LOGINSatu jam kemudian, hasil keluar. Seorang petugas membawa selembar kertas kepada hakim. Wajah hakim berubah serius saat membacanya. Ia melirik ke arah Beni dengan pandangan yang kini penuh dengan penghakiman dan kecurigaan.“Berdasarkan hasil tes laboratorium cepat,” ucap hakim dengan berat, “sampel urin terdakwa positif mengandung opioid sintetis jenis Fentanyl analog. Ini adalah zat terlarang yang sangat kuat.”Ruang sidang kembali gemuruh. Pengacara korban tersenyum tipis, sebuah kemenangan kecil. Gunawan menutup mata sejenak, berusaha tetap tenang.“Dalam keadaan seperti ini,” lanjut hakim, “sikap dan pengakuan terdakwa selama ini dipertanyakan validitasnya. Namun, bukti penggunaan narkoba justru memperkuat gambaran perilaku tidak bertanggung jawab dan berbahaya. Sidang akan saya lanjutkan, tetapi dengan pertimbangan baru ini.”Pak Gunawan lalu berdiri dan dengan suara yang terdengar membela, namun sebenarnya justru mengukuhkan narasi dakwaan: “Yang Mulia, ini sangat disayangkan. K
Petugas medis itu mengangguk, wajahnya tetap tak terbaca. "Istirahatlah. Kamu membutuhkannya untuk besok."Dia membereskan peralatannya dan pergi. Saat pintu tertutup, Beni terbaring dalam keadaan baru. Rasa sakitnya hampir hilang, digantikan oleh rasa berat yang nyaman di anggota tubuh dan ketenangan pikiran yang belum pernah ia rasakan sejak semua ini dimulai.Yang tidak Beni tahu adalah bahwa cairan bening itu bukan sekadar pereda nyeri biasa. Itu adalah opioid sintetis yang sangat adiktif, dirancang untuk memberikan ketergantungan fisik dan psikologis dengan cepat.Ketenangan yang ia rasakan sekarang adalah awal dari sebuah perangkap baru yang lebih dalam dan lebih personal. Besok, setelah efeknya habis, tubuhnya akan mulai merindukannya. Dan ketika itu terjadi, ia akan menjadi jauh lebih patuh, lebih mudah dikendalikan, dan lebih diam daripada sekadar seorang tahanan yang patah semangat.Keesokan paginya, Beni bersiap untuk persidangan. Rasa sakit fisiknya masih teredam, tapi kin
“Jangan sentuh mereka!” teriak Beni, dorongan adrenalin mengalahkan rasa sakit sejenak.“Tergantung kamu. Tergantung bagaimana kasus ini berakhir,” sahut Bos. “Kalau kamu kooperatif, mereka aman. Kalau kamu bikin masalah sampai ke persidangan, bikin berisik... kami tidak bisa jamin keselamatan mereka. Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja.”Siksa fisik dan teror psikologis itu bekerja sama seperti bor yang tak henti-hentinya menggerus batu karang ketahanan Beni. Setiap gelombang rasa sakit baru menghapus sedikit lagi ingatannya akan kebenaran. Setiap ancaman terhadap ibu dan Lintang melenyapkan sedikit lagi keberaniannya. Dunia menyempit hanya menjadi pilihan antara: bertahan dan membahayakan nyawa orang yang dicintai, atau menyerah dan menyelamatkan mereka.Jam-jam berlalu dalam kabut penderitaan. Tubuh Beni sudah lemas, gemetar tak terkendali. Kepalanya berdenyut-denyut, pikiran menjadi kabur, tidak bisa lagi membedakan antara fakta dan ancaman. Satu-satunya hal yang tetap jernih
Krang...Tiba-tiba, kunci sel berbunyi keras.Beni terbangun dari tidurnya saat melihat dua petugas berbadan besar yang bukan petugas jaga biasa, memasuki sel tanpa sepatah kata.Sebelum Beni bisa protes, sebuah karung kain hitam yang kasar ditaruh paksa menutupi kepalanya. Dunia menjadi gelap pekat dan pengap. Nafasnya sendiri yang panas memantul ke wajahnya.“Apa yang—?!” ucapnya tercekik, sebelum sebuah dorongan kasar membuatnya tersandung keluar sel. Mereka menyeretnya, bukan membimbing. Kakinya menyentuh tangga, bahunya terbentur dinding. Ia kehilangan arah.Setelah perjalanan yang terasa lama, ia didorong masuk ke sebuah ruangan. Suara pintu besi berdecit lalu tertutup rapat. Karung dicabut.Cahaya lampu neon yang menyilaukan langsung menyerang matanya. Ia berada di sebuah ruangan kosong, dinding beton tanpa jendela. Dua pria lain sudah menunggu. Mereka tidak berseragam lengkap, hanya mengenakan kaus polos, tapi aura mereka adalah aura petugas—seseorang yang terbiasa dengan inti
“Aku akan membantumu,” tekad Nadia, suaranya kini mantap. “Aku akan hubungi pengacara kenalan ayahku. Dia yang terbaik. Dan soal Catherine...” Nadia menatap tajam. “Aku akan lebih berhati-hati. Tapi aku tidak akan berhenti, Ben. Justru karena mereka menjebakmu seperti ini, artinya kita semakin dekat dengan kebenaran. Aku akan lanjutkan untuk kita berdua.”“Jangan, Nad—!”“Ini sudah bukan pilihanmu lagi,” potong Nadia dengan lembut tapi tegas. “Kau fokus keluar dari sini. Biarkan aku yang mengurus yang di luar.” Dia meletakkan tangan di kaca, seolah ingin menyentuh bahu Beni. “Kita tim. Aku tidak akan meninggalkanmu.”Waktu kunjungan habis. Petugas membimbing Beni pergi. Saat berbalik, dia melihat Nadia masih duduk, matanya penuh tekad baja yang tak tergoyahkan. Dia merasa lega sekaligus ngeri. Lega karena Nadia masih percaya dan akan membantunya. Ngeri karena dia tahu, dengan memperingatkan Nadia tentang Bu Catherine, dia mungkin justru telah mendorong rekannya itu masuk lebih dalam k
Di sebuah sel tahanan yang kecil, lembap, dan berbau disinfektan yang menyengat bercampur keringat serta ketakutan. Beni duduk di dipan kayu keras yang ditempelkan ke tembok, kedua tangannya menyangga kepala yang terasa mau pecah. Suara gemerincing kunci, langkah kaki, dan teriakan dari sel lain menjadi soundtrack yang tak henti-hentinya mengganggu.“Apakah ini jebakan, atau murni kesalahanku sendiri?” Pikiran Beni berputar-putar seperti tikus dalam roda, terjebak dalam pertanyaan yang sama.Skenario Kesalahan Murni: Logikanya sederhana dan memalukan. Dia dalam keadaan emosional kacau. Seorang wanita masuk ke kamarnya. Dia bertindak gegabah, berdasarkan nafsu dan kebutuhan pelarian. Wanita itu, karena takut kehilangan pekerjaan atau malu, berbalik menyudutkannya. Itu adalah rangkaian keputusan bodoh yang berujung bencana. Semua ini adalah konsekuensi alami dari kelemahannya. Ini murni kesalahanku.“Tapi, benarkah sesederhana itu?” Sebuah suara lain, lebih dalam dan lebih paranoid, ber







