Share

Desakan

Author: Falisha Ashia
last update Last Updated: 2025-09-12 19:26:53

Namun aku sadar, dia mertuaku. Nafasku tercekat dan buru-buru kututup pintu kamar mandi sebelum Lydia menyadari keberadaanku. Jantungku berdegup kencang, keringat dingin muncul di pelipis. Apa yang barusan kulihat… tidak seharusnya kulihat.

Aku mundur beberapa langkah, lalu cepat-cepat keluar dari kamar. Aku menjatuhkan diri di sofa ruang keluarga, pura-pura sibuk dengan ponsel di tanganku, padahal layar hanya menampilkan halaman kosong. Jemariku bergetar. Aku masih bisa membayangkan lekuk tubuh Lydia—dan itu membuatku semakin merasa berdosa.

Tak lama, pintu kamarku terbuka. Aku buru-buru merapikan posisi duduk, menahan wajahku agar tetap terlihat tenang.

“Kamu sudah pulang?” suara Lydia terdengar.

Aku berpura-pura terkejut, menoleh ke arahnya. “Eh, iya, Ma. Baru aja sampai.”

Dia berdiri di sana, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya dingin seperti biasa. Dia menunjuk ke lantai dua, ke arah kamarku.

“Tadi Mama pinjam kamar mandinya. Di kamar Mama, showernya rusak.”

Aku cepat mengangguk. “Oh, iya, Ma. Pakai aja. Lagian, ini kan juga rumah Mama.”

Lydia tidak menanggapi lebih jauh. Dia berjalan melewatiku, langkahnya anggun namun terasa menusuk. Wajahnya tetap judes, seolah setiap kata yang keluar dari mulutku tidak ada nilainya.

Begitu pintu kamarnya tertutup, aku menarik napas panjang. Baru beberapa menit pulang, tapi rasanya sudah seperti menghadapi ujian hidup.

Aku kembali ke kamarku, langsung melepas pakaian dan masuk ke kamar mandi. Aroma sabun Lydia masih tertinggal di sana. Itu membuatku gugup. Aku mengguncang kepala, mencoba mengusir pikiran yang aneh-aneh.

Namun begitu air mengalir di kepalaku, pikiranku malah kembali pada Amanda. Permintaan gilanya. Fantasi bertiga. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku pun mengambil ponsel, membuka peramban, dan menonton ulang video yang semalam ditonton Amanda. Adegan di layar itu membuat wajahku panas.

Tok! Tok!

Pintu kamar mandi diketuk.

“Rey!” suara Amanda.

Aku panik. Cepat-cepat menutup peramban, mengunci ponsel, lalu menjawab, “Iya… sebentar. Aku mandi dulu.”

Aku buru-buru menyelesaikan mandiku. Begitu keluar, hanya handuk melilit pinggangku, Amanda sudah berdiri di kamar.

“Kamu langsung mandi, tumben?” tanyanya sambil mengernyit.

“Iya, badanku lengket. Banyak tamu tadi, agak capek,” jawabku.

Dia hanya tersenyum tipis, lalu masuk ke kamar mandi. Tidak ada sentuhan seperti dulu, tidak ada tatapan manja pada tubuhku. Aku menatap punggungnya yang menjauh—dan hatiku semakin terasa jauh darinya.

Malam itu kami makan bersama tanpa banyak bicara. Setelahnya, aku berbaring di kasur lebih dulu, berusaha memejamkan mata. Amanda menyusul, lalu naik ke tempat tidur.

“Rey, bagaimana dengan pembicaraan kemarin?” suaranya pelan, tapi menusuk langsung ke dalam benakku.

Aku membuka mata, menoleh ke arahnya. “Pembicaraan tentang itu?”

Dia mengangguk penuh harap. “Aku ingin mencobanya, Rey. Kamu mau, kan?”

Jujur, setelah menonton ulang video itu, aku mencoba meyakinkan diri untuk menuruti permintaannya—setidaknya sekali. Kalau gagal, aku bisa berhenti.

“Ya, aku akan coba sekali. Kalau aku nggak bisa, kita nggak akan melakukannya lagi,” kataku akhirnya.

Ekspresi Amanda langsung berubah cerah. Senyumnya merekah, matanya berbinar. “Benarkah? Kamu nggak bohong, ‘kan?”

Aku mengangguk. “Iya. Tapi kasih aku waktu untuk mencari wanitanya.”

Dia mengangguk cepat, wajahnya jelas bahagia. Sementara aku… merasa semakin terjebak.

---

Tengah malam, aku terbangun. Tenggorokanku kering. Dengan malas, aku turun dari ranjang, mengambil gelas kosong, lalu keluar kamar.

Rumah sunyi. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan lewat tengah malam. Aku melangkah ke dapur, niatku hanya mengambil air dan sedikit menghirup udara segar. Namun langkahku terhenti.

Di sana, di samping meja makan, berdiri seseorang.

Lydia.

Aku membeku. Apa yang kulihat membuat nafasku tercekat. Dia mengenakan lingerie merah marun—tipis, nyaris transparan. Tubuhnya yang masih sangat terawat seolah menantang mataku untuk terus menatap. Kulitnya putih, kencang, dan lekuk tubuhnya begitu jelas terlihat di bawah cahaya lampu dapur yang temaram.

Di usianya yang 43 tahun, dia terlihat… luar biasa. Lebih seperti wanita 30-an. Seksi. Menggoda.

Aku menelan ludah. “M-Mama?” suaraku tercekat.

Dia menoleh, matanya menatapku dengan sinis. “Kenapa? Lihat-lihat?” nadanya menusuk. “Kalau cari makanan, nggak ada. Jangan makan malam-malam.”

Aku buru-buru mengalihkan pandangan, mencoba tenang. “Nggak, Ma. Aku cuma mau ambil air putih.”

Dia meneguk minumannya perlahan. Kemudian dengan tatapan tajam, dia berkata, “Kamu seharusnya cari pekerjaan yang bagus, Rey. Seenggaknya biar setara dengan Amanda. Sekarang ini Amanda memegang peranan penting di perusahaan kakeknya. Kalau ada orang bertanya suaminya kerja apa, itu membuatnya malu. Reputasinya pun jelek.”

Aku mengernyit, mencoba menahan emosi. “Iya, Ma. Aku sedang berusaha, tapi memang belum dapat.”

Senyumnya tipis, tapi matanya menajam bagai pisau. “Kalau kamu nggak segera dapat kerja yang layak, aku akan suruh Amanda menceraikanmu.”

Aku terbelalak. “A-apa, Ma?”

Dia mencondongkan tubuh, suaranya rendah tapi menusuk. “Sudah ada orang yang siap aku jodohkan dengan Amanda. Seseorang yang jauh lebih pantas darimu. Pengusaha muda yang sukses. Kaya. Tampan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Kebusukan Lydia

    Markas operasional Alfonso tidak terlihat seperti sarang mafia pada umumnya. Dari luar, tempat ini hanyalah sebuah gedung perkantoran biasa di kawasan bisnis Lunaris dengan papan nama "V-Logistics". Sebuah perusahaan ekspedisi legal yang menjadi front pencucian uang dan pusat intelijen organisasi Veleno di Lunaris.Mobil Guntur meluncur masuk ke area parkir bawah tanah khusus eksekutif.Begitu pintu mobil terbuka, sesosok pria muda dengan setelan jas slim-fit mahal dan kacamata berbingkai emas sudah berdiri menunggu. Jonathan."Selamat malam, Tuan Muda," sapa Jonathan sambil mengangguk sopan, gayanya necis dan bicaranya terukur. "Alfonso sedang di luar negeri mengurus legalitas kargo. Tim IT sudah saya siapkan di Ruang Kaca.""Terima kasih, Jo," jawabku singkat sambil berjalan cepat, mengabaikan sapaan hormat dari beberapa staf di koridor. "Kita butuh hasil cepat.""Tentu. Kami mengerti urgensinya," Jonathan berjalan di sampingku, langkahnya tenang namun cepat. "Secara hukum, ancaman

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Mengikuti Permainan Lydia

    Durasi video itu tidak panjang, mungkin hanya sepuluh detik, tapi isinya cukup untuk menghancurkan hidupku, reputasi Livia, dan mungkin kewarasan Amanda untuk selamanya. Di layar ponsel Lydia yang jernih, adegan dosa itu terpampang nyata. Tidak ada celah untuk menyangkal. Itu aku. Itu istriku. Dan itu general manajer hotelku."Bagaimana, Rey?" tanyanya dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. "Masih mau mengancam Mama? Atau kamu sudah sadar siapa yang memegang leher siapa sekarang?"Aku menunduk, menatap lantai marmer yang dingin. Otakku berputar cepat, mencari jalan keluar.Jika aku merebut ponsel itu dan menghancurkannya, itu tindakan bodoh. Wanita licik seperti Lydia pasti sudah mencadangkan file itu ke penyimpanan awan (cloud) atau mengirimnya ke perangkat lain. Kekerasan fisik juga bukan opsi; jika dia terluka, Surya akan curiga.Satu-satunya cara adalah bermain sesuai permainannya. Mengulur waktu.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat aku mengangkat w

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Lydia Yang Berbahaya

    Suara mesin mobil Papa Surya terdengar menjauh, lalu hening.Begitu pintu depan tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar, senyum sopan di wajahku lenyap seketika. Aku memutar tubuh, menghadap wanita paruh baya yang masih berdiri santai di ruang tamu sambil merapikan vas bunga."Ma," panggilku dingin. "Di mana sepatu high heels itu?"Lydia tidak menoleh. Dia mencabut setangkai mawar yang agak layu dari vas, mematahkannya, lalu membuangnya ke tempat sampah."Sepatu apa, Rey?" tanyanya dengan nada bosan yang dibuat-buat. "Mama nggak mengurus barang rongsokan.""Jangan bermain-main denganku!" bentakku, habis kesabaran. Aku melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami. "Aku tahu Mama yang mengambilnya semalam. Kembalikan sekarang."Lydia akhirnya menoleh. Wajahnya datar, dingin, dan angkuh. Dia menatapku seperti menatap serangga yang berisik."Kalau iya, memangnya kenapa?" tantangnya tenang. "Ini rumahku. Aku berhak membersihkan sampah yang ditinggalkan tamu tak diundang."Ta

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bangun Dalam Kondisi Segar

    Aku kembali ke kamar karena ingat dengan kondisi Amanda.Sesampainya di kamar, aku langsung mengambil botol vial biru dari nakas.Amanda tidur telentang, napasnya mulai teratur meski keringat dingin membasahi dahinya."Maafkan aku, Amanda," bisikku lirih. "Ini demi kebaikanmu."Aku menusukkan jarum halus itu ke pembuluh darah di lehernya, lalu menekan pistonnya perlahan. Cairan biru safir itu masuk ke dalam tubuh istriku, membawa penawar yang kubeli dengan harga diriku sendiri.Tubuh Amanda bereaksi seketika. Dia mengejang hebat selama tiga detik, matanya terbuka sedikit memperlihatkan bagian putihnya, lalu dia menghembuskan napas panjang seolah beban berat baru saja diangkat dari dadanya. Detik berikutnya, otot-ototnya rileks. Dia kembali tertidur, kali ini jauh lebih pulas dan damai.Aku jatuh terduduk di sisi ranjang. Tenagaku habis. Pikiranku kacau. Aku membiarkan diriku terlelap dalam posisi duduk, berjaga di samping wanita yang nyawanya sedang dipertaruhkan.Sinar matahari yang

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Ayo Cepat Pergi!

    Aku tidak membuang waktu sedetik pun setelah Lydia menghilang ke dalam kamarnya.Dengan langkah lebar dan terburu-buru, aku menaiki tangga dua demi dua, kembali ke lantai atas. Pikiranku berpacu lebih cepat dari kakiku. Lydia tahu. Dia mungkin belum punya bukti visual langsung wajah Livia, tapi dia tahu ada wanita lain di sini. Dan jika dia sampai melihat Livia turun tangga... tamat riwayat kami.Aku menerobos masuk ke kamar tidur.Pemandangannya masih sama. Amanda tertidur pulas di tengah ranjang dengan napas teratur, kelelahan setelah pelepasan energinya yang gila tadi. Di sampingnya, Livia meringkuk, tertidur dengan gaun yang tersingkap berantakan.Aku menghampiri Livia, mengguncang bahunya kasar."Livia! Bangun!" desisku tajam.Livia tersentak kaget. Matanya mengerjap bingung, masih setengah sadar. "Hngh... Rey? Jam berapa...""Bangun sekarang," potongku, menarik lengannya hingga dia terduduk. "Kamu harus pergi. Sekarang juga.""Kenapa? Amanda gimana?" Livia mengusap matanya, bing

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Perang Psikologis

    Aku berdiri dan berjalan keluar kamar. Aku menebar pandangan di seluruh lantai dua yang gelap.Jantungku berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh yang masih basah oleh keringat sisa pergumulan liar tadi. Mataku menyapu kegelapan, mencari sosok yang baru saja menutup pintu kamar kami.Nihil. Lorong itu kosong. Sunyi senyap.Tidak ada langkah kaki berlari. Tidak ada suara pintu kamar lain yang dibanting. Siapapun yang tadi berdiri di sana, dia bergerak seperti hantu. Atau... dia sudah turun ke bawah.Aku menarik napas panjang, mencoba menekan kepanikan yang mulai merayap naik. Aku tidak boleh terlihat gugup. Jika itu Lydia, aku harus menghadapinya dengan kepala dingin.Dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang yang kancingnya belum terpasang sempurna, aku melangkah menuju tangga. Kakiku menapak di anak tangga marmer yang dingin tanpa suara. Insting pembunuh yang diwariskan Ayah mulai mengambil alih, mengubahku dari suami yang panik menjadi predator yang wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status