Masuk"Mau... aku mau! Aku pengen tau rasanya di jilatin kayak gitu," balas Kak Rita.Mendengar ucapan wanita itu, Erfan jadi tahu sebuah kemungkinan. "Kak, apa suamimu belum pernah menjilati apem mu?"Kak Gisel menggelengkan kepalanya."Hehe, kalau gitu... aku bakalan jadi yang pertama menjilati apem kakak," ucap Erfan dengan penuh semangat. Erfan turun ke bawah tubuh Kak Rita, melepaskan CD wanita itu, lalu melebarkan kakinya, sampai pahanya terbuka lebar. Pemandangan apem berbentuk tembem, mulus, dan lumuri cairan bening, terpampang jelas dengan mata Erfan.Erfan merasa semakin bernafsu, saat melihat keindahan apem itu."Ketiga putri Tuan Gubernur memang sangat mengagumkan. Mereka semua punya apem yang sangat mantap," gumam Erfan di dalam hati.Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke apem basah itu. Setelah jaraknya tinggal beberapa senti dari apem, aroma harum yang manis, menyeruak masuk ke dalam hidungnya."Apem kakak... sangat wangi!" ucap Erfan sambil memasang ekspresi menikmati.Men
"Sisi panasku ini... sudah sangat lama gak keluar! Kamu yang membangkitkan lagi sisi panasku! Jadi... kamu harus tanggung jawab," ucap Kak Rita dengan suara pelan. "Tentu saja, dengan senang hati!" Erfan memeluk erat tubuh wanita itu, lalu dia berguling ~ merubah posisi wanita itu menjadi di bawahnya. Erfan menunduk, lalu dia mencium ganas bibir merah merona wanita itu. Tanpa banyak berpikir, Kak Rita langsung menanggapi ciuman tersebut. Bibir mereka saling menghisap dan lidah mereka saling terjerat ~ dalam ciuman panas yang tampak penuh gairah. Erfan meremas payudara besar itu dengan keras, sampai tubuh Kak Rita mengejang ~ sebagai respons dari remasannya. "Mmm...Mmm.." Desahan-desahan tertahan terus keluar dari mulut Kak Rita, yang berarti wanita itu sangat menikmati permainan Erfan. Setelah puas berciuman, bibir Erfan turun ke leher Kak Rita, lalu jilatan dan isapan di daratkannya di sana. "Ahhh... ahh..." Kak Rita terus mengeluarkan desahan indah, yang membuat Erfan semak
Erfan menurunkan ritsleting celananya, lalu mengeluarkan senjata andalannya.Melihat benda besar itu, mata Kak Rita membelalak. Meskipun, dia sudah pernah melihat di video, tapi tetap saja dia merasa terkejut, saat melihatnya secara langsung."Kak, apa kakak yakin... gak mau mencicipi tusukan batangku?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil mengelus batangnya yang sudah tegak itu dengan tangannya."Fan... kamu!" Kak Rita buru-buru menarik pandangannya dari batang Erfan, lalu membuang wajahnya.Wajah Kak Rita semakin merah karena hasratnya yang terus meronta-ronta. Saat melihat langsung keperkasaan seperti itu, bahkan wanita sepertinya ~ sulit kalau tidak tergoda.Erfan meraih tangan Kak Rita, lalu dia meletakkan paksa telapak tangan wanita itu di batangnya.Merasakan batang besar itu secara langsung, membuat jantung Kak Rita semakin berdebar hebat. Matanya pun menjadi sayu, karena hasratnya yang sedikit demi sedikit menghapus akal sehatnya.Kak Rita menoleh ke arah Erfan."Fan, ka
Kak Rita menghela nafas panjang, berusaha menekan gejolak hasratnya yang meronta-ronta. Setelah sedikit tenang, dia dengan mantap mengarahkan pandangannya kepada Erfan. "Oke... jadi gini Fan, kakak punya rencana membuka toko aksesoris sama toko pakaian di Mal yang kamu bangun," ucap Kak Rita dengan serius. Saat Erfan hendak menjawab, Kak Gisel terlebih dahulu berkata. "Kalian ngobrol dulu aja, yah... aku mau menghubungi seseorang dulu," Kak Gisel turun dari pangkuan Erfan, sambil merapikan pakaiannya. Setelah itu, dia melangkah pergi ke arah pintu keluar kamar. Melihat kakaknya yang pergi, Kak Rita menjadi sangat gugup. "Dia... dia pasti sengaja membiarkan aku berduaan sama Erfan," gumam Kak Rita di dalam hatinya. Erfan tak gugup seperti Kak Rita. Pria itu malah tampak santai seolah-olah tidak peduli. Setelah Kak Gisel keluar dari kamar, Erfan bergeser semakin dekat dengan Kak Rita. Melihat pergerakan Erfan, Kak Rita sangat bingung ~ antara berusaha menjauh, dan hanya patuh teta
Kak Gisel terus menarik Kak Rita masuk ke dalam kamar. Setelah itu, dia mendudukkan Kak Rita di sofa yang ada di kamar itu.Erfan menutup pintu kamar, lalu dia buru-buru menghampiri kedua wanita itu."Katanya... mau... ketemu Erfan di desa, kenapa jadi di hotel?" tanya Kak Rita sambil menatap Kak Gisel dengan sorot mata serius."Hihi, kalau ke desa... aku agak malas, soalnya jauh. Ya sudah, aku suruh aja Erfan datang ke sini," balas Kak Gisel dengan nada main-main.Melihat gelagat kakaknya itu, berbagai tebakan terlintas di benak Kak Rita. "Apa dia sengaja mau jebak aku? Biar aku sama Erfan... kayak dia sama Erfan," gumam Kak Rita di dalam hati. Dia menggigit bibirnya, karena hatinya mulai kacau sekarang. Apalagi, bayangkan video Erfan dan Kak Gisel, terbayang kembali di benaknya. "Kalau benar, aku harus gimana?" Kak Gisel meraih tangan Erfan, "Sayang, sini duduk di samping aku!" ucapnya dengan nada genit.Tanpa sungkan Erfan duduk di samping Kak Gisel. Bahkan, dengan berani dia meli
Beberapa saat kemudian, terlihat mobil Erfan melaju meninggalkan hutan tersebut. Masuk ke jalan raya, mobil itu melaju ke arah kedatangannya tadi. Setelah mengantarkan Bu Nana ke tempat penjemputan awal, Erfan pun melajukan mobilnya menuju ke arah pulang. Setibanya di vila, Erfan langsung memberi tahu para wanitanya, kalau dia ada urusan di kota. Dia pun memberi tahu, kalau dia kemungkinan tidak pulang nanti malam. Tanpa banyak bertanya, para wanita Erfan langsung mengangguk mengijinkan. Mereka hanya berpesan, supaya Erfan berhati-hati di jalan. Karena kebetulan, di vila hanya ada para wanita yang tidak pernah banyak bertanya. Kalau di sana ada para gadis muda, seperti Shara, Diva, dan yang kainnya, mungkin para gadis itu mewawancarai Erfan terlebih dahulu. Setelah membersihkan diri, Erfan pun pergi dari vila. Kini dia mengendarai mobil Lamborghini Veneno Roadster nya, untuk pergi ke kota. === Setibanya di Kota, hari sudah menunjukkan sore hari. Erfan langsung pergi ke salah sat
Mendengar pertanya Erfan, seketika ekspresi Bi Ayu menjadi serius."Sudah beberapa hari ini, Verona selalu pergi dari warung saat pagi hari, dan baru pulang sore hari," ucap Bi Ayu dengan nada serius."Apa kamu tau ke mana dia pergi?" tanya Erfan, sedikit mengerutkan kening."Itu dia! aku tidak tau
Di dalam kamar, Desi melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan berani. "Tuan muda, kamu harus melepas semua pakaian mu!" ucap Desi, dengan nada menggoda. Erfan menyeringai nakal, dia sudah yakin, pasti akhirnya akan berakhir di ranjang kenikmatan. "Kalo gitu buka saja!" balas Erfan, tanpa ra
Mereka saling menatap, bibir mereka perlahan menyatu. Peperangan lidah yang sangat panas pun terjadi di antara mereka. Helai demi helai pakaian terlepas, dari tubuh mereka, menampakkan tubuh tanpa sehelai benang pun. Erfan menatap tubuh Bu Susan yang sangat mulus dan menggoda, dengan tatapan panas
Di dalam kamar, Serina langsung mendorong Erfan ke atas tempat tidur. Wanita itu langsung naik ke atas tubuh Erfan, menekan Erfan di bawah."Sayang, main dulu yu! aku pengen nih," pinta Serina dengan nada menggoda, sambil menatap Erfan dengan tatapan penuh hasrat.Erfan menyeringai nakal, lalu berk







