LOGINLucien menyeringai kecil, bibirnya yang masih terasa panas setelah tamparan Laura kini melengkung, karena baru kali ini ada gadis yang sungguh berani padanya.
Dengan gerakan cepat yang membuat Laura tak sempat bereaksi, ia menarik pinggang gadis itu untuk lebih dekat ke dada bidangnya, hingga napas mereka saling beradu dengan bibir yang hampir saja saling sentuh.
“Le—Lepaskan tanganmu!” seru Laura, mencoba melawan, tetapi tangan kuat pria itu justru semakin kuat mencengkeram pinggangnya, membuatnya tak bisa bergerak.
“Kenapa harus dilepas?” bisik Lucien, suaranya dalam dan menggoda.
Saat suaranya yang dalam ketika masuk ke kedua telinga Laura, seketika membuat sekujur tubuh Laura merinding.
“Kau sudah menyelamatkanku malam ini. Jadi, biarkan aku berhak sedikit menikmati … bibirmu.”
“Sebagai tanda terima kasihku,” sambung Lucien dengan lirikan mata yang tak bisa lepas dari bibir ranum dan mata indah Laura yang ditatapnya secara bergantian.
Tanpa memberi waktu untuk Laura menjawab, bibirnya kembali menyentuh bibir Laura dengan intensitas yang lebih mendominasi.
Laura yang tidak suka diperlakukan seperti itu langsung meronta sekuat tenaga. Tangannya mencoba mendorong dada Lucien yang kokoh, tetapi cengkeraman pria itu tak goyah sedikit pun.
Laura akhirnya menggigit bibir Lucien dengan keras, memaksa pria itu untuk melepaskan ciumannya.
Napasnya jadi tersengal saat ia berbicara dengan nada penuh amarah dan ketakutan usai ciuman mereka terlepas.
“Berengsek! Apa seperti ini caramu untuk membalas budi?” tanya Laura geram.
“Lepaskan! Aku harus pulang, atau aku akan berteriak supaya kau dihajar massa oleh penduduk sini!” ancam Laura, suaranya nyaring, namun matanya mulai basah.
Sayangnya, ancaman itu hanya membuat Lucien tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin dan penuh keangkuhan.
Ia menatap wajah Laura dengan mata abu-abunya yang dingin, juga tangan kirinya dengan berani mengusap lembut pipi Laura.
“Berteriaklah,” tantang Lucien.
“Kau pikir aku takut? Orang-orang yang seharusnya kau panggil untuk menolongmu, justru lebih takut padaku daripada mendengarkan suaramu,” jelasnya dengan begitu tenang.
Tubuh Laura langsung membeku. Kata-kata Lucien seolah membelenggu pikirannya. Ia tahu pria ini pasti berbahaya, sangat berbahaya, dan entah bagaimana, ia merasa Lucien tidak sedang bercanda.
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Laura, Lucien melembutkan cengkeramannya.
Ia menyentuh dagu gadis itu dengan jari-jarinya, mengangkatnya perlahan agar mata mereka kembali bertemu.
“Katakan, siapa namanmu?” tanya Lucien sangat penasaran.
“La—Laura,” jawabnya spontan.
Bibir Lucien seketika menyeringai mendengar nama yang ke luar dari bibir merah muda alami milik gadis itu.
“Laura,” katanya, suaranya jauh lebih tenang dari sebelumnya, hampir seperti bisikan lembut.
“Aku tidak pernah memaksa sesuatu yang bukan milikku, tapi kau.…”
Lucien mendekat lagi, hingga jarak mereka hampir tak ada, namun kali ini ia tidak mencium bibir Laura, hanya sengaja membiarkan jarak antara wajah mereka benar-benar dekat.
“Kau sudah membuatku jatuh cinta sejak malam ini, dan akan kupastikan kau jadi milikku.”
Laura menatapnya dengan perasaan yang sudah campur aduk, antara emosi, takut, kesal. Tangannya mulai meremas pakaian Lucien dengan begitu kencang karena emosinya.
“Kalau kau jatuh cinta padaku, maka aku sebaliknya,” kata Laura.
“Aku … sangat membencimu!” imbuhnya dengan tegas.
Dengan satu gerakan cepat, ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Lucien, lalu melangkah mundur dengan napas yang masih tersengal.
“Jangan pernah dekati aku lagi!” ujarnya tajam, meskipun suaranya sedikit bergetar.
Lucien hanya menyeringai, sambil memandangi wajah cantik Laura dari bawah sana. Gadis ini memang sungguh telah mencuri hatinya, sampai-sampai matanya pun tak dapat berpaling.
“Kau mau ke mana, Laura?” tanyanya pelan.
“Pergi sejauh mungkin dari pria bajingan sepertimu!” jawabnya ketus.
“Kau boleh lari sejauh yang kau mau, sayang, tapi akan kupastikan kita bertemu lagi,” titah Lucien.
Laura menggigit bibir bawahnya, lalu berbalik dan berlari secepat yang ia bisa, meninggalkan pria itu sendirian dan tak peduli apa pun yang akan terjadi dengannya.
Lucien hanya bisa menatap punggung Laura dari jauh, sampai tak sadar tiga pria bawahannya mulai datang untuk membantunya bangkit.
“Tuan? Ada apa dengan perutmu, Tuan?” tanya salah satu bawahannya yang panik dengan kondisi Lucien yang begitu memprihatinkan.
“Aku tertembak….” Lucien menjawab dengan tak sadar kalau bibirnya tersenyum tipis, masih memandangi Laura yang sudah hilang dari pandangannya.
“Bukan di perut, tapi di sini.” Tangan kanan Lucien yang penuh darah itu menepuk dada kirinya pelan, seolah memberi isyarat bahwa jantungnya sudah tertembak oleh pesona Laura.
“Lu—Luka Anda cukup dalam, Tuan, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit!”
Lucien mengangguk, lalu berjalan sempoyongan ke dalam mobil hitam. Sesekali ia merintih kesakitan, tapi bayangan tentang Laura berhasil membuat rasa sakit itu hilang walaupun hanya sementara.
“Cari tahu identitas lengkap gadis yang menolongku tadi,” ujarnya.
“Aku hanya tahu nama panggilannya … Laura.”
“Baik, Tuan!” jawab mereka kompak.
Mobil hitamnya berlalu dengan kecepatan di atas rata-rata, mengingat kondisi Lucien yang harus segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Usai mendapatkan perawatan intensif, salah satu bawahannya yang sudah ditugaskan untuk mencari keberadaan Laura pun menghadap di depannya.
“Tuan? Saya sudah menemukan identitas gadis yang Anda minta.”
Sebuah berkas dengan map berwarna putih transparan langsung diserahkan ke Lucien yang menerimanya dengan ekspresi datar.
“Laura … Marchand?” ujarnya seolah nama belakangnya itu tak asing di benaknya.
“Tuan? Bukankah Marchand itu nama belakang orang yang Anda bunuh 5 tahun lalu?” ujar salah satu bawahannya.
Lucien yang masih terfokus pada berkas yang sedang ia baca langsung menyeringai penuh arti usai mendengar salah satu bawahannya berkata seperti itu.
“Siapkan mobil,” katanya, lalu memberikan berkas itu ke bawahannya yang lain.
“Tuan mau pergi ke mana? Kondisi Tuan masih—”
“Jangan banyak bicara! Cepat siapkan mobil untuk mendatangi rumah Laura.”
Lucien langsung bangkit secara perlahan, dan mulai berjalan ke luar dari ruang rawatnya dengan berusaha menahan nyeri yang teramat dalam di perutnya usai terkena tembak.
Sesampainya di halaman rumah Laura, dua mobil yang berisi bawahannya langsung berhenti, dan mereka pun turun sambil masing-masing membawa koper.
Sedangkan mobil ketiga yang berada di tengah diperintah untuk membunyikan klaksonnya, sampai membuat Laura dan Ibunya yang sedang berbincang di ruang tamu terkejut.
“La—Laura? Itu mobil siapa, Nak?” tanya Ibunya.
“Laura juga nggak tahu, Bu.”
Laura dan Ibunya pun bergegas pergi ke luar dari rumah. Melihat siapa yang turun dari mobil tengah dengan pakaian yang lumayan rapi dan tampak berwibawa, tidak membuat Laura terpesona, justru sebaliknya.
“Kenapa dia bisa tahu alamat rumahku?” batin Laura.
“Cepat masuk, Laura!” ucap Ibunya sangat panik.
Laura yang tidak mengerti kenapa Ibunya sampai sepanik ini pun mengerutkan kening. Tatapan Laura hanya tertuju pada mata Ibunya yang terlihat menyembunyikan sesuatu, membuat Laura hanya bisa mematung di sana.
Jika suka novel ini, mohon untuk masukkan ke daftar pustaka, ya! Jangan lupa follow akun GoodNovel author!
Anneliese dan Laura serentak menoleh secara perlahan. Sementara para anak buah Lucien yang berdiri di dekat gerbang langsung menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat. Sosok seorang wanita tua yang berdiri itu melangkah dengan anggun, mengenakan gaun hitam berkelas dengan tongkat yang berukiran naga emas di tangan kanannya. “Siapa wanita itu? Kenapa semua orang terlihat sangat menghormatinya?” batin Laura, sangat penasaran. Sorot matanya tampak tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsanya. Dialah Elda Deveraux, nenek Lucien—sosok yang bahkan lebih ditakuti di keluarga Deveraux. Laura tetap berusaha untuk berdiri tegak, tidak ingin menunjukkan sedikit pun rasa takutnya, meskipun berkali-kali ia terlihat menelan salivanya susah payah, sambil tetap menatap lurus ke arah wanita itu. Elda mengangkat satu alisnya usai memperhatikan seluruh tubuh Laura, mulai dari bawah sampai atas, lalu tersenyum lembut di hadapan semua orang. Bahkan Lucien dan kedua orang tuanya yang sedang
Anneliese menoleh dengan depat pada Sofia, ingin memastikan kebenarannya, karena kalau benar begitu, sama saja telah merendahkannya sebagai pewaris kedua keluarga Moretti.“Katakan padaku, Bu Sofia. Kenapa anak lelakimu berkata seperti itu?”“Kau … jangan khawatir, Anne,” jawab Sofia dengan mimik wajah begitu gugup, sesekali melirik ke arah Lucien yang terlihat menatap lekat-lekat wajah cantik Laura.Dalam sekejap Sofia segera menggenggam tangan Lucien, lalu mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi untuk membicarakan sesuatu.PLAK!Tamparan keras mendarat ke pipi kiri Lucien, tapi Lucien tidak peduli dengan semua itu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya dalam keadaan genting seperti ini.“Kau sudah bodoh, ya?” ujar Sofia.“Seharusnya kau tidak berkata seperti itu di hadapan Sofia, Lu!”“Kenapa? Ibu takut keluarga Moretti akan menyerang keluarga Deveraux?” jawab Lucien yang terdengar seperti menantang ibunya karena tak takut sedikit pun.“Anne itu anak satu-satunya kelu
Suasana di halaman rumah langsung berubah mencekam usai mendengar pengakuan Laura yang sungguh berani, seolah kata-katanya menantang mautnya sendiri.“Apa yang baru saja kau katakan?” Suara Sofia terdengar tajam, seperti bilah pisau yang siap menggorok siapa saja yang berani melawan kehendaknya.Laura hanya terdiam, tapi bukan berarti ia akan takut dengan siapa berbicara. Mata cokelatnya bersinar dengan keberanian yang tak tergoyahkan.“Saya bilang, saya adalah anak dari kepala divisi investigasi kriminal … yang putra Anda bunuh.”Dalam sekejap suasana di sana langsung hening lagi, sebelum pada akhirnya suara Alessandro Devereaux bergemuruh dengan kemarahan yang tak tertahan usai menatap tajam putranya sendiri.“Kau … kenapa tidak mengatakan padaku siapa sebenarnya gadis jalang ini, Lucien?”“Bukankah kau yang mengajaknya bersamaku pulang ke rumah?” jawab balik Lucien yang membuat Alessandro geram.“Selain keluarga Deveraux dilarang masuk ke kawasan ini, kecuali jika dia memang diundan
Kembali ke masa kini, tepatnya tiga tahun kemudian di Hotel Bellagio saat tengah malam. Laura yang gagal kabur itu hanya bisa berdiri membisu di hadapan Lucien yang sudah kehilangan kesabarannya.“Kecelakaan 3 tahun lalu … membuatku berpikir kau sudah tewas, tapi lihatlah dirimu sekarang? Kau … baik-baik saja.”“Apa kau tau, Tuan Lucien? Hidupku sangat menderita ketika aku menghindar darimu selama 3 tahun ini,” kata Laura dengan mata yang berkaca-kaca.“KAU BAHKAN MEMBUNUH … GABRIEL!”Tangannya memukul bertubi-tubi dada bidang Lucien karena lelaki yang paling ia cintai sudah tiada di dunia ini, dan semua itu karena keegoisan Lucien!Pria itu melangkah mendekat, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap mengiris ketenangan jiwa siapa pun yang menentangnya.“Kau berani menghilang selama tiga tahun dan sekarang berbicara seolah kau adalah korban?” Suaranya terdengar agak serak.“Kau tau berapa banyak orang yang telah kuhancurkan hanya untuk menemukanmu di kota ini?”Laura menggigit bibi
“Cepat pakaikan dia gaun pengantin!”Tubuh Laura yang dilempar ke dua Pelayan di mansion seketika terkejut. Baru saja ia sampai tapi kenapa Lucien justru menyuruhnya memakai gaun pengantin?“Tu–tuan? Bukankah pernikahan Anda dilaksanakan besok?” tanya Bianca.Hanya ditatap sinis dari samping, Bianca langsung merinding sambil memainkan jari jemarinya. Sedangkan Laura langsung berdiri tegap dan mendekat ke Lucien.“Jangan memaksaku untuk menikahimu, pria sialan!” ucap Laura.“Apa kau tidak mendengarku? Segera dandani dia dan pakaian gaun pengantin!” bentaknya pada Bianca sampai terkejut.Sementara itu, Laura yang diabaikan oleh Lucien hanya bisa menggelengkan kepalanya memohon pada Bianca. Meskipun semua usahanya itu sia-sia mengingat Bianca terlihat ketakutan.Tubuh Laura segera dibawanya masuk ke dalam rumah. Bianca juga memanggil Pelayan baru bernama Alana yang jago dalam merias wajah.Bianca pun menyuruh Laura agar duduk di kursi meja rias, lalu Alana mulai merias wajahnya dengan per
Tepuk tangan itu terdengar lambat, tapi bergema di dalam ruangan rumah sakit yang tadinya dipenuhi perdebatan dan air mata akan tindakan egois Bu Kamilia.Semua mata kini beralih ke arah pintu masuk, di mana Lucien sudah berdiri di sana dengan jas hitamnya yang sempurna.“Lucien? Bagaimana bisa dia datang kemari?” batin Gabriel.Mata tajamnya menyorot tajam dalam ruangan yang hanya diterangi lampu-lampu rumah sakit.Senyum sinis mulai menghiasi wajahnya saat matanya bertatapan dengan Laura, seolah-olah dia menikmati pertemuannya lagi.“Sungguh pertemuan yang mengharukan.”“Benar kan, kucing nakal?”Suaranya sangat tenang, tapi ada nada bahaya yang terselip di dalamnya.Tubuh Madam Simone Pun menegang melihat sosok Lucien yang datang. Ia segera mendekat dan berdiri di depan Laura, melindungi putrinya. Gabriel yang meskipun tubuhnya masih lemah, berusaha bangkit dari ranjangnya, tapi Lucien hanya meliriknya sekilas, seakan-akan dia bukan ancaman sama sekali.“Apa yang kau lakukan di sin







