LOGINGreg tiba di Mayfair satu jam kemudian. Halaman depan TKP sudah penuh dengan dua buah mobil polisi lokal dan sebuah ambulan. Ada mobil Rachel juga.
Pria itu memarkir mobil dinasnya, sebuah SUV Jaguar F Pace berwarna silver, di seberang jalan. Aroma hujan yang tipis langsung menyambut begitu dia membuka pintu. Greg melangkah cepat sambil menunjukkan tanda pengenal dan lencana pada polisi lokal yang berjaga di luar. Tangannya menyibak garis kuning yang telah dipasang membentuk perimeter. Dilihatnya Rachel datang menghampiri dari arah pintu depan. Wanita itu membawa clipboard di tangan. Rambut auburn-nya yang diikat ponytail bergoyang-goyang tiap dia melangkah. Wajahnya yang serius terlihat lebih pucat dari biasanya. Rachel terhenyak selama sekian detik. Mata dengan manik coklat madunya sedikit menyipit melihat bekas noda pada mantel yang dikenakan Greg. Namun, dia tidak berkomentar. "Korbannya bernama Clarissa Maynard. Usia tiga puluh tahun. Berprofesi sebagai penulis. Ditemukan pukul delapan oleh tetangga seberang. Tidak ada jejak perlawanan. Tidak ada barang berharga yang hilang," papar Rachel tanpa basa-basi. Greg menaikkan satu alis. "Jadi bukan perampokan?" Rachel menggeleng. "Dan bukan bunuh diri juga. Kau lihat sendiri saja." Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Lorong sempit menuju ruang kerja korban terasa sunyi. Saat pintu terbuka, aroma logam dan tinta tua langsung menyergap hidung. Sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan terpampang di depan mata. Clarissa terduduk di kursi. Kepalanya terkulai dengan satu sisi wajah menempel di atas meja kerja di depannya. Matanya terbuka tetapi kosong. Sebuah mesin ketik antik menimpa sisi lain kepalanya. Huruf C dan V terlepas dan menancap di lehernya. Beberapa lembar kertas putih terhimpit di bawah kepala dan pergelangan tangannya. Greg menatap tanpa berkata. Ada sesuatu yang merayap perlahan dalam benaknya. "Apa dia bermaksud membuat pertunjukan teater?" gumamnya, separuh untuk dirinya sendiri. Rachel menunjuk lembaran kertas yang masih tergulung sebagian dari mesin ketik. "Setiap kata curian akan dibayar dengan darah.""Ditulis oleh korban?" tanya Greg.
"Tidak tahu," jawab Rachel. "Sidik jarinya ada. Tapi... bisa saja dipaksa. Posisi tubuhnya terlalu rapi." Setelah itu, Rachel beralih ke sisi lain ruangan. Memberi instruksi pada tim forensik. Sementara Greg menatap sekeliling. Ada foto-foto promosi Clarissa di rak. Kliping resensi. Beberapa buku karyanya. Semua tampak biasa. Namun... terlalu biasa. Seperti dipersiapkan agar tampak alami. Pandangan Greg kembali pada meja di depan tubuh Clarissa. Dia membungkuk sedikit. Di bawah tangan dan kepala Clarissa, ada lima lembar kertas yang terjepit. Dia menariknya perlahan setelah mengenakan sarung tangan latex.Kali ini Greg membeku. Jantungnya seperti terhenti selama sekian detik. Sebelum akhirnya berdetak berkali lipat lebih cepat.
Pada lembaran teratas tertulis. The Silent Slasher Oleh: Violet CrowDunia di sekelilingnya seperti memudar. Berganti kilasan gambar yang berkelebat di kepalanya.
Benturan dengan tubuh seseorang pagi tadi di stasiun. Rambut pirang. Mata hijau. Suara yang menggoda. Langkah terburu-buru. Dan, lembaran ini...
Judul dan nama yang tertulis di sana sama dengan yang tertulis di lembaran yang disimpannya di saku mantel. Keringat dingin muncul di punggung Greg. Bukan karena ngeri melihat mayat, tetapi karena fiksi yang dia pegang di sakunya ternyata adalah realitas yang bersimbah darah. Naluri detektifnya berteriak untuk segera menyerahkan lembaran itu sebagai bukti kunci. Akan tetapi, naluri gelapnya, naluri yang dipicu oleh mata zamrud itu, justru memerintahkannya untuk diam. Perlahan, Greg membaca halaman-halaman berikutnya. Ada nama Clarissa Maynard di sana. Semuanya digarisbawahi dengan spidol merah. Matanya beralih ke besi tombol huruf yang menancap di leher Clarissa. Huruf C dan V. Otaknya langsung bekerja dengan cepat menyusun petunjuk. Violet Crow. Greg kembali menatap lembar judul lebih lama. Lalu meletakkannya ke atas meja berdampingan dengan lembaran lainnya.Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengambil telepon genggamnya dan mulai memotret. Setelah selesai, Greg mengembalikan lembaran-lembaran itu ke posisi semula.
Ada semacam perasaan asing yang menggantung di benaknya. Entah kenapa, dia yakin tidak akan bisa memercayai bahwa wanita yang pagi tadi bertabrakan dengannya adalah... pelakunya. Tidak. Bukan dia. Wanita itu tampak terlalu rapuh untuk disebut licik. Terlalu canggung untuk disebut berbahaya. Greg masih mencoba mengingkari. Belum tentu kertas itu milik wanita pirang tadi. Mungkin saja milik orang lain yang tidak sengaja terjatuh. Segala kemungkinan itu ada. Akan tetapi, ingatannya kembali merangkai kepingan peristiwa yang telah lama berusaha Greg lupakan. Wanita berwajah lugu yang tampak polos dan selalu dia kagumi… darah di tangannya… Jantung Greg menabrak dadanya lebih keras dan cepat kali ini. Pandangan pria itu menjadi buram. Tidak ada yang tidak mungkin. Wanita di stasiun itu memang terlihat tidak bersalah. Akan tetapi, dia punya naskah pembunuhan sadis yang mungkin dia tulis sendiri. Dia layak mendapatkan hukuman. Dan hukuman yang terbersit di benak Greg, tidak ada hubungannya dengan undang-undang yang pria itu pelajari di universitas. "Yang benar saja, Gregory Alistair Evans," maki Greg pada diri sendiri saat sadar pikirannya mulai melenceng. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Seakan apa yang dilakukannya bisa memperbaiki penilaian yang tidak lagi sepenuhnya obyektif. Sepanjang karirnya, Greg tidak pernah mencampuradukkan pandangan pribadi dengan pekerjaan. Mungkin, karena selama ini dia belum pernah dihadapkan pada situasi semacam itu. Greg selalu bisa menempatkan segala sesuatu sebagaimana mestinya dan menjaga penilaiannya tetap jernih. Greg segera menyadari ada yang tidak beres. Bukan hanya tentang naskah atau wanita itu. Akan tetapi juga tentang dirinya sendiri. Greg tidak ingin menemukan pembunuhnya. Dia ingin menemukan pemilik naskah itu. Greg memutuskan kembali ke kantor untuk mencari tahu tentang Violet Crow. Rachel memanggil. Dia hanya menjawab dengan gumaman tak jelas dan melangkah keluar.Begitu menginjakkan kaki di halaman, dia melihat mobil media mulai berdatangan dari kejauhan. Greg memilih untuk pergi.
Sebelum menyalakan mesin mobil, pria itu menatap lagi lembaran judul yang dia keluarkan dari saku mantelnya. Lembaran itu menjadi potongan kecil cerita yang lebih dari sekadar bukti. Menjadi pertanyaan yang tak bisa Greg abaikan. Sebentuk hasrat telah tumbuh. Lebih gelap. Lebih terlarang daripada kasus yang harus dia pecahkan.Di seberang gedung Marrow Lane Residence, di balik bayangan pohon maple yang basah, sebuah senapan runduk dengan peredam suara terpasang diam menunggu. Larasnya mengintip dari celah tirai apartemen kosong di lantai empat, menyasar tepat ke unit 304. Unit yang selama ini Tara huni. Sabtu pukul 22.13 itu sebagian besar warga London memilih meringkuk di bawah selimut. Bukan tanpa alasan. Hujan kembali melanda. Bukan sekadar gerimis tipis, melainkan hujan deras dengan intensitas agresif. Seolah-olah alam semesta berkonspirasi bersama sang eksekutor untuk menunaikan tugasnya. Jalanan di antara kedua bangunan itu sepi. Tidak ada seorangpun melintas. Di dalam apartemen, lampu-lampu masih menyala. Dua siluet terlihat jelas dari balik tirai. Satu siluet pria, tinggi dan tegap di belakang sebuah kursi. Di depannya, siluet wanita, lebih mungil, dengan rambut panjang tergerai, duduk menghadap meja. Jari penembak itu bergerak pelan menarik pelatuk. Napasnya tertahan. Matanya menyipit mena
Greg tidak langsung membalas kemarahan Tara dengan kata-kata. Dia berjalan memutari meja, berlutut di depan kursi Tara, dan perlahan menarik tangan wanita itu dari wajahnya yang basah. "Lihat aku, Sayang," pintanya lembut. Tara mendongak. Matanya merah dan bengkak. "Kau tidak mengerti, Greg. Aku tidak punya apa-apa tanpa pekerjaan itu." Greg memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. Dia merogoh saku celananya. Dari dalamnya, pria itu mengeluarkan sebuah benda kecil yang dapat digenggam dan tersembunyi di telapak tangan. Benda itu terbungkus sarung kulit berwarna hitam. Terdapat ornamen metal berwarna silver di atasnya. Sesosok wanita dengan tubuh membungkuk ke depan, sementara kedua tangan terantang ke belakang. Kain di pundaknya berkibar menyerupai sayap. Spirit of Ecstasy. Bersama benda itu, Greg juga menyerahkan sebuah dokumen lisensi kepemilikan. "Kau punya dirimu sendiri. Itu lebih dari cukup," hibur Greg sembari meletakkan kunci dan lisensi itu di telapak tangan
Awan tebal menggantung rendah saat sebuah sedan mewah membelah kemacetan. Sedan itu bukan sekadar kendaraan. Itu adalah simbol status tertinggi. Bukan hanya pilihan para pesohor, tetapi juga para bangsawan dan keluarga kerajaan. Kendaraan itu melaju tenang menuju salah satu kawasan paling bergengsi di dunia. Knightsbridge. Di kursi penumpang, Tara Bradley, yang kini secara resmi menyandang nama Tara Evans dalam catatan sipil, meremas tali tasnya. Matanya menatap keluar jendela. Terpaku pada deretan butik mewah dan fasad bangunan klasik yang memancarkan kekayaan yang tak tersentuh. "Kita akan ke mana?" tanya Tara lirih. Suaranya masih terdengar rapuh setelah konfrontasi melelahkan dengan Javier di apartemennya. Greg meliriknya sekilas. Tangan kirinya kokoh memegang kemudi. Sementara tangan kanannya meraih jemari Tara, menggenggamnya erat. "Ke rumah kita. Sebuah penthouse di Knightsbridge. Anggap saja ini safehouse yang sudah kupersiapkan khusus untukmu. Kau tidak bisa kembali ke
Javier tidak langsung meninggalkan gedung Marrow Lane Residence. Amarah dan kecurigaan yang membakar dadanya tidak mengizinkannya pergi begitu saja. Alih-alih menuju tempat parkir, Javier memutar arah menuju lantai dasar, ke sebuah pintu kayu kusam bertuliskan Estate Manager. Tanpa mengetuk, Javier menerobos masuk. Suasana di dalam ruangan itu pengap, dipenuhi tumpukan berkas dan aroma kopi instan yang sudah dingin. Seorang petugas paruh baya dengan seragam yang tampak kebesaran tersentak dari kursinya. "Aku butuh rekaman CCTV seminggu terakhir. Sekarang juga!" tuntut Javier sambil menghantamkan kartu identitas organisasinya ke atas meja. Petugas itu mengerjap, tampak bingung sekaligus ketakutan. “Tuan, maaf, tapi..." "Tidak ada tapi. Ini menyangkut keselamatan klienku. Berikan aksesnya atau aku akan membawa polisi ke sini dengan surat perintah," gertak Javier. Petugas itu menghela napas pasrah, lalu memutar salah satu monitor di hadapan Javier. Layar itu gelap gulita. Hanya
Pintu terbuka lebar. Udara dingin dan aroma hujan pagi hari menyergap masuk. Tara hampir menjatuhkan cangkirnya saat mendapati sosok yang muncul di baliknya. “Javier Castillo,” sapa Greg tanpa intonasi. Matanya menatap dingin sosok pria seusia dirinya yang berdiri di depan pintu. Psikolog Javier Castillo adalah terapis Tara. Orang yang sudah lama Tara hindari. Dia juga pernah bekerjasama dengan Greg saat menangani korban kekerasan domestik bertahun lalu. Pria itu berwajah lembut. Meninggalkan kesan aristokrat yang dibingkai rambut coklat ikal sebatas leher. Pagi itu, Javier mengenakan mantel musim dingin coklat susu yang bernoda jejak hujan. Warna yang selaras dengan celana dan vest-nya. Kontras dengan kekelaman Greg dibalut pakaian serba hitam, Javier terlihat semringah dan hangat. Meskipun demikian, tetap saja Greg mengenali gestur defensif saat bersitatap dengannya. Javier tersenyum sarkastik ketika menyambut jabatan tangan Greg yang mengancam. “Wah, Detektif Evans. Pagi-p
Tirai linen yang menjuntai di jendela menjadi penghalang dari dunia luar. Bahkan di bawah cahaya pagi keperakan yang mulai mengintip, udara di kamar itu masih terasa padat. Bau keringat dan sisa Chardonnay membaur dengan gairah yang belum sepenuhnya reda. Napas mereka menderu, saling beradu, dengan ritme yang mulai melambat. Menit berikutnya, Greg terhempas di samping Tara, bersimbah peluh dan jantung bergemuruh seperti derap sepatu lars di lorong sunyi. Mereka saling berdiam diri selama beberapa saat. Memandangi langit-langit tinggi yang seakan menatap balik. Tara menarik selimut. Menutupi tubuh hingga ke dadanya yang masih naik turun oleh napas tersengal. Greg mengambil celananya dari lantai dan memakainya. Pria itu kemudian kembali berbaring memiringkan tubuh menghadap ke arah Tara, bertopang pada siku, memperlihatkan otot-otot di pundak dan lengannya. Caranya menelisik ke dalam manik zamrud Tara masih diliputi intensitas yang sama seperti semalam. Dia mengulurkan tangan,






