebih ditakuti di keluarga Deveraux.Laura tetap berusaha untuk berdiri tegak, tidak ingin menunjukkan sedikit pun rasa takutnya, meskipun berkali-kali ia terlihat menelan salivanya susah payah, sambil tetap menatap lurus ke arah wanita itu.Elda mengangkat satu alisnya usai memperhatikan seluruh tubuh Laura, mulai dari bawah sampai atas, lalu tersenyum lembut di hadapan semua orang. Bahkan Lucien dan kedua orang tuanya yang sedang berd

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 20

    Anneliese menoleh dengan depat pada Sofia, ingin memastikan kebenarannya, karena kalau benar begitu, sama saja telah merendahkannya sebagai pewaris kedua keluarga Moretti.“Katakan padaku, Bu Sofia. Kenapa anak lelakimu berkata seperti itu?”“Kau … jangan khawatir, Anne,” jawab Sofia dengan mimik wajah begitu gugup, sesekali melirik ke arah Lucien yang terlihat menatap lekat-lekat wajah cantik Laura.Dalam sekejap Sofia segera menggenggam tangan Lucien, lalu mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi untuk membicarakan sesuatu.PLAK!Tamparan keras mendarat ke pipi kiri Lucien, tapi Lucien tidak peduli dengan semua itu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya dalam keadaan genting seperti ini.“Kau sudah bodoh, ya?” ujar Sofia.“Seharusnya kau tidak berkata seperti itu di hadapan Sofia, Lu!”“Kenapa? Ibu takut keluarga Moretti akan menyerang keluarga Deveraux?” jawab Lucien yang terdengar seperti menantang ibunya karena tak takut sedikit pun.“Anne itu anak satu-satunya kelu

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 19

    Suasana di halaman rumah langsung berubah mencekam usai mendengar pengakuan Laura yang sungguh berani, seolah kata-katanya menantang mautnya sendiri.“Apa yang baru saja kau katakan?” Suara Sofia terdengar tajam, seperti bilah pisau yang siap menggorok siapa saja yang berani melawan kehendaknya.Laura hanya terdiam, tapi bukan berarti ia akan takut dengan siapa berbicara. Mata cokelatnya bersinar dengan keberanian yang tak tergoyahkan.“Saya bilang, saya adalah anak dari kepala divisi investigasi kriminal … yang putra Anda bunuh.”Dalam sekejap suasana di sana langsung hening lagi, sebelum pada akhirnya suara Alessandro Devereaux bergemuruh dengan kemarahan yang tak tertahan usai menatap tajam putranya sendiri.“Kau … kenapa tidak mengatakan padaku siapa sebenarnya gadis jalang ini, Lucien?”“Bukankah kau yang mengajaknya bersamaku pulang ke rumah?” jawab balik Lucien yang membuat Alessandro geram.“Selain keluarga Deveraux dilarang masuk ke kawasan ini, kecuali jika dia memang diundan

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 18

    Kembali ke masa kini, tepatnya tiga tahun kemudian di Hotel Bellagio saat tengah malam. Laura yang gagal kabur itu hanya bisa berdiri membisu di hadapan Lucien yang sudah kehilangan kesabarannya.“Kecelakaan 3 tahun lalu … membuatku berpikir kau sudah tewas, tapi lihatlah dirimu sekarang? Kau … baik-baik saja.”“Apa kau tau, Tuan Lucien? Hidupku sangat menderita ketika aku menghindar darimu selama 3 tahun ini,” kata Laura dengan mata yang berkaca-kaca.“KAU BAHKAN MEMBUNUH … GABRIEL!”Tangannya memukul bertubi-tubi dada bidang Lucien karena lelaki yang paling ia cintai sudah tiada di dunia ini, dan semua itu karena keegoisan Lucien!Pria itu melangkah mendekat, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap mengiris ketenangan jiwa siapa pun yang menentangnya.“Kau berani menghilang selama tiga tahun dan sekarang berbicara seolah kau adalah korban?” Suaranya terdengar agak serak.“Kau tau berapa banyak orang yang telah kuhancurkan hanya untuk menemukanmu di kota ini?”Laura menggigit bibi

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 17

    “Cepat pakaikan dia gaun pengantin!”Tubuh Laura yang dilempar ke dua Pelayan di mansion seketika terkejut. Baru saja ia sampai tapi kenapa Lucien justru menyuruhnya memakai gaun pengantin?“Tu–tuan? Bukankah pernikahan Anda dilaksanakan besok?” tanya Bianca.Hanya ditatap sinis dari samping, Bianca langsung merinding sambil memainkan jari jemarinya. Sedangkan Laura langsung berdiri tegap dan mendekat ke Lucien.“Jangan memaksaku untuk menikahimu, pria sialan!” ucap Laura.“Apa kau tidak mendengarku? Segera dandani dia dan pakaian gaun pengantin!” bentaknya pada Bianca sampai terkejut.Sementara itu, Laura yang diabaikan oleh Lucien hanya bisa menggelengkan kepalanya memohon pada Bianca. Meskipun semua usahanya itu sia-sia mengingat Bianca terlihat ketakutan.Tubuh Laura segera dibawanya masuk ke dalam rumah. Bianca juga memanggil Pelayan baru bernama Alana yang jago dalam merias wajah.Bianca pun menyuruh Laura agar duduk di kursi meja rias, lalu Alana mulai merias wajahnya dengan per

  • Hasrat Membara Penguasa Kejam   BAB 16

    Tepuk tangan itu terdengar lambat, tapi bergema di dalam ruangan rumah sakit yang tadinya dipenuhi perdebatan dan air mata akan tindakan egois Bu Kamilia.Semua mata kini beralih ke arah pintu masuk, di mana Lucien sudah berdiri di sana dengan jas hitamnya yang sempurna.“Lucien? Bagaimana bisa dia datang kemari?” batin Gabriel.Mata tajamnya menyorot tajam dalam ruangan yang hanya diterangi lampu-lampu rumah sakit.Senyum sinis mulai menghiasi wajahnya saat matanya bertatapan dengan Laura, seolah-olah dia menikmati pertemuannya lagi.“Sungguh pertemuan yang mengharukan.”“Benar kan, kucing nakal?”Suaranya sangat tenang, tapi ada nada bahaya yang terselip di dalamnya.Tubuh Madam Simone Pun menegang melihat sosok Lucien yang datang. Ia segera mendekat dan berdiri di depan Laura, melindungi putrinya. Gabriel yang meskipun tubuhnya masih lemah, berusaha bangkit dari ranjangnya, tapi Lucien hanya meliriknya sekilas, seakan-akan dia bukan ancaman sama sekali.“Apa yang kau lakukan di sin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status