MasukSuasana kantor PT. Fast Track Logistic terasa tenang, hampir sunyi kecuali suara deru mesin pendingin udara. Di ruang tunggu, interior modern berpadu warna netral dan kayu muda memberi kesan hangat dan rapi. Aroma kopi dari dispenser di pojok ruangan perlahan melayang, mengisi udara dengan kehangatan yang samar.
Olivia duduk di sofa abu muda, tangannya sibuk menggenggam ponsel namun matanya terus melirik ke arah pintu kaca otomatis di lantai dua, yang hingga kini belum terbuka. Wajahnya mengernyit tipis, menahan resah. Mariska sudah janji akan menjemput, tapi detik demi detik berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya. Di seberangnya, Bastian berdiri santai menyender pada meja resepsionis. Postur tegap dan kulit sawo matang yang pas, membuatnya terlihat begitu menarik. Kemeja biru mudanya membentuk bahu lebar dengan sempurna. Ia mengambil seteguk air mineral dari botol kecil, lalu menatap Olivia. "Masih lama, ya, Mariska?" suaranya rendah tapi ramah. Olivia mengangkat bahu ringan, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Tadi terakhir kabari sekitar setengah jam lagi, Mas. Tapi ini udah lebih dari setengah jam, Mariska belum muncul juga. Mungkin lagi kejebak macet di suatu tempat." Bastian menggeleng pelan, tersenyum sambil bergurau, "Wah, Jakarta emang setia sama macetnya, ya." Tawa kecil lepas dari bibir Olivia, matanya sempat menyiratkan kecewa tapi ia coba menyembunyikannya. "Iya, nggak pernah berubah. Sepertinya justru makin jago bikin orang salah estimasi waktu." "Yah, begitulah Jakarta." "Tapi herannya masih banyak yang betah." "Iya, termasuk kita, Via." Mereka tertawa bersama sebentar, kehangatan percakapan itu mengusir canggung yang sempat menyelimuti. Bastian lalu duduk di sebelahnya, secara alami menjaga jarak, tapi tetap memberikan rasa nyaman dan membuat percakapan tak terputus. "Kamu berubah banyak, ya," ujar Bastian tiba-tiba, matanya menyorot ke arah Olivia sekilas. Olivia memiringkan kepala. "Berubah gimana, Mas?" Bastian tersenyum kecil, suaranya ringan tapi penuh makna. "Dewasa. Lebih kalem. Aku jadi ingat waktu antar kamu dan Mariska KKN. Kamu tuh lebih mirip anak SMA yang nyasar ke kampus," godanya sambil menahan tawa pelan. Olivia pura-pura mendelik, menyipitkan mata seperti menantang. "Masa sih segitunya? Padahal waktu itu aku sudah semester enam, lho." Bastian mengangguk pelan, wajahnya serius tapi hangat. "Justru itu. Sekarang beda. Ada aura tenang, berani. Tapi sisi lembutmu tetap keluar, walau nggak kamu tonjolkan. Aku baru sadar tadi waktu wawancara kamu." Olivia menunduk, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang coba ia sembunyikan. Ada sesaat diam yang berat di antara mereka. "Mungkin… tanpa kerasa, hidup yang bikin kita cepat dewasa," katanya lirih. "Mungkin saja." "Iya, Mas." Bastian mengalihkan pandangan, kemudian dengan suara hati-hati bertanya, "Dengar-dengar kamu baru kehilangan Mama, ya?" Wajah Olivia berubah seketika, matanya redup. Bukan kesedihan yang pekat, tapi bayangan luka lama yang belum usai. "Iya, Mas, baru beberapa minggu lalu," jawabnya pelan, nadanya patah. Bastian menatapnya lama, lalu mengangguk pelan penuh empati. "Aku turut berduka, Via. Mariska cuma bilang sekilas waktu itu, aku nggak enak nanya lebih jauh." Olivia mengangkat kepala, menatap Bastian dengan mata yang mulai mengembun. "Nggak apa-apa. Terima kasih sudah peduli," ucapnya tulus, suaranya hangat meski mata masih menyimpan rindu. "Hidup kadang suka muter arah tiba-tiba, ya." Bastian menatap Olivia dengan serius, suaranya pelan tapi penuh keyakinan, "Tapi kamu itu kuat, Via. Nggak semua orang bisa bangkit secepat ini. Datang interview sendirian, di tempat asing, dan masih bisa senyum—aku benar-benar salut." Olivia menahan pandangannya sejenak, mata mereka bertemu, sebuah tatapan singkat yang meninggalkan rasa hangat. "Kalau aku nggak mulai sekarang, nanti malah makin tenggelam," jawabnya pelan. Bastian mengangguk, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Semoga kamu bisa terus jaga ceria itu. Hidup nggak boleh mandek, kita harus bangkit apapun caranya. Aku yakin banyak yang dukung kamu. Percaya deh." Olivia menarik napas panjang, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Thanks, Mas Bastian. Senang masih ada yang mendukung sama anak KKN yang katanya kayak anak SMA itu," candanya. Bastian terkekeh lebar, matanya menyipit saat dia berkata, "Sekarang kamu malah kelihatan lebih… bahaya." "Kok bahaya?" Olivia mendongak penasaran. "Dalam arti bikin orang salah fokus." Tawa mereka pecah lagi, kali ini lebih lepas, mengisi ruangan kecil itu dengan suasana hangat. Tiba-tiba, sosok perempuan dengan kacamata hitam yang bertengger santai di kepala muncul di depan pintu kaca. Olivia segera menoleh, matanya langsung berbinar. "Itu Mariska! Akhirnya dia sampai juga," serunya sambil sigap berdiri dari sofa abu muda yang empuk. Bastian ikut berdiri, menatap Olivia dengan senyum mengembang. "Kapan-kapan kita ngopi, ya. Biar santai, jauh dari suasana kantor." Olivia menggigit bibir bawahnya, senyumannya agak canggung tapi tulus. "Lihat nanti saja… kalau aku diterima kerja di sini, baru aku traktir Mas Bastian. Mungkin dari gaji pertama." Bastian mengangguk mantap. "Sip, aku tunggu." Mariska menyeru dari dekat pintu, suaranya penuh akrab pada sepupunya itu. "Tian, makasih, ya! Jangan lupa kabari hasilnya." Bastian mengangkat jari, meyakinkan, "Sip, nanti aku kabari hasil interview-nya ke Via langsung." Mariska menahan tawa kecil, berbisik, "Awas, ya, kalau sahabat aku nggak diterima. Kita putus hubungan persepupuan." Bastian hanya menggelengkan kepalanya sambil menyaku tangannya. Langkah Olivia mulai meninggalkan ruangan, tapi mata Bastian masih terpaku, mengikutinya sampai pintu kaca tertutup rapat. Di balik senyum hangat yang terpampang di wajahnya, ada aura berbeda yang terpancar. Olivia bukan lagi gadis manis polos masa KKN dulu. Ia telah tumbuh dewasa, dan tanpa disadari, kini ia memikat perhatian orang lain dengan cara yang jauh berbeda, salah satunya Bastian. *** Langit mendung menggantung berat di atas halaman rumah keluarga Gista di pukul empat sore. Udara terasa lembap, seolah menahan napas bersama waktu yang melambat. Di ruang keluarga, Nevan duduk terpaku di sofa besar, pipinya masih pucat, tapi matanya mulai cerah saat menatap layar televisi yang memutar kartun favoritnya. Napasnya sudah lebih tenang, suhu tubuhnya pun sudah menurun. Di sampingnya, Adrian jongkok sambil merapikan tas kecil berisi obat dan catatan klinik. Tangannya perlahan memasukkan satu per satu pil ke dalam kotak obat. "Sudah, Ayah masukkan semua. Obatnya diminum malam nanti, ya," ucap Adrian dengan suara lembut, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Nevan mengangguk pelan, tapi wajahnya mendadak berubah sendu. Matanya mengerjap menghalau air yang hampir jatuh. "Ayah mau pergi, ya?" suaranya bergetar halus. Adrian mengangkat kepala, menatap mata anaknya penuh arti. Senyum kecil muncul, meski bibirnya masih canggung. "Iya, Sayang. Ayah harus pulang dulu. Tapi besok atau lusa, Ayah pasti datang lagi. Kamu baik-baik ya, obatnya jangan lupa diminum biar cepat sembuh." Tapi Nevan justru menggeleng cepat, tangannya meraih dan menggenggam erat jemari Adrian. "Ayah jangan pergi… tidur di sini saja sama Ibu," lirihnya. Adrian terdiam sesaat, menarik napas panjang sambil menahan rasa sesak di dada. Ia tahu, rindu Nevan begitu dalam. Momen seperti ini, di mana anaknya bersikap manja, terasa langka sejak perpisahan itu terjadi. Sentuhan tangan kecil yang menggenggam lengan bajunya membuat hatinya semakin berat. "Nevan, Ayah harus kerja. Nanti siapa yang jaga restoran kalau Ayah di sini?" jawab Adrian pelan, berusaha menenangkan sambil mencoba terdengar ringan. Tapi Nevan hanya menggeleng, mata beningnya sudah mengumpulkan air mata. "Aku sudah sembuh, Ayah. Tapi aku ... masih pengen peluk Ayah," bisiknya, suaranya tercekat Adrian menunduk, mengusap lembut pipi Nevan yang mulai basah oleh air mata, lalu menariknya ke dalam pelukan hangat. Pelukan itu lama dan hening, hanya suara detik jam di dinding yang mengisi ruang. Tiba-tiba, suara mesin mobil yang berhenti di halaman terdengar. Pintu terbuka dan masuklah Wiryo dan Rika, orang tua Gista, dari Bandung. Langkah kaki mereka terhenti melihat pemandangan di ruang keluarga. Rika terpana, suaranya tercekat, "Loh? Nak Adrian? Kamu di sini?" Adrian segera melepaskan pelukan, bangkit dengan wajah yang tetap tenang dan membalas dengan sopan, "Sore, Bu. Nevan demam, tadi saya antar ke klinik." Wiryo melangkah mendekat dengan wajah penasaran sambil menaruh tangannya di atas dahi Nevan, "Kok Gista nggak kabari kami? Kamu sendiri yang antar Nevan ke dokter?" tanyanya, khawatir. Dari balik pintu dapur, suara Gista terdengar pelan, sedikit terburu-buru sambil mendekat, "Maaf, Pi. Aku panik, langsung hubungi Mas Adri. Dia satu-satunya yang bisa cepat ke sini." Rika duduk di samping Nevan yang kini memeluk erat kaki Adrian. Senyum samar menghiasi bibirnya, tapi matanya berkaca-kaca, hati tersentuh oleh pemandangan itu. "Nak Adri ... maaf kami nggak bisa bantu banyak," suaranya lembut, penuh kehangatan. "Tapi makasih kamu masih peduli sama Nevan. Kamu tetap Ayahnya, dan itu sangat berarti bagi kami." Adrian hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis yang tersembunyi di balik kerutan wajahnya. Rika tak berhenti di situ. Tatapannya menjadi lebih dalam, seolah mencoba menyampaikan sesuatu yang tak terucap langsung ke hati Adrian. Sekilas ia memandang Gista yang menunduk, wajahnya penuh sesal dan penyesalan yang berat. "Kalian pernah punya rumah yang utuh, Nak Adri," suaranya nyaris bergetar. "Semoga Nevan tetap bisa merasakan kasih sayang dari kalian berdua." Gista menunduk dalam, bibirnya mengerut seperti menyimpan beban berat penyesalan yang tak terucap. Rika tidak tahu pasti kenapa kata-kata itu keluar begitu saja, mungkin karena momen ini langka sebab biasanya Adrian hanya membawa Nevan ke taman bermain atau ke rumahnya saat waktu kebersamaan dengan putranya setelah perceraian. Adrian memang sengaja membatasi interaksi dengan Gista dan keluarganya. Adrian mengusap lembut kepala Nevan, kemudian menatap Rika dengan mata teduh. "Saya cuma menjalankan peran saya sebagai ayah, Bu." Rika mengangguk perlahan, menerima jawabannya tanpa kata-kata lagi. Di sudut lain, Gista menarik napas dalam-dalam, dadanya sesak seolah menahan badai yang bergelora di hati. Ia ingin berbicara, tapi kata-kata membeku di kerongkongan. Dulu, dialah yang memilih pergi, meninggalkan Adrian saat pria itu terjatuh paling dalam. Sekarang, melihatnya berdiri tegak dengan sabar dan tanggung jawab, penyesalannya terasa makin tajam, seperti jurang yang sulit dijembatani. "Nevan..." suara Adrian terdengar lembut saat ia berlutut kembali, tangan memegang erat pundak kecil putranya. "Ayah harus pamit, ya. Tapi Ayah janji, besok Ayah telepon kamu, dan minggu depan kita main ke taman, ya?" Nevan diam, tapi akhirnya mengangguk perlahan. "Ayah janji, ya?" "Janji," jawab Adrian sambil menyentuh jari kelingking Nevan, mengaitkannya. Akhirnya, Adrian berdiri pelan dan melangkah menuju pintu. Saat hendak melangkah keluar, ia menoleh sesaat ke arah Gista. Tatapan matanya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dibaca—seolah menyembunyikan kata-kata yang tak mampu terucap. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan kesunyian yang berat. Di dalam rumah, Gista berdiri kaku. Tangan ibunya menggenggam lengannya erat-erat. "Kamu masih sayang Adrian, Ta?" bisik Rika lembut, hati-hati. Gista tak menjawab, namun tatapan matanya yang redup sudah menjelaskan segalanya. Sementara itu, Adrian menaiki mobilnya dengan napas yang sesak. Terlalu lama berada di rumah orang tua Gista membuat dadanya terasa penuh tekanan. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar terpampang nama Olivia. Sebuah senyum ringan muncul di wajah Adrian sebelum ia mengangkat telepon. "Halo, Via?" sapanya hangat. "Om, di mana?" suara Olivia ceria menyusup ke telinga. "Di jalan, mau pulang. Kenapa?" "Oke. Aku sudah siapin makan malam sebagai ucapan terima kasih, ya. Jadi cepat sampai rumah, Via tunggu!" "Siap! Satu jam lagi aku sampai." "Oke, Via tunggu!" Olivia mengakhiri dengan nada penuh semangat. Adrian menginjak pedal gas lebih dalam. Suara Olivia tadi entah mengapa mengalirkan ketenangan dalam dadanya, memantik sesuatu yang hangat dan menenangkan. Tanpa dia sadari, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai tumbuh untuk Olivia. Bersambung...Aroma nasi goreng yang hangat memenuhi ruang makan, tapi entah kenapa udara di sana terasa dingin dan kaku. Olivia menundukkan kepala, jemarinya saling meremas di bawah meja, seolah mencari pegangan. Di seberangnya, Adrian dengan cepat menyendok nasi goreng, matanya tak pernah menatap wajah Olivia. Sendoknya malah sibuk memindahkan potongan cabai merah dari piring satu per satu, tanpa semangat. “Kamu yakin udah kuat kerja?” Adrian bertanya tiba-tiba, suaranya datar dan seolah cuma rutinitas. Olivia mengangguk pelan, memaksakan senyum yang hampir tidak sampai ke matanya. “Yakin, Mas. Aku nggak enak udah seminggu nggak masuk. Ayu sama Rayhan pasti kewalahan. Bu Laras juga.” Dia menyuap nasi dengan gerakan lambat. Rasa mual menyergap pelan, seperti gelombang kecil yang siap membesar kapan saja. Tangannya refleks bergerak ke perutnya di bawah meja, menahannya. “Kalau belum kuat, di rumah aja,” Adrian menjawab ringan, kata-katanya terdengar seperti sekadar formalitas. “Bu Laras pasti
“Pak Adrian.” Suara itu memecah keheningan dari dengung pelan pendingin ruangan dan bunyi ketikan yang tak henti sejak pagi. Adrian hanya melirik sekilas ke arah Renata yang duduk di seberang meja, lalu kembali menatap layar laptopnya. Deretan angka merah memenuhi kolom laporan keuangan. Grafik yang biasanya naik stabil kini menukik tajam seperti tebing curam. “Maaf, Pak. Saya baru dapat info. Pihak akun gosip minta dua puluh lima juta untuk takedown video.” Jari Adrian berhenti mengetik. “Hah? Semahal itu?!” Kepalanya terangkat cepat. Renata mengangguk. “Awalnya bahkan mereka minta di lima puluh.” Adrian mendengus kasar. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan menyilang di dada. “Ngaco.” Rahangnya mengeras. Tatapannya kembali ke layar, pada angka kerugian yang sudah membuat pelipisnya berdenyut sejak seminggu terakhir. “Jadi gimana, Pak?” “Satu juta. Maksimal.” Ucapannya tegas. “Kalau nggak mau, biarkan saja. Video itu sudah telanjur menyebar. Sekarang yang penting kita pu
Olivia membuka mata perlahan. Langit kamar masih pucat kebiruan. Jam digital di nakas menyala redup: 06.02.Napasnya tiba-tiba terasa sesak, seolah ada beban berat yang mendesak dari dalam perutnya, menekan hingga dada ikut sesak.Sebelum sempat berpikir, gelombang mual itu menyergap tanpa ampun.Ia segera bangkit, hampir tersandung selimut sendiri. Tangannya menutup mulut, menahan cairan asam yang naik ke tenggorokan. Kakinya bergegas menuju kamar mandi.Tubuhnya membungkuk di depan kloset.“Ukh—”suara serak keluar bersamaan dengan muntahan sisa makanan yang tumpah.Beberapa detik berlalu, perutnya seperti dikuras hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa sangat asam, menusuk sampai ke ujung hidungnya.Dadanya naik turun tak beraturan, tenggorokannya terasa terbakar. Air mata mengalir begitu saja, refleks tubuh yang tersiksa.“Ya Tuhan…” lirihnya lemah di sela batuk keras.Tubuhnya gemetar, tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan dan menemukan tepi wastafel. Jemarinya memut
Kelopak mata Olivia terbuka perlahan, menolak sepenuhnya menerima siang yang beranjak sore. Cahaya temaram keemasan merayap lewat tirai, menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang terasa asing. Tanpa berpikir panjang, tangannya bergerak otomatis meraih ponsel di atas nakas.Layar menyala, matanya terpaku pada jam di sudut layar: 17.03.Dadanya mengempis pelan. Ponselnya sepi dari notifikasi ataupun panggilan tak terjawab dari Adrian. Padahal sejak siang, ia sudah menelpon berkali-kali dan mengirim pesan, tapi ada balasan dari Adrian yang dinantinya.“Ya ampun… sibuk banget sih kamu?” gumamnya dengan suara serak.Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Olivia terkejut. Jantungnya melonjak, berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun saat nama “Mama Erika” terpampang di layar, bahunya kembali turun dengan lemas.Ia menarik napas dalam dan menyeka wajahnya. “Halo, Ma…” suaranya lirih, terdengar lebih rapuh dari yang ia duga.“Via? Kamu sakit?” Erika langsung terdengar cemas. “Suara kamu sera
Sendok itu terlepas dari jemari Olivia dan berdenting pelan di tepi mangkuk bakso. Kuah yang masih mengepul tiba-tiba terasa amis di hidungnya. Perutnya seperti diperas dari dalam. Tanpa sepatah kata, ia menutup mulut dan berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser keras. “Via?” panggil Ayu, sendoknya masih menggantung di udara. Olivia tak menjawab. Ia berlari keluar pantri, satu tangan menekan bibir, tangan lain memegangi perutnya yang bergolak. Rayhan yang baru masuk hampir bertabrakan dengannya. “Eh, kenapa tuh?” “Nggak tahu,” jawab Ayu sambil menatap mangkuk Olivia yang tinggal beberapa butir bakso. “Tadi masih makan biasa…” “Mukanya pucat banget,” gumam Rayhan, ikut menoleh ke arah pintu. Seorang perempuan di ujung meja mengangkat wajahnya. “Mbak Olivia lagi hamil, kan?” “Iya, Bu Meli,” sahut Rayhan sambil menarik kursi. “Oh, ya pantesan. Trimester pertama memang begitu. Mualnya bisa datang tiba-tiba. Bau makanan sedikit saja langsung berontak.” Ayu menepuk dahinya
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ulang. Wajahnya sendiri muncul di sana dengan penampilan rapi, formal, dan suara yang dibuat setenang mungkin.“Kami dari manajemen Solaire memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian tidak nyaman beberapa hari lalu…”“Kami telah melakukan pembersihan menyeluruh, bekerja sama dengan pihak pengendalian hama profesional…”“Kami menjamin standar kebersihan kami akan ditingkatkan secara ketat…”Potongan suara itu berasal dari video berdurasi dua menit empat belas detik. Dua menit empat belas detik yang terasa sia-sia.Kolom komentar di bawahnya terus bergerak, dibanjiri komentar pedas.“Cih! Maaf doang nggak cukup.”“Udah terlanjur jijik.”“Kalau nggak viral, nggak bakal minta maaf.”“Fix blacklist







