MasukErfan bersandar di sandaran tempat tidur, sambil memandang Tesa yang sedang menikmati puncaknya. Frisa menghampiri Erfan, lalu dia bersandar di dadanya, tangannya langsung menggenggam batang pria itu, lalu mengocoknya."Kakak, aku mainin, yah?" Erfan mengangguk sambil tersenyum tipis, ekspresi wajahnya tampak sangat nakal, dan sorot matanya terlihat sangat panas.Frisa turun kebagian bawah tubuh Erfan, sampai posisi batang besar itu berada tepat di hadapannya. Tak membuang waktu, gadis itu langsung saja memainkan batang Erfan."Emm... ahh..." rasa nikmat bisa Erfan rasakan, yang membuatnya secara refleks mengeluarkan desahan.Tesa yang sudah selesai menikmati puncaknya, langsung menghampiri Frisa. Dia mengambil posisi seperti Frisa."Fris, bagi-bagi dong! biar nanti hasilnya di bagi-bagi juga," ucap Tesa.Frisa mengangguk setuju, laku dia mengeluarkan batang Erfan. Pada akhirnya, kedua wanita itu bek
"Jadi, gimana perkembangan konten kalian?" tanya Erfan kepada kedua gadis itu. "Meningkat pesat kak! semenjak Kak Calista sering kolaborasi sama kami, penggemar kami meningkat pesat," balas Tesa dengan penuh semangat. "Baguslah! kalian harus tetap semangat!" ucap Erfan. "Kalau kalian semakin terkenal, aku gak perlu mencari orang untuk mempromosikan tempat wisata ~ kalau sudah jadi nanti." "Jangan khawatir! Saat tempat wisata itu selesai di bangun, kami pasti! sudah jadi konten kreator populer," ucap Frisa dengan penuh percaya diri.Erfan mengangguk sambil tersenyum tipis.Tesa bergerak membuka pakaian Erfan."Gadis, kamu sangat buru-buru. Udah gak tahan, yah?" tanya Erfan dengan nada main-main."Iya nih, udah gak tahan," balas Tesa, sambil bertingkah genit.Hanya butuh beberapa nafas, sebelum semua pakaian Erfan terlepas sepenuhnya."Kakak, kita perlu buka pakaian, gak?" tanya Frisa dengan nada main-
Pada malam hari, suasana vila terasa hangat dan penuh kebersamaan. Erfan duduk di tengah, dikelilingi oleh para wanita. Setelah memastikan perhatian mereka tertuju padanya, Erfan pun menyampaikan niatnya. "Lusa, aku akan mengantar Bu Susan dan Cika ke Kota Hua," ucapnya dengan nada tenang. Mendengar hal itu, para wanita saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk setuju. Tak ada penolakan sedikit pun. Bagi mereka, keputusan itu adalah hal yang wajar. Bu Susan adalah bagian dari kehidupan Erfan, dan Cika, sebagai anaknya, tentu pantas mendapatkan perhatian serta kehadiran sosok orang tua. Erfan memandang Kak Gisel, lalu dia berkata. "Besok, aku akan mengantar kakak ~ mencari lahan." Kak Gisel mengangguk, sorot matanya mengeluarkan sedikit kilatan panas. Namun, semua orang tidak ada yang menyadarinya. "Erfan, berapa lama kamu di Kota Hua?" tanya Tante Yurike. Erfan memandang Bu Susan, karena dia belum tahu, kunjungan wisata itu berlangsung berapa lama. Bu Susan langsung mengert
"Sayang, mau langsung mulai?" tanya Erfan dengan nada menggoda. "Ayo. Mau gaya apa, sayang?" tanya Bu Susan dengan nada genit. "Kamu nungguin, sayang!" perintah Erfan. Bu Susan mengambil posisi menungging membelakangi Erfan. Kepalanya di posisikan lebih rendah dari pantatnya. Melihat posisi yang sudah pas, Erfan langsung memosisikan batang besarnya itu di lubang apem wanita itu, lalu dia mendorongnya masuk sampai mentok di dalam. "Ahhhh..." desahan panjang bergema di dalam kamar, saat tubuh keduanya menyatu sempurna. "Sayang, enak banget... ahh..." ujar Bu Susan, nada bicaranya terdengar sangat menikmati. "Vaginamu... sangat enak, sayang! batangku di jepit erat di dalam." Erfan mulai menggerakkan batangnya maju mundur di dalam sana dengan gerakan cepat. Sehingga, suara benturan antara pahanya dan pantat wanita itu menimbulkan suara khas yang
Kakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!" "Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi... bisnis yang bisa aku buat hanyalah bisnis sederhana," ujar Kak Gisel dengan nada canggung."Emangnya... bisnis apa yang kakak ingin buat?" tanya Erfan dengan serius."Bisnis penginapan, seperti bisnis yang aku jalankan di sini," balas Kak Gisel."Itu bagus kak! kalau kakak mau buat bisnis itu, buat lah secepatnya!" ucap Erfan menyarankan."Apa... bisnis seperti itu akan laku? di tempat mewah yang akan kamu bangun?" tanya Kak Gisel, dia merasa ragu."Yah pasti laku! walau tempat yang dibangun mewah, tapi pengunjung yang datang, gak semuanya mau menyia-nyiakan uang, buat tidur di hotel mewah. Bahkan, kebanyakan pasti memilih tinggal di penginapan se
Erfan mengajak wanita itu beristirahat di dalam mobil. Namun, Tante Yurike harus di bawah ke dalam mobil dengan cara di gendong, karena dia sudah tidak sanggup berjalan. Di dalam mobil, keduanya berbaring sambil berpelukan, dengan posisi Tante Yurike ada di atas tubuh Erfan. "Tante rasa... kamu semakin hebat!" ujar Tante Yurike pelan. Matanya menatap Erfan dengan sorot mata kagum, dan juga ada kepuasan. "Gimana gak hebat? setiap hari aku selalu bercinta dengan para wanitaku," ucap Erfan dengan bangga. "Bocah nakal! kamu gak boleh terlalu sering bermain dengan wanita! itu gak baik untuk kesehatan ginjalmu," Tanta Yurike mengingatkan. "Aku awalnya berpikir begitu. Tapi, sampai sekarang... aku gak pernah merasa ada keluhan apapun," balas Erfan santai. "Kamu paling banyak... sehari bisa berapa kali?" tanya Tante Yurike. Karena dia belum tahu, seberapa hebat Erfan yang sebenarnya. "Kalau memaksakan diri, aku bisa memua
Erfan dan teman-temannya berkumpul di parkiran mobil, Karena mereka ingin melakukan sesuatu. "Jarang sekali nih kita ketemu, gimana kalo nongkrong dulu!" ucap Remon, kepada semua orang. "Boleh tuh!" jawab Semua orang setuju. "Kalo gitu lu tentukan tempatnya, kita ngikut aja," balas Salah satu
Suara beberapa pria yang sedang mengobrol dan tertawa mendekat ke arah mereka. "Sial ada yang datang!" ucap Erfan, dia buru-buru mencabut senjata miliknya, dari dalam gua Bu Evi, lalu memasukkannya kembali ke dalam sangkarnya. "Sayang gimana ini?" ucap Bu Evi panik, dia buru-buru menaikkan celan
"Sebenarnya, saya membutuhkan uang tuan muda!" ucap Serina, dengan suara pelan. "Buat apa?" tany Erfan santai, sambil mengendus leher Serina. "Buat pengobatan Ayah ke rumah sakit," ucap Serina. "Memangnya, butuh berapa?" tanya Erfan. "Se sekitar, tiga juta," jawab Serina , dia sedikit ragu-r
Saat mobil sampai di jalan besa, Erfan melajukan mobil nya lumayan kencang. "Kenapa ayah mu tiba tiba kritis?" tanya Erfan penasaran, "Aku juga tidak tau! tiba-tiba Ayah sesak nafas," jawab Serina. "Bukannya baru kemarin, Ayah mu berobat?" tanya Erfan sedikit aneh. "Iyah, seharus nya baik-ba







