공유

Part. 7

작가: Dwrite
last update 게시일: 2024-06-27 13:47:17

"Ada uang koin?" tanya Tuan Stevan, sesaat setelah aku masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang.

"Buat apa?"

"Parkir."

"Lah, itu kan ada dua rebu di dasboard!" Kutunjuk tumpukan uang pecahan dua ribuan yang sepertinya dipersiapkan untuk parkir.

"Kebanyakan."

Allahu akbar! Meditnya emang nggak ketulungan, nih orang.

"Lagian waktu dateng tadi kita parkirin sendiri, setelah siap-siap pulang, tiba-tiba orangnya udah nongkrong di depan. Udah jelas juga ada tulisan parkir gratis, ngapain ngeluarin uang banyak-banyak kalau tukang parkirnya nggak ada kerjaan? Lagian kita juga nggak perlu nyebrang."

Iya, juga, sih.

Tapi, tibang ngeluarin duit dua rebu nggak bakal bikin lu miskin, Stevaaan!

"Udahlah, mana sini uangnya?!"

Kuelus dada mencoba meredam kekesalan. Lalu, merogoh tas yang bisa kutaksir seharga ginjal, hingga akhirnya menemukan satu koin pecahan seribuan.

"Noh!"

"Oke. Terima kasih."

"Masama," sahutku ketus.

Mobil pun berjalan perlahan melewati tukang parkir di depan. Kusembunyikan wajah di balik tas saat melihat tangan Tuan Stevan mulai terulur menyodorkan uang.

"Mobil elit, kasih tip parkir sulit. Dasar medit!"

"Kan, kan dikatain."

"Nggak apa-apa. Udah biasa."

***

"Orang tuamu tadi mengirim pesan, katanya kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi?"

Tuan Stevan membuka percakapan saat kami memulai perjalanan pulang.

"Eh, itu, anu ... hapeku lupa di-cas."

"Oh. Nggak biasanya." Sejenak dia mengedikkan bahu, lalu menoleh ke arahku. Dahinya tiba-tiba berkerut, beberapa kali tatapan lelaki bermata biru itu bergantian ke arah jalanan di depan.

"Kenapa?" Aku bertanya sembari menggaruk rambut yang tak gatal.

"Justru kamu yang kenapa?"

Lah?

"Nggak kenapa-napa, kok. Masih syantik seperti biasanya," tuturku seraya membenahi rambut yang tergerai di balik spion dalam.

Namun, bukannya percaya Tuan Stevan malah mendengkus pelan. Anehnya, beberapa saat kemudian dia menepikan mobil.

"Kebiasaan."

"Eh, oh."

Untuk pertama kalinya aku terpaku, mematung, dan tak bisa melakukan apa-apa saat Tuan Stevan mencondongkan tubuhnya. Lebih dekat, tanpa sekat.

Aku seolah tak bisa merasakan kaki berpijak. Apalagi saat mencium bau maskulin yang menguar dari tubuh tegap berototnya.

Tepat ketika aku berhasil mendapatkan kendali atas diri, kudorong kuat tubuh Tuan Stevan sampai punggungnya terbentur pintu mobil.

Dia mengaduh, lalu menatapku nyalang.

"Kamu ini kenapa?" bentaknya.

"Nggak usah deket-deket. Mulut abang bau naga. Aku nggak nahan."

"What?!"

Matanya melebar seolah tak percaya akan penuturanku.

"Iya, bau naga. Makanya kalau habis makan jengkol itu sikat gigi terus minum sus--"

"Aku cuma ingin memasangkan seatbelt, Intan! Memangnya pikiranmu ke mana, hah?"

Mamvus. Salah paham aku.

Begini, nih kalau jomblo kebanyakan didokrin sama drama atau film-film romantis. Bawaannya halu, muluuu ....

***

"Intan ...!"

Suara Tuan Stevan sudah terdengar dari luar saat aku baru selesai membersihkan diri di kamar mandi.

Kadang aku heran, dia manggil istri nggak ada mesra-mesranya. Malah udah kayak teriakin maling. Maksudnya dia panggil aku atau istrinya hampir nggak ada bedanya. Teriak-teriak begitu.

"Bentar!"

Kujejakkan kaki ke luar setelah memastikan handuk kimono melekat sempurna di tubuhku. Kemudian berjalan perlahan dengan alas kaki berbulu yang sudah tersedia di bawah pintu.

"Ngapain aja kamu di dalam? Bangun Candi?"

Bandung Bondowoso kali, ah.

"Luluranlah, kayak yang nggak tahu cewek aja," sungutku sembari mendelik menatapnya yang tengah sibuk berpakaian.

Selamet, dia udah pake baju.

"Buat apa? Udah putih mulus gitu. Kalau keseringan bisa-bisa kulitmu ngelupas nanti."

Sebenarnya dia ini suami Nyonya Intan atau tukang kritik, sih? Hobinya ngomen terus.

"Ck, tahu, nggak?"

"Nggak!"

"Belum, Stevaaan!"

Dahinya mengernyit seolah tak peduli.

"Fungsinya mandi itu buat apa?"

"Ya, buat kebersihanlah," sahutnya ogah-ogahan.

"Nah, itu pinter. Putih-mulus nggak selalu diartikan bersih, Bang. Walaupun dikit pasti ada atu dua biji daki yang nempel dan harus dibersihin. Paham!"

"Terserah."

Jawaban sama yang sering dikatakan ketika orang kalah debat. Ya,  begitulah manusia.

"Nah, kalau udah terserah gitu. Silakan angkat kaki keluar! Aku mau pake baju."

"Kenapa harus keluar? Lagipula aku sudah tahu setiap detail dari tubuhmu!"

Ya, Gusti ... kalau saja aku tak ingat dengan tujuan awal, kalau saja dia bukan majikan, dan tidak tampan. Sudah dipastikan itu kepala Tuan Stevan aku lelepin ke lubang jamban.

"Oke. Terserah. Kumaha dinya welah!" Lelah berdebat, aku pun memilih menyerah.

Lagipula seperti apa yang dikatakannya. Tubuh yang tampak dari luar ini milik Nyonya Intan. Aku cuma numpang singgah doang.

Jadi, mau telanjang, telentang, ataupun kayang. Nggak ada urusan.

Akhirnya dengan gerakan slow motion, kuambil satu per satu pakaian dan mengenakannya di balik pintu lemari. Dari sudut mata bisa kulihat sesekali dia melirik sembari menggeram.

"Kamu sengaja menguji keimananku, Intan?"

Idih. Geer banget lu, Bang. Masa udah ketutupan pintu lemari masih aja kagak tahan. Itu mah emang lemah aja iman lu, Bang!

Memilih untuk mengabaikan, dengan santai sengaja kuulur-ulur waktu, padahal sejak tadi gaun tidur biru yang terjatuh sempurna di atas lutut ini sudah melekat di tubuh.

Mamam, noh. Lagian dari tadi udah disuruh keluar situ malah ngeyelan. Kepancing, kan!

"Cukup, Intan!"

Brak!

Seketika aku terlonjak saat dia menendang keras pintu kamar dan berjalan cepat menghampiri. Ditariknya kasar pergelangan tanganku, lalu memojokkan tubuhnya hingga tersudut ke dinding.

Gusti ....

Emak ....

Bapak ....

Jantungku, jantungku ...!

Apa turunan bule memang selalu begini? Grasak-grusuk, nggak sabaran, dan yang pasti bikin sawan?

Jangan, Bang! Please ....

Eneng masih perawan.

"Kalau saja kamu nggak sedang datang bulan. Sudah dipastikan besok nggak akan bisa bangun dari ranjang! Jadi, jaga sikapmu dan jangan membuatku habis kesabaran!" desisnya.

Aku mengerjap. Kehilangan kata-kata.

Untuk pertama kalinya aku dibuat gemetaran oleh Tuan Stevan. Padahal jujur, walaupun dia memarahiku habis-habisan aku tak pernah sampai kelabakan.

"O-oke. So-sorry."

Bisa kulihat sorot matanya meredup, dia tumpukan kedua tangan di kedua sisi tubuhku. Mengukungnya.

"Tanganmu masih berfungsi, kan?" Aku mengerutkan kening.

"Hah?"

"Tanganmu masih bisa digunakan, kan?"

Eh, gimana? Gimana?

"Bi-bisa."

"Kalau begitu puaskan aku!"

"Apuah ...?"

***

Bener-bener kurang ajar Tuan Stevan. Bilang aja kalau mau minta pijitin nggak usah pake acara tarik-tarikan dan pojok-pojokan. Jadi, kan aku, aku ... ah sudahlah!

"Kenapa berenti?"

Kutatap punggung lebar di hadapan. Menghela napas panjang mencoba meredam perasaan dongkol yang bercokol.

"Pegel," jawabku sekenanya.

"Ya udah, sini gantian!" Dia memutar tubuh, hingga posisi kami kini berhadapan.

"Nggak usah, makasih!"

Lekas kuempaskan diri di ranjang, menarik bedcover hingga menutup setengah badan. Sesekali melirik lelaki yang masih duduk memerhatikan dengan tatapan sulit diartikan.

Walaupun masih tinting, tapi aku nggak cukup polos untuk diiming-iming.

Karena aku tahu pasti akal bulus, nih laki anuan. Bukannya mijit, jatohnya malah grepe-grepe entar.

.

.

.

Bersambung.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 57

    "Jadi istri yang baek, ya, Mil. Nurut sama suami. Kalau ada apa-apa jangan selesain pake emosi, tapi bicara dari hati ke hati," pesan Emak dengan bercucuran air mata setelah melerai pelukan kami, sebelum benar-benar melepasku untuk menempuh hidup yang baru. Aku mengangguk patuh. Menyeka air mata Emak sementara air mataku dibiarkan lolos begitu saja. "InsyaAllah, Mak. Doain kita samawa terus langgeng sampe kakek-nenek, ya. Jaga kesehatan Emak sama Bapak. Kalian boleh datang kapan aja. Rumah kita akan selalu terbuka." "Aamiin, aamiin, aamiin ...." Emak kembali menarikku dalam pelukan. Setelah selesai berpamitan pada semua keluargaku beserta keluarga Haji Yahya. Mama Laras yang menjemput sudah membunyikan klakson agar kami bergegas. Dengan berat hati akhirnya kuapit tangan Bang Stevan, lalu dadah-dadah manja pada semuanya. Sedih rasanya nggak bisa manja-manjaan lagi di pangkuan Emak, ndusel di ketek Bapak yang selalu menjadi tempat ternyaman, juga berantem dengan Ahmad cuma karena

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 56

    Bicara tentang harapan dan pencapaian mungkin tak akan habis seharian kuceritakan. Lahir dalam keluarga dengan perekonomian yang rendah membuatku sejak kecil sudah menikmati asam-garamnya kehidupan. Namun, meskipun begitu aku maupun Ahmad selalu diajarkan untuk menjungjung tinggal adab dan budaya ketimuran. Sejak memutuskan untuk menginjakkan kaki di Jakarta sebagai asisten rumah tangga, tak ada tujuan lain yang kupikirkan selain cari uang dan membantu perekonomian keluarga. Sama sekali tak tercetus di dalam benak ini untuk mencari kesempatan menggoda majikan dengan tubuh yang aduhai seperti beberapa oknum pembantu muda di luar sana. Lagian, nggak ada modal juga. Udah muka seadanya, dada rata, badan pendek kecil dengan kulit yang nggak ada cerah-cerahnya. Tapi, balik lagi sama rezeki. Ternyata dari sekian populasi lelaki di Indonesia raya ini, masih ada cowok langka yang nggak mandang fisik, dan jatuh cinta hanya pada karakter seorang wanita. Tak perlu menggadaikan semua onde

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 55

    "Woylah Jamileh! Bisa-bisanya lu diem-diem kawin sama produk luar tanpa ketahuan pedekatean.""Sumpah gue hampir meninggoy saat nerima undangan.""Syalan ... begimana bisa lo dapet laki model begitu, Milah? Padahal dulu anti banget sama orang tampan!"Teriakan heboh teman-teman seperjuangan saat masih duduk di bangku sekolahan, hampir memecahkan gendang telingaku hanya beberapa saat setelah siraman selesai dilakukan. Masih dengan kain jarit yang melilit di tubuh, kuseret ketiga teman sesat yang dulu mengajarkanku gimana ngambil bakwan lima tapi ngaku dua itu masuk ke belakang rumah. "Sssttt ... heboh beud, dah kalian. Heran. Dari dulu gue bukannya anti orang tampan, tapi cuma menghindari biar nggak sakit sendirian. Lagian dia nggak fure produk luar, kok. Masih turunan. Emaknya aja asli orang Cikarang Timur. Lagian cowok-cowok bule itu lebih aduhai dan lebih bisa menghargai. Susah sama orang Indo, mah, kalau mau jalin hubungan yang diliat fisiknya duluan," terangku yang membuat tiga

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 54

    Oh, shit!Konspirasi macam apa lagi ini?Nggak ada hujan, nggak ada angin, setelah ngilang tanpa kepastian, tahu-tahu dia datang tanpa diundang. Jelangkung bukan, Halte Bus bukan, seenaknya aja dia jadiin hatiku sebagai tempat persinggahan.Hati? Eh, sorry maksudnya rumah. Efek sering kebaperan tuh orang bawaannya hati melulu. Maklum anak perawan yang baru ketiban lope ya begini."Duduk sini, Neng!" Bapak menepuk kursi di sisinya, saat melihatku hanya berdiri diam menatap Tuan Stevan.Aku hanya mengangguk untuk jawaban, lalu dengan tak tahu dirinya justru duduk di samping Tuan Stevan.Ya, antara percaya diri sama nggak tahu malu itu sudah menjadi sifatku sejak dulu."Ngapain Tuan ke sini? Kondangannya, kan masih dua hari lagi," cibirku sinis, padahal dalem hati kegirangan.Memang tak bisa dipungkiri. Rindu itu berat, bener kata si Dahlan.Hampir dua pekan nggak liat muka Tuan Stevan, rasanya bener-bener kelabakan. Suaranya, tatapannya, bahkan kata-kata tajamnya tanpa sadar sudah menja

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 53

    "Dengan sadar diri aku tak akan memintamu untuk tak membenciku. Seberapa banyak pun kata maaf terucap kutahu hal itu tak akan cukup menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu, Milah. Hari ini, terakhir kalinya aku cuma ingin meminta satu hal, tolong jangan tarik kata-katamu tentang hubungan dekat yang pernah terikat di antara kita."Aku bukanlah majikanmu lagi, Milah. Sejak pertama bertemu kamu sudah kuanggap seperti adik kandungku sama halnya seperti Berlian. Kumohon tetaplah seperti itu. Terima kasih sebanyak-banyaknya aku ucapkan khususnya padamu juga seluruh keluargamu. Seratus hari menjalani hidup sebagai dirimu entah kenapa rasanya lebih berharga daripada dua puluh lima tahun hidup yang kujalani sebagai seorang Intan."Berkatmu aku bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari pertukaran ini juga mungkin kamu bisa belajar bahwa bulan tidaklah seindah apa yang terlihat, begitu pun hidup seorang Intan. Jadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki."Kamu

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 52 (Stevan)

    Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 25

    "Apa jangan-jangan kamu merencanakan sesuatu untuk balas dendam? Atau sebenarnya kamu punya selingkuhan?" Yaelah pikiran nih laki. Ngapain juga perempuan sebaik Nyonya Intan kepikiran begituan. Kayaknya nyawa Tuan Stevan belum kumpul sepenuhnya, dia keliatan baru setengah sadar jadi ngomongnya nga

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 24

    Setelah kejadian salah pegang barusan, kami lalui perjalanan pulang dengan penuh kecanggungan. Kurasakan atmosfer di dalam mobil terasa lebih mencekam daripada kuburan. Mana nggak ada Nyonya Intan, di dalem cuma berduaan, jantung udah dangdutan, mana pulang kemaleman. Lengkap sudah penderitaanku, t

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 20

    Setelah menempuh kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Cikarang-Bekasi. Karena halaman rumahku yang sempit terpaksa kami meminta izin untuk memarkir mobil di depan ruko Pak RT, lalu berjalan menuju rumah. Melalui ponsel Nyonya Intan tadi, aku sudah mengatakan pada Emak

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 18

    "Nya ...."Di ambang pintu kamar aku melihat Nyonya Intan mengemasi barang-barangku ke dalam tas berukuran besar. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, sungguh aku tak mengerti. Demi Tuhan selama setahun terakhir aku tak pernah sekali pun melihatnya sampai semarah ini pada Tuan Stevan bahkan saa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status