Home / Romansa / Hasrat Terpendam Majikanku / PoV Intan : Masa Lalu Milah & Stevan

Share

PoV Intan : Masa Lalu Milah & Stevan

Author: Dwrite
last update Last Updated: 2024-09-23 12:08:45

Emak terdiam. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Tatapannya beralih ke arah lain.

"Oh, ya udah atuh." Emak meraih remote di atas meja yang kubeli sekitar dua minggu lalu satu set dengan kursi dan rak TV. "Tapi kamu udah pastiin undang mereka nanti, kan?" sambungnya kemudian.

" .... "

Aku tak menjawab. Entah kenapa kalau bertemu dengan tubuhku lagi, aku takut jiwa kita tiba-tiba kembali tertukar di saat belum siap meninggalkan semuanya.

"Nanti Milah pikirkan lagi, ya, Mak."

Bingung harus menjawab apa, aku memilih menghindar. Beranjak untuk masuk ke kamar. Namun, sebelum sempat aku bangkit dari kursi di samping Emak, sebuah cekalan tangan membuat langkahku tertahan.

"Mil ... kamu teh beneran nggak apa-apa? Dari hari ke hari, kok Emak khawatir. Perasaan kalau dilat-liat kamu makin beda. Mau dibilang kayak anak orang, tapi da kamu emang anak Emak sama Bapak."

Aku terdiam. Jujur, bingung harus menjawab apa. Pertanyaan seperti ini sudah sering diajukan Emak, Bapak, Ahmad, bahka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 48

    "Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 47

    Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 46

    Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang… entah. Rasanya hatiku penuh, damai, lembut—seperti selimut hangat di pagi hujan. Tapi satu sisi hatiku juga terasa ada yang kosong, seperti ada ruang yang belum terisi, atau mungkin tak akan pernah bisa terisi. Sinar matahari merayap malu-malu melalui tirai jendela, menyoroti selimut putih yang masih membungkus separuh tubuhku. Aku mengerjap, memandang sisi ranjang yang kosong di sebelah. Bang Stip tidak ada di sana. Perasaan kecewa menyergapku begitu saja. Bukankah dia bilang akan mengambil cuti penuh seminggu ini? Katanya ingin menghabiskan waktu bersamaku, katanya ingin menebus semua kebersamaan kami yang berlalu begitu saja. Tapi… kenapa pagi ini dia pergi tanpa pamit? Aku bangkit perlahan, menyeret kaki ke meja dekat jendela, tempat kalender bulan Juli tergantung. Aku hendak mencentang tanggal hari ini. Kebiasaan kecil yang mulai kulakukan sejak tinggal di sini, tepatnya sejak jatuh sakit dan tak yakin sampai kapan jiwaku berta

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 45

    Aku masih mengingat betul hari itu. Hari ketika hidupku berubah dalam sekejap. Intan, majikanku yang dulu kucemburui karena kehidupannya yang sempurna, tiba-tiba bertukar jiwa dengan seseorang sepertiku. Awalnya aku berpikir semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi, mana mungkin pembokat sepertiku bisa menjalani kehidupan sebagai seorang nyonya besar dengan suami setampan Tuan Stevan, ya walaupun kelakuannya rada-rada membagongkan. Seolah masih dalam ingatan saat dia kami berpisah persimpangan jalan. “Kita jalani apa yang sudah ditakdirkan Tuhan,” katanya. “Aku butuh kebebasan, Milah. Dan kamu butuh kesempatan.” Dan begitulah semua takdir kampret ini berjalan. Tak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi di waktu mendatang, saat Nyonya Intan yang menghuni tubuh ndesoku tiba-tiba hilang kabar dan aku yang kebingungan dengan tubuh ini yang tiba-tiba serapuh kerupuk kena aer. *** Pagi ini, aku duduk di ruang keluarga dengan segelas kopi di tangan, menatap daftar kegiatan yan

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 44

    "Udah dapet kabar tentang Milah? Kok akhir-akhir ini dia susah dihubungin, yak?" Aku bertanya pada Tuan Stevan yang baru saja masuk ke ruang kamar dengan segelas air putih di tangan. Lelaki itu menggeleng pelan, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja di hadapan, kemudian duduk di sampingku dalam sofa panjang berwarna hitam. "Belum. Terakhir dia menghubungi sekitar dua minggu lalu, mengatakan tentang rencana pernikahannya dan Saiful, juga memutuskan mengakhiri kontrak kerja kita." Aku tertegun. Bingung harus melakukan apa. Komunikasi dengan Nyonya Intan benar-benar terputus kini. Waktu semakin mengerucut, hanya tinggal hitungan minggu sampai waktu yang ditentukan. Aku tak menyangka ternyata seratus hari bisa terasa sesingkat ini, apalagi setelah dua minggu terakhir kuhabiskan hanya dengan berbaring di atas ranjang. Setelah tragedi pingsan di resto hari itu. Dokter datang tiap seminggu dua kali sepanjang dua pekan ini. Obat-obatan juga selang infus seolah menjadi konsumsi seha

  • Hasrat Terpendam Majikanku   PoV Intan : Masa Lalu Milah & Stevan

    Emak terdiam. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Tatapannya beralih ke arah lain."Oh, ya udah atuh." Emak meraih remote di atas meja yang kubeli sekitar dua minggu lalu satu set dengan kursi dan rak TV. "Tapi kamu udah pastiin undang mereka nanti, kan?" sambungnya kemudian." .... "Aku tak menjawab. Entah kenapa kalau bertemu dengan tubuhku lagi, aku takut jiwa kita tiba-tiba kembali tertukar di saat belum siap meninggalkan semuanya."Nanti Milah pikirkan lagi, ya, Mak."Bingung harus menjawab apa, aku memilih menghindar. Beranjak untuk masuk ke kamar. Namun, sebelum sempat aku bangkit dari kursi di samping Emak, sebuah cekalan tangan membuat langkahku tertahan."Mil ... kamu teh beneran nggak apa-apa? Dari hari ke hari, kok Emak khawatir. Perasaan kalau dilat-liat kamu makin beda. Mau dibilang kayak anak orang, tapi da kamu emang anak Emak sama Bapak."Aku terdiam. Jujur, bingung harus menjawab apa. Pertanyaan seperti ini sudah sering diajukan Emak, Bapak, Ahmad, bahka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status