共有

Bab 08. New Day.

作者: eslesta
last update 公開日: 2025-10-08 09:20:39

Suasana kantor PT. Fast Track Logistic terasa tenang, hampir sunyi kecuali suara deru mesin pendingin udara. Di ruang tunggu, interior modern berpadu warna netral dan kayu muda memberi kesan hangat dan rapi. Aroma kopi dari dispenser di pojok ruangan perlahan melayang, mengisi udara dengan kehangatan yang samar.

Olivia duduk di sofa abu muda, tangannya sibuk menggenggam ponsel namun matanya terus melirik ke arah pintu kaca otomatis di lantai dua, yang hingga kini belum terbuka. Wajahnya mengernyit tipis, menahan resah. Mariska sudah janji akan menjemput, tapi detik demi detik berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya.

Di seberangnya, Bastian berdiri santai menyender pada meja resepsionis. Postur tegap dan kulit sawo matang yang pas, membuatnya terlihat begitu menarik. Kemeja biru mudanya membentuk bahu lebar dengan sempurna. Ia mengambil seteguk air mineral dari botol kecil, lalu menatap Olivia.

"Masih lama, ya, Mariska?" suaranya rendah tapi ramah.

Olivia mengangkat bahu ringan, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Tadi terakhir kabari sekitar setengah jam lagi, Mas. Tapi ini udah lebih dari setengah jam, Mariska belum muncul juga. Mungkin lagi kejebak macet di suatu tempat."

Bastian menggeleng pelan, tersenyum sambil bergurau, "Wah, Jakarta emang setia sama macetnya, ya."

Tawa kecil lepas dari bibir Olivia, matanya sempat menyiratkan kecewa tapi ia coba menyembunyikannya. "Iya, nggak pernah berubah. Sepertinya justru makin jago bikin orang salah estimasi waktu."

"Yah, begitulah Jakarta."

"Tapi herannya masih banyak yang betah."

"Iya, termasuk kita, Via."

Mereka tertawa bersama sebentar, kehangatan percakapan itu mengusir canggung yang sempat menyelimuti. Bastian lalu duduk di sebelahnya, secara alami menjaga jarak, tapi tetap memberikan rasa nyaman dan membuat percakapan tak terputus.

"Kamu berubah banyak, ya," ujar Bastian tiba-tiba, matanya menyorot ke arah Olivia sekilas.

Olivia memiringkan kepala. "Berubah gimana, Mas?"

Bastian tersenyum kecil, suaranya ringan tapi penuh makna. "Dewasa. Lebih kalem. Aku jadi ingat waktu antar kamu dan Mariska KKN. Kamu tuh lebih mirip anak SMA yang nyasar ke kampus," godanya sambil menahan tawa pelan.

Olivia pura-pura mendelik, menyipitkan mata seperti menantang. "Masa sih segitunya? Padahal waktu itu aku sudah semester enam, lho."

Bastian mengangguk pelan, wajahnya serius tapi hangat. "Justru itu. Sekarang beda. Ada aura tenang, berani. Tapi sisi lembutmu tetap keluar, walau nggak kamu tonjolkan. Aku baru sadar tadi waktu wawancara kamu."

Olivia menunduk, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang coba ia sembunyikan. Ada sesaat diam yang berat di antara mereka. "Mungkin… tanpa kerasa, hidup yang bikin kita cepat dewasa," katanya lirih.

"Mungkin saja."

"Iya, Mas."

Bastian mengalihkan pandangan, kemudian dengan suara hati-hati bertanya, "Dengar-dengar kamu baru kehilangan Mama, ya?"

Wajah Olivia berubah seketika, matanya redup. Bukan kesedihan yang pekat, tapi bayangan luka lama yang belum usai. "Iya, Mas, baru beberapa minggu lalu," jawabnya pelan, nadanya patah.

Bastian menatapnya lama, lalu mengangguk pelan penuh empati. "Aku turut berduka, Via. Mariska cuma bilang sekilas waktu itu, aku nggak enak nanya lebih jauh."

Olivia mengangkat kepala, menatap Bastian dengan mata yang mulai mengembun. "Nggak apa-apa. Terima kasih sudah peduli," ucapnya tulus, suaranya hangat meski mata masih menyimpan rindu. "Hidup kadang suka muter arah tiba-tiba, ya."

Bastian menatap Olivia dengan serius, suaranya pelan tapi penuh keyakinan, "Tapi kamu itu kuat, Via. Nggak semua orang bisa bangkit secepat ini. Datang interview sendirian, di tempat asing, dan masih bisa senyum—aku benar-benar salut."

Olivia menahan pandangannya sejenak, mata mereka bertemu, sebuah tatapan singkat yang meninggalkan rasa hangat. "Kalau aku nggak mulai sekarang, nanti malah makin tenggelam," jawabnya pelan.

Bastian mengangguk, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Semoga kamu bisa terus jaga ceria itu. Hidup nggak boleh mandek, kita harus bangkit apapun caranya. Aku yakin banyak yang dukung kamu. Percaya deh."

Olivia menarik napas panjang, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Thanks, Mas Bastian. Senang masih ada yang mendukung sama anak KKN yang katanya kayak anak SMA itu," candanya.

Bastian terkekeh lebar, matanya menyipit saat dia berkata, "Sekarang kamu malah kelihatan lebih… bahaya."

"Kok bahaya?" Olivia mendongak penasaran.

"Dalam arti bikin orang salah fokus."

Tawa mereka pecah lagi, kali ini lebih lepas, mengisi ruangan kecil itu dengan suasana hangat. Tiba-tiba, sosok perempuan dengan kacamata hitam yang bertengger santai di kepala muncul di depan pintu kaca. Olivia segera menoleh, matanya langsung berbinar.

"Itu Mariska! Akhirnya dia sampai juga," serunya sambil sigap berdiri dari sofa abu muda yang empuk.

Bastian ikut berdiri, menatap Olivia dengan senyum mengembang. "Kapan-kapan kita ngopi, ya. Biar santai, jauh dari suasana kantor."

Olivia menggigit bibir bawahnya, senyumannya agak canggung tapi tulus. "Lihat nanti saja… kalau aku diterima kerja di sini, baru aku traktir Mas Bastian. Mungkin dari gaji pertama."

Bastian mengangguk mantap. "Sip, aku tunggu."

Mariska menyeru dari dekat pintu, suaranya penuh akrab pada sepupunya itu. "Tian, makasih, ya! Jangan lupa kabari hasilnya."

Bastian mengangkat jari, meyakinkan, "Sip, nanti aku kabari hasil interview-nya ke Via langsung."

Mariska menahan tawa kecil, berbisik, "Awas, ya, kalau sahabat aku nggak diterima. Kita putus hubungan persepupuan."

Bastian hanya menggelengkan kepalanya sambil menyaku tangannya.

Langkah Olivia mulai meninggalkan ruangan, tapi mata Bastian masih terpaku, mengikutinya sampai pintu kaca tertutup rapat.

Di balik senyum hangat yang terpampang di wajahnya, ada aura berbeda yang terpancar. Olivia bukan lagi gadis manis polos masa KKN dulu. Ia telah tumbuh dewasa, dan tanpa disadari, kini ia memikat perhatian orang lain dengan cara yang jauh berbeda, salah satunya Bastian.

***

Langit mendung menggantung berat di atas halaman rumah keluarga Gista di pukul empat sore. Udara terasa lembap, seolah menahan napas bersama waktu yang melambat. Di ruang keluarga, Nevan duduk terpaku di sofa besar, pipinya masih pucat, tapi matanya mulai cerah saat menatap layar televisi yang memutar kartun favoritnya. Napasnya sudah lebih tenang, suhu tubuhnya pun sudah menurun.

Di sampingnya, Adrian jongkok sambil merapikan tas kecil berisi obat dan catatan klinik. Tangannya perlahan memasukkan satu per satu pil ke dalam kotak obat.

"Sudah, Ayah masukkan semua. Obatnya diminum malam nanti, ya," ucap Adrian dengan suara lembut, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya.

Nevan mengangguk pelan, tapi wajahnya mendadak berubah sendu. Matanya mengerjap menghalau air yang hampir jatuh. "Ayah mau pergi, ya?" suaranya bergetar halus.

Adrian mengangkat kepala, menatap mata anaknya penuh arti. Senyum kecil muncul, meski bibirnya masih canggung. "Iya, Sayang. Ayah harus pulang dulu. Tapi besok atau lusa, Ayah pasti datang lagi. Kamu baik-baik ya, obatnya jangan lupa diminum biar cepat sembuh."

Tapi Nevan justru menggeleng cepat, tangannya meraih dan menggenggam erat jemari Adrian. "Ayah jangan pergi… tidur di sini saja sama Ibu," lirihnya.

Adrian terdiam sesaat, menarik napas panjang sambil menahan rasa sesak di dada. Ia tahu, rindu Nevan begitu dalam. Momen seperti ini, di mana anaknya bersikap manja, terasa langka sejak perpisahan itu terjadi. Sentuhan tangan kecil yang menggenggam lengan bajunya membuat hatinya semakin berat.

"Nevan, Ayah harus kerja. Nanti siapa yang jaga restoran kalau Ayah di sini?" jawab Adrian pelan, berusaha menenangkan sambil mencoba terdengar ringan.

Tapi Nevan hanya menggeleng, mata beningnya sudah mengumpulkan air mata. "Aku sudah sembuh, Ayah. Tapi aku ... masih pengen peluk Ayah," bisiknya, suaranya tercekat

Adrian menunduk, mengusap lembut pipi Nevan yang mulai basah oleh air mata, lalu menariknya ke dalam pelukan hangat. Pelukan itu lama dan hening, hanya suara detik jam di dinding yang mengisi ruang.

Tiba-tiba, suara mesin mobil yang berhenti di halaman terdengar. Pintu terbuka dan masuklah Wiryo dan Rika, orang tua Gista, dari Bandung. Langkah kaki mereka terhenti melihat pemandangan di ruang keluarga.

Rika terpana, suaranya tercekat, "Loh? Nak Adrian? Kamu di sini?"

Adrian segera melepaskan pelukan, bangkit dengan wajah yang tetap tenang dan membalas dengan sopan, "Sore, Bu. Nevan demam, tadi saya antar ke klinik."

Wiryo melangkah mendekat dengan wajah penasaran sambil menaruh tangannya di atas dahi Nevan, "Kok Gista nggak kabari kami? Kamu sendiri yang antar Nevan ke dokter?" tanyanya, khawatir.

Dari balik pintu dapur, suara Gista terdengar pelan, sedikit terburu-buru sambil mendekat, "Maaf, Pi. Aku panik, langsung hubungi Mas Adri. Dia satu-satunya yang bisa cepat ke sini."

Rika duduk di samping Nevan yang kini memeluk erat kaki Adrian. Senyum samar menghiasi bibirnya, tapi matanya berkaca-kaca, hati tersentuh oleh pemandangan itu. "Nak Adri ... maaf kami nggak bisa bantu banyak," suaranya lembut, penuh kehangatan. "Tapi makasih kamu masih peduli sama Nevan. Kamu tetap Ayahnya, dan itu sangat berarti bagi kami."

Adrian hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis yang tersembunyi di balik kerutan wajahnya.

Rika tak berhenti di situ. Tatapannya menjadi lebih dalam, seolah mencoba menyampaikan sesuatu yang tak terucap langsung ke hati Adrian. Sekilas ia memandang Gista yang menunduk, wajahnya penuh sesal dan penyesalan yang berat.

"Kalian pernah punya rumah yang utuh, Nak Adri," suaranya nyaris bergetar. "Semoga Nevan tetap bisa merasakan kasih sayang dari kalian berdua."

Gista menunduk dalam, bibirnya mengerut seperti menyimpan beban berat penyesalan yang tak terucap. Rika tidak tahu pasti kenapa kata-kata itu keluar begitu saja, mungkin karena momen ini langka sebab biasanya Adrian hanya membawa Nevan ke taman bermain atau ke rumahnya saat waktu kebersamaan dengan putranya setelah perceraian.

Adrian memang sengaja membatasi interaksi dengan Gista dan keluarganya.

Adrian mengusap lembut kepala Nevan, kemudian menatap Rika dengan mata teduh. "Saya cuma menjalankan peran saya sebagai ayah, Bu."

Rika mengangguk perlahan, menerima jawabannya tanpa kata-kata lagi.

Di sudut lain, Gista menarik napas dalam-dalam, dadanya sesak seolah menahan badai yang bergelora di hati. Ia ingin berbicara, tapi kata-kata membeku di kerongkongan. Dulu, dialah yang memilih pergi, meninggalkan Adrian saat pria itu terjatuh paling dalam. Sekarang, melihatnya berdiri tegak dengan sabar dan tanggung jawab, penyesalannya terasa makin tajam, seperti jurang yang sulit dijembatani.

"Nevan..." suara Adrian terdengar lembut saat ia berlutut kembali, tangan memegang erat pundak kecil putranya. "Ayah harus pamit, ya. Tapi Ayah janji, besok Ayah telepon kamu, dan minggu depan kita main ke taman, ya?"

Nevan diam, tapi akhirnya mengangguk perlahan. "Ayah janji, ya?"

"Janji," jawab Adrian sambil menyentuh jari kelingking Nevan, mengaitkannya.

Akhirnya, Adrian berdiri pelan dan melangkah menuju pintu. Saat hendak melangkah keluar, ia menoleh sesaat ke arah Gista. Tatapan matanya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dibaca—seolah menyembunyikan kata-kata yang tak mampu terucap. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan kesunyian yang berat.

Di dalam rumah, Gista berdiri kaku. Tangan ibunya menggenggam lengannya erat-erat. "Kamu masih sayang Adrian, Ta?" bisik Rika lembut, hati-hati.

Gista tak menjawab, namun tatapan matanya yang redup sudah menjelaskan segalanya.

Sementara itu, Adrian menaiki mobilnya dengan napas yang sesak. Terlalu lama berada di rumah orang tua Gista membuat dadanya terasa penuh tekanan. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar terpampang nama Olivia. Sebuah senyum ringan muncul di wajah Adrian sebelum ia mengangkat telepon.

"Halo, Via?" sapanya hangat.

"Om, di mana?" suara Olivia ceria menyusup ke telinga.

"Di jalan, mau pulang. Kenapa?"

"Oke. Aku sudah siapin makan malam sebagai ucapan terima kasih, ya. Jadi cepat sampai rumah, Via tunggu!"

"Siap! Satu jam lagi aku sampai."

"Oke, Via tunggu!" Olivia mengakhiri dengan nada penuh semangat.

Adrian menginjak pedal gas lebih dalam. Suara Olivia tadi entah mengapa mengalirkan ketenangan dalam dadanya, memantik sesuatu yang hangat dan menenangkan. Tanpa dia sadari, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai tumbuh untuk Olivia.

Bersambung...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 142. Bertemu Gista.

    Sambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 141. Kekhawatiran Olivia.

    “Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 140. Rahasia di Balik Kobaran Api.

    “Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 139. Musibah.

    “Tante butuh bantuan kamu, Via... rumah tante hangus, kebakaran…”Suara di seberang telepon pecah oleh isak panik, napas tersengal-sengal, dan riuh orang yang saling berteriak di belakangnya.Olivia mendadak tegak di kursi penumpang, matanya membesar.“Apa!?” Suaranya tercekat, hampir terputus. “Kebakaran? Tante sekarang di mana?”Dari balik kemudi, Adrian melirik istrinya dengan wajah tegang. Jemarinya yang tadi santai kini mencengkeram setir lebih erat.“Tante di depan rumah...” suara Ruby bergetar, berusaha menahan tangis. “Api masih besar, Via... maaf ya, Tante nggak punya siapa-siapa lagi, makanya cuma kamu yang Tante hubungi...”Olivia menarik napas dalam, menutup mata sejenak. Jantungnya berdegup semakin kencang, tapi dia berusaha keras meredakan paniknya.“Tante, coba tenang dulu, ya? Aku sama Mas Adrian langsung ke sana sekarang.”Isak Ruby semakin pecah. “Makasih, Via... Tante tunggu...”Panggilan pun terputus.Beberapa saat mobil hanya dipenuhi suara napas Olivia yang belum

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 138. Satu Ketegasan.

    Gyan terdiam beberapa saat. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam punggung tangan Mariska, perlahan mengendur, matanya jatuh lurus ke wajah Mariska yang duduk di depannya.“Hubungan kita spesial, Ris,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tertelan denting sendok dan riuh rendah pengunjung di sekitar. “Tapi… kamu yakin mau sama laki-laki kayak aku?”Mariska mengernyit kecil. “Maksudnya?”Gyan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. “Aku hidup biasa aja, nggak punya apa-apa buat dibanggain. Aku takut suatu saat kamu sadar kalau kamu salah pilih.”“Kita udah sedekat ini tapi kamu masih nanya begitu?” Nada kesal Mariska muncul tanpa bisa disembunyikan.“Bukan karena aku ragu sama perasaan kamu,” sahut Gyan cepat, matanya penuh gelisah. “Aku cuma takut kamu nantinya kecewa. Aku nggak bisa janjiin hidup mewah—”“Kamu cinta sama aku?” suara Mariska tiba-tiba menyela, lembut tapi penuh harap.Gyan terdiam, pandangannya melembut, jemariny

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 137. Tentang Mariska.

    Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara di salah satu kafe bergaya industrial itu ketika Olivia mendorong paper bag ke arah Mariska.Mariska yang sejak tadi menikmati cappuccino-nya mengangkat alis. “Apa itu?”“Oleh-oleh,” jawab Olivia ringan, dagunya sedikit terangkat. “Dari pantai kemarin.”Gerakan tangan Mariska terhenti sesaat di udara. Ia menyipitkan mata, lalu senyum tipis mulai mengembang. “Ooh… yang liburan sama Mas Adrian itu?” Ia menyesap lagi kopinya, sengaja pelan, memberi jeda untuk menggoda. “Pantesan dari tadi mukanya bersinar banget.”Olivia terkekeh, “Ya iyalah. Mas Adrian balik romantis lagi.” Ia menyandarkan punggung, matanya berbinar seperti menyimpan potongan-potongan kenangan yang belum habis diputar ulang. “Empat hari di sana tuh… kayak cuma lewat sebentar. Lo nanti juga bakal ngerti, kalau udah nikah.“Ah… menikah…” gumam Mariska. Tatapannya justru melayang ke luar jendela, mengikuti garis hujan yang mulai membentuk jalur-jalur tipis di kaca.Olivia mengernyit, b

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 98. Akhirnya Sah!

    Langit Jakarta pagi itu begitu bersih, seolah semesta sengaja menarik awan-awan kelabu menjauh. Matahari naik perlahan, cahayanya lembut, tak menyengat. Pohon-pohon bergoyang pelan. Seolah seluruh alam tahu hari ini adalah hari yang diberkati.Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, rombongan k

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 99. After Party.

    Musik romantis dari band akustik di sudut venue mengalun lembut, menyatu dengan cahaya matahari yang perlahan turun. Pernikahan intimate antara Adrian dan Olivia memang hanya dirancang hingga pukul empat sore, tanpa perlu hiruk-pikuk berlebihan, dan keramaian yang melelahkan.Para tamu masih bertah

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 100. Melebur Di Malam Intim. (21++)

    Olivia menaruh air putih yang disiapkan Adrian setelah dia selesai mengisi perutnya. Rasa nyaman segera menjalar setelah perutnya kosong sejak resepsi pernikahannya siang tadi.Olivia mengeratkan tali handuk kimononya kemudian bergerak ke depan wastafel untuk mencuci tangan sementara suaminya merap

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 96. Menjelang Pernikahan.

    Olivia menatap potret Sheila yang terbingkai dalam pigura kayu kecil di atas nakas. Jemarinya terangkat, menyentuh sudut bingkai dengan hati-hati, seolah takut mengganggu kenangan yang tersimpan di sana.Dulu, ia pernah berdiri gugup saat mengantarkan sang ibu menikah dengan Adrian. Ia ingat betul

    last update最終更新日 : 2026-03-31
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status