Share

65. Hadiah Terlarang

Author: Nina Milanova
last update publish date: 2026-06-01 08:16:13

“Bereskan TKP. Malam ini juga. Jangan biarkan polisi datang. Dan jangan sampai media tahu,” perintah Greg pada seseorang di ujung telepon.

Matanya nyalang menatap hamparan cahaya dari lampu-lampu kota yang berkilau. Seperti kunang-kunang beterbangan di balik kabut. Satu tangannya tersimpan di balik saku celana. Bahunya kaku seakan sedang menahan beban.

Begitu percakapan usai, pria itu mematikan ponsel. Dia berbalik membelakangi jendela.

Dua jam berselang sejak eksekusi sebuah maneken di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   69.Ketika Langit Runtuh (TAMAT)

    Seminggu telah berlalu. Tak ada yang terjadi. Bahkan Sebastian tampaknya punya urusan lain yang membuatnya mendadak terbang ke Afrika Selatan. Malam itu, mereka berada di dalam keremangan teater bioskop. Di deretan kursi paling belakang yang terisolasi dari penonton lain. "Kau yakin ingin menonton ini?" tanya Greg pelan. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh dentuman sistem suara bioskop. "Bond bukan film yang menenangkan untuk seseorang yang sedang dalam pengawasan polisi." Lampu meredup, menyisakan kegelapan yang hanya diinterupsi oleh pendar cahaya putih dari layar perak yang mulai memutar iklan. Greg duduk dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam erat jemari Tara yang dingin. Tara menoleh, memberikan senyum tipis dengan kerling jail di matanya. "Tidak apa-apa. Polisinya menonton bersamaku.” Greg menghela napas. Diusapnya punggung tangan Tara dengan lembut. Dia tahu wanita itu butuh hiburan. Semenjak peristiwa penembakan di Notting Hill, dia hanya tinggal di aparteme

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   68. Sisa Badai Semalam

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, mencoba menghalau sisa-sisa kegelapan badai semalam. Greg sudah bangun lebih dulu. Aroma sabun maskulin dan kesegaran air menyelimuti tubuhnya yang kini terbungkus mantel mandi berwarna abu-abu gelap. Dia berdiri sejenak di tepi tempat tidur, menatap sosok yang masih terlelap di sana. Tara tampak begitu mungil di balik selimut tebal. Napasnya teratur, tetapi sesekali masih menyisakan sisa-sisa keletihan yang dalam. Greg membungkuk, mendaratkan kecupan lembut yang lama di kening Tara. Sentuhan itu membuat kelopak mata wanita itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan, menampakkan iris zamrud yang masih berkabut oleh kantuk. "Pagi," bisik Greg. Suaranya serak, tetapi penuh kelembutan yang kontras dengan kekerasan semalam. "Pagi..." jawab Tara parau. Dia mencoba bergerak, tetapi ringisan kecil lolos dari bibirnya saat otot-otot tubuhnya memprotes. Raut wajah Greg seketika berubah. Kecemasan yang sejak tadi dia tek

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   67. Kepatuhan yang Memabukkan

    Tara seharusnya mengerjapkan mata. Sebuah isyarat yang telah mereka sepakati. Agar Greg tahu bahwa sebutan merendahkan yang pria itu sematkan padanya tak dapat diterima. Dia seharusnya meminta Greg berhenti. Akan tetapi, panas yang menguar dari tubuh Greg di belakangnya begitu padat dan nyata, menjalari sepanjang tulang belakangnya, membuat pertahanan Tara meluruh. Kata-kata pria itu menjadi desiran halus yang menyusup ke telinganya, menyebar seperti racun sekaligus penawar ke setiap sel otaknya. Kata-kata menyakitkan yang dulu sering dilontarkan Sebastian, tanpa pernah Tara duga, kini terdengar seperti kidung rayuan saat meluncur dari bibir Greg. Tara tidak tahu apakah dia sudah gila. Apakah dirinya sudah terlalu terbiasa diremehkan dan direndahkan hingga dia tidak punya pilihan selain menikmatinya? Ataukah semata-mata karena Greg yang melakukannya? Pria yang sanggup menghancurkannya dan menyatukannya kembali, dengan cara yang lebih benar. Ketika rumbai-rumbai flogger di tan

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   66. Pria yang Memilikimu

    Sekilas, Tara sempat berpikir untuk menjauh. Mungkin, Greg sedang butuh waktu untuk menyendiri. Belum sempat dia beranjak, tangan Greg terurai, mengambil benda-benda di tangannya, lalu meletakkan ke atas meja granit. Dengan tiba-tiba, pria itu menarik pinggang Tara, meniadakan jarak di antara mereka. Memberi jawaban pada Tara akan apa yang telah dilakukannya. Mata kelabu Greg menatap istrinya itu lekat-lekat. Seakan hendak menelanjangi niat, keberanian, dan penyerahan diri yang ditunjukkan. Tara terkesiap. Pupilnya melebar penuh antisipasi. Jantungnya yang berdetak liar di balik sutra merah hati berdebar di rusuk Greg. "Kau tidak benar-benar menginginkan ini, Sayang," ucap Greg dengan nada yang mengancam. Menguji keberanian Tara, atau justru menantangnya. Tatapannya menghujam dengan intensitas yang membuat Tara meleleh. Tara menggeleng pelan. Namun, bibirnya berkata, “Aku menginginkan ini, Sir. Kau menginginkannya. Lakukan apa yang kau mau. Lakukan. Aku milikmu.” Sebutan

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   65. Hadiah Terlarang

    “Bereskan TKP. Malam ini juga. Jangan biarkan polisi datang. Dan jangan sampai media tahu,” perintah Greg pada seseorang di ujung telepon. Matanya nyalang menatap hamparan cahaya dari lampu-lampu kota yang berkilau. Seperti kunang-kunang beterbangan di balik kabut. Satu tangannya tersimpan di balik saku celana. Bahunya kaku seakan sedang menahan beban. Begitu percakapan usai, pria itu mematikan ponsel. Dia berbalik membelakangi jendela. Dua jam berselang sejak eksekusi sebuah maneken di Marrow Lane Residence, London masih meringkuk di bawah hujan yang tak kunjung reda sejak sore. Suasana Penthouse di Knightsbridge itu begitu sunyi ketika Greg kembali setengah jam lalu. Kesunyian yang seharusnya terasa damai. Alih-alih menghadirkan jejak ketegangan yang terbawa di pundaknya. Jas dan dasinya sudah terlepas. Menyisakan celana panjang dan kemeja, yang lengannya digulung ke siku dan dua kancing teratas dilepas. Namun begitu, suhu ruangan tetap saja terasa membakar kulitnya. Pen

  • Hasrat Terlarang Sang Detektif   64. Eksekusi di Marrow Lane

    Sebulan telah berlalu. Di seberang gedung Marrow Lane Residence, di balik bayangan pohon maple yang basah, sebuah senapan runduk dengan peredam suara terpasang diam menunggu. Larasnya mengintip dari celah tirai apartemen kosong di lantai empat, menyasar tepat ke unit 304. Unit yang selama ini Tara huni. Sabtu pukul 22.13 itu sebagian besar warga London memilih meringkuk di bawah selimut. Bukan tanpa alasan. Hujan kembali melanda. Bukan sekadar gerimis tipis, melainkan hujan deras dengan intensitas agresif. Seolah-olah alam semesta berkonspirasi bersama sang eksekutor untuk menunaikan tugasnya. Jalanan di antara kedua bangunan itu sepi. Tidak ada seorangpun melintas. Di dalam apartemen, lampu-lampu masih menyala. Dua siluet terlihat jelas dari balik tirai. Satu siluet pria, tinggi dan tegap di belakang sebuah kursi. Di depannya, siluet wanita, lebih mungil, dengan rambut panjang tergerai, duduk menghadap meja. Jari penembak itu bergerak pelan menarik pelatuk. Napasnya tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status