Share

43. Foreplay Tanpa Sentuhan

Author: Nina Milanova
last update Last Updated: 2026-01-17 19:38:39
Suara Greg kembali menyergap pendengaran Tara. Kali ini lebih mengancam, sekaligus penuh kendali. “Percayalah, Tara, kau tak ingin aku yang menarikmu keluar dari sana.”

Detak jantung Tara kian ribut. Seirama klakson yang bersahut-sahutan di luar. Dia ingin menjawab, tetapi kata-kata enggan keluar. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan berbagai kemungkinan.

“Ini bukan sekadar jemputan paksa. Ini adalah pelanggaran terhadap hakku sebagai manusia bebas,” sengitnya dalam hati.

Greg tidak perlu menjelaskan. Caranya menghentikan bus sudah cukup untuk mengatakan segalanya. Tak ada ruang tersisa bagi privasi dan kendali Tara. Begitu juga bagi keamanan publik. Yang ada hanyalah obsesi gilanya.

Tara mulai berpikir, dirinya telah salah melangkah. Dia sudah bermain dengan orang yang salah.

Urusannya dengan detektif itu tak akan berakhir baik. Yang lebih mengerikan, ini tak akan berakhir dengan mudah. Sekelebat dugaan itu menghadirkan badai dalam dadanya.

"Buka pintunya," ujar Tara pada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   46. Prosedur Terlarang

    Pria tua itu melongok ke kiri dan ke kanan lorong sambil terbatuk. Akan tetapi, yang dicarinya tak ada. Dia bersumpah mendengar suara-suara itu tadi. Bisik-bisik dan desah panas di depan pintunya. Sementara, salah satu pintu tetangganya baru saja tertutup dari dalam. Seiring dengan itu, bunyi nyaring kunci diputar dan rantai pengait digeser mengusik telinga. Tas bahu Tara yang basah merosot dan teronggok di lantai di bawah jendela. Begitu juga dengan cardigan dan sepatunya. Ketika dia berbalik, Greg sudah menjatuhkan tubuh di kursi kayu di depan meja kerjanya. Pria itu duduk dengan kaki terbuka. Matanya menatap Tara dengan intensitas yang membius. Dia melemparkan topinya ke sofa, lalu menepuk pahanya dengan tegas. Isyarat agar Tara mendekat dan menumpukan semua beban padanya. Tara menghampirinya. Langkahnya terseret dan menyerah, seperti subyek yang sedang mendatangi eksekutornya. Dadanya terasa sakit oleh detak tanpa jeda yang tercipta. Tubuhnya menggigil. Bukan hanya oleh air h

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   45. Janji Tertunda Detektif Brengsek

    Detektif brengsek… Umpatan yang terlontar dari mulut Tara membuat Greg terhenyak. Pria itu menyudahi pagutan mereka, begitu pun dengan usapan jemarinya. Dia memisahkan diri dari Tara, menatap raut wanita itu yang masih dibayangi gairah. Tara membuka mata perlahan. Dipandanginya sang detektif dengan kengerian sekaligus rasa ingin tahu. Ada sedikit penyesalan mengusik. Mungkin… tak seharusnya vonis itu terucap. Apakah Greg akan tersinggung? Apakah yang akan dilakukannya setelah ini? Apa dia akan menghukum Tara? Wanita itu mengulum bibir bawahnya oleh kecemasan dan antisipasi. Mata Greg… yang sewarna langit saat badai… masih memerangkap iris hijau zamrudnya yang berkabut. Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk seringai predator yang berhasil menyudutkan mangsanya. Alih-alih marah, Greg tersulut dengan cara yang sangat intim. Sebutan “detektif brengsek” yang Tara sematkan, terdengar lebih seperti pujian ketimbang makian. Dan, pengakuan dari wanita itu, lebih membanggakan, dar

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   44. Detektif Brengsek yang Membuatku Gemetar

    Greg tidak langsung menjauh. Dia menikmati respon tubuh Tara yang jujur, sebelum tangannya menyingkir. Digenggamnya tuas persneling, lalu memindahkan posisinya. “Kau gemetar," komentarnya datar dan singkat. Matanya menatap lurus ke jalan. Seolah-olah tidak melakukan apapun barusan. Akan tetapi, Tara mendengar kepuasan di nada suaranya. Tara menelan ludah dan menarik ujung lengan cardigan-nya. "Aku kedinginan," elaknya dengan suara yang goyah. Berusaha menutupi kenyataan. "Pendingin ruanganmu terlalu kencang." "Atau mungkin," lanjut Greg sambil meliriknya sekilas. Tatapannya mendarat tepat ke bibir Tara yang sedikit terbuka. Kemudian turun ke leher jenjangnya, di mana kalung yang menjadi bahan gunjingan di perpustakaan tadi melingkar, "kau mengingat apa yang terjadi, terakhir kali kita berada di ruang sempit dan tertutup." Wajah Tara memanas seketika. Tanpa diundang, bayangan tentang kamar mandi malam itu membanjiri ingatan. Uap hangat. Air pancuran. Dinginnya dinding keramik di

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   43. Foreplay Tanpa Sentuhan

    Suara Greg kembali menyergap pendengaran Tara. Kali ini lebih mengancam, sekaligus penuh kendali. “Percayalah, Tara, kau tak ingin aku yang menarikmu keluar dari sana.” Detak jantung Tara kian ribut. Seirama klakson yang bersahut-sahutan di luar. Dia ingin menjawab, tetapi kata-kata enggan keluar. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. “Ini bukan sekadar jemputan paksa. Ini adalah pelanggaran terhadap hakku sebagai manusia bebas,” sengitnya dalam hati. Greg tidak perlu menjelaskan. Caranya menghentikan bus sudah cukup untuk mengatakan segalanya. Tak ada ruang tersisa bagi privasi dan kendali Tara. Begitu juga bagi keamanan publik. Yang ada hanyalah obsesi gilanya. Tara mulai berpikir, dirinya telah salah melangkah. Dia sudah bermain dengan orang yang salah. Urusannya dengan detektif itu tak akan berakhir baik. Yang lebih mengerikan, ini tak akan berakhir dengan mudah. Sekelebat dugaan itu menghadirkan badai dalam dadanya. "Buka pintunya," ujar Tara pada

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   42. Kegilaan di Ladbroke Grove

    Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh. Bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal. Diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi target yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu. Dirapatkannya cardigan putih

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   41. Serigala di Kandang Anjing

    Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana. Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya. "Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status