공유

Obsesi dan Cemburu

작가: Nona Lee
last update 최신 업데이트: 2025-11-20 00:17:09

"Kau itu lambat sekali akhir-akhir ini. Awas saja jika kau sampai membuat masalah di eapat penting kita!"

Pagi itu, mobil mewah Andra melaju membelah padatnya jalanan ibu kota. Di sampingnya, Sarah terus mengomel tentang keterlambatan mereka dan jadwal rapat yang harus direvisi.

"Hei, Andra! Bantu aku merevisi semuanya!"

Namun, pikiran Andra Pratama sama sekali tidak berada di jalanan, atau di ruang rapat. Obsesinya terpaku pada bayangan seorang pelayan dengan rambut dikepang dua. Ia terus-menerus mengingat sentuhan singkat di kamar utama tadi. Kehangatan, gairah, dan bahaya yang ia rasakan dalam pelukan Sri di pagi hari jauh lebih nyata daripada angka-angka dan proyek yang akan ia bahas di kantor.

Di tengah rapat penting, Andra terlihat lesu dan tidak fokus. Ia menjawab pertanyaan rekan kerjanya dengan jawaban yang melantur, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela.

"Andra, fokus!" tegur Sarah, suaranya tajam dan penuh ketidaksenangan. Ia menendang kaki Andra di bawah meja, mencoba mengembalikannya ke realitas.

Andra tersentak. Ia menatap Sarah dengan sorot mata yang tajam, penuh amarah yang menumpuk.

"Bisakah kau diam, Sarah?! Aku tahu apa yang kulakukan!" balas Andra dengan suara rendah yang mengancam, memarahi istrinya di depan rekan-rekan mereka.

Sarah terkejut dan malu, tetapi ia memilih bungkam, mencatat kekesalan ini untuk dibalas di rumah. Andra tahu ia bersalah karena memarahi Sarah di depan umum, tetapi hasratnya untuk segera pulang dan bertemu Sri jauh lebih kuat daripada rasa bersalah itu. Sri telah menjadi kompas utamanya.

Malam tiba dengan kelelahan yang menggantung di udara, tetapi pikiran Andra terasa segar. Ia dan Sarah tiba di rumah dalam keheningan yang dingin.

Setelah makan malam yang tegang, Sarah mencoba memperbaiki suasana. Di kamar, saat Andra berbaring di ranjang, Sarah mendekat, menggodanya dengan sentuhan sensual.

"Kau marah padaku?" tanya Sarah lembut, mencoba meyakinkan Andra bahwa ia tetap menarik. "Aku bisa membayarnya sekarang, Sayang."

Namun, Andra merasa tidak bernafsu. Tubuh Sarah, yang seharusnya menjadi pelepas hasratnya, kini terasa hambar dan asing setelah ia merasakan kepuasan murni dari Sri. Ia beralasan lelah, memejamkan mata erat-erat, dan mendengkur palsu.

"Aku lelah sekali, Sarah. Ada rapat besok pagi," bohong Andra.

Sarah mendesah frustrasi, menjauh. Tak lama kemudian, ia tertidur, didominasi oleh kekesalan.

Begitu ia yakin Sarah sudah terlelap, Andra membuka matanya. Ia bangkit dari ranjang, lalu keluar kamar dengan langkah kaki seringan mungkin. Misi malam ini jelas, ia harus bertemu Sri. Menagih janji wanita itu tadi pagi untuk bertemu dengannya.

Ia menyelinap melewati lorong gelap, jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut ketahuan, tetapi karena antisipasi gairah. Ia berjalan menuju area kamar pelayan di belakang.

Saat Andra mendekati area belakang, ia tidak langsung menuju kamar Sri. Ia berhenti di sudut koridor, mengamati sekitar.

Namun, pemandangan yang menyambutnya bukan Sri yang sedang menunggu di balik pintu kamar. Melainkan Sri yang sedang berdiri di dekat garasi, asyik mengobrol dengan Bambang, supir pribadi keluarga mereka.

Rambut Sri tidak lagi dikepang dua, melainkan diikat ekor kuda longgar. Ia tampak lebih santai, tawanya terdengar renyah, tqwa yang tidak pernah ia berikan kepada Andra. Bambang, yang terkenal muda dan ramah, terlihat tersipu malu sembari membetulkan letak topi kerjanya. Mereka berdua terlihat terlalu akrab.

"Serius neng Sri masih sendiri? Masa sih? Aa mah teu percaya da."

"Asli Aa ih, mana ada cowok yang mau sama Sri."

Sekelebat bayangan buruk menyambar pikiran Andra. Apakah Sri sering melakukan ini? Apakah aku bukan yang pertama seperti yang ia katakan? Apakah Bambang juga sudah mencicipi manisnya gadis desa itu?

Kemarahan, yang merupakan campuran antara obsesi, kebanggaan yang terluka, dan cemburu langsung membakar dada Andra. Ia merasakan darahnya mendidih. Ia tidak bisa membiarkan supir rendahan itu mendekati wanita yang baru saja ia klaim sebagai miliknya.

"Sialan!"

Andra mengepalkan tangannya. Ia membatalkan niatnya untuk menyentuh Sri malam ini. Sebagai gantinya, ia mundur perlahan, matanya menyala dalam kegelapan. Ia harus menemukan cara untuk memastikan Sri tidak akan pernah berbicara dengan laki-laki lain di rumah ini lagi.

"A Bambang, saya pamit tidur ya. Sudah malam," ucap Sri sembari menunduk sopan.

Bambang tersenyum kecil, "Iya Neng, silahkan."

Sri meninggalkan Bambang di sana. Senyum yang manis itu lenyap. Entah mengapa sandiwaranya menjadi berkali-kali lipat akhir-akhir ini.

Sementar itu, Andra tidak pergi. Ia membatalkan niatnya untuk kembali ke kamar utama, memilih untuk menunggu Sri di kamar kecilnya. Ia menyelinap masuk, menutup pintu tanpa suara, lalu duduk di kursi kayu sempit di sudut ruangan, membiarkan kemarahan dan cemburu memakan dirinya.

Tak lama kemudian, pintu di buka perlahan, dan Sri masuk. Gadis itu terkejut setengah mati.

"Tuan? Anda sedang apa di sini?" bisik Sri, matanya membesar karena terkejut melihat majikannya duduk dalam gelap.

Sri buru-buru menutup pintu kamar. Ia berjalan ke tepi ranjang dan duduk. Sebenarnya, ia tahu Andra telah melihatnya bersama sang supir tadi. Ia jiga memang sengaja membuat Andra melihatnya mengobrol akrab dengan Bambang di luar, mengira kecemburuan adalah umpan terbaik. Dan dugaannya benar, wajah Andra tampak begitu kesal, diselimuti bayangan dan amarah.

"Ada hubungan apa kau dengan Bambang?" tanya Andra, suaranya rendah dan penuh tuntutan.

Sri memasang senyum paling polos yang ia miliki, seolah-olah Andra menanyakan hal yang tidak masuk akal. "Aa Bambang? Tidak ada, Tuan. Kami hanya teman biasa."

Andra tertawa pelan, tawa sinis yang membuat bulu kuduk Sri merinding. Ia bangkit, melangkah cepat ke arah Sri. Dengan gerakan kasar, ia mendorong tubuh wanita itu hingga terbaring di ranjang sempit. Andra menahan tubuhnya di atas Sri, mengunci pergerakan gadis itu.

Sri hanya terdiam pasrah, menatap majikannya dengan mata yang penuh misteri.

"Tuan... jangan begini," bisik Sri, napasnya terasa tertahan di antara tubuh mereka.

Andra mendekatkan wajahnya, matanya menyala. Gairah bercampur kecemburuan membuat suaranya menjadi perintah yang mutlak. "Aku tidak suka kau dekat dengan lelaki lain, termasuk supir rendahan itu. Kau hanya milikku, ingat itu."

Andra tidak memberi kesempatan Sri untuk menjawab. Sebuah ciuman tiba-tiba mendarat di bibir Sri, ciuman kasar, penuh api cemburu, dan klaim kepemilikan. Ia mencium Sri dengan paksa, menuntut, seolah ingin menghapus setiap jejak percakapan Sri dengan Bambang.

Di dalam hati, Sri merasakan gelombang kemenangan dan kebanggaan yang dingin. Ya, Andra. Kau sudah jatuh. Kau adalah milikku sekarang, batinnya keji.

Keduanya segera larut dalam pusaran gairah. Pakaian mereka mulai tersingkap, napas mereka menderu, dan kamar kecil itu dipenuhi hasrat terlarang untuk kedua kalinya.

TUK! TUK!

Tiba-tiba, sebuah ketukan pintu yang teratur mengejutkan Andra. Jantung mereka serasa berhenti berdetak.

"Sri, sudah tidur?"

Itu suara Bambang. Suara itu terdengar ramah, tetapi bagi Andra, itu adalah suara peringatan yang mematikan.

Sri, yang paling cepat kembali sadar, mendorong dada Andra menjauh. Matanya panik.

"Cepat, Tuan! Sembunyi di lemari!" perintah Sri dengan desis pelan.

Andra, yang masih dipenuhi gairah dan amarah, terpaksa beringsut. Ia menyelinap masuk ke dalam lemari kecil Sri, menutup pintunya hanya dengan celah tipis.

"Sri?" panggil Bambang kembali.

"Iya, sebentar!" seru Sri ke arah pintu, suaranya berusaha terdengar normal.

Sri melompat dari ranjang, buru-buru membenahi pakaiannya yang sudah berantakan, dan mengusap bibirnya yang basab. Ia mengatur napasnya di depan cermin kecil.

Begitu ia merasa sudah rapi, Sri membuka pintu. Di depannya, Bambang berdiri, wajahnya terlihat khawatir dan sedikit cemas. Bambang menatap ekspresi Sri yang sedikit aneh, seperti baru saja melalukan sesuatu.

"Ada apa A?" tanya Sri dengan wajah bingungnya.

Lelaki itu nampak begitu gelisah, seolah sedang memikirkan sesuatu. Entah bagaimana, Sri menyadari sesuatu. Tanpa berpikir panjang, dia mempunyai sebuah ide gila.

"Aa bade kalebeut moal?" tanyanya. "Nanti ngobrolna di dalem we. Hayu!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Bayangan Masa Lalu

    Malam itu, kantor pribadi Andra di rumah besar itu terasa sangat mencekam. Lampu meja yang redup hanya menyinari sebagian wajahnya, menyisakan sisi lainnya tenggelam dalam kegelapan. Di hadapannya, sebuah botol wiski sudah hampir kosong. Andra sedang berusaha menenggelamkan suara tangis bayi dalam kepalanya, namun alkohol justru membawanya ke sebuah lorong waktu yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Pikirannya melayang kembali ke beberapa tahun yang telah lalu. Wajah itu muncul kembali. Wajah yang sangat mirip dengan Sri, namun memiliki tatapan yang jauh lebih lembut. Myla. Dalam ingatannya, Andra melihat dirinya sendiri yang lebih muda, sedang berdiri di sebuah taman kecil yang basah karena hujan. Myla berdiri di depannya dengan tubuh gemetar, tangannya memegang erat jemari Andra. "Andra, aku hamil... ini anakmu," suara Myla dalam ingatan itu terdengar begitu jernih, memecah kesunyian malam di ruang kerjanya. Saat itu, Andra sangat mencintai Myla. Ia adalah separuh jiwanya.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Harga Sebuah Nyawa

    Di dalam kamar perawatan yang hanya diterangi oleh lampu temaram di atas nakas, keheningan terasa begitu berat, seolah udara di ruangan itu telah berubah menjadi timah. Arka berdiri di ujung ranjang, menatap Sri yang sedang bersandar pada tumpukan bantal. Wajah wanita itu pucat pasi, namun matanya memancarkan ketenangan yang menurut Arka sangat tidak wajar bagi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Arka tidak bisa lagi membendung badai di dalam dadanya. Ia telah menyaksikan bagaimana Sri menjebak Andra di tangga, melihat darah itu mengalir, dan kini ia melihat Sri justru menikmati kehancuran mental majikannya. "Sri, jawab jujur padaku," suara Arka terdengar berat, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kau sengaja menjatuhkan dirimu, kan?" Sri tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jemarinya yang terlihat sangat putih di bawah cahaya lampu. Sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Apa bedanya, Arka? Hasil

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Dihantui Rasa Bersalah

    Siang itu, koridor rumah sakit terasa lebih tenang. Sarah terpaksa pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan dan mandi, meninggalkan Andra yang bersikeras ingin menjaga Sri di kamar perawatan. Andra beralasan bahwa ia merasa bertanggung jawab secara moral atas kecelakaan itu, sebuah alasan yang diterima Sarah dengan penuh haru tanpa menaruh curiga sedikit pun. Kini, di dalam kamar kelas satu yang sunyi, hanya ada Andra dan Sri. Suara detak jam dinding seolah berdetak seirama dengan kegelisahan di dada Andra. Ia duduk di kursi samping ranjang, menatap tangannya yang masih terasa bergetar. Sri perlahan memiringkan kepalanya, menatap Andra dengan wajah pucat dan mata yang sayu, namun tajam. "Tuan..." panggil Sri dengan suara lirih yang serak. Andra segera tersentak dari lamunannya. "Iya, Sri? Kau butuh sesuatu? Air? Atau panggil dokter?" Sri menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya yang tertusuk jarum infus, meraih ujung kemeja Andra. "Tuan, apakah kau mendengarnya? Sejak

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Gema Di Lorong Kesunyian

    Suasana rumah sakit di malam hari selalu memiliki aura yang mencekam, namun bagi Andra, tempat ini telah berubah menjadi ruang penyiksaan pribadi. Setelah Sarah tertidur di kursi tunggu karena kelelahan, Andra memutuskan untuk berjalan menyusuri koridor yang sepi, mencari ketenangan yang mustahil ia dapatkan. Langkah kaki Andra bergema di atas lantai porselen. Namun, di antara suara langkahnya, ia mulai mendengar sesuatu yang tidak masuk akal. Sebuah suara halus, seperti rintihan kecil yang semakin lama semakin jelas. Oeeek... oeeek... Andra mematung di tengah koridor. Bulu kuduknya berdiri. Suara itu adalah suara tangisan bayi yang baru lahir—suara yang seharusnya tidak ada di sayap rumah sakit khusus pasien pasca-operasi ini. "Siapa itu?" bisik Andra, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan mata yang membelalak. Tidak ada siapa-siapa. Lorong itu kosong, hanya diterangi lampu redup yang berkedip. Namun, suara tangisan itu kembali terdengar, kali ini terasa sangat dekat, seolah-olah

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kematian Dalam Keheningan

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda darah kering milik Sri masih membekas di kemeja putih mahalnya. Darah dari anak yang sangat ia dambakan. Tak lama kemudian, Sarah datang dengan wajah cemas yang luar biasa. Ia baru saja tiba dari salon setelah mendapat kabar mengejutkan melalui telepon dari Arka. "Andra! Bagaimana keadaan Sri? Dan bayinya?" tanya Sarah sambil memegang bahu suaminya. Andra mendongak. Matanya merah dan sembab, namun ia segera memasang topeng ketenangan yang rapuh saat melihat istrinya. Ia ingin berteriak, ia ingin meraung meratapi kehilangan hartanya yang paling berharga, namun ia sadar bahwa di depan Sarah, ia tidak boleh menunjukkan duka yang berlebihan untuk seorang anak pelayan. Pintu ruang operasi terb

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tumbal Pengampunan

    Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta bagi Andra. Andra tampak seperti pria yang baru saja memenangkan lotre kehidupan. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mengusap perut itu dengan wajah yang berseri-seri, membayangkan masa depan di mana darah dagingnya akan mewarisi segalanya. Kontras dengan kebahagiaan itu, Sarah semakin tenggelam dalam kemurungan. Hingga detik ini, rahimnya tetap sunyi, sebuah kekosongan yang membuatnya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang istri. Kepulangan Nyonya Lydia ke kediaman pribadinya di luar kota menjadi angin segar bagi Andra. Tanpa pengawasan sang matriark yang bermata elang, Andra menjadi semakin berani. Ia tak segan memeluk Sri di ruang tengah atau mencium keningnya di depan Arka. Arka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status