로그인Setelah kejadian memalukan tadi, aku memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur. Berkutat di pantry dengan wajan dan panci. Menghindarinya macam buronan yang menunggu vonis mati.
Bagaimana tidak demikian. Dua kali tamparan kulayangkan tanpa perasaan bersama dengan dendam yang sudah dipupuk setahunan. Walhasil, bekas tapak tangan itu menghiasi pipi mulusnya dengan warna kemerahan. Kalau kalian tanya apa aku menyesal? Jawabannya jelas tidak. Malah puas banget rasanya tabokin muka laki sok kecakepan, walaupun sayangnya dia emang cakep beneran. Setidaknya dendamku sedikit terpuaskan meski konsekuensinya jelas terpampang di hadapan. "Intan ...!" Kan, belum ada lima menit, suaranya sudah menggelegar. Padahal sejak tadi aku sudah mencoba menghindar, bahkan bertingkah tak kasat mata sampai ngesot-ngesot di bawah meja. "Di mana kamu, Intan?" Sial ... bagaimana ini? Mana belum sempet pacaran, ngerasain gandengan, dinikahi Salman Khan, masa harus mati di tangan lelaki setengah siluman? "Berhenti menghindar, tunjukkan wujudmu!" Setan kali, ah. Ngadi-ngadi aja si Tuan. Oke, tarik napas pelan-pelan, terus embuskan perlahan. Lu bisa, Mil. Ditantang preman aja lu ngelawan, masa cuma Tuan Stevan aja sampai keteteran. "Iya, bentar, Bang!" Seperti yang dia katakan, pada akhirnya aku menampakkan wujud. Berlari kecil dari dapur, melewati ruang makan, menyusuri lorong, hingga sampai di hadapannya. Busyet .... Seketika aku menelan ludah, menyeka liur yang hampir menetes, lalu menutup mulut yang setengah terbuka saat melihat roti sobek yang terpampang nyata. Nyut-nyutan, deg-degan, ser-seran. Begitulah yang dirasakan saat aku melihat ciptaan Tuhan yang tak boleh dilewatkan. Ini namanya rezeki anak saliha. Nikmat mana lagi yang harus kudustakan? "Apa yang kamu lihat?!" "Badanmu, Bang!" "Hah, apa?" Bergegas aku menggeleng panik saat tanpa sadar keceplosan. Lagian tumben dia keluyuran tanpa pakaian. Apa karena dia pikir aku--atau tepatnya tubuhku tak ada di sini jadi berani umbar perut yang udah macam petakan? "Nggak. Nggak liat apa-apa. Serius." Dia hanya mengedikan bahu dengan bibir mencebik. Dimasukannya kedua tangan dalam saku celana training joger ukuran 3/4, sembari menatapku tajam. "Apa yang kamu lakukan sekarang?" "Masak," jawabku enteng. Kali ini sebelas alisnya terangkat. "Masak?" Dia membeo. "Lah iya, masa atraksi deb--" "Kamu, kan nggak bisa masak!" " ... bus." Oh, shit. Sadar, Milah! Sekarang lu tuh Nyonya Intan. Berlakulah selayaknya. Selayaknya! "Ng, itu, anu ... Milah, kan masih belum sadar. Aku cuma mau masak mie instan." "Kamu tahu, kan aku nggak suka mie instan.." "Eh, oh ... siapa bilang buat kamu, orang aku masak buat sendiri, kok." Entah kenapa tatapannya berubah semakin dingin. "Istri macam apa kamu ini?" Kupejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Heran salah melulu. Aturannya pan cewek selalu benar, ini malah sebaliknya. Lama-lama nih laki bukannya jadi bucin, tapi malah makin benci sama Nyonya Intan. Mau lu apa, sih, Bang? "Ngomong-ngomong tentang istri. Aku jadi inget lagi dangdut yang judulnya 'Istri Setia'." Kutarik napas dalam untuk mengambil ancang-ancang sebelum mulai melanjutkan. "Kasihku paling cakep paling ganteng, apa yang kau cari lagi? Sumpah setia dariku belum cukupkah bagimu? Setia ku menanti Abang pulang, tapi bukannya disayang, malah dibikin peyang. Asolele." Mampus dia nggak ketawa. Ya Gusti malah melotot. Astagfirullah dia maju. C'tak! "Aw!" Kuusap kening yang terkena jentikan jarinya. "Kau sudah tak waras, Intan." Situ yang nggak waras, Tuan! *** "Mau ke mana kita?" Kutatap Tuan Stevan, sesaat setelah dia mengajakku jalan. Hacie udah macam suami-istri beneran. "Cari makan," jawabnya datar. "Emang kamu nggak kerja? Kok, hampir tiga harian ini di rumah aja?" tanyaku kepo. Karena seingatku ini bukan weekend atau hari libur nasional, tapi kenapa dia di rumah aja. Udah kayak slogan iklan di TV-TV. Dia menoleh setelah memasang seatbelt. Dengan tatapan biasa, Tuan Stevan berujar datar. "Kenapa? Kamu nggak suka saya ada di rumah?" "Nggak, kok. Cuma heran aja." "Lagi pula kalau bukan karena permintaan Papamu, setelah kecelakaan itu aku malas menjagamu." Masih aje, ye. Ntu mulut lebih pedes daripada bon cabe level setan. "Oh." Karena tak tahu harus menjawab apa aku hanya bisa membulatkan bibir, lalu mengalihkan pandangan menatap keluar kala mobil mewah ini mulai berjalan. Hening beberapa saat. Dari sudut mata bisa kulihat sesekali dia memperhatikan, dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa ini strategimu yang lain?" Seketika aku menoleh, menatapnya dengan dahi berkerut. "Maksudnya?" "Kau tahu aku tak pernah suka dengan wanita lemah, Intan. Perubahan sikapmu yang signifikan ini seolah membuktikan kalau kamu juga butuh perhatian." Sejenak aku tertegun. "Percuma, Intan. Seberapa keras pun kau berusaha. Sosoknya tetap tak bisa tergantikan." Lagi, aku dibuat termenung memikirkan maksud dari ucapan Tuan Stevan. Sebenarnya siapa sosok yang dia maksud itu? Bagaimana mereka bisa menikah? Juga alasannya kenapa Tuan Stevan begitu membenci istrinya? Demi Tuhan aku semakin penasaran. "Aku tahu." Meskipun tak yakin tapi entah mengapa aku harus mengatakan ini untuk mewakili Nyonya Intan. "Perasaan itu memang nggak bisa dipaksakan, Stev, tapi bisa diluluhkan. Perlahan kamu akan mengerti bagaimana pentingnya menerima juga merelakan. Percayalah ... aku nggak pernah minta untuk dicintai, apalagi dibenci. Aku cuma minta kamu buka hati. Tapi bukan cuma buat sosok baru, melainkan salah satu cara agar kamu bisa berdamai dengan masa lalu." Ckitt! Mobil menepi. Bisa kulihat kuat dia mencengkeram setir. Tatapan kami bersirobok. Detik berikutnya aku sudah berada dalam rengkuhannya. Please, bawa kembali otak kalian yang sudah traveling membayangkan adegan-adegan uwu skidipapap cihui yang bikin dugun-dugun (deg-degan) Karena faktanya bukan pelukan mesra yang kudapatkan melainkan cengkeraman tubuh yang bisa saja meremukkan. "Tidak minta untuk dicintai? Berdamai dengan masa lalu? Are kidding me? Kau lupa justru karena cara mencintaimu itulah yang menghancurkan rencana masa depanku, Intan. Dengan dia ... dia ...." Tuan Stevan tak melanjutkan, suaranya terdengar bergetar. Entah kenapa aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek tentang hubungan mereka. Bukan bermaksud ikut campur, tapi keadaan yang memaksaku untuk melakukannya. Aku yakin ada alasan di balik pertukaran jiwa ini. Aku berharap mereka menemukan jalan keluarnya. Meskipun harus ada yang berkorban di sini pun tak apa. Pada akhirnya aku memilih untuk terbungkam. Mengusap pundaknya itung-itung sambil cari kesempatan dalam kenganuan. Kapan lagi bisa ngekep orang cakep, yakan? *** "Udah baikan? Kalau masih ngambek lebih baik aku pulang." Kami berhenti di depan sebuah hotel bintang lima lebih dua. Bangunan setinggi dua puluhan tingkat yang terletak di pusat kota. Setelah kejadian tadi, sepanjang perjalanan kami lalui dengan kebungkaman. "Nggak usah. Maaf. Padahal aku sudah berjanji padamu untuk tak mengungkit hal itu." Tuan Stevan tampak mengusap wajahnya kasar, lalu melepas seatbelt-nya. Kalau dipikir-pikir dia ini kejam, tapi tak tak benar-benar jahanam. Ada beberapa waktu di mana dia tiba-tiba memperhatikanku, eh maksudnya Nyonya Intan dengan tatapan sayang. Jadi, intinya .... Au ah, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. "Its oke, no what-what. Nggak ada manusia yang luput dari kekhilafan. Abang udah aku maafin, kok asal kita makan sekarang. Laper cuy, dah dua ari kagak makan." "Cih, terus berbungkus-bungkus mie instan itu siapa yang makan? Setan? Lagipula sejak kapan selera makanmu jadi macam orang kesurupan, hah? Ngabisin stok aja." "Lah, tinggal beli lagi repot amat." "Nggak. Segitu udah jatah bulanan." Idihhh ... masih aja kikir, lu, Bang. Padahal sama bini sendiri, bukan bini tetangga. "Sudahlah, Intan. Aku malas berdebat. Kita makan sekarang." "Hokey." Pada akhirnya Tuan Stevan membawaku ke tempat makan yang terletak di lantai delapan hotel. Katanya resto ini adalah tempat langganannya dan Nyonya Intan kalau makan di luar. Nah, saat mereka makan di luar itulah definisi surga dunia bagiku. Bisa karaokean, nonton sambil rebahan, sampe berendam dalam bath tub ditemani camilan. Semoga aku nggak akan pernah ketahuan. "Duduk!" Tiba-tiba Tuan Stevan mendorong kursi di belakang, saat mendapati aku berdiri celingukan macam anak ilang saat liat sultan-sultan bertebaran di resto ini. Ternyata walaupun kikir bin pelit masalah duit, untuk urusan perut dia royal juga. Dilihat dari tempatnya yang begitu mevvah dengan interior yang didesain elegan, classic, juga berkelas. Makanan di resto ini sudah dipastikan bikin kantong kaum misqueen sepertiku menjerit, merintih, dan kosong melompong. "Silakan, Tuan!" Seorang waitress dengan pakaian resmi dan rambut dicepol rapi datang menghampiri. Menyodorkan daftar menu yang tebelnya udah macam bon utang. "Kamu dulu!" Tuan Stevan menyodorkan daftar menu yang tersisa ke hadapanku yang hanya bisa menatap dengan heran. Bagaimana tidak demikian, karena selain harganya yang bikin geleng-geleng, nama-namanya pun bikin spaneng. Daripada pusing berkelanjutan, akhirnya kupilih untuk menutup menu, dan menghadap waitress tersebut. "Mbak, saya pesen Pepes Peda, Oseng Kangkung, Jengkol goreng, Karedok leunca, sama ikan asin aja. Kalau ada nasinya merah, ya. Lagi diet soalnya." "Intan!" "Eh, iya?" Kupegangi dada karena kaget dengan panggilannya yang tiba-tiba. "Ini bukan rumah makan khas Sunda, tapi restoran western!" hardiknya. Sempat kulihat waitress tersebut tampak menahan senyum. Ya, mana aku tahu kalau ini restoran western. Bukannya sekarang di restoran mevvah sekali pun sudah banyak menyediakan menu khas lokal. Kurang jauh nih maennya, Tuan Stevan. "Lagipula kamu nggak suka jengkol!" tambahnya. "Suka, ah." "Nggak." "Suka." "Enggak." "Suka." "Pokoknya nggak!" "Aarrghh ...." Brak! Karena kesal tanpa sadar aku menggebrak meja. Lagian aku yang mau makan napa situ yang repot, sih, Tuan! Heran. . . . Bersambung."Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek
Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang… entah. Rasanya hatiku penuh, damai, lembut—seperti selimut hangat di pagi hujan. Tapi satu sisi hatiku juga terasa ada yang kosong, seperti ada ruang yang belum terisi, atau mungkin tak akan pernah bisa terisi. Sinar matahari merayap malu-malu melalui tirai jendela, menyoroti selimut putih yang masih membungkus separuh tubuhku. Aku mengerjap, memandang sisi ranjang yang kosong di sebelah. Bang Stip tidak ada di sana. Perasaan kecewa menyergapku begitu saja. Bukankah dia bilang akan mengambil cuti penuh seminggu ini? Katanya ingin menghabiskan waktu bersamaku, katanya ingin menebus semua kebersamaan kami yang berlalu begitu saja. Tapi… kenapa pagi ini dia pergi tanpa pamit? Aku bangkit perlahan, menyeret kaki ke meja dekat jendela, tempat kalender bulan Juli tergantung. Aku hendak mencentang tanggal hari ini. Kebiasaan kecil yang mulai kulakukan sejak tinggal di sini, tepatnya sejak jatuh sakit dan tak yakin sampai kapan jiwaku berta
Aku masih mengingat betul hari itu. Hari ketika hidupku berubah dalam sekejap. Intan, majikanku yang dulu kucemburui karena kehidupannya yang sempurna, tiba-tiba bertukar jiwa dengan seseorang sepertiku. Awalnya aku berpikir semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi, mana mungkin pembokat sepertiku bisa menjalani kehidupan sebagai seorang nyonya besar dengan suami setampan Tuan Stevan, ya walaupun kelakuannya rada-rada membagongkan. Seolah masih dalam ingatan saat dia kami berpisah persimpangan jalan. “Kita jalani apa yang sudah ditakdirkan Tuhan,” katanya. “Aku butuh kebebasan, Milah. Dan kamu butuh kesempatan.” Dan begitulah semua takdir kampret ini berjalan. Tak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi di waktu mendatang, saat Nyonya Intan yang menghuni tubuh ndesoku tiba-tiba hilang kabar dan aku yang kebingungan dengan tubuh ini yang tiba-tiba serapuh kerupuk kena aer. *** Pagi ini, aku duduk di ruang keluarga dengan segelas kopi di tangan, menatap daftar kegiatan yan
"Udah dapet kabar tentang Milah? Kok akhir-akhir ini dia susah dihubungin, yak?" Aku bertanya pada Tuan Stevan yang baru saja masuk ke ruang kamar dengan segelas air putih di tangan. Lelaki itu menggeleng pelan, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja di hadapan, kemudian duduk di sampingku dalam sofa panjang berwarna hitam. "Belum. Terakhir dia menghubungi sekitar dua minggu lalu, mengatakan tentang rencana pernikahannya dan Saiful, juga memutuskan mengakhiri kontrak kerja kita." Aku tertegun. Bingung harus melakukan apa. Komunikasi dengan Nyonya Intan benar-benar terputus kini. Waktu semakin mengerucut, hanya tinggal hitungan minggu sampai waktu yang ditentukan. Aku tak menyangka ternyata seratus hari bisa terasa sesingkat ini, apalagi setelah dua minggu terakhir kuhabiskan hanya dengan berbaring di atas ranjang. Setelah tragedi pingsan di resto hari itu. Dokter datang tiap seminggu dua kali sepanjang dua pekan ini. Obat-obatan juga selang infus seolah menjadi konsumsi seha
Emak terdiam. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Tatapannya beralih ke arah lain."Oh, ya udah atuh." Emak meraih remote di atas meja yang kubeli sekitar dua minggu lalu satu set dengan kursi dan rak TV. "Tapi kamu udah pastiin undang mereka nanti, kan?" sambungnya kemudian." .... "Aku tak menjawab. Entah kenapa kalau bertemu dengan tubuhku lagi, aku takut jiwa kita tiba-tiba kembali tertukar di saat belum siap meninggalkan semuanya."Nanti Milah pikirkan lagi, ya, Mak."Bingung harus menjawab apa, aku memilih menghindar. Beranjak untuk masuk ke kamar. Namun, sebelum sempat aku bangkit dari kursi di samping Emak, sebuah cekalan tangan membuat langkahku tertahan."Mil ... kamu teh beneran nggak apa-apa? Dari hari ke hari, kok Emak khawatir. Perasaan kalau dilat-liat kamu makin beda. Mau dibilang kayak anak orang, tapi da kamu emang anak Emak sama Bapak."Aku terdiam. Jujur, bingung harus menjawab apa. Pertanyaan seperti ini sudah sering diajukan Emak, Bapak, Ahmad, bahka







