LOGIN"Sri, bawa ksdie eta cucianna!"
"Enya, sakedap Bi Minah." Di dapur belakang, aroma sabun cuci bercampur dengan kehangatan uap dari air panas. Sri dan Bi Minah bekerja berdampingan, menyiapkan cucian untuk dijemur. Mereka berasal dari desa yang sama di Jawa Barat, sehingga saat hanya berdua, percakapan mereka mengalir santai dalam dialek kampung halaman. Bi Minah, dengan wajahnya yang serius, mengulurkan pakaian basah kepada Sri. Ada beban pikiran yang tak bisa ia sembunyikan setelah melihat keintiman yang tidak wajar antara tuannya dan pembantu baru itu di meja makan. "Sri, ulah caket teing sareng Tuan Andra. Engke lamun Nyonya tahu, bisi jadi masalah," tegur Bi Minah, suaranya pelan dan penuh kekhawatiran seorang ibu. (Sri, jangan terlalu dekat dengan Tuan Andra. Nanti kalau Nyonya tahu, bisa jadi masalah). Sri yang sedang mengambil piring cucian, memutar matanya seolah kesal dengan tuduhan yang tak beralasan itu. Ekspresi yang ia tampilkan adalah rasa tidak suka yang wajar dari seorang gadis lugu yang difitnah. "Ih Bi Minah sok sembarangan. Tadi mah cuma ngobrol biasa," bantah Sri. Tangannya meraih pakaian basah di keranjang, melemparnya ke dalam wadah bilasan dengan sedikit gerakan kesal yang dibuat-buat. Bi Minah hanya mendesah. Ia tahu Sri adalah gadis yang ia bawa ke sini, dan ia merasa bertanggung jawab atas nasib gadis itu. Ia melipat pakaian yang sudah kering, matanya menatap tajam ke arah Sri di sampingnya. "Bibi mah cuma ngingetin, Neng kan masih muda, cantik. Banyak kok laki-laki yang pasti mau sama Sri. Jangan sampai tergoda sama suami orang. Engke disebut pelakor," lanjut Bi Minah, kalimat terakhirnya terdengar seperti peringatan yang tegas. (Nanti disebut perebut laki orang). Di dalam hati Sri, terjadi ledakan tawa kemenangan. Kata 'Pelakor' yang diucapkan Bi Minah justru terasa seperti pujian atas keberhasilannya. Ya, ia memang Pelakor, dan memang itu tujuannya. Ia datang ke rumah ini dengan dendam yang membara, mengorbankan diri, kehormatan, dan mahkotanya semalam, semua demi menjerat Andra ke dalam pesonanya yang mematikan. Namun, di luar, Sri mempertahankan air mukanya. Ia memalingkan wajah dari Bi Minah, tersenyum sinis, seolah tuduhan itu tidak masuk akal. "Ngaco Bi Minah mah ih," balas Sri, pura-pura merendahkan diri. "Tuan Andra mah mana mau atuh ka saya. Sri mah cuma orang kampung, Bi. Lagi pula, Tuan Andra itu sayang sama Nyonya Sarah, kok." Sri berhasil. Ekspresi ngawur dan tidak percaya diri yang ia tunjukkan cukup untuk menenangkan Bi Minah. Wanita tua itu tidak ingin berpikir buruk pada gadis yang ia percayai. Bi Minah menghela napas, mengangguk, dan kembali fokus pada jemurannya. Ia memilih untuk memercayai Sri. "Ya sudah. Bibi percaya neng orang baik, Sri. Jangan macam-macam, ya. Kalau ada apa-apa bilang sama Bibi," tutup Bi Minah, memberikan Sri kesempatan emas untuk terus melancarkan aksinya tanpa pengawasan ketat. Di dalam hati Sri, dendam itu berbisik nyaring. Andra sudah tergoda dan Sarah sudah mulai terasing. Lalu Bi Minah sudah tertipu. Rencana Sri untuk menghancurkan rumah tangga Andra Pratama kini sudah berjalan sempurna, dimulai dari sebuah meja berdebu di gudang tua. "Cucian nu garing, simpen. Bibi mau lanjut nyuci." "Siap, Bi." Setelah perbincangan singkat dengan Bi Minah di dapur, Sri segera menjalankan tugas berikutnya. Ia membawa tumpukan pakaian bersih yang sudah dilipat Bi Minah ke kamar utama. Kamar yang luas itu terasa asing, penuh dengan aroma parfum mahal Sarah dan wibawa Andra. Dengan gerakan hati-hati, Sri mulai merapikan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari besar. Pikirannya melayang, menghitung langkah balas dendamnya. Namun tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Bersamaan dengan itu, kecupan hangat mendarat di lehernya yang mulus. Sri terkejut, namun bukan karena takut, melainkan karena timing-nya yang terlalu cepat. Dari pantulan pintu lemari yang mengilap, ia bisa melihat bayangan Andra yang hanya mengenakan handuk yang melilit longgar di pinggangnya. Ia baru saja selesai mandi, bersiap untuk berangkat ke kantor. "Tuan… jangan begini," bisik Sri, berpura-pura menolak. "Nanti ada yang lihat." Andra mengabaikannya. Keintiman semalam di gudang telah merusak semua batas. Ia kini haus, dan kamar pribadinya terasa seperti wilayah bebas bagi hasratnya. Tepat saat Andra hendak mencium lehernya lagi, Sri seolah sengaja membalikkan badan. Gerakan itu membuat jarak mereka makin tipis. Sri meletakkan telapak tangannya di dada bidang sang majikan yang polos tanpa tertutup apapun. Sentuhan singkat itu membuat Andra makin tergila-gila. Tanpa aba-aba, Andra pun meraup bibir wanita itu. Ciuman itu dalam, mendesak, dan penuh hasrat terlarang. Untuk sesaat, keduanya hanyut dalam pusaran gairah. Sri membalas ciumannya dengan intensitas yang sama, menggunakan kesempatan ini untuk mengukuhkan kekuasaannya atas Andra. Tangan besar itu meremas dada Sri, lalu turun ke bawah menyelinap masuk ke dalam roknya. "Mmmhhh... Tuan... jangan!" DUK! DUK! DUK! Suara langkah kaki yang tergesa-gesa di lantai marmer lorong mengejutkan mereka. Sarah! Secara refleks, Andra melepaskan Sri dan berlari ke kamar mandi. Sementara Sri, dengan cepat membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan, dan melanjutkan tugasnya merapikan pakaian di lemari, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena tantangan yang mendebarkan. Sarah masuk ke kamar, wajahnya cemberut dan kesal karena harus menunggu. Ia menatap Sri dengan pandangan sekilas yang angkuh. "Sri, di mana suamiku?" tanya Sarah, nadanya dingin dan tidak sabar. Sri berbalik, wajahnya menampilkan ketenangan yang sempurna. "Saya tidak tahu, Nyonya. Mungkin masih di kamar mandi," jawab Sri, merujuk pada pintu tertutup yang baru saja dimasuki Andra. Sarah mendesah kesal. Ia lalu berteriak memanggil suaminya, menuntut Andra segera keluar karena mereka sudah terlambat untuk rapat pagi. "Andra cepatlah! Kita ada rapat penting hari ini." Sementara suara teriakan Sarah menggema di kamar itu, Sri hanya bisa tersenyum puas. Ia menunduk, pura-pura fokus pada lipatan kemeja, tetapi di balik matanya, ia tahu ia baru saja memenangkan satu ronde lagi. Kekuasaan Sri atas Andra semakin kuat, dan ketidakharmonisan antara Andra dan Sarah semakin tajam. Setelah Sarah pergi, Andra kembali lagi ke kamar itu. Mendekap pelayan cantik itu di tubuhnya yang masih telanjang dada. Bisikan-bisikan cabul menyerbu telinga Sri, membuatnya tertawa menahan perasaan jijik. Dia mendorong Andra menjauh, "Tuan... kita akan bertemu lagi nanti malam. Jadi cepat bersiap, sebelum Nyonya marah." Andra tertawa pelan, "Baiklah. Kau harus menungguku malam ini, Sri. Jangan sampai tertidur, atau aku akan mengganggu tidurmu." Sri berjalan mendekat, namun melewatinya begitu saja. Lengan mungilnya menarik handuk yang membelit di pinggang Andra, jatuh begitu saja ke laintai. Sri hanya tertawa pelan, namun tatapannya benar-benar membuat Andra tersenyum kecil. "Ah, maaf Tuan... saya tidak sengaja. Sampai jumpa nanti malam."Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda darah kering milik Sri masih membekas di kemeja putih mahalnya. Darah dari anak yang sangat ia dambakan. Tak lama kemudian, Sarah datang dengan wajah cemas yang luar biasa. Ia baru saja tiba dari salon setelah mendapat kabar mengejutkan melalui telepon dari Arka. "Andra! Bagaimana keadaan Sri? Dan bayinya?" tanya Sarah sambil memegang bahu suaminya. Andra mendongak. Matanya merah dan sembab, namun ia segera memasang topeng ketenangan yang rapuh saat melihat istrinya. Ia ingin berteriak, ia ingin meraung meratapi kehilangan hartanya yang paling berharga, namun ia sadar bahwa di depan Sarah, ia tidak boleh menunjukkan duka yang berlebihan untuk seorang anak pelayan. Pintu ruang operasi terb
Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta bagi Andra. Andra tampak seperti pria yang baru saja memenangkan lotre kehidupan. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mengusap perut itu dengan wajah yang berseri-seri, membayangkan masa depan di mana darah dagingnya akan mewarisi segalanya. Kontras dengan kebahagiaan itu, Sarah semakin tenggelam dalam kemurungan. Hingga detik ini, rahimnya tetap sunyi, sebuah kekosongan yang membuatnya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang istri. Kepulangan Nyonya Lydia ke kediaman pribadinya di luar kota menjadi angin segar bagi Andra. Tanpa pengawasan sang matriark yang bermata elang, Andra menjadi semakin berani. Ia tak segan memeluk Sri di ruang tengah atau mencium keningnya di depan Arka. Arka
Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah pepohonan besar di halaman belakang. Arka sedang membantu Sri mengangkat keranjang cucian yang berat. Sri jadi mudah lelah, membuat Arka tidak tega membiarkan wanita itu bekerja sendiri. Di antara mereka, ada keheningan yang berbeda dari biasanya. Sisa-sisa percakapan emosional semalam masih menggantung, membuat setiap tatapan mata terasa lebih bermakna. Namun, ketenangan itu terganggu saat Sarah muncul dari beranda belakang. Wajahnya tampak pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak tidur nyenyak. "Arka, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja," panggil Sarah dengan nada yang tenang namun menyimpan otoritas. Sri memberikan isyarat dengan matanya agar Arka mengikuti majikannya. Arka meletakkan keranjang cucian dan berjalan mengekor di belakang Sarah menuju bangku taman yang agak jauh dari jangkauan telinga orang lain. Sarah duduk dengan anggun, namun jemarinya terus meremas kain bajunya sendiri.
Malam itu, paviliun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menonjolkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kecil tersebut. Arka duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari punggung Sri yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias sederhana. Pikiran Arka berkecamuk. Bayangan kejadian-kejadian sebelumnya. Pelukan panas Andra, desahan Sri, dan bagaimana wanita itu dengan lihai bersandiwara di depan Sarah terus menghantuinya. Ia merasa seperti sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang mengerikan, di mana pemeran utamanya adalah wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya. "Sri," panggil Arka lirih. Suaranya pecah di tengah kesunyian. Sri tidak berhenti menyisir. "Hmm?" "Sebenarnya kau itu mencintai Tuan Andra atau tidak?" Arka menjeda sejenak, mengumpulkan keberanian. "Kenapa kau selalu bersikap begitu manis di depannya, menikmati sentuhannya, tapi di belakangnya kau seolah sedang merencanakan kehancurannya?" Sri menghe
Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar paviliun yang sempit itu justru terasa semakin panas dan menyesakkan. Andra tidak lagi memedulikan etika atau kemungkinan ada mata yang mengintai. Di atas ranjang kayu yang berderit pelan, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Sri, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang. Sentuhan Andra menjadi semakin liar dan menuntut. Ia menciumi Sri dengan penuh rasa memiliki, seolah-olah ingin menghapus jejak keberadaan Arka dari ruangan itu. Di bawah dekapan Andra, Sri membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Ia memberikan respon yang membuat Andra semakin kehilangan akal sehatnya. Desahan-desahan halus mulai memenuhi ruangan, menenggelamkan rasa takut akan resiko yang mereka ambil. Bagi Andra, momen ini adalah kemenangannya atas Arka. Meskipun dunia melihat Arka sebagai suami Sri, di atas ranjang ini, ia membuktikan bahwa dirinyalah penguasa tunggal atas jiwa dan raga wanita itu. Gairah yan
Di dalam kamar utama, suasana masih terasa tegang. Sarah mondar-mandir dengan wajah cemas, sementara Andra duduk di tepi ranjang, pura-pura sibuk memeriksa jam tangannya seolah-olah penemuan kunci inggris berdarah itu hanyalah interupsi kecil yang mengganggu jadwalnya. "Andra, aku tidak bisa tenang. Aku ingin melaporkan masalah ini ke polisi besok pagi. Aku hanya takut para preman itu salah sasaran. Mungkin mereka pikir Arka itu kau karena dia menyetir mobilmu," ucap Sarah dengan nada suara yang bergetar karena khawatir. Andra bangkit, melangkah mendekati istrinya dan mengusap pipinya dengan gerakan yang terlihat sangat penuh kasih, meski di dalam kepalanya ia sedang memutar otak untuk menutupi kejahatannya. "Kau tenang saja, Sayang. Aku tidak selemah lelaki itu. Aku bisa membela diri dengan jauh lebih baik," ucap Andra dengan nada sombong yang terselubung. "Tapi Andra... Arka itu terluka parah, dan Sri..." Sebelum Sarah sempat melanjutkan kalimatnya, Andra segera menarik tubuh i







