LOGINTubuh Lucien membeku sejenak usai mendengar pernyataan Laura, sampai ekspresinya berubah drastis.
“Tunangan?” ulang Lucien dengan suara yang hampir berbisik, tetapi berhasil membuat Laura merinding.
Madam Simone bergegas menarik tubuh Laura ke belakang, mencoba menjauhkan putrinya dari amukan yang mulai membara di mata pria Lucien.
“Benar, Tuan Lucien,” kata Laura, meskipun suaranya sedikit gemetar.
“Aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai, dan dia … bukan kau!”
Seketika Lucien melangkah mundur dan tertawa meremehkan. Tidak ada kegembiraan dalam tawanya. Para bawahannya tampak waspada dengan saling pandang, seolah tahu bahwa situasi ini akan segera berubah menjadi berbahaya.
“Katakan, siapa tunanganmu?” Lucien bertanya dengan nada datar, matanya kini menyipit seperti binatang buas yang siap menerkam.
“Untuk apa saya harus memberi tahu orang sepertimu?” tanpa balik Laura.
Dalam sekejap langkahnya kembali mendekat ke Laura, lalu menarik tangannya dan berhasil memeluk tubuh ramping itu dari belakang, dengan posisi tangan kanan Lucien mencengkeram lehernya.
Kepala Lucien didekatkan ke wajah Laura, lalu mengusap pipi tanpa polesan bedak itu menggunakan pipi Lucien yang sesekali mengecup pipinya.
“Aku ingin tahu siapa orang yang berani merebut milikku,” bisiknya.
“Siapa pun dia, itu bukan urusanmu, Tuan!” balas Laura dengan tegas, meskipun hatinya mulai berdebar kencang.
Lucien semakin mengeratkan pelukannya, membuat Laura tak bisa bergerak. Hawa tubuhnya yang dingin bercampur dengan aroma parfum mahal milik Lucien menusuk indra penciuman Laura.
“Bukan urusanku?” Lucien berbisik di dekat telinga Laura, suaranya rendah namun tajam, sambil menyusuri leher Laura untuk mengendus aroma tubuhnya.
“Y—Ya, Tuan. Bukan urusanmu!” jawab Laura.
“Segala sesuatu tentang dirimu adalah urusanku, Laura. Mulai dari napas yang kau hirup hingga pria sialan yang kau sebut tunangan itu,” jelasnya dengan ekspresi yang sungguh menyeramkan.
“Tu—Tuan Lucien, lepaskan aku!” seru Laura mencoba meronta, tetapi kekuatan pria itu terlalu besar.
Tangannya mencengkeram pergelangan kekar Lucien, namun itu hanya membuat tawa kecilnya terdengar semakin mengerikan.
“Laura, kenapa kau sangat keras kepala? Aku menyukai itu. Kau tahu kenapa?” Lucien menggeser kepalanya, menatap langsung ke mata Laura yang penuh amarah dan ketakutan setelah menoleh.
“Karena semakin kau menolakku … aku akan semakin bersemangat untuk memilikimu.”
Madam Simone berusaha mati-matian untuk mendekati mereka karena ingin menyelamatkan putrinya, tetapi salah satu bawahan Lucien dengan sigap menahan lengannya.
“Lu—Lucien, kau itu benar-benar pria tidak waras!” bentak Madam Simone dengan penuh kemarahan, matanya berkaca-kaca melihat anaknya dalam cengkeraman pria itu.
“Lepaskan putriku, Lucien! Dia bukan milikmu, dan dia tidak akan pernah jadi milikmu!” amuknya.
Lucien melirik Madam Simone dengan senyuman yang dingin.
“Madam Simone, seharusnya Anda tahu bahwa tak ada gunanya melawan.”
“Jika Anda benar-benar ingin melindungi putri Anda, Anda harus mulai menerima kenyataan.”
“Apa maksudmu, Lucien?” tanya Madam Simone.
“Saya tidak akan pergi tanpa dia,” jawab Lucien dengan tatapan sinisnya.
Laura mendengus napasnya dengan kasar, mencoba melawan rasa takut yang membelenggunya. Terlebih lagi dekapan Lucien sungguh erat, membuatnya kesulitan untuk kabur.
“Aku bukanlah barang yang bisa kau klaim, Tuan Lucien!”
“Aku punya hak atas hidupku sendiri, dan aku memilih untuk tidak menjadi bagian dari duniamu!” sambung Laura.
Lucien membalas dengan cengiran sinis, lalu melepaskan cengkeramannya. Namun, sebelum Laura sempat menjauh, ia mencengkeram dagunya dengan kuat, memaksa matanya untuk bertemu dengan mata miliknya.
“Kau salah, Laura,” katanya dengan suara dingin.
“Kau tidak punya pilihan. Kau sudah menjadi bagianku sejak pertama kali aku memutuskan menginginkanmu.”
Laura menggertakkan giginya, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya karena sudah tak tahan dengan kegilaan pria di hadapannya ini.
“Sudah kubilang sejak awal, Tuan. Bahwa aku lebih baik mati daripada menyerahkan diriku padamu!”
Lucien tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti belati yang berhasil menusuk hati Laura. Ekspresi wajahnya pun terlihat acuh tak acuh pada ucapan Laura.
“Kalau begitu, akan kupastikan kematianmu menjadi yang paling indah, karena itu artinya … kau mati dalam genggamanku.”
Laura mencoba memalingkan wajahnya, tetapi cengkeraman Lucien terlalu kuat di rahangnya. Ia menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian.
“Kau tidak akan pernah menang, Tuan. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidup keluargaku lagi.”
“Kau tidak berhak mengaturku, Laura.”
“Aku berhak! Katamu, kau mencintaiku, kan? Itu artinya … aku berhak mengaturmu, bahwa kamu tidak pantas menjadi suamiku!” jelas Laura.
PLAK!
Pipi Laura ditampar, lalu pinggangnya direngkuh untuk mendekat ke badannya. Melihat putrinya di perlakukan seperti itu, Madam Simone hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Pipi Laura kembali dalam genggaman pria yang saat ini tersenyum sinis, lalu berkata, “Jaga ucapanmu, karena kau sudah bersumpah akan menjadikanmu istriku. Cepat atau lambat, kau akan jadi milikku … seutuhnya.”
Di sisi lain, terdengar adanya suara motor Harley yang mulai berhenti di dekat pelataran rumah Madam Simone. Dia seorang lelaki yang mulai melepas helm-nya, lalu berjalan mendekat.
“SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!” bentak pria yang baru saja datang itu.
Tubuh Lucien pun didorong dengan keras oleh Laura usai mendengar suara pria yang berdiri sambil menggenggam sebuket bunga mawar di tangan kanannya, karena niatnya malam ini datang untuk memberikan bunga ke Laura.
Kemudian, Laura segera berlari dalam pelukannya, sambil menangis tersedu-sedu. Pelukannya pun terasa sangat erat, seolah tak ingin melepaskan pria itu.
“Laura? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
“A—Aku baik-baik saja,” jawab Laura.
Lucien yang melihat Laura memeluk pria lain di hadapannya langsung melipat kedua tangannya ke dada, sambil menatap mata pria yang kini juga meliriknya dengan kening berkerut.
“Dia siapa, Laura?” tanyanya.
“Dia … Dia orang yang membunuh Ayah,” jawabnya.
Kedua matanya langsung melotot usai mendengar jawaban dari Laura. Tubuh Laura dengan perlahan disingkirkan, dan Madam Simone yang berhasil melepaskan dirinya pun segera memeluk tubuh Laura.
Pria itu berjalan hingga kini tubuhnya hanya berjarak satu meter dari Lucien, lalu ia berkata, “Jadi kau yang membunuh Ayah Laura?”
Belum sempat Lucien menjawab, pipinya langsung terkena tinju dari pria yang merupakan tunangan Laura.
Seluruh bawahan Lucien langsung mengeluarkan pistolnya masing-masing, mulai diarahkan ke sosok pria bertubuh jangkung dengan nama lengkap Gabriel Moretti.
Bibir Lucien yang terlihat berdarah justru tak membuatnya terpancing, ia hanya menyeringai dan kembali berdiri tegap, juga mulai memerintahkan para bawahannya untuk menurunkan senjatanya masing-masing hanya dengan mengangkat satu tangannya.
Matanya melirik ke arah Laura, lalu bertanya, “Laura? Apa ini pria yang kau cintai itu?”
“Benar, dia adalah tunanganku yang akan menjadi suami—”
Suara tembakan terdengar nyaring ketika Laura belum sempat melanjutkan penjelasannya.
Jika suka novel ini, mohon untuk masukkan ke daftar pustaka, ya! Jangan lupa follow akun GoodNovel author!
Anneliese dan Laura serentak menoleh secara perlahan. Sementara para anak buah Lucien yang berdiri di dekat gerbang langsung menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat.Sosok seorang wanita tua yang berdiri itu melangkah dengan anggun, mengenakan gaun hitam berkelas dengan tongkat yang berukiran naga emas di tangan kanannya.“Siapa wanita itu? Kenapa semua orang terlihat sangat menghormatinya?” batin Laura, sangat penasaran.Sorot matanya tampak tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsanya. Dialah Elda Deveraux, nenek Lucien—sosok yang bahkan lebih ditakuti di keluarga Deveraux.Laura tetap berusaha untuk berdiri tegak, tidak ingin menunjukkan sedikit pun rasa takutnya, meskipun berkali-kali ia terlihat menelan salivanya susah payah, sambil tetap menatap lurus ke arah wanita itu.Elda mengangkat satu alisnya usai memperhatikan seluruh tubuh Laura, mulai dari bawah sampai atas, lalu tersenyum lembut di hadapan semua orang. Bahkan Lucien dan kedua orang tuanya yang sedang berd
Anneliese menoleh dengan depat pada Sofia, ingin memastikan kebenarannya, karena kalau benar begitu, sama saja telah merendahkannya sebagai pewaris kedua keluarga Moretti.“Katakan padaku, Bu Sofia. Kenapa anak lelakimu berkata seperti itu?”“Kau … jangan khawatir, Anne,” jawab Sofia dengan mimik wajah begitu gugup, sesekali melirik ke arah Lucien yang terlihat menatap lekat-lekat wajah cantik Laura.Dalam sekejap Sofia segera menggenggam tangan Lucien, lalu mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi untuk membicarakan sesuatu.PLAK!Tamparan keras mendarat ke pipi kiri Lucien, tapi Lucien tidak peduli dengan semua itu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya dalam keadaan genting seperti ini.“Kau sudah bodoh, ya?” ujar Sofia.“Seharusnya kau tidak berkata seperti itu di hadapan Sofia, Lu!”“Kenapa? Ibu takut keluarga Moretti akan menyerang keluarga Deveraux?” jawab Lucien yang terdengar seperti menantang ibunya karena tak takut sedikit pun.“Anne itu anak satu-satunya kelu
Suasana di halaman rumah langsung berubah mencekam usai mendengar pengakuan Laura yang sungguh berani, seolah kata-katanya menantang mautnya sendiri.“Apa yang baru saja kau katakan?” Suara Sofia terdengar tajam, seperti bilah pisau yang siap menggorok siapa saja yang berani melawan kehendaknya.Laura hanya terdiam, tapi bukan berarti ia akan takut dengan siapa berbicara. Mata cokelatnya bersinar dengan keberanian yang tak tergoyahkan.“Saya bilang, saya adalah anak dari kepala divisi investigasi kriminal … yang putra Anda bunuh.”Dalam sekejap suasana di sana langsung hening lagi, sebelum pada akhirnya suara Alessandro Devereaux bergemuruh dengan kemarahan yang tak tertahan usai menatap tajam putranya sendiri.“Kau … kenapa tidak mengatakan padaku siapa sebenarnya gadis jalang ini, Lucien?”“Bukankah kau yang mengajaknya bersamaku pulang ke rumah?” jawab balik Lucien yang membuat Alessandro geram.“Selain keluarga Deveraux dilarang masuk ke kawasan ini, kecuali jika dia memang diundan
Kembali ke masa kini, tepatnya tiga tahun kemudian di Hotel Bellagio saat tengah malam. Laura yang gagal kabur itu hanya bisa berdiri membisu di hadapan Lucien yang sudah kehilangan kesabarannya.“Kecelakaan 3 tahun lalu … membuatku berpikir kau sudah tewas, tapi lihatlah dirimu sekarang? Kau … baik-baik saja.”“Apa kau tau, Tuan Lucien? Hidupku sangat menderita ketika aku menghindar darimu selama 3 tahun ini,” kata Laura dengan mata yang berkaca-kaca.“KAU BAHKAN MEMBUNUH … GABRIEL!”Tangannya memukul bertubi-tubi dada bidang Lucien karena lelaki yang paling ia cintai sudah tiada di dunia ini, dan semua itu karena keegoisan Lucien!Pria itu melangkah mendekat, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap mengiris ketenangan jiwa siapa pun yang menentangnya.“Kau berani menghilang selama tiga tahun dan sekarang berbicara seolah kau adalah korban?” Suaranya terdengar agak serak.“Kau tau berapa banyak orang yang telah kuhancurkan hanya untuk menemukanmu di kota ini?”Laura menggigit bibi
“Cepat pakaikan dia gaun pengantin!”Tubuh Laura yang dilempar ke dua Pelayan di mansion seketika terkejut. Baru saja ia sampai tapi kenapa Lucien justru menyuruhnya memakai gaun pengantin?“Tu–tuan? Bukankah pernikahan Anda dilaksanakan besok?” tanya Bianca.Hanya ditatap sinis dari samping, Bianca langsung merinding sambil memainkan jari jemarinya. Sedangkan Laura langsung berdiri tegap dan mendekat ke Lucien.“Jangan memaksaku untuk menikahimu, pria sialan!” ucap Laura.“Apa kau tidak mendengarku? Segera dandani dia dan pakaian gaun pengantin!” bentaknya pada Bianca sampai terkejut.Sementara itu, Laura yang diabaikan oleh Lucien hanya bisa menggelengkan kepalanya memohon pada Bianca. Meskipun semua usahanya itu sia-sia mengingat Bianca terlihat ketakutan.Tubuh Laura segera dibawanya masuk ke dalam rumah. Bianca juga memanggil Pelayan baru bernama Alana yang jago dalam merias wajah.Bianca pun menyuruh Laura agar duduk di kursi meja rias, lalu Alana mulai merias wajahnya dengan per
Tepuk tangan itu terdengar lambat, tapi bergema di dalam ruangan rumah sakit yang tadinya dipenuhi perdebatan dan air mata akan tindakan egois Bu Kamilia.Semua mata kini beralih ke arah pintu masuk, di mana Lucien sudah berdiri di sana dengan jas hitamnya yang sempurna.“Lucien? Bagaimana bisa dia datang kemari?” batin Gabriel.Mata tajamnya menyorot tajam dalam ruangan yang hanya diterangi lampu-lampu rumah sakit.Senyum sinis mulai menghiasi wajahnya saat matanya bertatapan dengan Laura, seolah-olah dia menikmati pertemuannya lagi.“Sungguh pertemuan yang mengharukan.”“Benar kan, kucing nakal?”Suaranya sangat tenang, tapi ada nada bahaya yang terselip di dalamnya.Tubuh Madam Simone Pun menegang melihat sosok Lucien yang datang. Ia segera mendekat dan berdiri di depan Laura, melindungi putrinya. Gabriel yang meskipun tubuhnya masih lemah, berusaha bangkit dari ranjangnya, tapi Lucien hanya meliriknya sekilas, seakan-akan dia bukan ancaman sama sekali.“Apa yang kau lakukan di sin







