Se connecterNotting Hill pagi itu kelabu. Bahkan ketika matahari sudah tinggi. Cahaya hanya menyusup melalui celah tirai apartemen kecil di lantai tiga bangunan bata merah tua itu. Debu-debu di udara menari di antara sinar kuning lembut yang masuk dari jendelanya.
Di depan meja makan kecil yang juga berfungsi sebagai meja kerja, Tara Bradley berdiri menatap setumpuk naskah. Kertas-kertas itu sudah mengering setelah terkena cipratan hujan dan kopi pagi tadi. Akan tetapi, halaman depannya hilang. Halaman depan dengan judul novel dan nama pena itu lenyap entah ke mana. Tara menerka, itu pasti gara-gara insiden di Holloway Road. Padahal, Tara yakin tadi, tak ada lembaran naskahnya yang tertinggal di jalanan. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Hilangnya lembaran itu terasa seperti hilangnya kubah pengaman yang memisahkannya dari dunia nyata. Ingatannya melayang pada adegan tabrakan dengan seorang pria tinggi berambut gelap dan bermantel abu-abu, seperti warna manik matanya. Seorang pria yang tampak seperti baru keluar dari layar film noir. Bagaimana bisa pria seperti dia malah berkeliaran di atas trotoar basah London sepagi itu? Tara mengembuskan napas panjang mengusir bayangan yang mulai terasa mengganggu. Dia mengalihkan fokusnya pada layar laptop. The Silent Slasher Oleh: Violet Crow Nama pena itu kini jadi terasa ganjil. Dia memilihnya bertahun lalu. Pada masa-masa ketika dia masih yakin bisa menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya di balik nama asing dan eksentrik itu. Namun sekarang... sesuatu terasa janggal. Tangannya kembali menyentuh tumpukan hasil cetakan naskah. Ada bagian pojok kertas yang robek sedikit di tepinya. Bekas terjepit sepatu ketika dia berjongkok di trotoar pagi tadi. Rasa sesal menelusup perlahan. Dia seharusnya menerima tawaran penjaga Black Ink, kedai percetakan 24 jam, tempat dia mencetak naskahnya. Tawaran kantong plastik gratis untuk melindungi naskahnya dari cuaca London yang sulit ditebak. Tara menolak dengan alasan, "Aku tidak akan lama." Sekarang, ada halaman yang hilang. Mungkin terbang jauh tertiup angin. Meskipun, Tara bersikeras seharusnya naskah itu tidak hilang. Sebab, kehilangan selembar kertas tipis itu membuatnya gelisah. Bagi Tara, setiap halaman dalam naskah itu adalah bagian dari dirinya. Pikiran, mimpi buruk, rasa takut, dan mungkin juga dosa-dosa yang tidak pernah dia akui pada siapapun. Hilangnya satu lembar, bahkan hanya cover, membuatnya merasa seperti kehilangan sepotong identitas. Atau lebih buruk, seperti memberi izin tanpa sengaja pada dunia luar untuk membaca dosa-dosa tergelapnya. Dia menatap cangkir berisi minuman coklat yang sudah tidak menguarkan uap panas. Suara sisa hujan masih menetes di luar, mengenai talang logam, menghasilkan bunyi lembut yang berulang-ulang. Tara mengangkat cangkir, menyeruput sedikit, lalu memejam. Rasanya manis tetapi sedikit pahit. Bertolak belakang dengan hidupnya. Wanita itu mendesah dan berjalan menuju jendela. Dari sana, dia bisa melihat jalan sempit di bawah. Seorang pria tua dengan anjing kecil melintas, dan aroma roti panggang dari kafe di ujung blok menembus udara lembab. Notting Hill selalu punya pesonanya sendiri. Akan tetapi, pagi ini, semua tampak datar. Tara kembali ke meja. Dia menyusun ulang naskahnya, memeriksa satu per satu halaman. Tangannya gemetar sedikit karena cemas. Sekarang, dia yakin semua lembar masih ada. Hanya satu yang hilang. Halaman depan dengan judul besar dan nama pena yang tebal. Namun, di benaknya, satu bayangan wajah kembali muncul. Bukan sekali dua kali. Wajah itu terus muncul. Semenjak insiden tabrakan di depan stasiun bawah tanah beberapa jam lalu. Pria bermantel abu-abu itu. Tara merasakan belaian aneh di dadanya setiap kali mengingat suara baritonnya yang dalam ketika meminta maaf. Dan, cara pria itu menatap Tara, bukan seperti orang asing yang menabrak seseorang. Melainkan seperti seseorang yang mengenali. Membuat Tara merasa dilihat. Meskipun juga sekaligus seperti diteliti. Tubuhnya meremang oleh rasa yang sulit dijelaskan. Seulas lengkung tergambar di bibirnya dengan lebih jelas. Tara sendiri tidak tahu alasannya. Mungkin karena pria itu tampak seperti seseorang yang seharusnya sudah pernah dia tulis. Rambut hitamnya yang berpotongan klasik sedikit berantakan oleh angin dan kasus yang merenggut tidur malamnya. Ada gurat kelelahan di mata abu-abunya yang seperti langit London ketika hujan di musim gugur. Namun, tatapannya tetap jernih, fokus, dan mengendalikan. Pria itu bukan tipe yang mudah gugup. Bukan pula tipe yang sibuk mencari kesan. Semua tindakannya efisien. Seperti seseorang yang terbiasa menghadapi bahaya. "Apa-apaan kau ini, Tara?" Dia menggeleng sambil tertawa kecil oleh letupan euforia membayangkan pria itu. Ditatapnya tumpukan naskah tadi. "Cocok jadi tokoh utama," gumamnya pelan. Tangannya bergerak cepat meraih buku catatan dan pena yang langsung menari di atas kertas. Kebiasaannya setiap kali ide datang mendadak. Tokoh baru. Pria misterius. Wajah tampan yang lelah tetapi berwibawa. Parfum segar dan sedikit pahit. Matanya tajam. Punya rahasia yang tidak ingin dibagikan kepada siapa pun. Seorang pria yang bisa merobohkan sekaligus membangun dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba, gerakan penanya berhenti. Tara menatap tulisan itu lama. Rahasia yang tidak ingin dibagikan kepada siapa pun. Kalimat itu membuat tengkuknya seperti diterpa hembusan dingin. Tara meneguk ludah, lalu buru-buru menutup buku catatannya. Pria seperti itu... mengingatkannya pada satu sosok yang pernah dikenalnya. Sosok yang sudah lama hilang dari hidup Tara, tetapi meninggalkan jejak yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam. Tara mencoba menepis firasat aneh yang tiba-tiba muncul di benaknya. Tentang naskah itu. Tentang pertemuan pagi tadi. Tentang rasa terancam yang sulit dijelaskan. "Apa dia yang mengambil halaman depan itu? Tapi untuk apa? Ah, mungkin ini hanya paranoia," pikirnya. Tara sudah terbiasa hidup dengan itu. Diambilnya ponsel di meja dan membuka aplikasi pesan. Ada beberapa notifikasi dari temannya di perpustakaan yang menanyakan kabar dan undangan untuk minum teh sore nanti. Namun, matanya terpaku pada satu pesan tak dikenal yang baru masuk pukul 08.13. Pesan itu datang tanpa nama pengirim. "Aku membaca naskahmu, Violet Crow. The Silent Slasher. Tajam, dingin, anyir. Seperti aroma dosa. Akhirnya kau menulis sesuatu yang benar." Jantung Tara berhenti berdetak sejenak. Dia menatap layar itu lama. Jemarinya menggenggam ponsel erat-erat. Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa membaca The Silent Slasher kecuali dirinya sendiri. Naskah itu baru dicetak tadi malam. File-nya memang dia kirim ke kedai percetakan dan baru dia ambil pagi tadi. Namun, sebelum pergi, Tara sudah memastikan petugas menghapusnya dari komputer mereka. Saat ini, naskah itu hanya tersimpan di laptop pribadi. Apakah ada yang meretas laptopnya dan mengambil tulisannya? Tangannya mulai berkeringat. Ponsel itu nyaris terlepas dari genggamannya. Tara menatap sekeliling apartemen. Semua tampak sama. Akan tetapi, di antara semua itu, ada sesuatu yang mendadak terasa... berbeda. Udara terasa lebih berar. Sunyi terasa lebih menusuk. Tara menatap jendela. Seseorang bisa saja memata-matainya dari luar, tetapi dia tinggal di lantai tiga. Jadi, itu hampir mustahil. Kecuali dia tinggal di apartemen seberang. Dia berusaha tertawa kecil untuk menenangkan diri. "Oke, Tara, mungkin hanya spam. Mungkin orang iseng yang tahu nama pena 'Violet Crow' dari akun lamamu." Saat dia menatap ponsel itu lagi, notifikasi baru muncul. "Jangan khawatir. Aku menyukai ending-nya. Tapi kurasa kita bisa menulis ulang sedikit... bersama." Pesan itu diakhiri dengan emoji pena. Tara menjatuhkan ponselnya ke lantai. Jantungnya berdetak makin cepat seperti ingin meninggalkan ruang dadanya. Di luar jendela, langit London masih berwarna abu-abu. Burung-burung camar melintas rendah. Dan di suatu tempat, mungkin tidak jauh dari apartemen kecil itu, seseorang sedang menatap layar lain. Membaca setiap kata yang Tara tulis, bahkan mungkin yang belum siap dia publikasikan.Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh, bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal, diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi umpan yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu, merapatkan cardigan putih panjangny
Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana.Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya."Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan. M
Greg masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya yang tajam bak elang pengintai masih mengunci punggung wanita yang baru saja melakukan tindakan pengkhianatan paling halus tetapi paling menyakitkan di depannya.Gaun merah hati itu seharusnya dilarang berada di ruang publik. Apalagi di tempat yang hampir sakral seperti di perpustakaan ini.Gaun itu serta cardigan putih yang membungkus tubuh Tara ibarat darah segar yang mengalir di atas hamparan salju. Kontras, mengejutkan, dan berbahaya. Greg membayangkan bagaimana kain itu terasa di bawah telapak tangannya, dan mengapa Tara dengan sengaja memilihnya pagi ini.Dia menyatakan perang. Buntut dari Greg meninggalkannya dengan kata-kata kasar di apartemen tempo hari.Namun, yang membuat darah Greg mendidih hingga ke ubun-ubun bukan semata-mata karena pakaian yang mengekspos tubuh yang ingin dia kuasai sendirian. Kemarahannya dipicu oleh bagaimana Tara berbicara pada Isaac Irving.Dia melihatnya. Dia mendengar setiap intonasi yang Tara maink
Hari menjelang pukul dua siang. Di ruangannya, Tara menyisir rambutnya, menariknya ke atas, dan mengikatnya tinggi-tinggi hingga mengekspos garis lehernya yang jenjang. Bukan sekadar merapikan diri. Melainkan sebuah tindakan yang dia harap bisa memberikan rasa kendali.Dalam hitungan menit, dia harus sudah ada di ruangan kepala perpustakaan. Wanita itu menyambar buku catatan dan pulpennya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak ke pintu. Menuju lorong-lorong rak tinggi yang menyerupai labirin kayu ek tua.Bau debu dari buku-buku tua yang biasanya mampu meredakan badai di dalam dirinya. Namun hari ini, aroma itu gagal. Setiap inci tubuhnya yang dibungkus dress merah hati yang menantang dan cardigan putih yang menyamarkannya, masih terasa panas. Memori akan sentuhan Greg masih menempel di kulitnya.Saat melewati rak psikologi, tangannya terulur, menyisir punggung buku yang berbaris di sana. Dia kerap mencuri waktu di sini, mencari perlindungan dalam teori-teori tentang trauma dan ikatan
Pagi itu, Notting Hill tidak lagi beraroma mawar, rempah-rempah, dan tembakau mahal. Tara terbangun dengan napas yang terasa berat, seperti menghirup debu dari buku tua yang sudah lama tak tersentuh. Dia membuka mata dan menyadari kamarnya telah bertransformasi menjadi ruang aseptis yang dingin. Petugas kebersihan kemarin telah menjalankan tugas mereka dengan ketelitian anggota tim forensik. Aroma laut buatan yang asin dan tajam mengepung ruang tengahnya. Sementara itu, dari balik pintu kamar mandi, sisa-sisa klorin menguap seperti gas air mata. Sebuah upacara penghapusan yang sempurna. Tak ada lagi helai rambut hitam di bantal, tak ada lagi sisa jejak sepatu boots di lantai parket, dan yang paling menyakitkan, tak ada lagi aroma maskulin yang sempat menjajah indranya. Greg Evans telah lenyap. Tara telah mengusir jejak pria itu dari dinding dan lantai apartemennya. Meskipun begitu, Tara tahu, dia gagal mengeluarkan sang detektif dari labirin dalam kepalanya. Tara merasa ha
Sidang di ruangan Henry Cavendish pagi itu berakhir dengan senyap. Pintu ruangan tertutup dengan dentuman yang lebih berat dari biasanya di belakang Greg. Meninggalkan ketegangan yang beku di lantai teratas New Scotland Yard. Henry masih terpaku di kursinya. Lembaran kertas di tangannya kini tampak seperti pisau cukur yang siap menyayat nadinya sendiri. Martabat yang dia bangun selama puluhan tahun, arogansi yang dia pamerkan di depan cerutu mahalnya, menguap begitu saja. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan detik. Napasnya pendek, dan keringat dingin mulai membasahi kerah kemeja seragamnya. Bill, yang biasanya memiliki komentar untuk segala hal, hanya bisa menatap nanar ke arah meja. Dia tidak melihat isi amplop itu. Akan tetapi, dia melihat kehancuran di wajah atasannya. Masih lekat di pelupuk matanya saat Greg yang berjalan menjauh. Ada perasaan asing yang menyelimuti. Seolah-olah pria yang baru saja keluar dari ruangan itu bukanlah anak muda yang dia kena







