LOGIN“Sial. Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau Sean akan melakukan hal gila ini.”Simon yang berada di dalam mobil masih terus menggerutu dengan pikiran tidak karuan. Ekspresi wajahnya tampak tegang, merasa takut dan menyalahkan diri sendiri. Banyak andai yang terus saja dipikirkan. Andai dia lebih memperhatikan Olivia, memberikan pengawalan yang ketat, semua pasti tidak akan terjadi. Itulah yang terus saja bergumam di hati pria tersebut.Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa ubahnya. Sekarang dia hanya perlu mencari keberadaan wanita itu. Berulang kali dia melihat ke layar ponsel, berharap anak buahnya memberikan kabar keberadaan sang kekasih. Kali ini, Simon tidak fokus dengan kemudi sama sekali, membuat Cakra yang ada di sebelahnya menjadi tidak tenang.“Simon, biar aku saja,” kata Cakra. Dia masih sayang dengan nyawanya sendiri karena beberapa kali Simon hampir menyebabkan kecelakaan.Sayangnya, Simon tidak mendengarkan sama sekali. Dia
“Kamu atur semuanya, Dafa. Aku tidak mau ada kesalahan sama sekali.”Simon mulai memberikan perintah. Ekspresi wajahnya tampak tenang dan serius. Setelah itu, Simon kembali membuka dokumen di depannya. Hari ini, dia harus segera pulang supaya bisa bertemu dengan Olivia. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Simon mengalihkan pandangan.“Hera.”Simon yang melihat nama itu mengerutkan kening dalam. Tampak kebingungan dari ekspresi wajahnya. Pasalnya, Hera pergi dengan Olivia. Jadi, kenapa malah menghubunginya? Hingga Simon mengambil ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Her—““Simon, Olivia dibawa pergi Sean.”Deg.Simon yang mendengar terkejut. Kedua matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Dia bahkan langsung berdiri karena tidak menyangka hal tersebut.“Kamu dimana?” tanya Simon yang langsung melangkah keluar ruangan.“Jangan urus aku. Kamu urus saja Olivia. Segera cari dia karena dia pasti dalam bahaya,” jawab Hera dengan suara cemas.“Aku akan cari dia,” kata Simo
“Olivia.”Olivia yang mendengar suara itu langsung membeku. Dia cukup kenal dengan suara yang sangat familiar baginya. Tanpa melihat pun, dia tahu siapa sang pelaku, membuat jemari yang sejak tadi memegang sendok mulai mengepal.“Olivia, kam—““Kita pergi dari sini, Hera,” sela Olivia dengan cepat. Tanpa menunggu lama, dia langsung mengambil tas dan bangkit. Olivia bersiap untuk pergi.Namun, di waktu yang sama, Sean berdiri di depannya. Melihat pria itu, Olivia semakin kesal. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu, membuatnya memilih membalikkan tubuh dan mencari jalan lain. Sayangnya di waktu yang sama, Sean meraih pergelangan tangannya.“Olivia, kita perlu bicara,” kata Sean serius.Bicara? Olivia tertawa kecil mendengarnya. Dengan kasar dia menarik tangannya, membuat genggaman Sean terlepas. Manik matanya berganti, menatap ke arah Sean yang terlihat lemah. Hal itu bukan membuat Olivia simpati, tetapi dia malah meremehkan pria di depannya.‘Senjatamu itu tidak akan mempan
Sean menatap ruang operasi di depannya dengan sorot mata datar. Tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Dia bahkan terlihat tenang, tidak terlalu memikirkan bagaimana kondisi Elsa yang masih berada di dalam. Sesekali, Sean memainkan ponsel. Hingga benda pipih itu berbunyi, membuat Sean langsung mengangkat panggilan.“Ada apa?” tanya Sean tanpa basa-basi.“Saya melihat keberadaan Nona Olivia, Tuan,” jawab Kevin dari seberang panggilan.Mendengar nama wanita itu, Sean langsung bangkit. Dengan antusias dia kembali bertanya, “Dimana dia?” “Di restoran Damai, Tuan.”Sean tersenyum sinis mendengarnya. Dengan tenang dia berkata, “Ikuti dia terus. Jangan sampai dia melihatmu dan kabari terus keberadaannya. Aku akan segera datang.”Sean langsung mematikan panggilan. Dia melangkah lebar, bersiap meninggalkan ruang operasi. Hingga dia teringat sesuatu, membuatnya berhenti. Sejenak, Sean menatap pintu operasi yang masih tertutup, menimang keputusannya. Sampai dia yang sudah yakin pun kembali mela
Sean yang mendengar hal itu pun langsung melibatkan kedua mata. Dia terkejut karena Keisha yang mengetahui rencananya. Wajahnya pun tampak gusar Dan panik. Buru-buru dia mendorong tubuh Keisha, menjauhkannya dari Elsa. “Jaga bicaramu, Keisha. Jangan membuat Elsa berfikir macam-macam,” tegur Sean mengingatkan. Keisha yang mendengar hal itu pun tertawa kecil dengan sebelah bibir terangkat. Tatapannya benar-benar meremehkan Sean. Hingga dia bertanya, “Apa aku salah bicara?”Memang tidak salah bicara, tapi tidak mungkin Sean mengatakan yang sebenarnya. Dia pun buru-buru menjawab, “Aku sudah berjanji untuk menikahi Elsa. Tidak mungkin kalau aku mengingkarinya.”“Kamu pikir aku percaya?” Keisha masih menatap dengan raut wajah meremehkan, “semua yang kamu katakan itu hanya akal-akalanmu saja, Sean. Aku tahu betul seperti apa kamu dan keluargamu. Kamu cuma ingin membodohi Elsa saja. Kamu tidak mau kalau anak dalam kandungannya itu diketahui publik dan keluargamu akan malu. Aku ingin menghil
Suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Elsa dan Sean yang berada di dalamnya hanya diam, tidak membuka percakapan sama sekali. Bahkan sejak tadi Elsa hanya berani melirik ke arah Sean. Jemarinya saling meremas dan menggigit bibir bagian bawah. Dia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Hingga dia membuang nafas sendiri dan menatap ke arah Sean sepenuhnya. “Sean, ada hal yang ingin aku tanyakan denganmu,” putus Elsa setelah banyak pertimbangan. Sean yang saat itu sedang sibuk dengan kemudi pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah Elsa dan bertanya, “Apa yang mau kamu tanyakan?”“Kamu benar-benar akan menikahiku setelah bayi ini tidak ada, kan?” Elsa tampak ragu mengatakannya. Dia bakal terlihat sedikit berhati-hati. Namun, Sean yang mendengar malah tersenyum. Dia menatap ke arah Elsa dan menganggukkan kepala. Sebelah tangannya meraih jemari Elsa dan menjawab, “Tentu saja. Aku sudah menjanjikan sesuatu denganmu. Tentu saja aku akan menempatinya. Kalau bukan karena kem
“Silahkan, Nona. Tuan Simon sudah menunggu anda.”Olivia yang baru saja datang ke perusahaan Simon dibuat terpana dengan bangunan tersebut. Semua tersusun dengan rapi dan gaya yang elegan. Baru masuk saja, Olivia sudah disuguhkan dengan desain perusahaan yang berbeda dari perusahaan kebanyakan. Dia
“Kamu mabuk, Olivia. Jadi, jangan berbuat aneh-aneh. Masuk kamarmu saja,” jawab pria itu. “Aku gak mabuk, Simon. Aku bahkan tahu kalau itu kamu,” kata Olivia. Charles Simon. Pria dengan tubuh tinggi itu hanya diam dan tidak menganggap ucapan Olivia. Dia malah melangkahkan kaki, berniat meninggalk
“Pa, kenapa Papa malah mendukung Olivia kerja di perusahaan Simon? Papa tahu kan dia itu seperti apa? Dia tidak pernah menyukai keluarga kita.”Sean yang kesal karena sang papa mendukung keinginan Simon pun langsung melayangkan protes. Sejak tadi dia sudah menahan karena sang papa yang memberikan i
“Kamu harus tenang, Olivia. Jangan kamu pikirkan. Anggap tidak pernah terjadi apa pun. Kamu harus terus bersikap biasa.”Olivia yang sejak tadi merasa salah tingkah mulai memberikan sugesti untuk diri sendiri. Meski dia sudah mengatakan tidak akan mengungkitnya, tetap saja kenangan itu terlintas da







