Compartir

Bab 132. Panik!

Autor: eslesta
last update Fecha de publicación: 2026-04-13 17:41:30

Firly berdiri di depan laci kasir, tubuhnya sedikit membelakangi area pelanggan. Tangannya bergerak cepat, tapi tidak tergesa. Satu per satu lembaran uang di tangannya, ia luruskan. Disusun rapi sesuai pecahan.

Matanya sesekali melirik angka di layar monitor, lalu kembali ke tumpukan uang, menghitung senyap tapi presisi.

Selanjutnya ia a membuka sedikit dompet kecil yang terselip di balik apron yang tersampir di tubuhnya.

Beberapa lembar uang berpindah tempat dengan cepat dan bersih. Gerakannya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
NING
Yang dihukum harusnya pacarnya nih. Main suruh2. Firly jangan meninggal dulu biar ada saksi buat kejahatan pacarnya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 146. Menjelang Persalinan.

    “Huh… tenang, Via. Katanya ketuban pecah itu nggak langsung bikin bayi langsung keluar sekarang juga…”Olivia terdiam sesaat, matanya menatap lantai pantri yang kini basah oleh cairan bening yang tadi merembes dari balik dress hamilnya, menggenang tipis di sekitar kedua kakinya.Seharusnya pemandangan itu membuatnya panik, namun dia berusaha mengeraskan napas, menarik udara panjang pelan-pelan—satu kali, dua kali—seolah ingin menenangkan badai yang mulai bergemuruh di dadanya.Tangannya refleks mengusap perut yang sudah begitu besar.“Tenang… tarik napas, Via...” bisiknya lagi, kali ini lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. “All is well…”Ucapan Adrian beberapa minggu terakhir kembali terngiang di kepalanya. Tentang tanda persalinan, kontraksi, dan apa yang harus dilakukan saat ketuban pecah. Ternyata semua obrolan yang dulu terasa seperti beban informasi, kini malah jadi pegangan kuat di tengah ketidakpastian.Olivia menarik napas dalam-dalam, lalu pelan menutup mata. “Pertama, ak

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 145. Tanpa Aba-aba.

    “Via!” Suara yang memanggilnya dari ujung koridor membuat Olivia menghentikan langkah. Ia menoleh, lalu seketika senyumnya merekah lebar saat melihat sosok yang begitu dikenalnya berlari kecil menghampiri. “Mariska!” serunya senang. “Kamu ngapain di sini?” Mariska langsung mengaitkan lengannya di lengan Olivia dengan akrab, hati-hati agar tidak menyenggol perut buncit sahabatnya. “Aku ada urusan sebentar sama Mas Tian.” Tatapannya turun ke perut Olivia yang sudah membesar sempurna. “Ya ampun, kamu masih masuk kerja? Emang dibolehin sama Mas Adrian?” Olivia terkekeh pelan. “Lusa aku mulai cuti melahirkan.” Tangannya refleks mengusap perutnya yang menonjol. “Perkiraan lahir sekitar sepuluh hari lagi. Kata dokter bisa lebih cepat, bisa juga mundur.” Mereka terus berjalan berdampingan menuju pantry. “Terus kenapa masih ke kantor?” Mariska menggeleng kecil. “Aku aja lihat kamu jalan begini udah deg-degan.” Olivia membuka pintu pantry lebih dulu, lalu menoleh sambil terseny

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 144. Suami Siaga.

    Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu, tubuh Olivia seolah melangkah ke babak baru yang jauh lebih berat. Kaki jenjangnya kini sudah tampak bengkak. Wajahnya yang dulu tirus kini membulat, dengan semburat merah muda khas ibu hamil. Perutnya membuncit sempurna, membuat setiap gerakan kecil—bangkit dari tempat tidur, membungkuk, atau bahkan sekadar berganti posisi tidur—terasa seperti perjuangan sendiri. Namun, dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling sering membuatnya menangis diam-diam: varises yang mulai menjalar di betisnya. Guratan kebiruan itu bukan hanya mengganggu pandangan, tapi juga membawa nyeri tiba-tiba yang menusuk dan tak kenal waktu. Setiap malam hampir pasti rasa kram datang menyerang, memaksa Olivia terbangun dalam keadaan panik. Malam ini pun sama. Jam digital di atas nakas menyala merah, menunjukkan pukul 02.03 dini hari. Olivia meringis, napasnya terengah tipis seiring rintihan lirih yang keluar dari bibirnya. "Mas..." suaranya hampir sepert

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 143. Persiapan Menyambut si Kecil.

    “Mas, yang ini lucu nggak?”Suara Olivia terdengar riang dari ujung lorong perlengkapan bayi.Adrian yang sedang membolak-balik sepatu bayi mungil langsung menoleh. Di bawah lampu toko yang terang, Olivia berdiri sambil mengangkat selimut bayi bermotif rusa kecil.Adrian tersenyum tanpa sadar. “Lucu banget.”“Iya kan?” Olivia memeluk selimut itu ke dada.“Cocok buat bayi kita,” kata Adrian lembut, membuat senyum Olivia melebar.Perlahan tangan Olivia turun mengusap perutnya yang sudah membuncit sempurna di balik dress hamil berwarna krem.Usia kehamilan memasuki Delapan bulan. Sebentar lagi mereka tak perlu lagi membayangkan wajah si kecil. Mereka akan benar-benar bertemu.“Aku masih nggak percaya,” gumam Olivia pelan.“Hmm?” tanya Adrian.“Sebentar lagi kita bisa lihat wajahnya langsung,” kata Olivia, Tatapannya jatuh ke perutnya sendiri. Bibirnya melengkung lembut. “Aku udah nggak sabar banget.”Adrian menghampirinya sambil membawa sepasang kaus kaki bayi berwarna putih dengan telin

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 142. Bertemu Gista.

    Sambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 141. Kekhawatiran Olivia.

    “Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 125. Rumah Yang Kembali Hangat.

    “Pelan-pelan saja, Sayang…”Suara Adrian terdengar sangat dekat dan hangat, seperti sesuatu yang sudah lama tak didengar Olivia.Tangannya menggenggam siku Olivia dengan hati-hati saat wanita itu menuruni anak tangga kecil di depan rumah sakit. Gerakannya penuh kesabaran.Olivia menoleh sejenak. En

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 123. Perhatian Bastian.

    Kesadaran Olivia merayap masuk perlahan, bukan seperti terbangun dari tidur yang nyenyak. Rasanya lebih seperti seseorang yang mendadak muncul dari dasar air dan itu terasa sangat berat, pelan, dan membingungkan.Ia merasakan kepalanya ringan, tapi tubuhnya aneh, seperti bukan bagian dirinya sendir

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 109. Harapan Yang Pupus.

    “Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?

    last updateÚltima actualización : 2026-04-02
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 45. Nevan Merajuk.

    Adrian menurunkan kacamatanya yang sedikit melorot, menjepit gagangnya di antara jari telunjuk dan ibu jari. Layar laptop di depannya menampilkan deretan tab wedding organizer lain—semuanya terbuka karena satu alasan: ia ingin menjauh sejauh mungkin dari Blissful Wedding. Setiap melihat nama itu, d

    last updateÚltima actualización : 2026-03-22
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status