로그인"Ada uang koin?" tanya Tuan Stevan, sesaat setelah aku masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang.
"Buat apa?" "Parkir." "Lah, itu kan ada dua rebu di dasboard!" Kutunjuk tumpukan uang pecahan dua ribuan yang sepertinya dipersiapkan untuk parkir. "Kebanyakan." Allahu akbar! Meditnya emang nggak ketulungan, nih orang. "Lagian waktu dateng tadi kita parkirin sendiri, setelah siap-siap pulang, tiba-tiba orangnya udah nongkrong di depan. Udah jelas juga ada tulisan parkir gratis, ngapain ngeluarin uang banyak-banyak kalau tukang parkirnya nggak ada kerjaan? Lagian kita juga nggak perlu nyebrang." Iya, juga, sih. Tapi, tibang ngeluarin duit dua rebu nggak bakal bikin lu miskin, Stevaaan! "Udahlah, mana sini uangnya?!" Kuelus dada mencoba meredam kekesalan. Lalu, merogoh tas yang bisa kutaksir seharga ginjal, hingga akhirnya menemukan satu koin pecahan seribuan. "Noh!" "Oke. Terima kasih." "Masama," sahutku ketus. Mobil pun berjalan perlahan melewati tukang parkir di depan. Kusembunyikan wajah di balik tas saat melihat tangan Tuan Stevan mulai terulur menyodorkan uang. "Mobil elit, kasih tip parkir sulit. Dasar medit!" "Kan, kan dikatain." "Nggak apa-apa. Udah biasa." *** "Orang tuamu tadi mengirim pesan, katanya kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi?" Tuan Stevan membuka percakapan saat kami memulai perjalanan pulang. "Eh, itu, anu ... hapeku lupa di-cas." "Oh. Nggak biasanya." Sejenak dia mengedikkan bahu, lalu menoleh ke arahku. Dahinya tiba-tiba berkerut, beberapa kali tatapan lelaki bermata biru itu bergantian ke arah jalanan di depan. "Kenapa?" Aku bertanya sembari menggaruk rambut yang tak gatal. "Justru kamu yang kenapa?" Lah? "Nggak kenapa-napa, kok. Masih syantik seperti biasanya," tuturku seraya membenahi rambut yang tergerai di balik spion dalam. Namun, bukannya percaya Tuan Stevan malah mendengkus pelan. Anehnya, beberapa saat kemudian dia menepikan mobil. "Kebiasaan." "Eh, oh." Untuk pertama kalinya aku terpaku, mematung, dan tak bisa melakukan apa-apa saat Tuan Stevan mencondongkan tubuhnya. Lebih dekat, tanpa sekat. Aku seolah tak bisa merasakan kaki berpijak. Apalagi saat mencium bau maskulin yang menguar dari tubuh tegap berototnya. Tepat ketika aku berhasil mendapatkan kendali atas diri, kudorong kuat tubuh Tuan Stevan sampai punggungnya terbentur pintu mobil. Dia mengaduh, lalu menatapku nyalang. "Kamu ini kenapa?" bentaknya. "Nggak usah deket-deket. Mulut abang bau naga. Aku nggak nahan." "What?!" Matanya melebar seolah tak percaya akan penuturanku. "Iya, bau naga. Makanya kalau habis makan jengkol itu sikat gigi terus minum sus--" "Aku cuma ingin memasangkan seatbelt, Intan! Memangnya pikiranmu ke mana, hah?" Mamvus. Salah paham aku. Begini, nih kalau jomblo kebanyakan didokrin sama drama atau film-film romantis. Bawaannya halu, muluuu .... *** "Intan ...!" Suara Tuan Stevan sudah terdengar dari luar saat aku baru selesai membersihkan diri di kamar mandi. Kadang aku heran, dia manggil istri nggak ada mesra-mesranya. Malah udah kayak teriakin maling. Maksudnya dia panggil aku atau istrinya hampir nggak ada bedanya. Teriak-teriak begitu. "Bentar!" Kujejakkan kaki ke luar setelah memastikan handuk kimono melekat sempurna di tubuhku. Kemudian berjalan perlahan dengan alas kaki berbulu yang sudah tersedia di bawah pintu. "Ngapain aja kamu di dalam? Bangun Candi?" Bandung Bondowoso kali, ah. "Luluranlah, kayak yang nggak tahu cewek aja," sungutku sembari mendelik menatapnya yang tengah sibuk berpakaian. Selamet, dia udah pake baju. "Buat apa? Udah putih mulus gitu. Kalau keseringan bisa-bisa kulitmu ngelupas nanti." Sebenarnya dia ini suami Nyonya Intan atau tukang kritik, sih? Hobinya ngomen terus. "Ck, tahu, nggak?" "Nggak!" "Belum, Stevaaan!" Dahinya mengernyit seolah tak peduli. "Fungsinya mandi itu buat apa?" "Ya, buat kebersihanlah," sahutnya ogah-ogahan. "Nah, itu pinter. Putih-mulus nggak selalu diartikan bersih, Bang. Walaupun dikit pasti ada atu dua biji daki yang nempel dan harus dibersihin. Paham!" "Terserah." Jawaban sama yang sering dikatakan ketika orang kalah debat. Ya, begitulah manusia. "Nah, kalau udah terserah gitu. Silakan angkat kaki keluar! Aku mau pake baju." "Kenapa harus keluar? Lagipula aku sudah tahu setiap detail dari tubuhmu!" Ya, Gusti ... kalau saja aku tak ingat dengan tujuan awal, kalau saja dia bukan majikan, dan tidak tampan. Sudah dipastikan itu kepala Tuan Stevan aku lelepin ke lubang jamban. "Oke. Terserah. Kumaha dinya welah!" Lelah berdebat, aku pun memilih menyerah. Lagipula seperti apa yang dikatakannya. Tubuh yang tampak dari luar ini milik Nyonya Intan. Aku cuma numpang singgah doang. Jadi, mau telanjang, telentang, ataupun kayang. Nggak ada urusan. Akhirnya dengan gerakan slow motion, kuambil satu per satu pakaian dan mengenakannya di balik pintu lemari. Dari sudut mata bisa kulihat sesekali dia melirik sembari menggeram. "Kamu sengaja menguji keimananku, Intan?" Idih. Geer banget lu, Bang. Masa udah ketutupan pintu lemari masih aja kagak tahan. Itu mah emang lemah aja iman lu, Bang! Memilih untuk mengabaikan, dengan santai sengaja kuulur-ulur waktu, padahal sejak tadi gaun tidur biru yang terjatuh sempurna di atas lutut ini sudah melekat di tubuh. Mamam, noh. Lagian dari tadi udah disuruh keluar situ malah ngeyelan. Kepancing, kan! "Cukup, Intan!" Brak! Seketika aku terlonjak saat dia menendang keras pintu kamar dan berjalan cepat menghampiri. Ditariknya kasar pergelangan tanganku, lalu memojokkan tubuhnya hingga tersudut ke dinding. Gusti .... Emak .... Bapak .... Jantungku, jantungku ...! Apa turunan bule memang selalu begini? Grasak-grusuk, nggak sabaran, dan yang pasti bikin sawan? Jangan, Bang! Please .... Eneng masih perawan. "Kalau saja kamu nggak sedang datang bulan. Sudah dipastikan besok nggak akan bisa bangun dari ranjang! Jadi, jaga sikapmu dan jangan membuatku habis kesabaran!" desisnya. Aku mengerjap. Kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya aku dibuat gemetaran oleh Tuan Stevan. Padahal jujur, walaupun dia memarahiku habis-habisan aku tak pernah sampai kelabakan. "O-oke. So-sorry." Bisa kulihat sorot matanya meredup, dia tumpukan kedua tangan di kedua sisi tubuhku. Mengukungnya. "Tanganmu masih berfungsi, kan?" Aku mengerutkan kening. "Hah?" "Tanganmu masih bisa digunakan, kan?" Eh, gimana? Gimana? "Bi-bisa." "Kalau begitu puaskan aku!" "Apuah ...?" *** Bener-bener kurang ajar Tuan Stevan. Bilang aja kalau mau minta pijitin nggak usah pake acara tarik-tarikan dan pojok-pojokan. Jadi, kan aku, aku ... ah sudahlah! "Kenapa berenti?" Kutatap punggung lebar di hadapan. Menghela napas panjang mencoba meredam perasaan dongkol yang bercokol. "Pegel," jawabku sekenanya. "Ya udah, sini gantian!" Dia memutar tubuh, hingga posisi kami kini berhadapan. "Nggak usah, makasih!" Lekas kuempaskan diri di ranjang, menarik bedcover hingga menutup setengah badan. Sesekali melirik lelaki yang masih duduk memerhatikan dengan tatapan sulit diartikan. Walaupun masih tinting, tapi aku nggak cukup polos untuk diiming-iming. Karena aku tahu pasti akal bulus, nih laki anuan. Bukannya mijit, jatohnya malah grepe-grepe entar. . . . Bersambung.Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah
"Mulanya mungkin kamu dan aku memang saling membenci, kita juga dipersatukan dengan cara yang berbeda. Semua sikap yang kutunjukkan selama ini sebenarnya semata-mata hanya untuk menutupi perasaan sebenarnya yang sering kali kusangkal. Aku mencintaimu.""Emak bangga sama kamu.""Ahmad beruntung punya Teh Milah.""Bapak yakin kelak nasibmu bakal lebih mujur dari Mulan Jamilah."..."Haaahh ...."Sebuah kenangan-kenangan yang datang sekelebatan sontak menyentakku dari ketidaksadaran. Kukerjapkan mata beberapa kali berusaha memfokuskan pandangan yang masih terasa berkunang-kunang. Sebentar. Aku siapa? Aku di mana? Aku kenapa? Bukannya terakhir kali aku kelelep dalem bed tub setelah ehem nganu sama Bang Stip? Refleks aku bangkit dari posisi berbaring saat sadar terbangun di tempat lain yang begitu familiar. Pemandangan langit-langit dengan corak tie dye yang diukir alami oleh air hujan, kasur busa berukuran empat dengan seprai motif bunga, lemari tua warisan turun temurun yang masi
Bugh!"Kembalikan jiwa mereka, Sialan!" Aku berteriak kesetanan di hadapan tubuh Dokter Antony yang tersungkur di lantai.Dokter muda yang baru saja datang untuk memeriksa keadaan jiwa Milah dalam tubuh Intan itu langsung kuhadang di tengah jalan. Sebenarnya aku sudah curiga pada Dokter Antony sejak kecelakaan Milah dan Intan. Operasi yang seharusnya berjalan di rumah sakit justru dia lakukan di laboratorium pribadinya. Tak ada yang boleh mengunjungi mereka berdua sebelum dipindahkan kembali.Dan dengan bodohnya aku percaya begitu saja karena berpikir hal itu dilakukan demi keselamatan mereka."Maaf, Tuan. Proses transfer jiwa hanya bisa dilakukan sekali pada setiap individu. Itupun hanya bisa dilakukan pada salah satu pasien yang sudah divonis segera meninggal atau sudah usia lanjut. Kanker yang diidap Nyonya Intan sudah memasuki stadium akhir. Jadi, mustahil bila dia bisa sadar setelah mengalami keluhan kekambuhan pasca operasi sumsum tulang belakang. Ap-apalagi bila dua bulan tera
"Nggak terasa, udah dua tahun berlalu kamu mengorbankan kebebasanmu, Kak. Hidup bersama dengan perempuan yang nggak kamu cinta, hingga berencana untuk menua bersama, hanya demi bisnis Papa.""Cukup, Brian! Nggak baik membahas hal yang sudah lama berlalu. Lagi pula aku mulai menikmati semuanya. Meskipun pertunangan kita awalnya tak direncanakan, tapi aku mulai menyayangi Berlian sebagai calon istri.""Lalu bagaimana dengan janinnya? Sampai kapan kamu akan merahasiakan hal itu dari mereka? Selain kita dan Berlian tak ada lagi yang tahu bahwa Berlian sedang hamil saat ini, bahkan Intan-- saudara kembarnya sendiri pun tak tahu.""Janin yang Lian kandung anakku, Brian.""Jangan membodohiku, Kak. Semua orang tahu bagaimana kehidupan bebas Lian bahkan sebelum dekat denganmu.""Kalau begitu tutup mulutmu! Simpan rahasia itu sampai kamu mati, kalau masih ingin menjadi adikku.""Termasuk rahasia tentang gadis yang lima tahun lalu kamu temui di Cikarang? Gadis barbar yang kamu bilang sikapnya h
"Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek
Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke
"Sudah selesai?" "Aarrghh ... Sett--" Aku terlonjak dan nyaris mengumpat saat melihat Tuan Stevan sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Jantung terasa akan melompat dari rongganya, ketika menyadari tatapannya sudah beralih menuju ponsel di genggaman tanganku. Bergegas aku memasukan benda p
Aku mondar-mandir hampir setengah jam di sekeliling kamar. Mencari jalan keluar yang masuk akal agar Tuan Stevan percaya bahwa ini hanyalah kesalahanpahaman.Beribu kali pun dipikirkan ini terasa diluar nalar. Jangankan seratus juta. Lima puluh juta aja aku nggak tahu gimana bentuknya. Lagian ngapain
Satu bulan, dua hari sudah aku dan Nyonya Intan bertukar jiwa. Selama itu tak ada hal yang paling kutakuti selain kenyataan bahwa salah satu dari keluarga kami ada yang menyadari.Selain tragedi ini tak masuk akal, menjelaskannya sampai mulut berbusa pun mana bisa mereka percaya?Contohnya si Brian so
Kurang dari dua belas jam sejak adegan sosor menyosor kemarin malam, aku dapati diri terbangun dalam keadaan linglung. Aneh, tapi nyata. Seperti mimpi, tapi ini beneran terjadi. Mencoba pasrah, tapi rasanya seperti menghianati diri sendiri. Dahlah Milah. Lupain, lupain, lupain. Anak perawan nggak







