Share

Permohonan Maaf

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 11:22:37

Malam itu, rumah mewah keluarga Pratama nampak begitu tenang di permukaan, namun di dalamnya tersimpan bara yang siap meledak. Andra menyelinap masuk ke kamar Sri dengan perasaan bersalah yang jarang ia rasakan. Pikirannya terus terbayang pada raut wajah Sri yang ia lihat sekilas di balik pilar ruang makan pagi tadi. Wajah yang menurutnya tenang, namun menyiratkan luka yang dalam.

Begitu pintu tertutup, Andra langsung menghampiri Sri yang tengah duduk di tepi ranjang dalam kegelapan. Ia berlutut di depan wanita itu, meraih kedua tangannya dan menciumnya berkali-kali.

"Sri, aku minta maaf," bisik Andra, suaranya sarat dengan penyesalan. "Aku terpaksa melakukannya. Kalung itu... aku harus memberikannya pada Sarah agar dia tidak menaruh curiga pada area ini. Aku tidak punya pilihan lain."

Sri menarik tangannya perlahan dari genggaman Andra. Ia menatap pria di depannya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Tuan tidak perlu meminta maaf. Kalung itu memang milik anda, Tuan berhak memberikan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Terpojok!

    Di tengah keheningan butik yang mencekam, Andra menarik napas panjang. Alih-alih menunjukkan kepanikan, ia justru melepaskan tawa yang terdengar sangat ringan, seolah-olah tuduhan Sarah adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar tahun ini. "Astaga, Sarah..." ucap Andra sambil menggelengkan kepala, ia menatap beberapa pelanggan butik yang sedang memperhatikan mereka dengan senyum canggung. "Kau dengar apa yang kau katakan? Kau menuduh suamimu sendiri berselingkuh dengan seorang pelayan di tengah butik mewah seperti ini? Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu banyak bekerja." Andra melangkah mendekat, mencoba memegang bahu Sarah, namun wanita itu menghindar. "Kau terlalu paranoid, Sayang. Sejak ibumu datang, pikiranmu jadi kacau. Kau mencari-cari kesalahan yang tidak ada hanya untuk melampiaskan stresmu." Sri, yang masih memegang tumpukan belanjaan berat, mengambil momen ini untuk masuk ke dalam panggung. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya sed

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Memancing Emosi Andra

    Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota Jakarta yang padat. Di kursi kemudi, Andra mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Sarah duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi, sesekali melirik suaminya melalui kacamata hitamnya. Sementara itu, di kursi belakang, Sri duduk menunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menangkap mata Andra yang penuh kegelisahan. "Sri," panggil Sarah tiba-tiba, memecah kesunyian yang mencekam. "Bagaimana kabarmu dengan Bambang? Apa dia masih sering menghubungimu?" Sri tersentak pelan, lalu menjawab dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Sudah jarang, Nyonya. Mungkin dia sudah menemukan wanita lain di kampung." "Sayang sekali ya," sahut Sarah sambil melirik Andra yang mulai berkeringat dingin. "Padahal Bambang itu lelaki yang cukup tampan untuk ukuran supir. Kenapa kau memecatnya waktu itu, Sayang? Aku merasa dia jauh lebih berguna daripada supir kita yang sekarang." Andra b

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Perasaan Yang Terusik

    Sinar matahari pagi menembus jendela ruang makan yang mewah, namun suasana di meja makan terasa jauh dari kata hangat. Nyonya Lydia duduk dengan anggun, menyesap tehnya perlahan, sementara matanya tak lepas dari Sarah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Andra sendiri belum turun, yang memberikan kesempatan bagi Lydia untuk membicarakan kejadian subuh tadi. "Sarah, kau harus benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di paviliun belakang," buka Lydia, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Subuh tadi, aku mendengar suara-suara intim dari kamar pelayan mudamu itu. Suara ranjang yang berderit dan tawa wanita yang sangat... menjijikkan untuk didengar di rumah ini." Sarah tertegun sejenak, namun kemudian ia tertawa kecil, berusaha menenangkan ibunya yang menurutnya terlalu sensitif. "Ma, Mama mungkin hanya salah dengar atau terlalu khawatir." Sarah duduk di hadapan ibunya, mencoba bersikap santai. "Dulu dia memang sangat dekat dengan mantan supir kita, namanya Bambang.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Hampir Ketahuan

    "Tidak ada siapa-siapa di sini Nyonya."Udara di dalam kamar sempit itu terasa seolah membeku. Nyonya Lydia berdiri tegak, matanya yang tajam menyapu setiap inci ruangan, mulai dari ranjang yang berantakan hingga penampilan Sri yang berantakan. Ia merasa instingnya tidak mungkin salah. Suara yang ia dengar tadi terlalu nyata untuk sekadar ilusi pendengaran. "Kau pikir aku bodoh, Sri?" desis Lydia, melangkah lebih dekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Sri. "Aku mendengar suara laki-laki. Aku mendengar ranjang ini bergerak. Di rumah ini, tidak ada tempat bagi hal-hal kotor dan menjijikkan. Siapa yang kau sembunyikan?!" Sri menatap balik mata Nyonya Lydia dengan ketenangan yang mengerikan. Ia memegang ponselnya dengan erat, berpura-pura tenang padahal ia tahu Andra sedang menahan napas di dalam lemari tua di belakangnya. Di dalam hati, Sri justru tertawa. Ia tidak takut jika Lydia membuka lemari itu. Baginya, jika Andra tertangkap basah, itu akan menjadi akhir d

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Suara Di Balik Pintu

    Malam demi malam berlalu seperti siksaan bagi Andra. Kehadiran Nyonya Lydia di rumah itu benar-benar menjadi tembok penghalang yang menyesakkan. Mertuanya itu seolah memiliki mata di setiap sudut rumah, selalu mengawasi, selalu memantau, bahkan seringkali muncul di saat-saat yang tidak terduga. "Sarah, sampai kapan Mama akan tinggal di sini?" tanya Andra suatu malam saat mereka bersiap tidur. Suaranya terdengar kesal yang berusaha ia redam. Sarah yang sedang mengoleskan krim malam menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa kau tampak begitu terganggu, Andra? Mama hanya ingin memastikan aku sehat dan program kehamilan kita berjalan lancar. Kau seharusnya senang ada yang memperhatikan kita." "Aku hanya merasa privasi kita terganggu, itu saja," jawab Andra datar, meski di dalam kepalanya, ia merindukan aroma tubuh Sri dan kehangatan pelayan muda itu yang sudah beberapa malam ini tidak bisa ia jamah."Kau itu aneh sekali. Mama itu mertuamu! Kenapa kau terganggu dengan kehadirannya?!Andra

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kurus Kering

    Keesokan harinya, suasana di dalam mobil mewah menuju rumah sakit terasa sangat dingin. Sarah duduk di samping Andra tanpa mengucapkan satu kata pun, masih merasa sakit hati atas ucapan suaminya semalam tentang tubuhnya yang kurus kering. Sementara itu, di kursi belakang, Nyonya Lydia duduk seperti seorang jenderal yang sedang mengawal pasukannya ke medan perang. Bagi Lydia, kunjungan ke dokter kandungan bukan sekadar urusan kesehatan, melainkan strategi bisnis jangka panjang. Sesampainya di rumah sakit khusus ibu dan anak yang paling prestisius di Jakarta, mereka langsung disambut oleh dokter spesialis kandungan senior yang sudah menjadi langganan keluarga besar mereka. Pemeriksaan berlangsung cukup lama. Sarah harus melewati serangkaian prosedur yang melelahkan, sementara Andra juga harus memberikan sampel untuk diuji di laboratorium. Setelah hampir dua jam, mereka akhirnya duduk kembali di hadapan sang dokter. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Nyonya Lydia tanpa basa-basi, bahkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status