เข้าสู่ระบบ“Simon, kamu mau apa?”
Olivia yang melihat Simon melangkah mendekatinya pun langsung perlahan mundur. Dia menatap lekat, tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Olivia takut, kalau dia berpaling, pria itu akan menangkapnya. “Menurutmu, aku mau apa, Olivia?” Simon malah balik bertanya. Dia mulai melepas jas dan melempar asal. Olivia menelan saliva pelan ketika melihat hal itu. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Simon, tetapi dia yakin kalau itu bukanlah hal yang baik. Alarm bahaya dalam otaknya langsung memperingatkan secara alami. Hingga Olivia yang hendak menabrak tembok langsung menyingkir. Dia berharap bisa lepas dari kejaran Simon. Sayangnya, baru saja Olivia terlepas, Simon kembali meraih tubuhnya dan mengurung dengan kedua tangan. “Simon, jangan macam-macam,” kata Olivia memperingatkan. “Aku gak macam-macam, Olivia. Aku hanya ingin melihatmu saja,” sahut Simon. Sebelah tangannya terulur, mengusap bibir Olivia pelan. Dia melakukan gerakan yang membuat Olivia menjadi salah tingkah. Melihat wajah memerah wanita di depannya, Simon semakin bersemangat. Tanpa aba-aba, dia mulai menyatukan bibir dan menyesapnya lembut. Simon mulai bermain, mengabsen satu per satu isi di mulut Olivia. “Lebih baik nikmati, Olivia. Lagi pula, Sean juga bermain dengan wanita lain, kan?” bisik Simon. Benar. Sean bermain dengan wanita lain tanpa memikirkan perasaan istrinya. Olivia yang mulai terhasut dengan ucapan Simon pun memilih pasrah dan mulai membalas. Dalam benaknya, dia hanya berpikir, ‘Sean saja bisa, kenapa aku tidak?’ Gila memang, tetapi Sean yang memaksanya menjadi segila ini. ‘Kena kamu,’ batin Simon. Bibirnya tersenyum sinis, merasa menang karena bisa menghasut Olivia “Aku tidak mau di sini, Olivia. Jadi, ikut aku ke kamar,” kata Simon. Olivia hendak menolak, tetapi tiba-tiba saja pria itu mengangkat tubuhnya. Simon bahkan dengan tenang meletakkan di satu punggung, membuat Olivia melebarkan kedua mata. Dia terkejut dan tidak siap dengan perlakuan pria itu. Hingga tubuhnya diletakkan di ranjang, membuat Olivia membuang napas lirih. “Aku rasa, kemarin malam kamu tidak mengingatnya, Olivia. Jadi, sekarang aku akan membuatmu ingat,” ucap Simon, melepas satu per satu kancing pakaiannya. Setelah dada bidangnya terlihat sepenuhnya, Simon mulai menaiki ranjang, tetapi tepat disaat yang sama, dering ponsel terdengar. Olivia tahu itu ponsel miliknya, membuatnya bangkit dan siap mengambil benda pipih tersebut. Olivia takut kalau ada hal penting. Sayangnya, Simon langsung mencegah. Pria itu kembali mendorongnya, membuatnya berbaring di ranjang. Kedua tangannya bahkan sudah diletakkan di atas kepala, membuat Olivia tidak bisa bergerak. “Simon, aku harus angkat panggilan,” kata Olivia. Simon diam, tetapi dia melirik ke arah ponsel milik Olivia. Melihat nama Sean tertera di layar, bibirnya tersenyum sinis. Dia bahkan dengan enteng berkata, “Bukan hal penting. Hanya orang iseng.” Setelahnya, Simon menundukkan tubuh dan memberikan kecupan di leher Olivia Sedangkan di tempat lain, Sean yang menghubungi Olivia semakin kesal karena tidak ada jawaban. Dia menghentikan panggilan dan menggenggam ponsel erat. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam. “Aku benar-benar akan menghabisimu saat pulang nanti, Olivia,” gumam Sean. *** “Gila. Simon benar-benar ingin membunuhku,” gumam Olivia dengan wajah masam. Rasanya benar-benar kesal dengan Simon yang terus saja menggodanya. Bahkan, untuk pulang saja, rasanya Olivia tidak memiliki tenaga. Namun, dia tetap memilih pulang. Selarut apapun, dia harus pulang supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Pasalnya, kalau dia bilang ada dinas di luar kota, mereka pasti curiga. Dia baru masuk. Jadi, tidak mungkin Simon akan mengajaknya dinas di luar kita secepat itu. “Darimana saja kamu, Olivia?” Olivia yang baru saja memasuki ruang keluarga langsung berhenti ketika mendengar pertanyaan itu. Dia mengalihkan pandangan, menatap Sean yang tengah duduk di salah satu sofa. Sebenarnya Olivia sedan malas berurusan dengan pria itu, tetapi kali ini Olivia memilih mendekat. “Sudah berani pulang malam sekarang?” Sean menatap ke arah Olivia lekat, “apa yang diajarkan anak kurang ajar itu sampai kamu berani pulang selarut ini?” “Aku ada kerjaan yang harus diselesaikan, Sean. Makanya pulang malam,” jawab Olivia. “Kamu pikir aku percaya?” Sean tersenyum sinis. Dai melangkah ke arah Olivia berada, berhenti tepat di depan istrinya. “Selama ini aku memang tidak menyentuhmu, Olivia. Itu karena aku tidak mau bersentuhan dengan wanita licik sepertimu. Tapi kamu tetap harus ingat. Kamu itu tetaplah menantu keluarga Charles. Semua orang tahu, kamu itu istriku. Jadi, jangan macam-macam di luar sana. Jangan sampai perilakumu ini membuat nama keluarga Charles menjadi rusak. Kalau sampai itu terjadi, aku akan memberikan hukuman untukmu,” ucap Sean dengan nada mengancam. Setelah itu, Sean langsung melangkah pergi. Sedangkan Olivia hanya diam dan membuang napas lirih. Dia mencoba menghilangkan kekesalan dan sakit hati karena apa yang sudah dilakukan Sean kali ini. ‘Padahal jelas-jelas dia yang berselingkuh, tetapi sok menasehati,’ batin Olivia.“Apa kamu pernah mencintaiku?”Hening. Satu pertanyaan singkat itu membuat Sean langsung terdiam. Apa dia pernah mencintai Elsa? Apa perlakuan dan perhatiannya selama ini bisa disebut cinta? “Selama ini kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Kamu peduli denganku dan bahkan selalu menjadikanku prioritasmu. Jadi, apa itu cintamu?”Sean masih diam. Dia mengingat semua yang dilakukan dulu. Semua yang dikatakan Elsa memang ada benarnya. Dia selalu menjadikan Elsa prioritas. Bahkan Olivia tidak pernah diperhatikan.“Sean, apa semua rasa itu sudah hilang?” tanya Elsa lagi. Nada bertanya lembut, tidak menuntut jawaban.Sean sempat bingung untuk menjawab, tetapi setelah memikirkan banyak hal, dia menatap ke arah Elsa dan menjawab, “Tidak. Aku tidak pernah mencintaimu.”‘Seperti dugaan.’ Elsa hanya tersenyum tipis mendengarnya. Meski sudah disiapkan dengan matang, meyakinkan diri sendiri dengan semua jawaban yang akan diterima, tetap saja rasanya menyakitkan. Semua perasaan, ketulusan dan ke
“Untuk sementara waktu ini, jangan keluar rumah, Sean. Jangan mencari masalah dengan Simon atau pun Olivia.”Sean yang baru saja menyendok makanan pun terhenti. Dia menatap ke arah sang papa dan mendesah kasar. Sendok yang sejak tadi dipegangnya, kali ini diletakkan dengan kasar, membuat saura perpaduan yang khas. Dengan wajah masam dan tanpa semangat, dia menyandarkan tubuh dengan punggung kursi.“Aku benar-benar tidak mencari masalah dengan mereka, Pa. Aku hanya mau mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku,” sahut Sean tanpa rasa bersalah. Dia malah terlihat kesal dengan ucapan sang papa.“Tapi sekarang Olivia bukan lagi milikku. Dia sudah mengajukan perceraian kalian ke pengadilan negeri,” kata Charles dengan enteng.“Aku tidak peduli. Aku mau Olivia menjadi istriku apapun caranya,” tegas Sean serius. Dia menatap sang papa tidak terima.Hening. Charles hanya diam, tidak menanggapi sama sekali. Dia asyik menghabiskan makanan di meja, tidak mempedulikan sang anak yang sejak tadi
Olivia menggeliat pelan dan menguap. Perlahan, kedua matanya terbuka dan menatap sekitar. Sesekali, Olivia mengerjap, berusaha menormalkan kembali pandangannya. Hingga dia yang sudah sepenuhnya sadar pun mulai duduk, bersandar dengan punggung ranjang.“Kamu sudah bangun dari tadi?”Olivia yang mendengar pun langsung mengalihkan pandangan. Melihat Simon yang masuk dan membawa nampan berisi minuman, dia tersenyum lebar. Penampilannya kali ini benar-benar terlihat seperti seorang suami idaman. Tidak terlihat mengerikan seperti biasanya.“Kenapa terus menatapku? Kamu terpesona?” tanya Simon dengan nada menggoda.Tanpa rasa malu, Olivia menganggukkan kepala. Dia bahkan dengan berani menjawab, “Kamu terlihat menggoda kalau begini.”Menggoda? Simon menatap penampilan dirinya. Dia hanya mengenakan celana pendek, kaos dan juga apron. Jika dilihat, tidak ada hal menggoda sama sekali. Hingga Simon tertawa kecil. Dia menatap ke arah Olivia yang masih memperhatikannya.“Kamu benar-benar selalu ada
Suara pintu terbuka terdengar, membuat Olivia yang sejak tadi tertidur di sofa menjadi terbangun. Dengan mata sembab khas banyun tidru, dia menatap sekitar. Sekarang sudah pukul dua dini hari. Tubuh yang semula terbaring pun mulai bangkit, duduk dan sesekali menguap. Hingga dia yang mendengar suara langkah mendekat, membuat pandangannya beralih.“Simon, kenapa kamu baru pulang? Kamu dari mana?”Olivia menatap pria itu lekat. Raut wajah yang dipenuhi kelelahan itu membuat hatinya merasa bersalah. Sampai Simon duduk di sebelahnya dan merangkul lembut.“Kenapa kamu tidur disini?” Simon malah balik bertanya.“Tidak apa. Hanya sesekali saja,” jawab Olivia enteng.Namun, hal itu malah membuat Simon kesal. Dengan nada suara dingin dia berkata, “Kalau begitu, semua ranjang di rumah aku jual saja.”Mendengar itu, Olivia berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Selalu saja begitu. Simon benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Hingga dia membenarkan posisi duduk, menatap ke arah Simon sepenuh
“Benar-benar kurang ajar Simon. Dia membuat wajah ku babak belur begini,” keluh Sean.Sean yang baru saja keluar dari mobil mendesis pelan ketika menyentuh ujung bibir yang berdarah. Bukan hanya itu, matanya pun membengkak, ditambah pipi yang memar. Simon benar-benar meluapkan kemarahannya, membuat Sean marsa sakit karena pukulan Simon yang tidak ditahan sama sekali.“Aku benar-benar akan membalasnya. Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal, Simon,” gumam Sean lagi.Sean memasuki ruang tamu, sesekali mendesis pelan. Luka di wajahnya juga belum diobati. Untuk membuka mulut benar-benar terasa sakit. Hingga dia melihat sang papa yang duduk di ruang keluarga, membuatnya melebarkan langkah.’“Pa, ak—“Prang.Sean yang baru akan mengadu langsung berhenti ketika sebuah gelas dilempar ke arahnya. Kedua matanya melebar, terkejut dengan apa yang papanya lakukan. Padahal dia merasa tidak membuat marah sang papa.“Dasar anak kurang ajar!” bentak Charles dengan suara menggelegar.Deg.Sean yang me
“Jadi, dia benar-benar sudah gila karena mau memilikimu?”Hera yang mendengar cerita dari Olivia pun langsung tersentak kaget. Kedua matanya melebar, tidak menyangka dengan kelakuan Sean kali ini. Pasalnya, selama pernikahan, Sean selalu bersikap dingin dan bahkan tidak peduli dengan Olivia.Jadi, kenapa sekarang dia peduli?‘Apakah ini yang dinamakan peduli di saat seseorang sudah memiliki hati yang lain?’ batin Hera. Dia mengelap sisa air yang belepotan di bibir.Sedangkan Olivia hanya bergumam pelan dan menganggukkan kepala. Dia tampak santai sembari menyeruput minuman di tangan. Benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang baru mengalami kejadian tak terduga.“Terus, dia melakukan apa denganmu?” tanya Hera dengan tatapan lekat. Dia semakin penasaran.“Dia mau menodaiku, berharap itu bisa membuatku menjadi milik dia seutuhnya. Tapi sayangnya, aku tidak peduli sama sekali. Aku sudah muak dan apa pun yang akan dilakukannya, aku tidak akan pernah kembali,” jawab Olivia.Hera yang
“Kamu dandan semenor ini untuk apa, Olivia? Mau menggoda pria-pria di kantor?”Olivia yang masih mengenakan make pun langsung berhenti. Manik matanya menatap ke arah Sean dari pantulan cermin. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan merasa sakit hati dengan ucapan
“Silahkan, Nona. Tuan Simon sudah menunggu anda.”Olivia yang baru saja datang ke perusahaan Simon dibuat terpana dengan bangunan tersebut. Semua tersusun dengan rapi dan gaya yang elegan. Baru masuk saja, Olivia sudah disuguhkan dengan desain perusahaan yang berbeda dari perusahaan kebanyakan. Dia
“Pa, kenapa Papa malah mendukung Olivia kerja di perusahaan Simon? Papa tahu kan dia itu seperti apa? Dia tidak pernah menyukai keluarga kita.”Sean yang kesal karena sang papa mendukung keinginan Simon pun langsung melayangkan protes. Sejak tadi dia sudah menahan karena sang papa yang memberikan i
“Kamu harus tenang, Olivia. Jangan kamu pikirkan. Anggap tidak pernah terjadi apa pun. Kamu harus terus bersikap biasa.”Olivia yang sejak tadi merasa salah tingkah mulai memberikan sugesti untuk diri sendiri. Meski dia sudah mengatakan tidak akan mengungkitnya, tetap saja kenangan itu terlintas da







