LOGINSetelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mobil Erfan memasuki kawasan Kota Hua. Mereka tiba pada sore hari, terlihat dari cahaya senja yang mulai menyinari kota tersebut. Erfan menepikan mobilnya di sebuah cafe untuk menunggu bus rombongan yang masih tertinggal jauh di belakang. Sambil menunggu, mereka pun memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe tersebut. Setelah memesan makanan dan minum yang mereka mau, mereka pun mengobrol santai. "Jadi, tujuan pertama ke mana?" tanya Erfan. "Ke pantai yang pernah kita kunjungi dulu!" balas Bu Susan. "Jadi mau berkunjung ke wisata malam di sana?" tanya Erfan dengan nada santai. Bu Susan mengangguk, membenarkan. "Eh iya," Bu Susan teringat sesuatu. "Kamu kan berinvestasi di wisata malam itu kan?" Erfan mengangguk. "Iya, emangnya kenapa?" "Sekarang, tempat itu sudah lebih bagus!" ucap Bu Susan memberitahu. "Kalau begitu, bocah Reza itu sangat mampu," ujar Erfan dengan nada puas. Perlu di ingat, Reza itu adalah Tuan Mu
Beberapa saat kemudian, seorang guru mengumumkan bahwa sudah waktunya untuk berangkat. Erfan dan para wanita itu pun masuk ke dalam mobil. Tak lama setelah bus lebih dulu melaju keluar, Erfan segera menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya mengikuti dari belakang.Setelah perjalanan memasuki area kota, Erfan menghentikan mobilnya di minimarket."Ayo beli makanan dulu!" ucap Erfan."Silakan Tuan Muda, kita udah bekal makanan dari rumah!" ucap Bu Dita, nadanya sedikit canggung."Ayo, beli lagi... jangan khawatir, aku yang bayar!" tegas Erfan sambil melirik Bu Dita."Ayo, jangan sungkan!" tambah Bu Susan.Pada akhirnya, Bu Dita dan Sita putrinya itu, ikut berbelanja makanan di minimarket.Saat berbelanja, Bu Dita dan Sita sempat ragu memilih makanan. Namun, berkat dorongan Erfan, mereka akhirnya tak sungkan lagi, meski tetap menahan diri agar tidak berlebihan.Setelah selesai berbelanja, mereka melanjut
Erfan dan Kak Gisel akhirnya kembali ke vila. Perjalanan yang mereka tempuh terasa singkat, hingga tak lama kemudian, keduanya tiba di vila. Para wanita yang ada di vila, dengan hangat menyambut kedatangan mereka. "Gimana Kak, apa sudah dapat lahan yang Kakak inginkan?" tanya Serina kepada Kak Gisel. "Sudah," balas Kak Gisel sambil tersenyum lembut, lalu dia menunjuk kepada Erfan. "Pria ini yang memilihkannya." "Kalau gitu, syukurlah," ucap Serina. Erfan duduk, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Serina. "Eh iya. Apa Tante Yurike sama Dewi, jadi pergi nyari tempat tinggal ~ untuk pegawai?" tanya Erfan. "Gak jadi. Dewi menyuruh karyawan perusahaan. Soalnya kebetulan karyawan perusahaan ada yang tinggal di dekat lokasi," balas Calista. "Terus, sekarang mereka di mana?" tanya Erfan. "Dewi di perusahaan, kalau Tante Yurike ada di kamarnya!" balas Calista. Erfan mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, Kak Gisel pamit ~ pergi ke kamar. Erfan menatap punggung Kak Gisel yang m
Setelah bermesraan selama beberapa saat, mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, mereka mampir ke lokasi air terjun dan gua, karena Kak Gisel ingin melihat lokasi lain yang nanti akan di jadikan tempat wisata. Kak Gisel sangat takjub, ketika melihat keunikan dan keindahan pemandangan di sana. "Kalau seindah ini, pasti gak akan kalah populer sama pantai yang tadi," ucap Kak Gisel. Erfan memeluk pinggang wanita itu, lalu dia berbisik pelan. "Kakak ipar, gimana... kalau kita mandi di sini." "Mandi? emang gak akan ada orang yang datang?" tanya Kak Gisel dengan nada ragu. "Gak akan, tenang saja!" balas Erfan, memastikan. "Ya sudah, ayo!" Akhirnya Kak Gisel setuju. Dia langsung saja menanggalkan pakaiannya di hadapan Erfan. Tak ada sedikitpun asa malu, setelah apa yang terjadi di antara dirinya dan Erfan. Erfan dengan cepat menanggalkan pakaiannya juga. Setelah pakaian mereka terlepas
"Kalau sudah jadi wanitaku... kamu gak bisa bermain-main dengan pria lain! kalau sampai itu terjadi... kamu pasti akan menderita," ucap Erfan. Perkataannya itu terdengar mengancam.Bu Nana mengalungkan tangannya di leher Erfan."Kalau Tuan Muda mampu adil, dan membuatku nyaman menjadi wanitamu... untuk apa aku selingkuh," balas Bu Nana."Aku selalu adil, dan selalu berusaha membuat wanitaku nyaman dalam berbagai hal... tapi... masih ada saja wanitaku yang berselingkuh," ucap Erfan dengan serius."Gak semua wanita seperti itu! kalau ada wanita Tuan Muda seperti itu, anggap saja Tuan Muda lagi gak beruntung!" balas Bu Nana dengan penuh penegasan.Erfan berpikir sejenak, lalu dia mengangguk, tanda menyetujui ucapan wanita itu."Mau lanjut Tuan Muda?" tanya Bu Nana. Tangannya tampak mengelus batang Erfan."Tentu mau, dong!" balas Erfan."Aku di atas! Tuan Muda harus mencoba goyanganku," ucap Bu Nana dengan nada menggoda.
Erfan kembali menekan tubuh wanita itu, sampai posisi batangnya menempel di apem wanita itu."Boleh aku mulai sekarang?" tanya Erfan dengan nada menggoda, sambil menggesekkan batangnya di apem wanita itu.Bu Nana mengangguk setuju.Tak membuang waktu, Erfan langsung mengambil posisi. Dia berlutut, menempatkan ujung batangnya di apem wanita itu, lalu menekannya masuk."Ahhh..." desahan merdu keluar dari mulut Bu Nana ketika dia merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam apemnya.Erfan merasakan batangnya cukup sulit masuk, walau apem itu sudah sangat basah. "Vaginamu... masih sangat sempit!" ucap Erfan dengan suara berat. Tampak dia berusaha lebih keras untuk memasukkan batangnya ke apem wanita itu."Ahh... ahh... milik Tuan Muda terlalu besar! pelan-pelan, agak sakit!" balas Bu Nana.Erfan mendorong masuk perlahan, karena wanita itu yang tampaknya sedikit kesakitan."Kamu belum pernah melahirk
Sampai di vila. Erfan menggendong Nayla masuk ke dalam vila. "Ibu..." sapa Nayla, sambil melambai-lambai kepada para wanita. "Putri ibu pulang! sini, ibu mau gendong putri ibu," Dewi buru-buru mengambil Nayla dari gendongan Erfan. Erfan meletakkan 1 plastik besar jajanan Nayla di meja. "S
Erfan kembali ke sisi Shara. Shara langsung melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan tingkah manja."Sayang, kamu sangat hebat," ucap Shara, dengan nada ceria, penuh kekaguman.Erfan tersenyum, lalu mengecup kening wanita itu.Selanjutnya adalah acara pembagian hadiah, untuk pemenang lomba modi
Sampai di rumah Shara. Tante Erlina yang sedang duduk sambil menonton tv, mengalihkan pandangannya ke arah kedatangan Erfan dan Shara."Kalian sudah kembali," ucap Tante Erlina, sambil tersenyum. Erfan tersesat sesaat melihat senyuman Tante Erlina, apalagi keadaannya sekarang yang sedang berhasra
Mobil Lamborghini melesat di jalanan kota, dengan suara raungan mesin yang menggelegar."Sayang, seru banget yah, naik mobil kayak gini," ucap Shara, dengan antusias."Kalo menyetirnya sendiri lebih seru loh," balas Erfan, sambil tersenyum."Kalo gitu nanti ajarin aku yah!" pinta Shara, ekspresinya